05 Mei 2011

Make something from nothing

Kalau ada yang pernah menonton acara Dragon's Den di BBC Knowledge lewat TV kabel berbayar dan memang menyenangi hal2 berbau bisnis, pasti nggak akan pernah mau melewatkan acara itu. Dragon's Den menampilkan 5 naga (dragon) yang menjadi bagian dari segelintir orang di seantero Inggris yang cukup (atau sangat) beruntung dapat memiliki kerajaan bisnis yang besar dan diperhitungkan. Dalam satu episode, ada beberapa pengusaha muda, amatir, atau berskala kecil yang mencoba melebarkan sayap atau melakukan ekspansi bisnisnya lebih luas melalui presentasi di depan para naga di sarangnya (den). Harapannya, jika para naga terkesan, mereka bisa mendapat tambahan modal dari para naga dengan konsekuensi sebagian dari saham mereka akan dikuasai oleh para naga yang setuju untuk menjadi partner bisnisnya. Tentunya dengan pengalaman para naga di dunia bisnis akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi mereka.
Satu dari 5 naga adalah Deborah Meaden yang menjadi naga wanita satu2nya. Sosok wanita ini bisa dibilang brilian, ulet, cekatan, berani, dan tegas. Diilhami dari bisnis keluarganya di taman hiburan, dia memulai sendiri bisnisnya sejak dari penjaga permainan Bingo, menjadi pemilik permainan Bingo, sampai menjadi pemilik taman bermain yang sudah dimiliki oleh keluarganya sendiri. Nggak berhenti di situ, dia mulai merambah ke taman bermain lainnya. Di Den, dia mulai merambah ke sektor lain, mulai dari fashion, sampai eco-green. Dengan ketegasannya, di Den dia sering dianggap sebagai wanita yang jahat dengan komentar2nya yang pedas. Tapi dengan modal itulah, dia bisa melihat peluang bisnis calon2 pebisnis ulung, mengorek kelemahan dan kebohongan presenter yang dikemas dengan apik. Satu ucapannya yang terekam saat wawancara dia: "I make something from nothing". Perlu dijadikan motto pribadi nih, biar tetap semangat biarpun banyak rintangan, entah dari luar atau dari diri sendiri. Mari terus berusaha dan maju..!!!

25 April 2011

Bukittinggi nan elok

Elok nian Bukittinggi itu. Sejak awal menginjakkan kaki di sana sampai pulang, kesannya betul2 melekat. Libur panjang akhir minggu lalu saya dan sebagian kecil teman kuliah saya, Adisty, Ulong, Sofyan, dan Latif, berlibur bersama. Kalau dipikir2, ini jadi ajang reuni kami juga setelah hampir 10 tahun saling mengenal. Tak terasa, usia semakin bertambah, waktu terus berlalu, dan kami masih seperti dulu.

Jumat pagi (22/4) kami berangkat terlambat 2 jam. Alasannya kenapa saya nggak mau bilang, karena nanti saya jadi seperti Prita. Komplain yang konstruktif supaya hal yang sama nggak terulang pada orang lain, eh malah jadi bumerang. Sudahlah. Intinya kami sampai di Padang hampir 2 jam kemudian. Kesan pertama, tampak sepi ya Padang itu. Ternyata bandara internasional Minangkabau itu di luar kota. Entah bagaimana nasib bandara lamanya. Di bandara kami dijemput om Syofyan, terhitung masih kakeknya Adisty. Beliau punya usaha rental mobil dan kafe di Bukittinggi. Bisa jadi pilihan buat teman2 kalau mau ke sana.
Dari bandara kami diajak ke Pantai Padang. Sederet restoran seafood menggoda kami untuk mampir. Makan sebentar, sholat Jumat, kami langsung ke arah Bukittinggi. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Tipikal landscape-nya memang berbeda dengan yang selama ini saya lihat. Mulai dari Lembah Anai, tempat air terjun di pinggir jalan raya, belum lagi ngarai2 yang sedemikian luas dan tinggi. Di sepanjang perjalanan, kami juga mampir di beberapa tempat kuliner khas sana, seperti Pinyaram, semacam kue ketan yang memiliki rasa seperti cucur, juga Sate Mak Syukur, sate padang di Padang Panjang yang bumbunya belum pernah saya rasa sebelumnya.
Setibanya di Bukittinggi, kami ke Mess Anggraini dengan tarif hanya 100 ribu/malam untuk umum. Berbenah sebentar, kami langsung jalan lagi untuk makan malam di Turret Cafe milik Om Syofyan. Selesai makan, kami mengantar Adisty untuk bersilaturahmi dengan keluarga besarnya yang belum pernah dia kenal dan temui sebelumnya. Unik ^^
Besoknya, Sabtu pagi (23/4) kami langsung meluncur ke Ngarai Sianok. Pemandangan luar biasa indah. Dari situ kami ke Lobang Jepang yang masih satu kompleks, sarapan di Pical Ayang, lanjut ke Danau Maninjau. Karena keterbatasan waktu, kami nggak sampai di danaunya. Kami cuma berhenti di suatu jalan, entah kelok ke berapa (ke Maninjau perlu 44 kelok jalan). Dari sana, lagi2 mata kami dihiasi dengan indahnya lukisan Sang Maha Pencipta. Danau yang tertutup kabut dan dikelilingi ngarai tinggi membuat Maninjau makin elok. Puas berfoto2, kami langsung ke Batusangkar untuk lihat istana Pagaruyung. Berhubung habis terbakar, istana masih tertutup untuk umum, tapi kami tetap menyempatkan diri untuk berfoto. Arsitektur yang khas Minang dengan ukiran dinding kayu yang cantik dan berwarna-warni, juga ukuran yang tidak kecil semakin membuat saya terpana. Hebat juga orang Minang mengembangkan budaya mereka sampai sedemikian.
Dari sana, kami langsung balik ke Bukittinggi supaya masih sempat belanja di Pasar Ateh. Di tengah jalan sempat mampir di warung Cancang Kambing H. Marah di dekat perbatasan kota Bukittinggi. Lagi2 makanan yang belum pernah saya coba. Sesampainya kami di pasar, kami langsung belanja songket untuk ibu masing2 dan sekadar buah tangan. Foto2 di jam gadang sepuasnya, jajan cendol durian, dan air tawar yang sebetulnya cincau ditambahkan sejenis jeruk sebagai obat masyarakat Minang jaman dulu sebelum dikenal obat2an medis kedokteran seperti sekarang ini. Itu pengakuan uda penjualnya. Puas belanja dan foto2, kami makan malam di by pass, dijamu oleh keluarganya Adisty. Senang, tapi malu juga karena merepotkan keluarga mereka hehe..

