08 Februari 2012

Commuter Line: Antara Cinta dan Benci

Sudah hampir tiga bulan pola loop line di kereta commuter line yang melayani area Great Jakarta beroperasi. Bagaimana pendapat saya sebagai pengguna setia kereta kurang lebih satu tahun terakhir ini? Saya yang sudah melalui transisi tiga sistem, konvensional, commuter line, dan loop line dalam setahun ke belakang merasa ada banyak perbaikan positif. Dalam banyak hal, PT. KAI bisa membawa perubahan besar dalam hal ketepatan jadwal dan headway time. Memang dalam implementasinya sehari2 terkadang masih ada gangguan, tapi kalau dilihat rata2 dalam setahun, gangguan itu nggak dominan. Lagipula, gangguan biasanya lebih sering karena force majeur (hujan lebat, sambaran petir). Peralatan pendukung yang rusak atau usang (seperti wesel atau pasokan listrik) seharusnya masih bisa dibenahi. Dari sisi headway, frekuensi kereta yang lebih sering sangat membantu saya yang sering pulang malam. Dari sisi kondisi rangkaian kereta, menurut saya kondisi kereta jauh lebih nyaman daripada kereta ekonomi yang penuh dengan pengamen atau penjaja dagangan.
Kalau masih ada kekurangan, itu justru yang harus kita bantu, bukannya marah2 di stasiun sambil memprovokasi orang untuk menandatangani petisi penolakan implementasi sistem baru tersebut. Dari sisi konsumen, kita bisa lakukan hal kecil tapi berdampak besar demi kelancaran operasional sehari-hari. Antri yang tertib dan tetap membeli karcis saja sudah sangat membantu mereka untuk meningkatkan pelayanan.
Intinya sih, jangan berprasangka buruk dulu kalau PT KAI nggak berbuat apa2 untuk meningkatkan pelayanannya. Kalau diperhatikan, siapa sih yang sadar kalau sekarang ada penertiban pemukiman di bantaran rel daerah Tanah Abang, siapa yang tau kalau ada perbaikan peron dan berbagai rambu petunjuk di beberapa stasiun. Bahkan sebentar lagi akan diberlakukan sistem tiket elektronik. Pencapaian luar biasa untuk ukuran Indonesia yang biasanya nggak banyak perubahan. Sikap kita sebagai warga negara, dukung upaya perbaikan pelayanan mereka, beri masukan dengan cara elegan kalau ada kekurangan atau penyimpangan. Saya yakin di dalam PT KAI sudah banyak orang-orang yang kompeten di bidangnya untuk membawa perubahan dan karya nyata untuk pengembangan operasional KA. Beri saja mereka kesempatan untuk membenahi diri.

03 Februari 2012

Akhirnya masuk kepala 3

Hari ini, genap 30 tahun usiaku. Muda nggak, tua juga nggak. Pas. Ulang tahun sekarang banyak maknanya. Kalau dari ilmu demografi dan ekonomi, aku memantapkan diri ke dalam kelompok usia puncak karir yang berupaya melakukan consumption smoothing terkait intertemporal decision dalam menjaga kesinambungan daya beli di masa depan. Kalau dari ilmu reproduksi, aku sudah sangat matang dan siap melanjutkan keturunan. Kalau di kawinan, semakin banyak pertanyaan "kapan nikah", "kapan nyusul", "udah ada calon belum", "kok ga dibawa cewenya" dan pertanyaan2 sejenis lainnya. Kalau dari kehidupan sosial, semakin nggak dipandang aneh kalau ngehadirin rapat RT karena biasanya dianggap mewakili orang tuanya hehe. Kalau dari ilmu agama, #gapenting ;p

