01 Juni 2009

Dua hari di Surabaya

Dua hari kemarin saya dan beberapa teman, Alis, Andhi, Ihsan, Dony, Titi, Ona, dan Sapto pergi ke Surabaya untuk menghadiri resepsi pernikahan Asti. Untuk itu, saya mengorbankan teman selantai, mas Pandri, yang juga melakukan resepsi pada weekend kemarin. Tapi saya sudah minta maaf sebelumnya secara pribadi via SMS sekaligus menghaturkan doa semoga pernikahannya lancar dan segera dikaruniai momongan.

Hari pertama, kami berangkat dengan diliputi emosi hihihi.. Bukan apa-apa. Sebenarnya yang jadi pangkal persoalan adalah miskomunikasi antar-kami sendiri. Sebagian dari kami nggak tahu kalau taksi sudah dipesan dari sekitar jam 4 pagi, tapi sebagian kami yang lain beranggapan (karena nggak dikasih tau atau nggak mau nanya ;p) kalau berangkatnya jam 5. Alhasil, karena saling menunggu, kami berangkat di waktu yang terpisah. Alis, Andhi, Dony dan Sapto berangkat duluan karena jeng Alis nggak mau terlambat check-in. Lagian, di antara kami, cuma Alis yang nge-print tiketnya hehehe.. Jadi, dengan penuh inisiatif, Alis minta berangkat duluan. Saya, Ihsan dan Ona berangkat terakhir karena harus menjemput Titi dulu. Saya sampai di Terminal 3 sekitar pukul 6. Setelah check-in, sarapan sebentar, langsung boarding deh. Di pesawat, anak-anak tidur sementara saya baca jurnal. Setibanya di bandara, kami sudah dijemput Liana, the so-called mami Lili J Dengan mobilnya, mami Lili berbaik hati mengantar kami ke wisma Telkom, Green House, di kawasan Ketintang yang sudah dia pesan sebelumnya. Dari situ kami diajak sarapan ke Pecel Madiun nggak jauh dari wisma. Enak banget nasi pecelnya. Hmm.. yummy. Surprisingly, makanannya selain enak juga murah. Kami bersembilan hanya menghabiskan 80,500 rupiah, sudah termasuk minum. Kesan ini yang selalu saya temukan di beberapa kota di Jawa, antara lain Semarang, Solo, Yogya, dan Tegal.

Setelah sarapan, kami langsung dibawa ke museum House of Sampoerna. Di sana, dipaparkan secara lengkap mengenai sejarah pendiri PT. H.M. Sampoerna. Mulai dari datangnya sang pendiri dari daratan Cina ke Surabaya, meskipun harus terpisah dengan saudara perempuannya karena diadopsi keluarga Cina di Singapura akibat keterbatasan biaya. Singkat cerita, dengan ketekunannya, perusahaan yang dia dirikan mampu berkembang seperti sekarang ini.

Selepas dari museum, kami ke Jl. Anggrek untuk makan siang dengan menu spesial bebek goreng H. Slamet. Kata mami Lili, nggak lengkap rasanya kalau ke Surabaya belum nyoba bebek pak Slamet ini. Selesai makan, kami ke rumah saudara Ihsan yang masih terhitung mbahnya. Tapi lucunya, yang banyak ngobrol bukannya Ihsan tapi malah mami Lili, soalnya dulu kan mami Lili kerja di Telkom dan mbahnya Ihsan pegawai Telkom juga walaupun beda divisi gitu. Lebih lucunya lagi, mbah inget mami Lili tapi mami Lili nggak inget mbah, blas.. ;p