Minggu pagi (24/4) saya joging keliling kota selepas shubuh. Udara dingin dan segar, pemandangan alami, diiringi obrolan warga setempat dengan bahasa Minangnya yang unik bikin saya makin menyenangi kota ini. Sepulang joging, saya dan teman2 keliling Bukittinggi lagi, mulai ke benteng Fort de Kock, kebun binatang, sampai museum. Jam 9 pagi langsung ke Padang karena harus kejar pesawat jam 1 siang dan menghindari macet. Di tengah jalan kami beli Bika, kue khas sana yang mirip dengan Wingko Babat Semarang. Menjelang bandara kami makan siang di restoran Lamun Ombak.
Tepat jam 12 kami tiba di bandara, usai sudah petualangan kami di sana. Terkesan buru2 karena waktu yang mepet, tapi nggak mengurangi kesan yang kami dapat. Seperti iklan, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Yang berencana liburan, nggak ada salahnya memasukkan Bukittinggi ke daftar incaran. Nggak akan menyesal ^^

18 April 2011

Perjalanan ke Hong Kong

Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya, saya mendapat amanah lagi untuk menimba ilmu ke negeri seberang. Kali ini, giliran negeri Cina yang saya sambangi, tepatnya ke Hong Kong. Awalnya saya nggak suka dengan Hong Kong, berhubung "rasa2nya" bakal susah cari makanan halal di sana. Belum lagi, Caucasian-minded yang bikin saya rasanya selalu pengen ke negeri2 bule.

Tapi, pengalaman selama seminggu tinggal di sana membuat pikiran saya berubah total. Kota yang tertib biarpun terdiri dari blok2 kecil yang sempit karena diapit gedung2 tinggi. Betul2 bukan tipikal kebanyakan kota di Asia yang semrawut. Mungkin ada bagusnya juga negeri ini sempat dikuasai Inggris, jadi nilai2 sosial positif bisa berkembang, membudaya dan melekat dalam keseharian mereka. Selain itu, kota ini memiliki banyak ragam transportasi publik, mulai dari tram sampai subway (di sana disebut MTR) dengan fasilitas yang memadai, modern, dan murah. Itu yang membuat masyarakat sana lebih memilih naik transportasi publik ketimbang bawa mobil pribadi yang tentunya bisa dihitung dengan jari. Menuju masing2 moda angkutan itu pastinya perlu jalan kaki. Itu yang membuat mereka tampak bugar, nggak gampang capek dan nggak ngos2an waktu jalan jauh. Another positive thing about people of Hong Kong. Kita perlu berkaca pada mereka.
Uniknya lagi, pakaian mereka modis2, beda banget dengan orang2 kita kebanyakan. Hampir nggak ada yang tampak culun dan dandan seadanya. Rambut tertata rapi, pakaian yang dipadankan dengan sepatu yang mengkilap, belum tasnya yang trendi. Bikin sirik deh :)

Selama seminggu di sana, saya tinggal di wisma KJRI, kawasan Causeway Bay. Enaknya tinggal di sana, selain murah (HKD250/malam), banyak warung yang menyediakan masakan Indonesia, dan pastinya halal. Harga makanan rata2 berkisar HKD40. Kurs waktu itu sekitar Rp1100-an/HKD. Hitung aja jadinya berapa. 4 hari kursus yang saya ikuti terletak di 2ifc, hanya 3 stasiun jaraknya dari penginapan. Gedung dengan 70-an lantai, menjulang dengan angkuhnya, pertanda pusat ekonomi Hong Kong berada.