Kalau mau flashback, banyak momen yang dilewati selama 30 tahun terakhir ini. Suka-duka, teman-musuh, sejahtera-sengsara, lurus-sesat, lengkap campur aduk jadi satu. Tapi yang pasti, semua sudah dalam rancanganNya yang Mahasempurna. Bagaimana nggak. Aku dilahirkan lebih cepat 2 bulan dan aku yakin itu adalah rencanaNya karena mempercayai aku memberikan sesuatu bagi orang2 sekitarku. Bolos kuliah membuatku bertemu dengan teman2ku yang sekarang, irreplacable. Ceritanya bakalan beda banget kalau aku tetap kuliah di teknik sipil, belum tentu aku kerja di kantor yang sekarang dan mendapat apa yang udah kudapat sampai hari ini. Pengalamanku yang sering dicaci teman2 semasa SD membuatku berbeda dalam menyikapi kekurangan dan kelemahan orang lain, meskipun pengalaman itu membuatku punya sifat pendendam juga hehe. Kemiskinan yang sempet kualami pun menempaku untuk mencoba lebih bersyukur terhadap hal apapun yang kudapat. Coba tanya siapa yang bisa ngomel di kantor kalau ada makanan yang nggak dihabiskan, siapa yang sebel kalau ada yang mencela makanan. Akulah orangnya :)
Pengalaman kerja dengan bos yang (sempat) represif dan menciptakan lingkungan kerja yang stressful membuat aku yang selama ini hanya diam dan menelan mentah2 semprotan mereka tanpa membela diri pun sekarang jadi lebih berani menentang mereka walau harus musuhan sampai 1 bulan lebih, di bulan puasa pula ;p
Pastinya dalam batas2 yang wajar lah ya. Tapi tindakanku senggaknya bisa mengubah bos menjadi orang yang jauh berbeda dan mampu menghargai orang lain. Isn't that good? Bahkan, hubungan kami sekarang pun jauh lebih baik daripada yang sudah2 :)

Semua momen itu amat berkesan dan tak ada satupun yang kusesali. Karenanya, momen ultahku yang ke-30 ini aku buat sedemikian sehingga akan terus membekas dalam ingatan. Ungkapan rasa syukur pun aku wujudkan pada kerabat, sahabat, dan rekan sejawat. Sebaliknya, mereka mendoakanku yang terbaik dalam hidup.
Mama mengirim untaian doa yang mengundang haru, mengucap rasa bangganya padaku, dan pastinya harapan untuk segera menemukan pendamping hidup (amiin ;)). Kakak dan adik2 pun nggak lupa mendoakanku di hari baik ini. Sahabat meskipun yang hadir cuma beberapa orang, tapi nggak mengurangi makna ungkapan rasa syukurku. Rekan sejawat yang sedemikian banyak pun nggak lupa mendoakanku dalam hidup dan karir.
Terima kasih semuanya. Semoga Alloh mendengar dan mengabulkan doa kalian, dan semoga Alloh melimpahkan kebaikan yang sama untuk kalian. Amiin.

Sebagai penutup, siang tadi bosku mengirimkan seuntai doa yang sangat indah dan sayang kalau nggak diaminkan. Berikut doanya:

Doa untuk Putraku
(Puisi Jenderal Douglas Mac Arthur : Doa Seorang Ayah)


Tuhanku...

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.


Tuhanku...

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.


Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya...
Berikan dia cukup Kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.


Tuhanku...

Berilah ia kerendahan hati...
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"


Pak bos, aku akan berusaha membuat bapak berani berkata bahwa hidup bapak nggak sia-sia :)

Sekali lagi, makasih buat teman2ku atas doa2nya yang indah, bermakna dan menyemangatiku untuk lebih baik lagi.