Selesai silaturahmi, kami pulang ke wisma karena pada capek. Lumayan bisa istirahat sekitar 2 jam. Jam 7 malam kami berangkat ke kawinan Asti di Graha Sativa, Bulog. Makanannya enak-enak lho. Kata mami Lili sih itu catering nomor 1 di Surabaya. Dari rencana 1 jam di resepsi, akhirnya kami bertahan di sana 2 jam, pada nggak tahan untuk makan, foto2, dan ngobrol2. Hehehe.. setelah rapat kecil di depan lobi gedung, kami memutuskan ke Tunjungan Plaza (TP). Kata mami Lili sih lagi ada diskon gede2an dalam rangka ultah Surabaya. Namanya Surabaya Shopping Festival. Akhirnya kami meluncur ke sana. Ternyata jalanan macet luar biasa. Sekitar 1 jam kemudian kami sampai di TP. Memang diskon sih, tapi ternyata barang2nya masih tetep mahal, dan masih kayak di Jakarta. Jadinya kami nggak belanja. Merasa nggak worthed dengan perjuangan kami menuju TP dengan macetnya yang luar biasa, akhirnya mami Lili dan mas Aji berusaha menghibur dengan mengajak ke GWalk sambil melewati Dolly. Hahaha.. Serius, saya baru tau apa itu Dolly. Yang mami bilang itu bener. Ternyata wanita2 itu dipajang layaknya ikan dalam aquarium. Alin sampai komentar, “walah, kok ono sing lemu” hihihi.. Nggak habis pikir. Kok bisa ada tempat sebebas itu dengan orang2 yang berseliweran dengan cueknya. Tapi itulah dunia ckckck.. Sesampainya di GWalk, kami makan2 sambil bercengkerama. Foto2 sebentar, pulang deh, soalnya kami semua kecapekan karena sudah pergi dari pagi.

Seperti diduga, kami semua bangun kesiangan karena pulang jam 2 dini hari, tapi Alhamdulillah sholat shubuh nggak telat hehehe… menjelang siang kami sarapan di seputaran Ketintang juga, lalu lanjut ke Waterpark di kawasan kota satelit. Atas saran mami Lili, kami beli tiket di pinggir jalan seharga Rp 50,000 per orang, selisih Rp 25,000 dari harga resmi yang dijual di loket. Lumayan lah penghematan. Dengan waktu yang tersisa menjelang pulang ke Jakarta, kami langsung berenang dan meluncur sepuasnya di hampir semua wahana yang ada. Hanya sekitar 1 jam kami berwisata air. Sekitar jam 1 siang, kami langsung tancap gas ke arah bandara Juanda untuk penerbangan jam 2.50. Saking ngegasnya, mobil sampai mau terguling hihihi.. Padahal udah ada peringatan kurangi kecepatan, tapi tetep aja digas. Aduh, sampe istighfar. Alhamdulillah nggak kenapa2. Sampai di bandara tepat jam 2, Alis check-in, eh ternyata jadwal penerbangan dimajukan. Jam 2.15 harus sudah boarding. Begitu ketemu mami Lili dan mas Aji, kami langsung pamitan. Dony yang memang sejak kemarin nggak bareng kami karena ada acara sendiri dengan temannya, hampir saja ketinggalan pesawat karena baru sampai bandara jam 2.20.

Yah, akhirnya kami tiba di Jakarta sore hari dengan kenangan tak terlupakan selama di Surabaya. Thanks to mami Lili and mas Aji for making our trip came true. Makasih banyak atas kebaikan dan kesabaran kalian yang tak terhingga, memungkinkan kami bisa menikmati Surabaya sedapat yang kami bisa dengan segala fasilitas, kemudahan, dan kenyamanan yang diberikan. Semoga Alloh SWT membalas kebaikan kalian. Amin ya robbal ‘alamin.

Makasih ya teman2 atas waktunya yang menyenangkan. Insya Alloh sampai bertemu lagi di perjalanan berikutnya yang pastinya nggak kalah serunya. Amin J

14 Mei 2009

Ikhlas

Naif, dulu saya berpikir bahwa yang namanya hati bersih - di antaranya ditandai dengan kemampuan kita berlaku adil, sabar, jujur, ikhlas, dan teguh pendirian - hanya hinggap pada hati orang-orang yang dari sananya sudah begitu. Tapi, ternyata semua itu bisa diraih dengan usaha yang tentu tidak mudah.
Ikhlas. Kata yang mudah diucapkan tapi sulit dalam penerapannya. Ikhlas yang timbul dari hati menandakan bahwa kita sepenuhnya melakukan sesuatu dengan sukarela tanpa mengharap imbalan dari pihak lain, entah itu pujian atau materi. Jujur, saya dulu orangnya sangat tidak ikhlas. Kalau memberi suka mengungkit-ungkit; kalau ada makanan rasanya tidak ikhlas kalau harus memberi jatah lebih banyak ke orang lain; dan kalau ada pengambilan keputusan yang merugikan saya, saya seringkali ngedumel dan sakit hati. Tapi itu dulu. Bukan berarti saya sekarang sudah menjadi orang yang 100% ikhlas, tapi rasanya saya sedang berproses menuju itu. Sekarang, saya merasa jauh lebih baik dengan keadaan saya sekarang. Rasanya, beban yang harus dipikul untuk memikirkan orang lain sudah tidak ada. Saya merasa hidup lebih ringan karena tidak harus memikirkan orang lain yang "lebih" dari saya. Saya nggak bisa mengungkapkan bagaimana rasanya menjadi orang yang lebih ikhlas dari sebelumnya meskipun masih jauh dari harapan. Tapi setidaknya satu saran saya, cobalah. Tidak ada ruginya mencoba. Dijamin, hidup lebih tenang, bebas rasa gelisah ^_^

06 Mei 2009

Lupa

Lupa berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna 1. lepas dari ingatan; 2. tidak teringat; 3.  tidak sadar; dan 4. lalai, tidak acuh.
Satu kata ini memiliki makna penting dalam hidup saya. Bagaimana tidak. Rasa-rasanya, banyak hal penting yang dulu rasanya mudah saya ingat, sekarang menjadi agak sulit. Sebagai gambaran, masih banyak artikel yang pernah saya baca di koran semasa kecila yang masih saya ingat. Bahkan hal sepele sekalipun. Itu dulu. Sekarang lain cerita. Kejadian awal yang membuat saya mulai menyadari hal itu adalah ketika akan menghadapi UMPTN hari kedua. Ada mata pelajaran Biologi yang harus saya hafal tapi ternyata saya sangat kesulitan untuk melakukannya. Hari berganti hari, rasanya semakin banyak yang mudah saya lupakan. Parahnya, lupa sering saya alami setelah mulai bekerja. Terkadang, ada beberapa dokumen atau hal penting yang pernah diutarakan oleh atasan tidak saya ingat, padahal itu sangat krusial untuk tim kerja. Di saat lain, beberapa barang berharga sering ketinggalan di kantor atau taksi, seperti dompet, telepon selular, atau kunci kamar kos. Terakhir, karena sering lembur, sampai lupa bayar tagihan dua kartu kredit. Meskipun tidak fatal, tapi cukup mengganggu pikiran saya. Untungnya, lupa hanya terjadi di hal-hal kecil. Alhamdulillah, penyakit lupa tidak hinggap setelah saya baca dan pelajari buku-buku.
Untuk penyakit yang satu ini, ada baiknya saya mencari solusi masalah yang satu ini. Ada yang menyarankan makan suplemen yang mengandung Ginkgo Biloba, sampai ada yang memberi usul makan Habbatussaudah (jinten hitam) yang dalam hadits Nabi saw bisa menyembuhkan penyakit. Hmm.. patut dicoba ^.^

16 April 2009

Scottweg a.k.a. Budi Kemuliaan

Sedihnya udah lama nggak ngeblog. Sibuk sih *klise banget alesannya ;p
Barusan baca salah satu surat kabar nasional. Ada liputan mengenai Scottweg atau Gang Scott. Berhubung saya suka baca artikel tentang latar belakang historis penamaan letak geografis. Ternyata, Scottweg itu merupakan sebuah jalan yang sekarang dikenal dengan nama Budi Kemuliaan. Jelas nama itu tidak asing, karena persis di pinggir kantor. Malahan cubicle saya menghadap ke Budi Kemuliaan.
Scottweg diambil dari nama salah satu penghuni di sudut utara jalan itu (kini berubah menjadi gedung perusahaan telekomunikasi) bernama Scott dan berkebangsaan Skotlandia. Dia merupakan seorang pengawas perdagangan opium atau candu di masanya. Hebat juga, pengawas perdagangan barang seperti itu bisa sampai diabadikan namanya.
Dalam artikel tersebut, terungkap bahwa ternyata di Scottweg sempat berdiri bangunan gereja Armenia. Sesuai namanya, memang kebanyakan jemaatnya berkebangsaan Armenia yang mayoritas menganut kristen ortodoks. Namun, bangunan gereja sudah digusur oleh proyek Bank Indonesia tahun 1964. Di jalan yang sama, ternyata sempat berdiri rumah dinas residen Batavia.
Dari foto yang disertakan, Scottweg tampak teduh, tidak mencirikan sebuah jalan di kota besar Jakarta. Seandainya saja Jakarta dan kota2 besar lainnya masih teduh seperti itu, sepertinya isu pemanasan global tidak akan terlalu bergema. Barangkali...

04 Maret 2009

Menjelajahi Wonogiri dan Sekitarnya

Wah, sayang kalau acara jalan2 2 minggu yang lalu disimpan di kepala tanpa dibagi ke orang lain.Bulan Februari lalu, tepatnya tanggal 21/2, saya dan beberapa teman kantor berangkat ke Wonogiri untuk menghadiri pernikahan mba Sundu. Niat kami ke Wonogiri bukan hanya menghadiri pernikahan, tapi juga wisata kuliner dan belanja di seputaran Solo dan Yogya. Dengan persiapan matang oleh teman2 seperti Yanfit, Myrna, dan mba Tri, akhirnya kami berangkat juga. Meskipun sempat delay, tapi rasa lelah terbayarkan dengan pesawat Airbus baru yang nyaman. Apalagi mas Pandri dan Bu Yati yang sempat dongkol karena terlambat tahu kalau penerbangannya ditunda. Yanfit yang di SMS oleh maskapai penerbangannya jam 2 dini hari itu sempat mengirimkan SMS ke teman2 yang lain. Sayangnya Bu Yati baru membaca SMS di taksi, sementara mas Pandri karena panik bangun jam 5, alhasil dia sampai sholat di taksi dan baru tahu pesawatnya delay ketika hampir tiba di bandara. Yah, senggaknya tetap ke Wonogiri juga kan :) Sekitar jam 10.00 kami tiba di bandara Adi Sutjipto, berfoto sebentar sambil menunggu mobil sewaan, lalu meluncur ke Rumah Makan Mbok Berek di dekat bandara. Pukul 10.30 kami berangkat menuju Wonogiri. Mengingatnya mepetnya waktu, supir membawa kami melintasi jalur alternatif supaya cepat sampai di Wonogiri. Tapi ternyata tempat nikahannya masih 1 jam lagi dari Wonogiri. Di jalan sudah mati gaya, ngobrol sudah, makan sudah, nyanyi sudah, tidur sudah, wah udah nggak tau lagi mau apa. Dengan energi yang tersisa karena lapar, akhirnya sekitar pukul 13.15 kami sampai di Ds. Slareng, Hargantoro, Tirtomoyo, Wonogiri. Waw.. daerah ini pertama kali kami kunjungi. Di pelosok ternyata, bahkan kata warga sana, bukit balik rumah mba Sundu sudah masuk Pacitan, Jawa Timur.Setibanya di sana, kami malah disambut pengantin yang menunggu sekitar 1 jam setelah acaranya selesai. Ya, ternyata acara sudah selesai dan mempelai menunggu kami. Lelah pasti, tapi kami langsung disuguhi makanan tradisional yang bukan main enaknya, ditemani teh manis hangat. Sambil makan kami berfoto bersama. Keceriaan meliputi kami dan keluarga mempelai. Sekitar 1 jam lamanya kami di sana. Sebelum pulang kami sholat dulu. Selesai itu, kami langsung meluncur ke Solo sekitar jam 14.30 untuk belanja batik. Tampaknya tidak terkejar ke pasar Klewer, dan nyatanya memang demikian. Akhirnya kami sempatkan mampir di Laweyan saja. Masih buka ternyata beberapa tokonya. Di sana saya mendapat satu batik yang dipilihkan Elok. Warnanya unik dan desainnya menarik. Setelah satu jam "ngubek2" Laweyan, kami ke Orion untuk beli oleh2, terutama Intip titipan bos hehe..Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, kami pun langsung ke Yogya untuk mengejar makan malam. Setibanya di Yogya sekitar pukul 20.00 kami langsung ke Sate Samirono di daerah Kolombo. Saya ketemu Wedang Uwuh lagi lho. Sambil bersenda gurau dan foto2 kami dengan lahapnya menikmati sate kambing yang tersaji di meja.Sekitar pukul 21.30 selesai makan kami langsung meluncur ke hotel untuk istirahat dan mandi.Keesokan harinya, kami check in pukul 05.00 pagi ke bandara. Dengan maskapai penerbangan yang sama, kami tiba di Jakarta sekitar pukul 08.00. Sekelumit perjalanan singkat kami ke Wonogiri tidak layak untuk dilupakan. Sampai jumpa di pernikahan berikutnya ^_^

16 Februari 2009

Syukuran

Alhamdulillah rencana kami untuk mengadakan acara syukuran atas apa yang telah kami peroleh selama ini bersama adik2 yatim piatu dan dhuafa di Panti Aisyiyah di bilangan Setiabudi terlaksana juga. Acara berjalan lancar. Awalnya acara diadakan sekitar jam setengah 7 malam, ba'da maghrib. Tapi ternyata teman2 menunggu saya yang masih dalam perjalanan menuju lokasi dari kantor karena lembur. Makasih ya teman2.


Sesampainya saya di sana, Andhi membuka acara dengan sepatah dua patah kata tentang maksud kami mengadakan syukuran di panti. Setelah itu, bapak pengurus menyampaikan sambutannya, dilanjutkan dengan pembacaan doa. Selesai berdoa, kami langsung makan. Sofyan pesan Hoka-hoka Bento, sementara saya pesan kue tart double chocolate cake dan cup cake. Anak2 tampak senang menikmati hidangannya, apalagi barangkali belum tentu pernah mereka makan. Bahkan masih ada yang kesulitan memakai sumpit. Oia, ada lho yang nggak makan makanannya, katanya mau dibagi dengan ibunya di rumah. Wah, terharu deh dengernya T_T

Acara makan berlangsung kurang lebih 1 jam. Selesai makan, kami berfoto bersama dan anak2 segera pulang ke rumah masing2 berhubung malam semakin larut.
Terima kasih ya teman2 atas kehadiran dan sumbangsihnya dalam menyukseskan acara sosial kita yang pertama kalinya ini. Buat Sofyan, Andhi, Yudhi, Alis, Sapto, Luki, Ihsan, Hero, Narso, semuanya deh. Makasih ya. Semoga di masa2 mendatang bisa terus berlanjut. Amin ^_^

05 Februari 2009

Yogyakarta Kota Berhati Nyaman

Kata itu yang sering saya dapati selama berkunjung ke Yogya. Ternyata itu bukan sekadar istilah semata, setidaknya itu yang saya rasakan selama 3 hari libur akhir Januari lalu. Saya awalnya tidak berniat berlibur ke Yogya, tapi setelah dibujuk teman2, juga terpikir untuk bersilaturahmi dengan pakdhe Bambang sekeluarga, dan keinginan untuk memberi kejutan pada teman, saya akhirnya secara mendadak memutuskan pergi ke sana. Senin saya putuskan pergi ke sana, hari Selasa ada teman kantor, Wulan, yang mendadak harus dinas ke Lhokseumawe. Tiket mudik ke Yogya yang dia punya pun dia tawarkan pada saya. Tanpa ragu langsung saya beli tiketnya. Pulang kantor, saya langsung meluncur ke stasiun. Selepas sholat, saya langsung naik kereta.

Setibanya di stasiun Tugu Yogya, saya minta tolong Yudhi jemput saya di sana. Saya diantar Yudhi ke rumah Pakdhe. Saya awalnya ingin memberi kejutan pada pakdhe, dan berhasil :D Kami mengobrol sampai menjelang setengah tujuh pagi. Dilanjut dengan sarapan dan mandi pagi, saya diantar pakdhe ke stasiun Tugu untuk beli tiket pulang. Awalnya saya mau pulang dengan Argo Dwipangga. Tapi ternyata habis tiketnya. Akhirnya saya ambil tiket Bima kelas Executive. Nggak disangka, ternyata harga tiketnya murah lho, cuma 190 ribu, beda dengan tiket keberangkatan saya yang sampai 350 ribu. Dari sana, saya diajak pakdhe dan budhe ke daerah Ngireng-ireng, Panggungharjo, Bantul, tepatnya di belakang ISI. Ternyata di sana ada rumah makan gudeg tradisional, namanya Sego Gudeg Nggeneng. Cara penyajiannya, makanan yang kita pengen langsung ambil ke dapurnya. Tapi ternyata waktu sampai di sana, sedang ada pengajian karena tetangga warung tadi meninggal. Dalam keadaan berkabung, mustahil warungnya buka. Karena itu, pakdhe langsung mengganti tujuan makan ke daerah lain, tepatnya di daerah Sumberagung, Jetis. Masih di Bantul. Nama warung makannya Mangut Lele Jetis.

Enaknya nggak terperi. Hehehe... Sayur2an mentahnya ada yang belum pernah saya makan atau lihat. Sekilas mirip rumput, tapi rasanya seperti daun pandan. Selepas makan kenyang di sana, saya kembali ke Yogya. Saya janjian dengan Yudhi dan Alis di Malioboro. Tapi saya sebenarnya mau memberi kejutan buat teman saya yang lagi datang dari Solo, Elok. Tanpa sepengetahuan dia, saya pergi ke Yogya di saat yang bersamaan dia pergi ke Yogya juga. Tapi ternyata dia sudah terlanjur naik Pramek ke Solo waktu saya sampai di Malioboro. Akhirnya selepas siang saya habiskan hari ngobrol2 di restoran di Malioboro Mall dan rumah Alis di dekat Alun2 Selatan. Selepas Maghrib, kami jalan ke Ngasem, makan bakmi godhog. Enaknya :D

Selesai makan, kami ke Ring Road Utara. Ada yang mau karaokean di Happy Puppy. Rasa capek karena perjalanan di kereta membuat saya nggak bersemangat karaoke, apalagi sampai jam 11 malam. Yang lebih nggak enak lagi, gimana pulang ke rumah pakdhe kalau beliau sudah tidur. Akhirnya dengan diantar teman2, saya pulang. Untung pakdhe nggak marah. Hehe..Keesokan harinya, saya ke Malioboro lagi. Dengan ditemani Yudhi, saya akhirnya ketemu dengan Elok dan temannya, Ryna, Alis, dan mas Erwin. Dari sana, kami ke arah Kaliurang untuk wisata alam. Tapi sebelumnya kami makan dulu di Boyong Kalegan. Suasananya kayak restoran saung khas Sunda. Makanannya lumayan enak, apalagi guramenya ;p


Nggak diduga, hujan lebat mengguyur. Jadinya kami nggak jadi ke Kaliurang. Sambil menunggu reda, kami ngobrol ngalor ngidul.
Hehehe... Ternyata hujan nggak berhenti2, jadinya kami nekad juga menerobos hujan. Tapi kami nggak jadi ke Kaliurang, tapi karaokean di Happy Puppy. Berhubung tiba2 saya teringat dengan janji mau diajak pergi pakdhe sekeluarga, mendadak di jalan saya batalkan acaranya. Akhirnya saya langsung pulang. Begitu selesai sholat maghrib, kami pergi ke daerah selatan. Kalau nggak salah di Suryowijayan. Makan bakmi godhog, terus minumnya wedang uwuh. Tampilannya sih ga menarik, tapi rasanya enak lho ternyata. Makan kenyang, tidur nyenyak, senangnya :D

Besoknya, saya diajak ke Bebeng, di sekitar kaki gunung Merapi. Pakdhe bilang kalau mall banyak, tapi kalau objek wisata begini cuma ada satu2nya ini. Kapan lagi pikir saya. Akhirnya kita ke sana. Di sana sempat berfoto depan Merapi dari jarak dekat. Kota Yogya terlihat di kejauhan. Pemandangannya bagus. Di sana saya sempat icip jadah tempe ditemani wedang jahe. Sebelum pulang, mampir ke rumah mbah Maridjan. Senang banget saya bisa ke sana. Kapan2 lagi ya pakdhe :)Siang hingga sore saya habiskan waktu di rumah. Kecuali sempat ke Beringharjo beli sanggul titipan mama. Selama saya ke Yogya, banyak bahan obrolan dengan pakdhe yang saya petik dan pelajari, mulai dari filosofi dan makna hidup, kesederhanaan, kebersahajaan, kebijaksanaan, dan kepasrahan pada Yang Kuasa. Makasih banget buat pakdhe atas nasihat2nya.Malam saya pulang, perjalanan serasa menyenangkan karena sudah melewati weekend dengan senang juga. Meskipun ternyata saya telat sampai Jakarta. Sampai Gambir jam 8 pagi, ternyata hujan lebat. Apalagi saya bawa sanggul sekotak besar. Jadi mau nggak mau saya antre taksi. Hampir sejam kemudian saya baru dapat taksi, langsung meluncur ke kosan, mandi secepat kilat, dan kembali lagi. Bos alhamdulillah nggak marah karena saya sudah ijin sebelumnya. Duh, nggak lagi deh pulang mepet2. Hehehe...

Yogya, kali ini dia berhasil mencuri hati saya. Nggak sampai 3 hari saya sudah mulai jatuh cinta pada Yogya, tanpa melupakan Bandung pastinya ;p

Mengenai Saya

Foto Saya
Oki Jelly
Saya seperti orang biasa pada umumnya, hanya sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin senantiasa berbuat baik
Lihat profil lengkapku