Setiap selesai kursus, saya dan teman2 kursus dari tempat kerja saya selalu menyempatkan diri jalan2. Mulai dari Causeway Bay dengan toko2nya yang bertebaran, menggoda setiap mata yang lapar dengan barang2nya yang branded dan murah. Harga gadget bisa sampai 2 juta selisihnya dengan di sini. Beli elektronik, sesuai saran panitia kursus, mendingan ke Broadway atau Fortress. Terjamin keasliannya. Untuk harga perabotan rumah murah, satu baju dengan harga yang sama di sini, di HK bisa dapet dua potong. Menggoda iman :)
Kami sempat juga ke Mong Kok dan Tsim Sha Tsui, keduanya di kawasan Kowloon. Kurang lebih mirip Causeway Bay, tapi lebih semrawut. Kalau mau cari suvenir, di sana enak karena banyak pilihan dan murah. Kalau secara kualitas, ya mesti pinter2 milih juga sih. Oia, waktu ke Ladies' Market, sempet kejam lho. Barang bisa ditawar sampai sepertiganya. Tapi ya dengan bonus muka jutek a la mereka sih hehe..
Wisata lainnya, kami sempat ke The Peak, puncak bukit yang ada di HK, dicapai dengan menggunakan tram. Harga HKD50 p.p. kalau pakai Octopus. Octopus itu kartu untuk naik segala macam moda transportasi umum di sana, bisa dibeli dengan harga HKD150 (100 untuk ongkos dan 50 deposit). Kalau udah mau pulang, kartu ini bisa direfund lho, semuanya. Back to topic, sayang karena nggak satupun dari kami yang bawa kamera, seadanya lah foto2 pakai kamera hp, dan itupun kehabisan batere di tengah2 foto. Mau foto di atas bisa sih, tapi mahal. Ukuran 6R yang paling kecil aja udah HKD100. Kalau patungan, bingung nanti fotonya buat siapa, berhubung cuma dapet satu.

Khusus weekend, hari Sabtu (16/4) kami ke Ngong Ping, tempat patung raksasa Buddha berada. Kita di Central transit untuk ambil Thung Cung Line. Dari stasiun, kami naik cable car hanya dengan HKD80 (single trip) karena pulangnya kami berencana naik bis, cukup dengan HKD17. Itu supaya banyak pemandangan yang bisa diliat :) Kalau mau round trip, cukup bayar HKD115 saja.
Setiba di Thung Cung, kami mampir ke Citygate Outlet, mall dengan barang2 diskonan 30-70%, all-year round ^^ Kalap juga sih, borong jam tangan asli di sana ;p Puas belanja dan makan siang, kami langsung ke Disneyland. Bukan untuk main. Selain nggak tertarik, emang udah bukan umurnya lagi. Jadi kami cuma cari suvenir di Disneyland Hotel. Sepulang dari sana, saya pun belum puas. Saya kembali menjelajahi toko2 pakaian di Causeway Bay. Berkantong2 akhirnya yang masuk koper. Betul2 surga dunia, murah dan terjangkau, tanpa pajak, branded. Kapan2 kayaknya perlu ke sana lagi khusus buat belanja ^^

04 Maret 2011

Who Do You Think You Are?

Judul di atas sebetulnya nama sebuah acara di salah satu stasiun televisi asal Inggris. Acara ini sebenarnya keliatan sederhana, yaitu mencari siapa sih nenek moyang kita, dari mana mereka berasal, di mana mereka tinggal, dan dengan cara apa mereka wafat. Subjek utama dari acara ini biasanya orang2 ternama di AS atau Inggris, sebut saja Lisa Kudrow, pemeran serial komedi Friends yang juga jadi salah satu produser dari acara ini, Sarah Jessica Parker, sampai Gwyneth Paltrow.

Ada satu episode di mana seseorang akhirnya mengetahui bahwa dirinya merupakan satu2nya keluarga yang selamat di keluarga besarnya dari holocaust di zaman Perang Dunia I. Ada juga episode lain di mana seseorang mengetahui mengapa buyutnya menghilang tanpa kabar. Ternyata buyutnya menjadi bagian dari sejarah terjadinya Gold Rush pada abad ke-19 di AS dan meninggal di sana.

Well, apapun ceritanya, ada beberapa hal yang mengganjal saya.
Pertama, sebegitu hebatnya kesadaran mereka akan data dan betapa lengkapnya genealogi yang tercatat di arsip setempat, sampai2 mereka bisa melacak keluarga mereka mulai dari kakek, buyut, sampai beberapa tingkat di atasnya. Itu pun sampai tahun 1600-an. Sementara kita di Indonesia mungkin masih zaman kerajaan tradisional, lengkap dengan pasukan berkuda membawa panah yang bahkan terpikirkan untuk mencatat silsilah pun nggak. Ya, biarpun nggak dengan pohon keluarga, minimal dengan akta kelahiran dan kematian kan bisa dilacak posisi keluarga kita.