22 Januari 2012

Menyanyi, Bagian Penting dari Hidupku

Sebenernya, nyanyi udah jadi kesukaanku sejak kecil. Tapi, aku baru mulai suka banget ama nyanyi ya sekarang ini. Kalo suaraku dibilang bagus sih nggak, apa lagi dengan rentang oktaf yang pendek dan terbilang rendah. Itu yang bikin aku susah nyanyiin hampir semua lagu normal yang ada di dunia ini. Alhasil, karaoke cuma jadi ajang ikut2an nyanyi ramean sambil teriak2, bukan spesial nyanyi solo. Kalopun nyanyi, aku tetep nyanyi dengan suara rendah, which is jelek abis kalo didenger. Paling banter ya duet, tapi aku ambil suara duanya. Yap, itu yg kujadiin andalan. Ga semua org bisa ternyata ;)
Singkat cerita, setelah coba sana sini nyanyi di acara keluarga atau kawinan temen, somehow di kantor ada yang ngajakin ikut paduan suara (padus). Mba Lala is my hero #yeay# Hmm.. Kayaknya asik juga nih. Apa lagi, dari kecil emang mimpiku pengen banget jadi anggota padus setelah sering liat mama latian padus. Waktu sekolah di Medan, instead of langsung pulang ke rumah kalo dijemput mama, hampir tiap hari mama latian padus sama istri2 temen kantor papa. Jadi udah ga asing. Aku samber lah tawaran nyanyi itu. Di audisi bentar, ketauan lah kalo rentang vokalku masuk bass. Latian beberapa minggu, tampillah aku secara perdana di upacara peringatan proklamasi kemerdekaan RI yang ke-63. Tampil baik, aku udah cukup puas waktu itu.
Kesibukan mendera, aku jadinya sempet off di padus. But, along time, my work became more cooperative and managable. Simultaneously, mba Lala somehow ngajakin lagi ikut padus buat hut RI ke-66. Akhirnya aku mulai latian, and for the second time aku nyanyi di hut RI lagi. The more I sing, the more I love it. Apa lagi, kita punya piansi handal, mas Achay yang saking hebatnya, jari2nya kalo udah di tuts piano ga ketangkep mata saking cepet n kusutnya hehe..
Dari situ, pentas mulai berdatangan. Oktober 2011 lalu, kami diminta tampil sebagai pengisi acara di peluncuran uang. Bangga? Jelas. Bawa nama institusi, ditonton para pejabat tinggi negara pula. Kapan lagi, ya nggak?
Terakhir, padus dapet undangan untuk ikut lomba vocal group Sangkala Cup dengan memperebutkan piala Gubernur BI. Dari cerita temen2 padus senior, mereka ga pernah ikutan lomba. Selama ini mereka cuma tampil buat acara protokoler kantor atau eksibisi. Berhubung kita2 pada banci tampil dan narsis, kami putusin untuk ikut lomba. Kita juga pengen tau, gimana sih format dan kriteria penilaian lomba vocal group itu. Guru vokal pun didatengin. Selama 2 minggu tanpa putus kita latian meskipun ga pernah lengkap anggotanya. Sekalinya lengkap ya pas latian menjelang lomba, tapi waktunya barengan dengan parade peserta lomba di tempat acara. Akhirnya, kita telat ikut parade hahaha.
Hari perlombaan tiba. Lombanya sendiri diselenggarakan di Bandung. Ini jadi salah satu momen penting buatku dan temen2 padus lainnya. Kita dapet nomer urut 5 dari total 15 peserta se-Jawa Bali. Peserta awal sih biasa2 aja, jadinya kita pede banget kalo kita bisa 3 besar. Tapi makin ke sini kok makin keren ya. Dari sisi suara, kita ga kalah secara kualitas, power, dan harmoninya. Tapi, mereka muda2, jadi mereka buat konsepnya kayak Glee, acara musikal anak muda Amerika itu. Jadi, selain nyanyi, kostumnya heboh a la GSP, koreografi a la teatrikal gitu. Anyway, dengan segala keterbatasan kita, mulai dari pengetahuan kriteria penilaian, pendanaan, kreativitas, latian yang nggak pernah lengkap, dan kostum, kita akhirnya ga dapet juara. Gpp. Tapi akhirnya kita tau gimana lomba vocal groupnya. Karena sekarang udah tau medan, persiapan kita bisa lebih mateng lagi. Kalo aku ngehibur temen2 sih gimanapun hebat dan juaranya mereka, tetep aja cuma kita yang bisa tampil depan pejabat tinggi negara hehe.
Selain lomba, ada satu momen lainnya yang nggak kalah penting, yaitu ngelepas kepergian mas Achay yang harus mutasi ke Batam. Jelas mutasi itu jadi pukulan buat padus karena belum ada pianis handal di kantor yang sejago dia, secerewet dia kalo kita latian pada telat atau yang sesabar dia kalo kita terlalu byk permintaan nurunin kunci lagu. Baru kenal sejak latian buat upacara 17-an yang ke-66, eh ditinggal. Berat dan sedih, apa lagi yang dirasain temen2 padus lain yang udah nyanyi bareng dia sejak beberapa taun lalu. Acara perpisahan di Congo Cafe mendadak haru waktu kita anggota padus satu2 menyampaikan kesan dan memori indah selama ini bersama mas Achay. Banyak cerita riang juga haru keluar dari lubuk hati kita masing2. Mas Achay pun cuma bisa menahan kesedihan. Puncaknya, kita kasih hadiah perpisahan, sepatu Clarks dan beberapa baju Hush Puppies.
Sepulang dari cafe, kita langsung balik hotel. Kebetulan grand piano lagi nganggur karena pianis dan vokalisnya lagi istirahat. Tanpa babibu, mba Lala langsung minta ijin resepsionis untuk pake piano. Seketika itu juga, mas Achay langsung main piano sambil kita paksa, trus kita spontan nyanyiin lagu2 biasa kita, mulai dari Sigulempong, Selayang Pandang, lanjut dengan Dia, Pergi Untuk Kembali, sampai One Moment in Time. Tamu2 hotel terutama bule ada yg ikut nyanyi, ada yang nonton dari kejauhan, ada yang mondar mandir ga jelas. Mungkin mau minta tanda tangan kita tapi malu kali ya hahaha.
Malam itu jadi salah satu malam yang paling berkesan dalam hidupku. Sekarang, aku tau apa yang kusuka, yaitu bernyanyi dalam paduan suara. Inilah yang kucari selama ini. Akhirnya kutemukan juga. Di situ, aku temukan juga teman2 terbaikku. Dear Lord, thanks for everything you gave me. Sangat bersyukur.
Doa kita selalu mengiringi mas Achay juga, semoga sukses di tempat baru dan bisa segera balik ke Jkt pas promosi. Amiin :)