Kedua, saya malah jadi bertanya ke diri sendiri. Keluarga saya sendiri gimana ya? Tau sendiri kalau pencatatan silsilah kita belum ada, atau kalaupun ada barangkali masih sangat prematur dan sederhana, dengan jaringan yang belum meluas ke seluruh Indonesia. Sementara eyang buyut dan orang tua dari bapak sudah nggak ada, sedangkan yang dari ibu tinggal satu, eyang kakung. Sepertinya saya mesti segera melacak silsilah keluarga saya. Selama ini yang berkembang kan cuma dari mulut ke mulut kalau kami keturunan sultan apa, pangeran mana, atau kyai siapa. Dengan melacak silsilah, selain saya bisa tau siapa saja keluarga saya sebenarnya, ke mana saja mereka selama ini, dan bagaimana kehidupan mereka, saya pun senggaknya bisa melengkapi potongan sejarah yang selama ini hilang, sehingga bisa jadi pengetahuan dan sumber informasi bagi anak cucu kelak supaya lebih menghargai keluarganya.

31 Januari 2011

Yogya is truly a pleasant city ^^

Untuk kesekian kalinya, alhamdulillah diberi kesempatan lagi untuk ke Yogya. Kali ini, dalam rangka nikahan Ririn, temanku yang baik hati, dan itu betul2 hanya untuk ke nikahannya. Jadi saya belum tau mau ke mana aja selama di Yogya.
Setiba di Yogya pagi2 di Bandara Adi Sutjipto, saya langsung ke Stasiun Tugu untuk cari tiket kereta pulang ke Jakarta hari Minggu (23/1) besoknya. Tiket dapat, saya sarapan di Sarkem. Ada mbok2 usia sekitar 50-an tahun jualan nasi gudeg lengkap dengan ayamnya. Cukup merogoh kocek 6 ribu saja. Murahnya ^^
Tapi saya nggak tau kalau ternyata itu kawasan prostitusi terselubung. Myrna yang bilang. Pantesan waktu makan banyak yang berseliweran orang2 berdandan aneh, wanita dan pria. hmm..

Anyway, setelah makan saya langsung balik ke Concat, tempat Myrna and the gank nyalon dan sakaw dengan hairspray-nya itu hehe.. Berhubung nyalon agak lama, akhirnya mereka yang seharusnya jadi penerima tamu malah jadi tamu beneran. Sampai sana pun mending kalau semua langsung antri depan pintu masuk untuk jadi among tamu, ini malah langsung makan di tempat tamu VIP, dengan lahapnya pula ;p Saya sebagai tamu betulan ya kena getahnya, makan di tempat VIP. Terpaksa, mau gimana lagi hehehehe..
Dari kawinan, kami langsung meluncur ke lereng Merapi untuk melihat kondisi kawasan sana pasca-erupsi. Kondisi di sana ternyata masih menyedihkan, rumah hancur, pohon dan bangunan gosong, bahkan pasir merapi masih mengeluarkan asap panas. Semoga mereka dikaruniai kebaikan di sana pascabencana itu. Amin.
Kami di sana nggak berapa lama, lalu kami langsung meluncur ke Mirota Batik di Kaliurang. Entah di km berapa. Di suatu daerah yang masih banyak sawahnya deh. Tempat belanjanya enak, barang2nya bagus2 dan murah2. Saya sampai kalap dan borong banyak pernak pernik untuk rumah. Selesai belanja, kami makan di Raminten di sebelah toko persis. Makan bakmi godhog di tengah hujan, dingin2 gimana gitu. Sedep deh.

Sepulang dari sana, mampir di rumah Myrna sambil janjian dengan pakdhe. Eh, taunya beliau sedang ada acara, jadi saya nggak bisa tidur tempat pakdhe. Akhirnya saya dapat tempat penginapan di Wisma MM UGM. Kebetulan Ririn sewa beberapa kamar untuk teman2 satu direktorat, tapi ada yang batal hadir, jadi saya bisa pakai kamarnya deh. Makasih ya Rin :)
Besoknya, hari Minggu saya nggak ada acara sebetulnya. Ke pakdhe lagi nggak di rumah, teman2 sudah punya acara masing2 dan mereka pulang sore, sementara saya pulang malam. Akhirnya saya ke Malioboro sendiri, tapi sebelumnya saya titip barang di loker stasiun. Saya belanja sendiri ke mana2. Makan di Raminten lagi, terus beli bakpia di KS Tubun, habis itu saya balik lagi ke Mirota Batik, tapi yang di Malioboro. Lagi2, saya beli pernak pernik rumah. Bahkan partisi rumah etnik cuma 200-an ribu. Hmm.. kapan lagi saya dapat barang murah begini. Saya beli dan minta kirim ke Jakarta aja deh. Dari situ, saya ke Beringharjo, cari sanggul pesanan mama. Ternyata banyak modelnya ya, yang terbaru namanya Keong Racun dan Manohara hahaha.. Kalau bukan karena bantu mama, saya mana tau istilah2 begitu ;p
Puas menjelajah Malioboro, malam saya makan di tempat lesehan diiringi musik pengamen. Habis itu sholat dan langsung pulang.

Berkesan banget selama di Yogya. Beberapa kali saya ajak ngobrol orang di jalan, mulai dari yang di toko sampai pengamen jalanan, semua ramah. Meninggalkan kesan mendalam. Siapa tau nanti kalau pensiun bisa menghabiskan waktu di sana sambil nimang cucu :)

30 Desember 2010

Selamat Jalan Papa

Innalillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun
Telah berpulang ke Rahmatulloh, ayahanda tercinta yang telah setia menemani mama selama kurang lebih 7 tahun terakhir ini, papa Abidin Nunsi, pada Jumat dini hari, pukul 04.30 WIT. Kepulangannya ke hadirat Illahi Robbi yang tidak terduga membuat kami terpukul dan terkejut. Beliau yang merupakan keturunan suku Sunda dan Dobo ini berpulang untuk selama2nya, meninggalkan mama, kesembilan putra putrinya, dan keempat cucunya.

Begitu banyak kenangan kami bersama papa selama ini. Papa yang mengenalkan saya dengan kehidupan Jakarta sebelum akhirnya saya benar2 bekerja di sini. Papa juga yang membuat saya punya tempat menginap untuk menghadapi tes wawancara di tempat kerja saya sekarang, biarpun waktu itu menginap bersama rekan2 kerja beliau. Papa yang bisa membawa saya kembali ke Dufan lagi semenjak SMP. Papa yang sering mengajak piknik ke Pantai Pasir Putih di Manokwari sambil bakar ikan. Papa juga yang sering bawakan durian dan roti abon gulung khas Manokwari yang disukai banyak orang. Papa yang pernah antar saya ke bandara untuk pulang ke Jakarta biarpun dalam kondisi lemah. Papa pula yang mengenalkan seluk beluk Jakarta karena sering menginap di berbagai hotel di segenap penjuru Jakarta.

Kini, Papa telah pergi untuk selamanya, ke pangkuanNya dalam keadaan damai dan tenang, tanpa rasa sakit yang sudah menghampiri beliau setahun ini. Semoga Alloh menerima amal ibadah dan iman islam beliau, dilapangkan kuburnya, dan diberikan ganjaran yang sempurna di hadapanNya. Amin.

Maafkan karena Papa nggak bisa lihat saya ketika menikah kelak, maafkan kalau saya masih kurang berbakti selama ini, maafkan juga kalau pernah ada salah kata dan perbuatan. Satu hal yang Papa perlu tau, dan saya yakin Papa sudah tau, kalau saya selalu menyayangi Papa. Terima kasih telah membawa kebahagiaan bagi mama dan kami sekeluarga. Selamat jalan.

16 November 2010

Dasar Penyebab Perbedaan Penentuan Kalender Qomariyah


Saya kutip dari blog tetangga, semoga bermanfaat.
Kalau saya pribadi lebih condong kepada hal yang pasti. Adapun ketika zaman Rasulullah saw berpedoman pada ru'yat, semata2 karena keterbatasan ilmu dan teknologi ketika itu. Sementara di zaman sekarang, dengan dibantu teknologi yang sudah ada, kita bisa menentukan secara akurat dan hampir pasti ijtima' bulan.
Sementara itu, pada ru'yat mereka tetap berpedoman dengan hitungan minimal 2 derajat di atas ufuk sebagai batas masuknya bulan baru, tentu dengan catatan hilal terlihat. Yang masih menjadi pertanyaan saya, dari mana asal usul persyaratan 2 derajat itu, dari hadits, perhitungan, atau apa. Kalau ada yang tau mohon pencerahan dan infonya ya. Kalau memang ada unsur hitungan dalam penampakan hilal, kenapa nggak yang pasti2 saja dengan ilmu astronomi yang sudah ada? Toh sama2 hitungan :)
Bagaimanapun, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah, itulah indahnya Islam. Toh kalau salah masih dapat pahala satu kan? Wallahu a'lam bish-shawaab.
---
Seringnya perbedaan penetapan dalam menentukan Bulan Qamariyah (Berdasarkan Bulan) terutama dalam penetapan Iedul Fitri dan Iedul Adha, menimbulkan banyak pertanyaan bahkan ada sebagian yang dibuat bingung karenanya. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan karena kita butuh kepastian dan setidaknya yang paling mendekati dengan Quran dan Sunnah, serta ketenangan dalam beribadah. Mengenai perbedaan penetapan waktu ini disebabkan perbedaan criteria, yaitu antara criteria wujudul hilal dan Imkanur rukyat. Mari kita kaji mana kah yang lebih kuat.
A.      Wujudul Hilal
Wujud artinya ada, sedangkan hilal adalah pantulan sinar bulan ke bumi yang berbentuk kelengkungan. Maksudnya adalah saat matahari tenggelam, hilal (bulan sabit muda) suda ada di atas ufuk mar’I (berapapun tingginya, terlihat atau tidak terlihat). Alas an diberlakukannya pendapat ini adalah dengan perkembangan IPTEK saat ini, posisi hlal sudah dapat dihitung secara teliti dan tidak diragukan (hampir pasti).
Untuk kelompok wujudul hilal awal bulan diteteapkan jika terpenuhi dua syarat berikut:
a.       Ijtima’ (posisi bulan dan matahari berada dalam satu bujur astronomis. Dilihat dari bumi, bulan sejajar dengan matahari) terjadi sebelum matahari terbenam.
b.      Saat ghurub (setelah itima’) hilal/bulan berada di atas ufuq mar’I (garis horizon/cakrawala yang terliat oleh mata seseorang). Berapa pun ketinggianna, terlihat ataupun tidak
Adapun dalil yang dijadikan landasannya adalah ayat al-Quran berikut ini:

189. mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya[1], akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.(QS. Al-Baqarah:189)

[1] Pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji, mereka memasuki rumah dari belakang bukan dari depan. hal ini ditanyakan pula oleh Para sahabat kepada Rasulullah s.a.w., Maka diturunkanlah ayat ini.

39. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua[2].
40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yaasin:39-40)

[2] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

Aayat pertama mengandung arti bahwa hilal (bulan sabit muda) dapat dijadikan pedoman waktu untuk manusia, terutama dalam melaksanakan ibadah haji harus dijadikan acuan miqat zamani. Mengenai kapan, bagaimana, kea rah mana kita lihat hilal, ayat tadi tidak membicarakannya.
Petunjuk lebih jells dapat kita temukan dalam surat yaasin:39-40, sebagaimana dijelaskan oleh H. Saadoe’ddin Djambek dalam bukunya “Hisab Awal Bulan Qamariyah”, ayat ke 39 surat Yasin tersebut menjadi petunjuk bahwa kembalinya bentuk bulan seperti tandan tua sebagai awal pergantian bulan hijriyyah. Bentuk bulan seperti itu dapat dilihat dari bumi menjeang dan setelah bulan mati (Ijtima’). Ntuk mengetahui bulan sabit yang mana yang dimaksud dalam ayat ini, maka ayat selanjutnya menerangkan “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan (mengejar) bulan”

Penggalan arti ayat diatas menerangkan tentang perjalanan semua tahunan matahari dan perjalanan hakiki bulan, dimana perjalanan bulan lebih cepat 12 Ú per harinya dibandingkan dengan matahari. Oleh Karen itu tidak matahari dapat mengejarnya. Per harinya matahari bergeser kearah timur sebesar 0 Ú 59’ 8.25”. hampir 1̊ (360Ú : 365.25 hari), sedngkan bulan bergerak kearah timur sebesar 13Ú 10’ 37.77”/hari (360Ú:27.32 hari). Dengan demikian maka yang dimaksud dengan bulan sabit pada ayat di atas adalah bulan sabit yang terjadi setelah terkejarnya matahari oleh bulan atau dengan kata lain setelah terjadinya ijtima’.

Apa yang jadi patokan bahwa perjalanan bulan telah mendahului matahari? Atau kalau diibaratkan perlombaan mana garis finisnya? Penggalan ayat selanjutnya mengatakan “dan malam pun tidak dapat mendahului siang”. Rupanya ayat ini menginformasikan tentang ufuk/horizon barat. Karena yang dapat memisahkan antara siang dan malam adalah garis ufuk barat setempat.Suatu tempat akan mengalami malam apabila matahari sudah masuk atau berada dibawah ufuk, sedangkan kalau matahari masih diatas ufuk maka tempat itu mengalami siang. Dengan demikian bulan akan dikatakan telah mendahului matahari apabila ketika matahari mendekati garis finis (ufuk barat) bulan telah berada disebelah timurnya-karena perlombaan tersebut berlaku dari arah barat kearah timur-. Atau dengan perkataan lain ketika matahari terbenam di ufuk barat, bulan sudah ada di atasnya, karena ke bawah menunjukan barat dan ke atas menunjukan timur.

B.       Kritik Terhadap Kriteria Wujudul Hilal

Dari segi sumber dalil yang dijadikan landasan untuk penentuan ABQ, criteria wujudul—hilal ini hanya berdasarkan Al-quran saja. ADapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang praktek penentuan ABQ pada masa rasul SAW tidak dijadikan landasan hokum. Padahal kalu kita hubungkan dengan fungsi hadits terhadap al-quran, fungsinya adalah untuk menjelaskan atau memperinci dai-dalil al-Quran- dalam hal ini tentang ABQ- yang masih bersifat mujmal (Global). Kalaupun digunakan, maka pengertian yang sebenarnya dari hadits-hadits tersebut diselewengkan, yaitu dengan menerjemahkan lafazh “ra aytul hilaal” (melihat dengan akal pikiran).

Untuk mengetahuivaliditas (kebenaran) dari pendapat di atas, mak lafazh ra ay tersebut harus diuji dengan kaidah-kaidah bahasa yang telah dibuat oleh par ahli tenang makna-makna sutu lafazhm lafazh (ra ay) di atas bisa ditempatkan pada dua kemungkinan, kemungkinan pertama termasuk lafazh musytarak, yaitu lafazh yang mempunyai beberapa arti. Dimana arti-arti tersebut adalah, melihat dengan mata, melihat dengan akal pikiran, dan melihat dengan hati.