21 Oktober 2011

Pos Indonesia yang Timbul Tenggelam

Orang2 Holland menyebutnya Post Kantoor. Yup, kita mengenalnya sebagai kantor pos. Kantor dengan dominasi warna orange sangat mudah ditemui di kota, bahkan di desa. Kalau lihat film2 jaman dulu, gambaran pak pos itu berseragam, pakai topi, keliling kota atau desa mengantar surat ke rumah2 pakai sepeda atau motor dengan kantong surat besar kecoklatan di samping kanan dan kirinya. Kita atau orang tua barangkali pernah mengalami jaman pengiriman uang melalui wesel pos dengan kartunya yang berwarna kecoklatan. Belum lagi bis surat yang tersebar di berbagai lokasi strategis yang memudahkan kita mengirimkan surat.

Pada era 1990-an, anak2 kala itu, termasuk saya sebagai putra seorang karyawan pos, memiliki hobi bersahabat pena. Dulu Pos Giro menerbitkan suatu majalah (lupa namanya) yang isinya ada daftar nama anak2 sekolah di berbagai pelosok tanah air dengan alamat, tentu lengkap dengan kode posnya. Berbekal itu, kami bisa saling berkirim surat, bertegur sapa, dan berteman baik dengan mereka. Suatu kali saya pernah bersahabat dengan seseorang (lagi2 lupa namanya hehe) di Ambon. Kami saling bertukar surat, sampai ketika kerusuhan Ambon melanda, saya putus kontak dengannya. Semoga dia selamat dan baik2 saja di sana.
Selain sahabat pena, kala itu hobi filateli benar2 "happening". Setiap Pos Giro menerbitkan perangko baru, papa pasti membelikan untuk kami. Dengan teman2 di sekolah kami sering bertukar perangko. Tahun 1992 bahkan kami sekeluarga sempat pergi ke Banda Aceh untuk menyambangi pameran filateli dan surat raja2 di Nusantara. Terkagum2? Sudah pasti. Tahun 1990-an bisa dibilang menjadi masa kejayaan Pos Giro yang kelak mengubah namanya menjadi Pos Indonesia.

Di jaman yang lebih modern, muncul mobil pos keliling yang melayani kebutuhan surat menyurat masyarakat. Milenium kedua, layanan pos semakin beragam dan bervariasi. Mulai dari loket pembayaran berbagai billing, pajak, sampai tempat pembukaan rekening suatu bank syariah nasional terkemuka. Kalau flashback begini, hebat juga ya kalau kantor pos bisa sangat sedemikian menyentuh dan mewarnai kehidupan sehari2 kita.

Itu dulu. Lalu, bagaimana nasib kantor yang berpusat di Bandung ini sekarang? Lama sekali saya tidak mengikuti perkembangannya. Selain dengan citra buruknya yang menjadi sarang korupsi, hembusan cerita "selalu merugi"-nya yang membuat saya enggan turut berkiprah di sana, padahal papa dulu sempat membujuk :)

Barangkali selalu merugi itu tidak terlepas dari perilaku korupsinya itu. Saya yakin hanya segelintir saja oknum pelakunya, tapi nila setitik rusak susu sebelanga. Papa yang sempat di bagian audit internal, meskipun nggak secara detail, pernah menceritakan seberapa parahnya di sana. Papa yang memang cenderung vokal dan berani (dan menurun ke saya :)) sudah pasti banyak dimusuhi oknum2 tadi. Apa daya, usaha papa membersihkan pos terjegal penyakit stroke yang diderita sejak tahun 1997 sampai sekarang. Itu yang mendorong papa mengajukan pensiun dini.

Tidak lama setelah papa pensiun, terjadi krisis, semakin terpuruklah Pos. Meskipun sudah berganti nama dan logo merpati supaya tampak lebih dinamis dan modern, tapi pos semakin tenggelam. Saya nggak tau detailnya, tapi kantor pusat 2 di Jalan Riau sekarang sudah berubah menjadi hotel. Kantor pusat 3 di Jalan Banda sebagian menjadi factory outlet yang namanya identik dengan pos, (mungkin anak perusahaannya ya hehe) sebagian lagi disewakan ke perusahaan telekomunikasi. Di perempatan Jalan Trunojoyo seingat saya pernah ada Pusat Teknologi atau semacamnya, tapi sekarang sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan. Saya nggak tau apakah itu semacam efisiensi untuk mengurangi biaya maintenance kantor pos yang sedemikian banyaknya, atau karena merugi sehingga harus ditutup untuk membayar biaya operasional dan rutin (baca: gaji). Apapun itu, pos di mata saya semakin tidak gemilang. Apalagi sekarang internet mengambil alih peran surat menyurat konvensional. Semua lebih mudah dengan e-mail, mulai dari ucapan lebaran, kuis, sampai lamaran kerja. Ekspedisi lama, bahkan hilang. Apalagi sekarang bermunculan perusahaan ekspedisi kilat swasta.

Tapi dalam beberapa tahun terakhir ini, ditambah dengan hasil browsing karena kurangnya info, saya sekarang tahu kalau Pos sedang berbenah untuk menjawab tuntutan jaman. Dari suatu situs pemberitaan, sang Dirut baru Pak Ketut menjabarkan berbagai rencana dan langkah modernisasi dan pengembangan Pos ke depan. Tentu hal itu patut disambut positif sebagai langkah perbaikan citra dan layanan Pos bagi masyarakat. Semua bisa dilakukan dengan usaha keras dan mulai dari hal paling sederhana. Tengok saja, di website pos, kita sekarang sudah bisa mencari kode pos secara online ketimbang versi bukunya yang dulu lebih tebal dari kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia digabung dalam 1 jilid hehehe.. Track kiriman barang atau paket sudah bisa dilacak. Kalau saya bandingkan dengan web US Postal Service, perbedaan mencolok dari website Pos Indonesia adalah terlalu menjual image. Bukannya promosi produk, tapi malah menonjolkan berbagai penghargaan yang diraih. Bagus sih, tapi dengan orang tau penghargaan, terus apa? Beda kalau orang tau ada layanan pos yang sedemikian terintegrasi, terpercaya, produknya yang beragam, dengan tampilan visual yang menarik. Orang pasti akan percaya lagi dan kembali ke pangkuan Pos untuk semua urusan kiriman. Imaging dan branding amat penting, apalagi sekarang Pos sudah menjadi persero. Belum kalau nanti sudah go-public. Layanan terintegrasi pembayaran billing saya anggap sebagai layanan fenomenal Pos karena bisa menjangkau kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Selain itu, Pos bisa kembali mengembangkan wasantara-net yang seingat saya sempat menjadi pelopor internet service provider. Apalagi dengan memanfaatkan kantor yang tersebar hingga ke pelosok desa, terbayang potensi yang sedemikian luasnya di depan mata. Bagaimana bisa mengedukasi masyarakat, menyebar internet hingga ke desa tertinggal dan sekolah terpencil.

Saya bicara panjang lebar tentang Pos bukan untuk menjelek2kan, apalagi dalam agama kan dilarang. Tapi ini merupakan upaya menuangkan apa yang saya pahami, saya alami, dan saya dengar sendiri, atau dari keluarga dan masyarakat mengenai apa yang dialami Pos. Belum tentu sepenuhnya benar, dan belum tentu salah juga. Evaluasi dan pembenahan pasti akan terus dilakukan oleh orang2 pintar di dalam sana. Saya yakin itu. Saya tulis ini karena saya sangat mencintai Pos sebagai lembaga yang secara tidak langsung turut membesarkan saya sehingga bisa menempuh pendidikan melalui keringat papa saya.

Jayalah selalu Pos..!!

18 Oktober 2011

Two-week journey

Two weeks ago, there was a gathering event, held by my directorate at Bidadari island. Without any expectations, we went on Friday and got back on Saturday happily. This one night event is expected to be very pleasant and memorable. Sadly, once we step on the island, we were just shocked by the horrific environment. It was sooo dirty, unsuitable for us to swim or dive. To cure our disappointment, we just took our pictures during sunset. At night, we were having a dinner, accompanied by electric organ and a sexy female singer. Colored by fun games and the singer attraction, we ended up the day with joy :)
The day after, we were supposed to have fun games to bond us, but the weather condition made it not possible. Again, we spent our spare times to take some pictures until the check-out time. Well, it was disappointing but we still have to be grateful, don't we?

After being dreamed of visiting Batam for years, I visited it eventually last week, three days after my visit to Bidadari island. Well, not much to say. It's not as I ever thought it would be look like. What I know about Batam were, let say, cheap gadgets, nice cars from Singapore, or modern city landscape. But what I saw there was far from those images. Gadgets are no longer cheaper than here in Java, cars are old-fashioned and out-of-date, while the city is so not well-planned. That's why I didn't take any pictures while I was there, unless this one. Great Mosque of Batam.

I didn't have enough time to explore Batam as I held a seminar there, so I had to prepare many things to make sure the seminar went well. Nonetheless, I was still excited to visit Batam, not just because it's my very first time there, but from the seminar, at least I know more about what policies that my office made. I learn how to communicate with our stakeholders, how to hold a seminar and know things to be prepared before the event, and I know more about my colleagues from Sumatera through this event. My jobs make us not possible to relate or contact with many colleagues in my own office, so the seminar helps me to know them more. I got back home on Friday.

On Saturday, I went to Bandung with my mom. She came here to cure her illness. The curer is in Cianjur, 2 hours away by car from Bandung. We sleptover at my mom's friend's home. It is located beside Cipanas palace, one of president's palace in Indonesia. It is surrounded by mountain.
On Sunday, we went the curer. I call him curer because he is not a doctor. My mom had an abnormal sick. Kind of supernatural or voodoo in simple way.
Two hours consultation, we drove back home. On our way home, we bought some traditional drink, called cingcau, but it sounds like chinese name. I bet it originated from China. I don't know it in English. It's made from squeezed sort of leaves. Served with traditional sugar, coconut milk, and ice cube. It's a right choice to drink at hot mid-day. It costs only 15000 rupiahs, about 2 dollars for six glasses. Worth to try.

What a busy two-week :)

11 Oktober 2011

Dengan syukur, karunia berlimpah

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan membuatkan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”


Kutipan ayat di atas benar2 saya rasakan hari ini, setelah sehari sebelumnya saya mencoba membuat daftar hal apa saja yang terlintas di benak saya tentang apa saja yang selayaknya saya syukuri sembari menunggu kereta sampai di stasiun.
Bukan berarti saya sudah termasuk orang yang bertaqwa, tapi Alloh memang menepati janjinya untuk memberikan jalan keluar dari segala permasalahan. Di tengah ujian sepanjang sebulan ke belakang, tanpa diduga saya ditelp tim lain untuk mengikuti salah satu bos mendiseminasikan kebijakan kami ke masyarakat di Batam.
Kaget? Jelas. Pekerjaan itu nggak ada sangkut pautnya dengan saya, tapi tugas saya lebih ke pengurusan administrasi dan liaison. Apapun alasannya, anugerah itu datang di saat tepat tanpa saya pernah sangka.
Terbantu? Jelas. Senggaknya bisa bernafas agak lega sampai gajian berikutnya hehe.
Bersyukur? Makin. Benar adanya, kalau kita bersyukur, Alloh akan menambah nikmatNya, kalau ingkar, Alloh hanya mengingatkan bahwa azabNya teramat pedih. Syukur atau ingkar? Pilihlah ^_^

10 Oktober 2011

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Hari menjelang sore, jadwal kereta telat, di kereta berhimpitan, AC nggak dingin, dsb dsb dsb. Kalau mau dihitung, cukup banyak hal yang bikin kita rasanya menggerutu sepanjang sore ini. Tapi, tau nggak sih kalau kita sedikiiitt saja bermuhasabah (introspeksi), kayaknya itu nggak ada apa2nya dibandingkan dengan nikmat yang sudah kita rasakan sampai detik ini, mulai dari hal yang sepele sampai yang terrumit sekalipun.

Iseng2 nunggu 2 stasiun lagi, bikin list yuk semampunya, apa yang kita syukuri sampai sekarang. Kalau saya:
1. Iman dan islam, karenanya saya mengenal Sang Penggenggam Alam Raya, Alloh Ta'ala
2. Orang tua yang selalu support di bidang pendidikan yang karenanya saya bisa sampai seperti sekarang
3. Bisa tinggal di rumah, padahal sepanjang rel orang tinggal di gubuk
4. Masih bisa makan enak, padahal banyak yang kelaparan
5. Bisa beraktivitas dan beribadah dengan tenang, sementara di luar sana orang masih dicekam rasa takut
6. Masih bisa bayar kereta, padahal ada orang yang dengan susah payah naik ke atap kereta karena mungkin nggak mampu bayar
7. Senantiasa dikaruniai keselamatan dalam perjalanan
8. Sehat selalu dan diberi kekuatan fisik yang memadai
9. Dikelilingi orang baik, sholeh, dan jujur
10. Bekerja di lingkungan yang baik, sementara orang harus berpeluh2 aau sampai dini hari mengais rezeki, bahkan masih ada yang mengemis
11. Mengenal dunia dari berbagai sisi

Apa yang saya buat bukan maksud riya atau ujub, tapi lebih ke muhasabah supaya saya selalu optimis dan bersikap positif daripada cuma menggerutu. Syukur atas anugerah Yang Maha Kuasa.

Mari mulai bersyukur :)

Mengenai Saya

Foto Saya
Saya seperti orang biasa pada umumnya, hanya sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin senantiasa berbuat baik