Menurut point dalam kaidah kedua di atas, apabila persekutuan makna dalam nash syar’I tersebut terjadi antara beberapa makna lughawi, maka seseorang wajib berijtihad untuk menentukan arti yang dimaksud. Sebab syar’I (pembuat syariat) niscaya tidak menghendaki seluruh arti lfazh musytarak, melainkan salah satu arti dari beberapa arti yang tiga macam itu. Oleh karena itu seorang mujtahid harus sanggup menunjukan qarinah (keterngan pendukung) atau dalil-dalil yang dapat menentukan arti yang dikehendaki.
Bagi yang mengartikanlafazh (ra ay) melihat dengan qarinahnya adalah konteks kalimat dari hadits-hadits tentang praktek penentuan ABQ di zaman Rasulullah SAW, yang salah satunya hadits dibawah ini:

“Seorang badwi mendatangi Rasulullah SAW, ia berkata: Sesungguhnya saya telah melihat hilal (Ramadhan), “Rasul bertanya: “Apakah engkau mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah?’ Orang badwi tersebut menjawab “Ya”. Rasul bertanya lagi “Apakah engkau mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah?’ orang badwi menjawab “Ya”. Kemudian Rasul bersabda “ya Bilal, beriahukanlah kepada orang-orang supaya shaum esok hari”

Berdasarkan hadits diatas kita mengetahui bahwa melihat hilalnya orag badwi (arabgunung) adalah penglihatan dengan mata kepalanya sendiri, bukan dengan akal pikiran atau dengan hatinya. Sesuai dengan keumuman masyarkat arab pada waktu itu yang ummi terlebih lagi orang arab gunung diatas, tidak mungkin dia melihat hilal dengan akal pikirannya atau dengan hasil hisabnya.

Memang betul kata (ra ay yari) bisa diartikan melihat dengan akal pikiran tetapi harus melihat dulu konteks kalimatya dan ada qarinahnya untuk bisa diartikan dengannya, misalnya kalimat dalam surat al-Fiil:1harus diartikan dengan akal pikiran karena nabi SAW yang baru lahir saat itu belum bisa menyaksikan peristiwa dihancurkannya tentara bergajah. Tetapi semua lafazh (ra ay) dalam hadits-hadits ABQ memiliki arti melihat dengan mata, karena dari segi konteks mengharuskannya demikin dan juga tidak ada qarinah lain yang memalingkan artinya selain melihat dengan mata.

Kemungkinna yang kedua, lafazh (ra  ay) nii dikategorikan lafazh hakiki atau majazi. Hakiki maksudnya arti yang sebenarnya, sedangkan majazi maksudnya arti pinjaman, bukan sebenarnya.

Dalam hal ini para ahli ushul membuat kaidah sebagai berikut:
1.       Lafazh hakikat (sebenarnya) harus diamalkan menurut arti yang semula diciptakan untuknya.
2.       Jika suatu lafazh dapat diartikan dengan arti hakiki dan majazi hendaklah diartikan dengan arti yang hakiki, karena arti hakiki itulah yang asli.

Jadi, berdasarkan kaidah diatas mengartikan (ra ay) melihat dengan mata itu lebih shahih dibandingkan dengan melihat pakai pikiran atau melihat dengan hati, karena denga mata merupakan arti hakikinya (asli)

C.       Imkanur-Ru’yat

Menurut bahasa, imkan artinya mungkin atau memungkinkan, sedang ru’yat artinya melihat, maksudnya posisi hilal saat terbenam matahari harus sudah memungkinkan untuk dilihat.
Kelompok ini berpendapat bahwa, agar hilal disebut wujud, selain hilal harus berada di atas ufuk (saat maghrib setelah ijtima’), hilal (yang berada di atas ufuk) tersebut juga harus memungkinkan untuk diru’yat (imkan-ru’yat), untuk kelompok imkanurru’yat awal bulan ditetapkan jika terpenuhi tiga syarat sebaga berikut:
a.        Ijtima’ terjadi sebelum matahari terbenam
b.       Saat matahari gurub, hilal beradadiatas ufuq mar’i
c.        Hilal yang berada di atas ufuq tersebut harus memungkinkan untuk diru’yat
Syarat hilal agar memingkinkan untuk diru;yat menurut criteria MABIMS (Menter Agama Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) adalah:
-          Tinggi (irtifa’) hilal minimal 2̊ ̊
-          Selisih azimuth matahari dan bulan minimal 3̊ ̊(jarak horizontal bulan-matahari)
-          Umur bulan dan matahari berdasarkan imkanur-ru’yat dapat digambarkan sebagai berikut;

Dail-dalil imkanu-ru’yat tersebut antara lain
1.        matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (QS. Ar-Rahman:5)

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (QS.Al-AN’am:96)

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[3]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus:5)

[3] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.

dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (QS. Yaasin: 38)

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[4]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[5] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(QS. AT-taubah: 36)

[4] Maksudnya antara lain Ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram.
[5] Maksudnya janganlah kamu Menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan Mengadakan peperangan.


mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.(QS. Al-Baqarah:189)

39. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.
40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yaasin:39-40)

2.       Hadits-hadits Rasul SAW tentang ABQ, diantaranya:

Shaumlah bila kalian melihatnya (hilal) dan akhirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal). Tetapi jika terhalang maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari. (HR. Bukhariy Muslim)

Shaumlah bila kalian melihatnya (hilal) dan akhirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal, Tetapi jika diantara kalian dengan hilal terhalang awan, maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari. (HR Ahmad bin hanbal)

Shaumah bila kalian melihatnya (hilal) dan akhirilah shaum bila kalian melihatnya (Hilal). Tetapi jika  kalian terhalang maka tetapkanlah (shaum) 30 hari. (HR. Muslim)

Apabila kalian melihat hilal maka shaumlah, dan jika kalian melihat hilal (kembali) maka akhirilah shaum. Tetapi jika terhalang (sehingga hilal tidak terlihat) shaumlah 30 hari (HR. Muslim)

Lafazh fain ghabya ‘alaykum-fain haala baynakum wabaynahu sahaabun-fain aghmiya ‘alaykum-fain ghamma ‘alaykum

Dalam hadits diatas mengandung makna bahwa jika hilal tidak terlihat atau terhalang (walaupun beradadiatas uduk) maka hilal dianggap tidak/belum wujud. Artinya posisi hilal zaman rasul tidak hanya beradadi atas ufukmar’I saja tetapi hilal yang dapat terlihat sebagai cahaya pertama yang dipantulkan bulan setelah ijtima’

Jadi menurut kelompok imkanur-ru’yat yang disebut hilal adalah cahaya yang dipantulkan bulan setelah ijtima’, pda saat maghrib terlihat berupa garis lengkung putih. Sedangkan menurt kelompok wujudul hilal, hilal didefinisikan sebagai posisi bulan setelah ijtima’ dan pada saat maghrib berada di atas ufuk, walau belum tentu terlihat berupa garis lengkung putih

Padahal dalam bahasa Arab untuk bulan itu dikenal beberapa istilah, antara lain:
a.        Al-Qamaru: benda langit berupa satelit alam yang beredar mengelilingi bumi
b.       Al-hulalu: cahaya yang dupantulkan bulan berupa garis lengkung putih terlihat setelah ijtima’ sa’at maghrib (pantulan cahaya minimal)
c.        Al-Badru: cahaya yang dipantulkan bulan berupa lingkaran penuh (purnama / fullmoon/pantulan cahaya maksimal)

D.       Keberlakuan hasil Hisab Dan Ru’yat
Dalam khazanah fiqh, ditemukan tiga pendapat mengenai keberlakuan hasil hisab dan ru’yat ini. Pertama, hasil ru’yat (hisab) itu hanya berlaku untuk wilayah yang melihat hilal saja, sedangkan yang tidak melihat hilal, bulan yang sedang berjalan digenapkan menjadi 30 hari. Keuda, hasil ru’yat (hisab) itu berlaku untuk seluruh wilayah kekuasaan hakim (satu Negara). Ketiga. Hasil itu berlaku untuk seluruh dunia.

Pendapat pertama didasarkan pada hadits riwayat Muslim dan Kuraib, dimana pada waktu itu antara Syam dan Madinah berbeda dalam memulai bulan Ramadhan, Padahal Syam dan Madinah itu berada dalam satu wilayah kekhalifahan Mu’awiyah. Ketika hal itu ditanyakan kepada Ibnu Abbas beliau menjawab “Demikianlah rasulullah memerintah kami” artinya hasil ru’yat itu berlaku hanya untuk daerah yang melihat saja

Adapun pendapat kedua dan ketiga didasarkan kepada dalil umum tentang memulai puasa, dimana rasulullah SAW bersabda “Shaumlah kamu setelah melihat hilal) hadits tersebut dan hadits-hadits yang semakna dengannya memerintahkan kepada umat Islam dimana saja untuk shaum tanpa dibatasi oleh lokasi, daerah atau wilayah kekuasaan. Dengan perkataan lain, hasil hisab ru’yat itu berlaku untuk satu wilayah kekuasaan hakim (Negara), bahkan untuk seluruh dunia.

E.        Kesimpulan
1.       Landasan hokum criteria wujudul-hilal hanya dalil-dalil Al-Quran saja yang bserifat majmul (global), sedangkan criteria imkanur-ru’yat berdasarkan al-Quan dan al-hadits elalui cara istinbath yang dibuat dan disepakati oleh para ahli ushul fiqih
2.       Kriteria Imkanur-ru’yat adalah criteria yang dapat menyatukan antr wujudul-hilal dengan ahli ru’yat
3.       Menyarankan kepada pihak yang berpedoman wihdatul-mathali’ fi wilayatil-hukmi, kalau mau berpegang teguh kepada wujudul-hilal. Maka markaznya harus digeser ke kota paling timur di Indonesia, misalnya jayapura atau Merauke, jangan di kota Yogyakarta misalnya. Supaya seluruh wilayah Indoneia hilalnya positif di atas ufuk. Wallahu a’lam bis-shawab.
ket: ABQ (Awal Bulan Qamariyah)

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar