Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan

18 November 2012

Liburan yang Terlalu Singkat di Aceh

Berdasarkan evaluasi, artikel di blog saya yang paling banyak dikunjungi secara statistik adalah tentang traveling. Yap, meski aku bukan yang freak banget harus traveling tiap bulan, harus backpacking, atau harus apapun itu, tapi memang aku seneng banget liburan. Keliling Indonesia, that's my ultimate goal, at least until today. Yah, liburan di Indonesia punya tantangan tersendiri. Transportasi menuju lokasi wisata sering kali harus sambung menyambung (jadi inget lagu Dari Sabang Sampai Merauke hehe..), tapiii.. tons of beautiful places are ready to be discovered. I am sooo beyond ready to explore my beloved country.

Kali ini, aku liburan ke Aceh. Setelah ke Bengkulu beberapa bulan lalu, aku dan beberapa teman kuliah dan kantor -Ulong, Icha, dan Aya- sepakat untuk bikin mini-gank traveling dan menyasar Aceh sebagai destinasi berikutnya. Mmm.. nantinya akan banyak foto karena saking pengennya berbagi info mengenai liburan di Aceh ini. Semoga bisa menginspirasi yang lain untuk liburan ke sana.

Kami ke sana mengambil libur panjang 15-18 November 2012. Waktu ke Bengkulu, niatku adalah mencari tempat wisata yang jarang diketahui orang dan aku bisa menikmati alam sepuasnya. Sekarang, Aceh mungkin udah mulai populer sejak bencana tsunami akhir tahun 2004 lalu, tapi tetap dunia pariwisata sepertinya belum terlalu berkembang, terutama di kalangan wisatawan mancanegara. CMIIW. Nah, niatku sekarang nggak kalah menggebu, yaitu berwisata di tempat yang belum terlalu populer, sekaligus wisata kuliner. Oia, selama liburan, aku dibantu teman kuliah, Defri, yang memang asli orang Aceh. Awalnya sih dia mau ikut liburan, tapi ternyata dia baru tau kalau istrinya hamil. Urung bergabung, dia tetap berkomitmen membantu liburan kami selama di Aceh berjalan lancar.


Tanggal (15/11) siang kami tiba di Banda Aceh setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, termasuk transit di Medan. Dijemput Defri, kami langsung meluncur ke pelabuhan Ulee Lheue. Terletak di utara Banda Aceh, lokasi ini menjadi penghubung kami ke tujuan wisata utama kami, Sabang di Pulau Weh. Tapi, karena ini libur panjang, tiket kapal sudah habis terjual. Sistemnya memang agak unik, kita harus beli di tempat. Jadi, nggak ada semacam travel agent untuk beli dari jauh2 hari, apalagi beli online, jauh panggang dari api deh. Kami sempat khawatir karena udah booking hotel di Sabang untuk 2 hari. Sayang kan kalau sampai hangus gara2 nggak dapat tiket kapal penyebrangan. Beberapa saat kemudian, petugas lapangan mengumumkan kalau ada kapal tambahan yang akan berangkat jam 5 sore. Orang2 sontak langsung antri di depan loket yang ditunjuk oleh petugas meskipun masih tutup. Setelah "puas" mengantri, akhirnya jam 5 kapal berangkat, dan sampai di Sabang 1 jam kemudian. Dari situ, kami sudah ditunggui oleh teman Defri yang akan mengantarkan kami ke hotel. Di perjalanan, kami sempat berhenti untuk makan malam di Cafe Tepi Aneuk Lot, dengan menu utama mie Aceh. Kenapa mie Aceh, nanti kuceritakan lagi di belakang :) Sekitar jam 8 malam kami sampai di hotel The Point Sabang Resort.

Tanggal (16/11), kami pergi ke pantai belakang hotel. Nggak belakang persis sih, karena cuma ada tebing dan langsung laut berkarang. Kita mesti jalan ke samping, dan ada jalan tembus ke hotel Freddie. Seperti apa pantainya? Lihat aja sendiri. Nggak cukup dengan kata2 untuk menggambarkan keindahannya.



Di pantai ini sebetulnya kita bisa snorkeling. Tapi, karena tujuan utama kami adalah snorkeling di spot ternama di sana, akhirnya kami cuma berenang. Puas bermain, kami sarapan dan langsung bersiap2 menuju Iboih. Di sana, kita bisa snorkeling sepuasnya meskipun waktunya terbatas. Kenapa? Ini dia alasannya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tiba2 menjadi peribahasa yang amat penting di sana.

Sepanjang di Sabang, kami diantar oleh bang Rizal. Saya sengaja sebut, karena ada cerita unik nantinya dibalik nama itu hehe.. Mobilnya pun unik, Mitsubishi Colt Plus. Nggak pernah dengar kan? Mobil itu memang nggak dijual bebas di Indonesia. Berkat statusnya sebagai pelabuhan bebas, Sabang memang kebanjiran mobil impor bekas, terutama dari Singapura. Sekilas mirip Honda Jazz sih.
Kembali ke perjalanan. Berdasarkan masukan dia, kami mengarah ke Tugu Nol Kilometer dulu di ujung barat pulau sebelum ke Iboih selepas Jumatan di masjid raya Sabang. Matahari terlalu terik, kami pun nggak kuat berlama2 di luar mobil. Berfoto sebentar, kami langsung ke Iboih. Di sana, tempatnya luar biasa ramai. Karena libur panjang kali ya. Kami langsung antri di loket untuk sewa kapal yang akan mengantarkan kami ke spot penyelaman. Lucunya, spot penyelaman dibagi dua, pertama untuk wisatawan lokal dan kedua untuk wisatawan mancanegara. Yang untuk bule, lebih jauh dan lebih mahal, tapi lebih indah pastinya. Apa mau dikata, yang penting bisa snorkeling, itu sudah lebih dari cukup. Cuma sekitar 5 menit berlayar, kami sampai di tempat tujuan. Indahnya? Lagi2 susah diungkap dengan kata2. Sayang, kami nggak bawa kamera tahan air. But trust me, we were so stunning. It was extremely beautiful. Kami main sekitar 2 jam saja dan langsung kembali ke hotel untuk makan malam. Di balik kecantikan lautnya, di sana susah mencari kamar kecil untuk buang air kecil dan kamar ganti. Kamipun harus ke masjid setempat untuk bersih2, itupun mesti antri beberapa menit, bersaing dengan wisatawan lainnya.
Malamnya, kami cari makan malam dan mulai menetapkan untuk mencicip mie Aceh di berbagai restoran semampu kami. Kami yakin, mie Aceh di tempat asalnya pasti lebih enak dan punya ciri khas masing2. Malam itu, kami ke suatu kedai, sayang aku lupa namanya. Selain mie, aku juga minum kopi karena katanya kopi Aceh terkenal enak. Padahal aku sendiri jarang minum kopi, tapi berhubung lagi di Aceh kenapa nggak?



Tanggal (17/11) pagi, kami lagi2 main di pantai belakang hotel sampai menjelang siang. Selepas cek out sambil menunggu jadwal kapal sore untuk kembali ke Banda Aceh, kami makan siang, kami sambangi Kedai Kopi Beuna Raseuki. Kata bapak penjualnya artinya banyak rejeki. Rasanya? Aku berani bilang bahwa di sini adalah mie Aceh terenak yang aku makan selama liburan di Aceh, bahkan mengalahkan mie Aceh legendaris di Banda Aceh.

Selepas makan, kami menghabiskan waktu ke Anoi Itam yang berarti pasir hitam dalam bahasa Aceh. Di sana, kami ke benteng Jepang yang letaknya di bawah tanah pinggir tebing. Jadi, wujudnya lebih seperti bukit, tapi ada lubang tempat meriam. Di sana sepi banget, dan sepertinya belum terlalu populer dibanding Iboih atau Tugu Nol Kilometer.


Sore pun tiba, kami menyeberang ke Banda Aceh. Sesampainya di Ulee Lheue, kami ditawari taksi oleh seorang bapak paruh baya. Kamu pun menerima tawarannya. Cerita punya cerita, kami pun akhirnya bersepakat untuk menyewa bapak itu untuk keliling Banda Aceh keesokan harinya sampai waktu kepulangan kami ke Jakarta. Sayang, saya lupa nama bapak itu dan saya kehilangan nomor kontaknya. Tapi, dari cerita dia, bapak itu merupakan satu dari ratusan ribu orang yang merasakan dampak tsunami. Beliau kehilangan istri dan satu orang anaknya. Dia menduga mereka dimakamkan di pemakaman massal dekat bandara Sultan Iskandar Muda.

Malam itu, setelah kami cek in di Hotel 61 di kawasan Peunayong, kami jalan2 di sekitar sana. Pertama, kami makan malam di Mie Razali yang terkenal dengan mie Aceh kepitingnya. Ini mie Aceh ketiga yang kami cicipi. Puas dan lahap setelah menyantap, kami agak ke arah utara dan mencari oleh2, mulai dari kopi Aceh, kain tenun, kaos bergambar khas Aceh, sampai aneka jajanan. Sambil belanja, aku tanya ke beberapa penduduk lokal mengenai lokasi taman kerang. Waktu tinggal di Medan, aku pernah ke sana dengan keluarga. Taman itu terkenal karena memang lapangan luas itu beralaskan kulit kerang. Orang yang makan kerang di sana tinggal buang cangkangnya ke tanah, akhirnya bertumpuk dan jadi ciri khas taman kerang itu. Tapi warga bilang, tempat itu sudah bersih tersapu tsunami. Tempat itu ternyata masih ada meski hanya tinggal nama, tapi di sana masih tetap dijejali dengan para pedagang aneka kerang, mulai dari kerang rebus, sampai sate kerang.


Tanggal (18/11) hari terakhir kami di Aceh, pagi2 aku cari sarapan di luar hotel sambil lihat suasana Minggu pagi. Unik, sedang ada olahraga bersama di tengah jalan, dan ternyata barisannya terpisah. Syariat Islam memang merambah ke segala aspek hidup masyarakat setempat, olahraga di jalanan sekalipun.





Selepas sarapan, kami bertemu dengan bapak taksi itu, lalu mulailah kami menjelajahi Banda Aceh dengan tema tsunami, mulai dari masjid raya Baiturrahman sebagai salah satu tempat berlindung warga saat tsunami menerjang, Lampulo tempat kapal nelayan terdampar di pemukiman penduduk dan sempat menjadi "Noah's Ark" yang menyelamatkan beberapa penduduk yang terseret gelombang tsunami, sampai PLTD apung yang jaraknya sekitar 5 km dari pantai. Bisa dibayangkan dahsyatnya kekuatan tsunami ketika itu. Kami memang nggak banyak ambil gambar selama wisata sejarah tsunami tersebut karena merasa nggak tega dengan para korban.



Menjelang sore, kami meluncur ke arah bandara, tapi kami mampir dulu untuk minum kopi di Dapuh Kupi yang katanya memang terkenal di sana. Dari sana, kami lanjut makan ayam tangkap di RM Aceh Rayeuk yang berarti Aceh Besar sesuai saran bapak taksi itu (berbaju merah). Ayam tangkap itu ayam kampung yang dimasak dengan aneka dedaunan, seperti daun pandan, daun salam koja. Rasanya ruarrr biasa maknyus. Harus dicoba kalau pergi ke Aceh.


Lucunya, kami sempat iseng tanya salah satu nama pelayan, dia menjawab Rizal (berbaju batik hijau di tengah). Sontak kami tertawa lepas. Kami merasa, banyak sekali yang bernama Rizal di Aceh. Mungkin ada suatu masa di mana Rizal menjadi nama favorit di Aceh. Kami pun menceritakan itu ke bapak sopir taksi, dan dia pun menjawab bahwa putranya yang selamat dari tsunami itu juga bernama Rizal. Hmm.. oke. Ini lebih dari lucu hahaha..


Sebagai penutup perjalanan kami, menjelang bandara kami mampir sebentar di kuburan massal untuk mendoakan para korban, termasuk istri dan anak bapak taksi. Semoga mereka sudah tenang di sana. Wisata kali ini nggak sekedar bersenang2 di pantai yang nggak terlalu ramai dan populer, tapi juga wisata religi karena turut mengenang para korban tsunami dan merenungi makna hidup. Selain itu, wisata kuliner yang luar biasa juga semakin melengkapi keceriaan liburan kali ini. Masih banyak tempat wisata yang belum sempat dikunjungi, yang tentunya menjadi daya tarik bagi kami untuk kembali berwisata ke sana.

---
Total pengeluaran per orang +/- 3,17 juta
Tiket p.p. Jakarta-Banda Aceh: 1.628.000
Akomodasi (makan, transportasi, tiket masuk, oleh2): 1.544.000

18 April 2011

Perjalanan ke Hong Kong

Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya, saya mendapat amanah lagi untuk menimba ilmu ke negeri seberang. Kali ini, giliran negeri Cina yang saya sambangi, tepatnya ke Hong Kong. Awalnya saya nggak suka dengan Hong Kong, berhubung "rasa2nya" bakal susah cari makanan halal di sana. Belum lagi, Caucasian-minded yang bikin saya rasanya selalu pengen ke negeri2 bule.

Tapi, pengalaman selama seminggu tinggal di sana membuat pikiran saya berubah total. Kota yang tertib biarpun terdiri dari blok2 kecil yang sempit karena diapit gedung2 tinggi. Betul2 bukan tipikal kebanyakan kota di Asia yang semrawut. Mungkin ada bagusnya juga negeri ini sempat dikuasai Inggris, jadi nilai2 sosial positif bisa berkembang, membudaya dan melekat dalam keseharian mereka. Selain itu, kota ini memiliki banyak ragam transportasi publik, mulai dari tram sampai subway (di sana disebut MTR) dengan fasilitas yang memadai, modern, dan murah. Itu yang membuat masyarakat sana lebih memilih naik transportasi publik ketimbang bawa mobil pribadi yang tentunya bisa dihitung dengan jari. Menuju masing2 moda angkutan itu pastinya perlu jalan kaki. Itu yang membuat mereka tampak bugar, nggak gampang capek dan nggak ngos2an waktu jalan jauh. Another positive thing about people of Hong Kong. Kita perlu berkaca pada mereka.
Uniknya lagi, pakaian mereka modis2, beda banget dengan orang2 kita kebanyakan. Hampir nggak ada yang tampak culun dan dandan seadanya. Rambut tertata rapi, pakaian yang dipadankan dengan sepatu yang mengkilap, belum tasnya yang trendi. Bikin sirik deh :)

Selama seminggu di sana, saya tinggal di wisma KJRI, kawasan Causeway Bay. Enaknya tinggal di sana, selain murah (HKD250/malam), banyak warung yang menyediakan masakan Indonesia, dan pastinya halal. Harga makanan rata2 berkisar HKD40. Kurs waktu itu sekitar Rp1100-an/HKD. Hitung aja jadinya berapa. 4 hari kursus yang saya ikuti terletak di 2ifc, hanya 3 stasiun jaraknya dari penginapan. Gedung dengan 70-an lantai, menjulang dengan angkuhnya, pertanda pusat ekonomi Hong Kong berada.

Setiap selesai kursus, saya dan teman2 kursus dari tempat kerja saya selalu menyempatkan diri jalan2. Mulai dari Causeway Bay dengan toko2nya yang bertebaran, menggoda setiap mata yang lapar dengan barang2nya yang branded dan murah. Harga gadget bisa sampai 2 juta selisihnya dengan di sini. Beli elektronik, sesuai saran panitia kursus, mendingan ke Broadway atau Fortress. Terjamin keasliannya. Untuk harga perabotan rumah murah, satu baju dengan harga yang sama di sini, di HK bisa dapet dua potong. Menggoda iman :)
Kami sempat juga ke Mong Kok dan Tsim Sha Tsui, keduanya di kawasan Kowloon. Kurang lebih mirip Causeway Bay, tapi lebih semrawut. Kalau mau cari suvenir, di sana enak karena banyak pilihan dan murah. Kalau secara kualitas, ya mesti pinter2 milih juga sih. Oia, waktu ke Ladies' Market, sempet kejam lho. Barang bisa ditawar sampai sepertiganya. Tapi ya dengan bonus muka jutek a la mereka sih hehe..
Wisata lainnya, kami sempat ke The Peak, puncak bukit yang ada di HK, dicapai dengan menggunakan tram. Harga HKD50 p.p. kalau pakai Octopus. Octopus itu kartu untuk naik segala macam moda transportasi umum di sana, bisa dibeli dengan harga HKD150 (100 untuk ongkos dan 50 deposit). Kalau udah mau pulang, kartu ini bisa direfund lho, semuanya. Back to topic, sayang karena nggak satupun dari kami yang bawa kamera, seadanya lah foto2 pakai kamera hp, dan itupun kehabisan batere di tengah2 foto. Mau foto di atas bisa sih, tapi mahal. Ukuran 6R yang paling kecil aja udah HKD100. Kalau patungan, bingung nanti fotonya buat siapa, berhubung cuma dapet satu.

Khusus weekend, hari Sabtu (16/4) kami ke Ngong Ping, tempat patung raksasa Buddha berada. Kita di Central transit untuk ambil Thung Cung Line. Dari stasiun, kami naik cable car hanya dengan HKD80 (single trip) karena pulangnya kami berencana naik bis, cukup dengan HKD17. Itu supaya banyak pemandangan yang bisa diliat :) Kalau mau round trip, cukup bayar HKD115 saja.
Setiba di Thung Cung, kami mampir ke Citygate Outlet, mall dengan barang2 diskonan 30-70%, all-year round ^^ Kalap juga sih, borong jam tangan asli di sana ;p Puas belanja dan makan siang, kami langsung ke Disneyland. Bukan untuk main. Selain nggak tertarik, emang udah bukan umurnya lagi. Jadi kami cuma cari suvenir di Disneyland Hotel. Sepulang dari sana, saya pun belum puas. Saya kembali menjelajahi toko2 pakaian di Causeway Bay. Berkantong2 akhirnya yang masuk koper. Betul2 surga dunia, murah dan terjangkau, tanpa pajak, branded. Kapan2 kayaknya perlu ke sana lagi khusus buat belanja ^^

04 Maret 2011

Who Do You Think You Are?

Judul di atas sebetulnya nama sebuah acara di salah satu stasiun televisi asal Inggris. Acara ini sebenarnya keliatan sederhana, yaitu mencari siapa sih nenek moyang kita, dari mana mereka berasal, di mana mereka tinggal, dan dengan cara apa mereka wafat. Subjek utama dari acara ini biasanya orang2 ternama di AS atau Inggris, sebut saja Lisa Kudrow, pemeran serial komedi Friends yang juga jadi salah satu produser dari acara ini, Sarah Jessica Parker, sampai Gwyneth Paltrow.

Ada satu episode di mana seseorang akhirnya mengetahui bahwa dirinya merupakan satu2nya keluarga yang selamat di keluarga besarnya dari holocaust di zaman Perang Dunia I. Ada juga episode lain di mana seseorang mengetahui mengapa buyutnya menghilang tanpa kabar. Ternyata buyutnya menjadi bagian dari sejarah terjadinya Gold Rush pada abad ke-19 di AS dan meninggal di sana.

Well, apapun ceritanya, ada beberapa hal yang mengganjal saya.
Pertama, sebegitu hebatnya kesadaran mereka akan data dan betapa lengkapnya genealogi yang tercatat di arsip setempat, sampai2 mereka bisa melacak keluarga mereka mulai dari kakek, buyut, sampai beberapa tingkat di atasnya. Itu pun sampai tahun 1600-an. Sementara kita di Indonesia mungkin masih zaman kerajaan tradisional, lengkap dengan pasukan berkuda membawa panah yang bahkan terpikirkan untuk mencatat silsilah pun nggak. Ya, biarpun nggak dengan pohon keluarga, minimal dengan akta kelahiran dan kematian kan bisa dilacak posisi keluarga kita.

Kedua, saya malah jadi bertanya ke diri sendiri. Keluarga saya sendiri gimana ya? Tau sendiri kalau pencatatan silsilah kita belum ada, atau kalaupun ada barangkali masih sangat prematur dan sederhana, dengan jaringan yang belum meluas ke seluruh Indonesia. Sementara eyang buyut dan orang tua dari bapak sudah nggak ada, sedangkan yang dari ibu tinggal satu, eyang kakung. Sepertinya saya mesti segera melacak silsilah keluarga saya. Selama ini yang berkembang kan cuma dari mulut ke mulut kalau kami keturunan sultan apa, pangeran mana, atau kyai siapa. Dengan melacak silsilah, selain saya bisa tau siapa saja keluarga saya sebenarnya, ke mana saja mereka selama ini, dan bagaimana kehidupan mereka, saya pun senggaknya bisa melengkapi potongan sejarah yang selama ini hilang, sehingga bisa jadi pengetahuan dan sumber informasi bagi anak cucu kelak supaya lebih menghargai keluarganya.

26 Maret 2010

Another Trip: the US (3)

Hari Kamis (25/3) penuh keceriaan.

Pertama, hari gajian. Menghibur di tengah2 masa sulit (sulit nggak belanja hihihi - kidding). Utang kartu kredit dan ke teman2 langsung saya lunasi. Gaji langsung ludes, tapi rasanya lega nggak ada utang lagi hehe.

Kedua, kursus cuma setengah hari. Jadi, sisa hari saya habiskan untuk mengunjungi beberapa landmark kota yang hanya buka sampai jam 5 sore. National Mall, daerah luas antara Washington Monument dan Capitol Hill, tempat Smithsonian berada. Yap, dengar kata Smithsonian pikiran langsung tertuju ke kawasan dengan sederet museum besar dan megah, koleksi super lengkap, dan pastinya gratis! Saya nggak sabar untuk masuk ke sana.

Museum pertama yang saya kunjungi adalah Natural History Museum. Koleksinya luar biasa banyaknya. Dengan pembagian zona berdasarkan habitatnya, regionnya, sampai zamannya. Semua benar2 rapi dan terorganisir. Layout museumnya juga nggak bikin bingung, jadi kita nggak tersesat. Informasi tersedia di mana2.
Museum kedua adalah National Gallery of Art. Saya nggak terlalu ngerti seni sih, tapi mencoba untuk mengerti lah senggaknya. Tapi saya memang suka dengan seni lukis Eropa. Di sana terdapat bermacam koleksi dari berbagai negara dan dari beberapa abad lampau. Semua dibagi berdasarkan tema lukisannya.
Museum ketiga adalah Air and Space Museum. Di sana dipajang berbagai sejarah penerbangan mulai dari alat paling sederhana dan konyol sampai Wright Brothers yang menjadi pencetus awal pesawat terbang masa kini. Seksi astronomi juga ada di sana. Alat peraga canggih, informatif, dan user-friendly. Mulai dari pesawat ulang alik, satelit, teleskop Hubble, sampai roket juga ada. Pemajangannya juga menarik jadi kita penasaran dan tertarik untuk melihat. Puas banget rasanya. Cuma sayang, saya pakai baju kantor, jadi kaki sakit buat jalan. Makanya saya nggak bisa lama2. Huh. Tapi gpp lah. Yang penting rasa penasaran terbayar sudah. Apa ya selanjutnya?

19 November 2009

Long Trip to London (3)

Kemarin (18/11) akhirnya agenda social event yang diselenggarain sama penyelenggara kursus terlaksana juga. Kami nonton Jersey Boys di Prince Edward Theatre, Old Compton Street. Kalo mau ke sana gampang, tinggal naik Central Line, turun di Tottenham Court Road Underground. Persis di ujung timur Oxford Street.
Cerita drama ini terinspirasi dari kisah nyata Frankie Valli dan The Four Seasons. Mereka yang berasal dari working class di jalanan New Jersey, dengan logat Jersey yang kental, menghadapi lika liku menuju ketenaran sebagai kelompok vokal legendaris di AS. Lagu2nya keren, kayak Can't Take My Eyes Off of You, Big Girls Don't Cry, sampai Walk Like a Man. Suara para pemain sekaligus penyanyinya top abis. Haaahh.. masih kerekam jelas banget di otak teater tadi malem. Sebanding lah dengan harga tiketnya yang 60 pounds. Wah, pokoknya highly recommended deh. Kalo ada yang mau nonton, dateng aja ke sana. Dijamin nggak bakalan nyesel ^_^

30 September 2009

Ketika Cinta Bertasbih 2

Kemarin malam sepulang dari kantor saya sempatkan nonton Ketika Cinta Bertasbih 2. Meskipun kemasannya seperti sinetron, tapi saya tetap nonton dengan harapan ceritanya mampu membawa pencerahan dan inspirasi. Ada beberapa yang bisa saya petik hikmahnya.

Pertama, ketika permintaan ibunda Azzam kepada ayahanda Anna untuk menjadi penceramah pada saat walimah Azzam sehingga mereka pulang dengan tangan hampa, ternyata kematian menjemput sang bunda tanpa diduga dan begitu cepat. Semua sudah tercatat di Lauhul Mahfudz, dan tidak ada seorangpun yang bisa mengelak darinya. Jangan sia2kan hidup di dunia yang singkat ini dengan perbuatan tercela.
Kedua, saat Azzam untuk kesekian kalinya gagal dalam berta'aruf untuk menjalankan separuh agamanya. Dengan niat ikhlas dan dukungan kuat dari keluarganya, Azzam tidak berputus asa mencari pasangan hidupnya. Itu memotivasi saya untuk melakukan hal yang sama. Bukan seperti sekarang, berkali2 mencoba membina hubungan tapi selalu gagal karena niat yang nggak ikhlas.
Ketiga, saat Furqon akhirnya memeriksakan dirinya berkali2 untuk memastikan bahwa dia memang tidak mengidap HIV, bertolak belakang dengan hasil tes ketika dia masih berada di Mesir. membuat saya harus benar2 menyaring informasi atau masukan dari orang sebelum kita percaya dan kita yakini kebenarannya.
Keempat, orang yang merasa dirinya tawadhu', maka sesungguhnya dia tergolong orang yang takabbur. Betapa halus iblis menjerat kita melakukan perbuatan tercela melalui perbuatan baik. Ini dikupas dalam kitab al-Hikam Ibnu Athaillah. Jadi pengen belajar dan tau lebih banyak isinya.

Sebenernya masih ada beberapa yang bisa dipetik, cuma rasanya empat hal ini yang berkesan sekali. Dari KCB 2, saya membuat target baru yang harus difokuskan saat ini, (1) nikah dan (2) pelajari agama lebih dalam lagi ^.^

08 Desember 2008

Aamir and Amber

Pasti bertanya2, ada apa gerangan dengan kedua nama itu sampai saya rela nulis blog panjang2 tentang mereka ^_^
Sebenarnya ini semua berawal dari Jakarta International Film Festival ke-10 yang diselenggarakan pada 5-9 Desember 2008. Menurut jadwal, ada pemutaran film bertemakan kisah cinta antara seorang muallaf Australia dan gadis Pakistan di Goethe Haus, kawasan Menteng Jakarta. Dengan berbekal info bahwa film yang diputar gratis untuk umum, saya dan Asti meluncur ke sana dengan harapan bahwa kami masih mendapat tiket gratis, mengingat kursi yang tersedia hanya 100 buah. Telat sekitar 15 menit dari jadwal pemutarannya, akhirnya dimulailah kisah nyata tersebut. Sebelumnya saya minta maaf kalau cerita ini terdapat beberapa distorsi akibat keterbatasan memori saya :)
Bermula dari seorang Australia, Brian, yang memiliki minat pada permainan boneka puppet ketika menginjak usia remaja. Suatu ketika, diadakan sebuah festival puppet internasional di Lahore, Pakistan. Dengan keahlian yang disandangnya, dia terbang ke Lahore sebagai partisipan pada tahun 2000. Tanpa diduga, dia bertemu dengan seorang gadis Pakistan, Amber. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketika terbersit untuk menikah, Brian tersandung dengan perbedaan keyakinan di antara mereka. Sepulang dari festival puppet, dia semakin menekuni Islam dan berkeputusan untuk menjadi muallaf dan menikahi Amber. Saat itu pula, Brian mengubah namanya menjadi Aamir.
Dari sini, lika liku perjalanan kisah cinta mereka dimulai. Aamir kembali ke Lahore setahun kemudian untuk melamar sang pujaan hati. Keluarga Amber menyetujui pernikahan mereka, namun tidak demikian halnya dengan kakak laki2nya. Kakaknya beranggapan bahwa Aamir belum Islam karena prosesi Syahadat dilakukan di luar Pakistan. Apalagi dia seorang warga negara asing. Upaya meyakinkan orang tua dan keluarga Amber dilakukan Aamir, dan ternyata tidak sia2. Mereka menyetujui pertunangan Aamir dan Amber. Aamir sendiri berencana akan menetap di Pakistan. Bahkan, dia membuat boneka puppet keledai sebagai modal untuk membuat acara the Puppet Show di sebuah stasiun televisi di Pakistan. Dengan kepastian pernikahan tersebut, Aamir kembali ke Australia untuk menjual rumah dan menggantinya dengan rumah di Pakistan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, Aamir merasa jika Amber lebih baik tinggal di Australia. Terlebih lagi, ternyata produser acara televisi di Pakistan yang semula menyambut baik rencana Aamir membuat acara tersebut tidak kunjung terwujud. Dihadapkan pada kondisi demikian, dia kembali lagi ke Lahore untuk meminta orang tua Amber menikahkan mereka dan mengizinkan Aamir membawa putri mereka ke Australia. Orang tua Amber tidak serta merta mengizinkan karena kekhawatiran terhadap putri mereka. Mereka khawatir, jika Amber disakiti dan mereka jauh darinya, tidak ada yang dapat menolong Amber. Tidak ada yang menjamin pula bahwa Amber akan bahagia selama hidup di perantauan. Mereka akhirnya mengajukan syarat jaminan 500,000 rupee bagi putri mereka pada Aamir. Aamir dengan tegas menolak. Dia meyakinkan bahwa dia akan membahagiakan Amber. Keyakinan itu membuat orang tua Amber meminta waktu satu minggu untuk berpikir ulang.
Seminggu kemudian, Aamir kembali menemui orang tua Amber. Dengan berbagai pertimbangan, diputuskanlah pernikahan mereka berdua dalam beberapa hari ke depan. Kebahagiaan akhirnya meliputi kedua pasangan ini pada 2004. Tiba hari yang dinanti, mereka akhirnya melangsungkan pernikahan hanya 5 jam sebelum kepulangan Aamir ke Australia karena habisnya batas waktu visa. Sesaat sebelum kembali ke Australia, Aamir meminta Amber memenuhi segala persyaratan yang dimintanya untuk melengkapi pengajuan visa ke Australia. Dia meninggalkan boneka puppetnya agar istrinya dapat terus mengingatnya selama dia kembali ke Australia. Ternyata, dalam 9 bulan ke depan, persyaratan tidak kunjung terpenuhi, Amber tidak kunjung datang ke Australia, Aamir yang kini bekerja di sebuah pabrik kursi pun tidak dapat berkunjung ke Pakistan untuk menjenguk istrinya karena kekurangan biaya. Stres mulai menghinggapi Aamir, sampai2 dia harus ke psikiater untuk mencari solusi atas depresi yang dia alami. Istrinya pun nun jauh di sana ternyata jatuh sakit akibat menahan rindunya yang teramat sangat pada sang suami. Begitu mengetahui Amber sakit melalui saudara iparnya, Aamir menelpon Amber untuk menanyakan keadaannya. Namun Amber tidak mengakui. Merasa tidak diberi tahu yang sebenarnya, Aamir menelpon saudara iparnya dengan niat ingin menceraikan Amber karena sulitnya mereka bersatu dan ketidakjujuran Amber.
3 bulan kemudian, tepat setahun setelah mereka menikah, Aamir berkunjung ke Pakistan secara diam2 untuk memberi kejutan pada istri dan keluarganya sembari menyelesaikan persyaratan administrasi yang dibutuhkan untuk memproses visa. Di sana, dia kembali mengutarakan niatnya untuk membawa Amber ke Australia. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kedua orang tua Amber menyetujui rencana tersebut. Namun, sebelum membawa putri mereka ke Australia, mereka ingin prosesi pernikahan dilanjutkan ke tahap berikutnya, karena menurut adat istiadat setempat, pernikahan yang mereka lakukan setahun yang lalu belum lengkap. Akhirnya, setelah melalui berbagai persiapan mulai dari baju pernikahan, perhiasan, dan makanan, resepsi pun dilakukan selama 2 hari berturut2 di rumah Amber dengan mengundang kerabat dan tetangga.
Beberapa hari setelah resepsi, visa pun akhirnya keluar. Dengan berat hati, Amber harus meninggalkan orang tuanya tercinta di Pakistan untuk menjalani hidup baru bersama suaminya, Aamir, di Australia pada awal 2006. Bulan pertama menjadi masa2 tersulit bagi Amber karena harus berjauhan dengan keluarganya, terutama ibundanya. Bahkan dia bersikeras ingin kembali ke Pakistan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Amber dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah melalui berbagai rintangan selama 5 tahun, akhirnya mereka dapat hidupa bersama dengan bahagia.
Banyak nilai moral yang dapat dipetik dari kisah kedua insan yang jatuh cinta ini.
Pertama, jangan putus asa untuk sesuatu yang kita yakini dan kita ingin dapatkan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Kedua, pernikahan lintas budaya ternyata membutuhkan kearifan. Konflik antar budaya bisa mengakibatkan cinta yang dirasakan menjadi berkurang, bahkan mati. Untuk itu, diperlukan kompromi antar kedua pasangan untuk memilih jalan mana yang akan dihadapi dan dilalui sehingga cinta keduanya tetap dapat terpelihara dengan baik.
Ketiga, cinta memang butuh pengorbanan. Ada yang harus kita tinggalkan demi mendapat sesuatu yang lebih, meskipun kita teramat sangat mencintai dan menyayanginya.
Keempat, cinta memang tidak pandang bulu. Meskipun orang yang dicintai ada di ujung dunia pun akan tetap dikejar demi kebahagiaan yang diimpikan.
Duh, jadi mellow gini ya. Tapi emang film ini keren abis. Nggak kayak film pada umumnya, film ini dibuat seperti dokumenter karena ini memang kejadian nyata, tanpa melupakan unsur komedi tentunya, dimana sang sutradara berkebangsaan Iran yang bermukim di Australia, Faramarz K. Rahber, yang memang berteman dengan Brian a.k.a. Aamir berusaha mengikuti perjalanan cinta Aamir mendapatkan Amber tanpa campur tangan apapun, dikemas dengan apik, disajikan dengan penuh cita rasa, hingga sampailah film ini ke Indonesia dan bisa ditonton secara gratis oleh saya :D
Salut buat beliau. Semoga karya hebat ini bisa ditiru para sineas Indonesia dengan menyajikan film bermutu dengan kreativitas tinggi tanpa harus bertema yang (mereka anggap) sedang populer seperti film berbau “saru” atau klenik.

23 Agustus 2008

Akhirnya tampil juga... :p

Kemaren Jumat (22/8), saya akhirnya tampil juga sebagai anggota The Palmetto (The Project of All-Stars Monetary Authority). Penampilan perdana saya seperti yang diduga pasti mengundang komentar. Iyalah wajar, karena saya memang benar2 pertama kali bernyanyi di panggung di hadapan banyak orang (lain halnya dengan karaoke :p). Dari komentar ekspresi datar di awal lagu, gaya yang kaku, sampai suara yang tidak terlalu terdengar. Hihihi...
Mengenai suara, memang saya tidak terlalu keras, karena berdasarkan monitor yang ada di depan saya, suara saya terlampau keras sampai2 hampir menutupi suara 1. Makanya saya tidak berani terlalu keras. Tapi yang ada malah suaranya tidak terlalu terdengar. Hiks.
Tapi namanya juga belajar, apalagi pengalaman pertama. Semoga ini menjadi awal dari serentetan penampilan spektakuler saya yang lain *halah*
Kalau dipikir2, memang ya sensasinya sangat berbeda ketika di atas panggung. Kita disorot, orang2 bersorak buat kita. Hmm... serasa pengen jadi artis :p

Oia, Tari Piring yang dibawakan oleh para Cepipil Dancer membawa medali perak ke tangan Bidang 3. Tapi dari sisi orang awam, tarian yang diusung memang lebih dinamis, menghentak, dan membuat penasaran orang untuk melihat gerakannya. Terbukti dengan komentar orang2 setelah pentas berlangsung. Duh, rasanya pengen banget ada di panggung ikutan nari dengan teman2 Cepipil. Tapi apa daya, selain panggung terlalu kecil, badan pun lagi keseleo. Insya Alloh tahun depan. Nari apa ya kira2? Pengen deh nari Rentak Besapih dari Jambi. Kayaknya keren banget kalau buat lomba.

22 Juli 2008

Long time no see

Akhirnya bisa nulis blog lagi. Udah lama nggak nulis rasanya kangen juga. Banyak cerita juga yang terjadi selama saya nggak nulis. Yang jelas, seperti manusia2 lain, saya selain menjalani rutinitas, juga menemui banyak hal baru dan mengesankan setiap harinya.

Yang paling berkesan dalam bulan ini, my very first time going abroad :)
Saya ke Australia untuk menghadiri seminar mengenai perdagangan Asia Pasifik di Sydney, 14-15 Juli lalu. Awalnya sih Kepala Biro saya, Pak Wijoyo, yang akan presentasi mewakili kantor.
Ternyata, tanpa diduga, hanya beberapa jam setelah kami tiba di sana pada Minggu siang, beliau mendapat kabar kalau ayahandanya meninggal dunia. Alhasil, dia langsung pulang lagi ke Indonesia. Karena acara seperti tidak mungkin ditinggalkan begitu saja, akhirnya saya diminta untuk menggantikan dia presentasi keesokan harinya.

Alhamdulillah dengan pertolongan Alloh SWT saya bisa menjalani misi tersebut dengan baik. Pengalaman baru, pertama ke luar negeri sendiri (karena jadwal penerbangan saya dengan Kepala Biro beda), presentasi dalam bahasa Inggris sendirian mewakili institusi negara. Wow.... sensasi luar biasa deh pokoknya.

Hari kedua seminar, saya nggak ikutan, soalnya pas hari Minggu nggak sempet jalan2 :p Akhirnya saya memutuskan untuk mulai jalan2 jam 7 pagi, pas matahari baru terbit, di musim dingin begini. Saya jalan kaki ke downtown melewati taman Victoria Park, terus sampai Circular Quay. Di sana saya melihat berbagai objek menarik di Sydney, mulai dari Sydney Opera House, Harbour Bridge, sampai Luna Park di Miller's Point. Kesan saya selama traveling ke sana... Hmm.. Bersih, tertib, disiplin, maju, dan segudang kata lainnya yang berasosiasi dengan itu :D
Oia, cari makanan halal di sana agak sulit. Di pusat kota untung ada Cafe Kasturi, punya orang Malaysia. Dia ada di sudut jalan George St. dan Valentine St. Nggak terlalu jauh dari Railway Square kok.

Kesulitan yang saya temui selama di sana kayaknya cuma makanan dan udara dingin :p Saya padahal udah persiapan bawa lotion supaya kulit nggak kering. Tapi nggak ngaruh. Sampai di Bali pas transit menuju pulang ke Jakarta, kulit pecah2.

Beberapa saran saya kalau mau bepergian ke luar negeri berdasarkan pengalaman:
Jangan bawa benda berbentuk cair, liquid, aerosol dan sejenisnya melebihi 100 ml per kemasan dan jangan melebihi 1 liter secara total; bawa koper yang besar tapi isi dengan barang seefisien mungkin karena siapa tau bakal banyak bawa oleh2, apalagi batas max bagasi 20 kg saja; bawa lotion setiap kali pergi keluar rumah; cari informasi sebanyak2nya tentang tempat wisata, akses transportasi massal, toko souvenir, peta kota, juga mesjid, jadwal sholat dan restoran halal bagi yang muslim; kalau bisa sudah punya kartu kredit untuk memudahkan berbagai transaksi keuangan di sana; jangan lupa untuk menukarkan rupiah dengan mata uang negara tujuan di Indonesia, karena jatuhnya lebih murah daripada kita beli di sana; jangan lupa untuk bawa travel adapter (colokan listrik untuk berbagai bentuk) karena seringkali tempat colokan listrik beda banget sama di Indonesia; dan satu lagi, jangan lupa daftarkan nomor ponsel kita untuk international roaming.

Nanti kalo ada tips lain, saya kasih tau lagi :)

21 Mei 2008

T-Rex Grand Indonesia

Selasa kemarin, bertepatan dengan libur Waisak, saya dan teman2 satu kosan lagi2 karaoke di T-Rex Grand Indonesia, lantai 3A. Kenapa 3A, bukan 4? Nggak tau juga ya. Tapi dari artikel yang pernah saya baca sih, kepercayaan orang Cina kalau 4 itu seperti angka 13-nya orang Barat. Well, apapun itu, saya yang sebelumnya mengantar adik saya ke X-Trans Travel di Blora sudah sampai di sana duluan, saya berinisiatif menunggu di depan Fountain show, walaupun saya nggak melihat apapun yang dipertunjukkan.
Ternyata tepat pukul 8, lampu tiba2 mati, dan pertunjukan spektakuler pun dimulai. Air menari2, dihiasi dengan lampu warna warni yang menyemarakkan pertunjukan. Diiringi musik klasik, penonton semakin terbawa suasana riang dari lagu2 tersebut. Pertunjukan berlangsung sekitar 10 menit. Applause panjang mengakhiri show itu. Hmm... ternyata keren juga. Baru pertama kali ini saya lihat. Ayo, yang lain, kalau pada penasaran, dateng aja. Nggak sia2 kok :)

19 Mei 2008

Karaoke with EF students

Hari Sabtu kemarin, saya dan 3 orang teman conversation classmate di EF yaitu Nisa, mas Pandri, dan Ningsih karaoke di Inul Vista lt. 13 Sarinah sama Ms. Sonia yang baik hati dalam rangka perpisahan kami, karena sebagian dari kami tidak melanjutkan kursus itu dengan berbagai alasan masing2. Aya, adik Ningsih, dan Chris, teman Ms. Sonia yang juga mengajar di EF juga ikut datang di acara karaokean itu. Acara kemarin juga dalam rangka merayakan hari ulang tahun Ms. Sonia. Acaranya sangat menyenangkan. Tapi kadang agak bingung. Kita mau nyanyi, taunya yang sekarang2 saja lagunya. Kalaupun ada lagu lama, kita cuma tau beberapa. Ms. Sonia pasti tidak tau terlalu banyak lagu2 terbaru. Yang ada kami hanya menyanyikan lagu2 The Beatles, Frank Sinatra, ABBA, dan sejenisnya :)
Suara Ms. Sonia bagus juga kok. Saya sampai rekam di video sebagai kenang2an. Selesai karaoke, kami foto bareng. Setelah itu kami berpisah dengan Ms. Sonia dan Chris. Semoga kami masih dapat bertemu lagi. Apalagi kami masih ada voucher free 1 hour karaoke :p

Selesai dari sana, kami mendengar sedikit keriuhan di seberang. Ternyata itu bersumber dari Cafe Oh La La yang sedang menggelar acara nonton bareng final piala Uber. Ningsih dan Aya memutuskan untuk pulang duluan. mas Pandri mau main ke tempat teman di Kebon Kacang. Akhirnya, saya dan Nisa yang memang ingin nonton piala Uber akhirnya mencari2 cafe di sekitar Sarinah supaya bisa sambil nonton, karena di Oh La La tempatnya penuh. Singkat cerita, kami dapat tempat di Hot Planet, masih di Sarinah. Kami nonton piala Uber di sana. Meskipun pada akhirnya kalah, tapi yang penting usaha dan semangat mereka patut diacungi jempol.
Jam sudah menunjuk angka 9. Kami langsung pulang karena udah kecapekan nyanyi :)

28 April 2008

Cerita akhir pekan

Akhir pekan kemarin lain dari biasanya. Saya yang terbiasa sengaja mencari kesibukan (misalnya bikin janji baru sama teman2) kalau nggak ada acara saat weekend, kali ini saya mencoba untuk tetap tinggal di kosan dan menikmati hari tanpa lelah. Ternyata cukup menyenangkan. Saya bisa menyelesaikan membaca 2 Bab buku Ekonometri, saya juga bisa tidur siang, ditambah dengan film2 barat komedi yang bisa saya tonton sepuasnya. Ahh... Menyenangkan sekali. Saya menonton Enchanted, yang berkisah tentang seorang gadis di dunia kartun yang dibuang oleh calon Ibu mertuanya ke dunia manusia karena dia tidak ingin anaknya menikah dengan gadis biasa. Lucunya, malah si gadis menemukan pangeran sejatinya di dunia manusia, dan pangeran di dunia kartun menemukan pasangannya di dunia manusia juga dalam misinya mencari dan menyelamatkan calon istrinya terdahulu. Ada juga film She's The Man yang berkisah tentang seorang wanita yang sangat ingin bermain bola. Saking kerasnya perjuangan dia untuk meraih impiannya itu, terlebih saat dia ditolak bergabung di tim inti sekolahnya hanya karena dia wanita, dia berpura2 menjadi adiknya begitu adiknya pergi ke London untuk bermain musik. Cita2 dia tercapai. Tapi banyak kekacauan yang terjadi selama dan setelah dia menyamar jadi adiknya. Hmm... buat lengkapnya, nonton aja yaaa... ^_^
Oia, ngomong2 dompet saya yang sempat hilang. Kemarin Minggu sore saya ke Pasar Festival untuk bertemu dengan Bapak yang menemukan dompet saya itu. Tak disangka, Pak Sukanda (yang menemukan dompet itu) selain tercatat sebagai karyawan Pelita Air Service, juga seorang manager grup band. Hebatnya lagi, grup band itu beranggotakan 4 dari 5 anaknya, yaitu Ricky (bass dan vokal), Gerry (gitar dan keyboard), Aldy (vokal dan gitar), dan Danna (band). Lebih hebatnya lagi, nama band itu adalah Kanda Band, persis seperti nama beliau. Yang lebih hebatnya lagi, lagu2nya juga keren. Mantap. Apalagi lagu "Cemburu" dan "Aira". Ketika saya tanya, ternyata itu memang akan jadi lagu andalannya pada saat peluncuran Agustus 2008 mendatang. Dan, yang lebih hebat lagi, mereka sudah bermain di PasFes selama 9 tahun, suatu dedikasi yang luar biasa. Tidak heran, kemampuan mereka dalam bermusik dan bernyanyi memukau. Saya berkeyakinan kalau mereka akan meraih prestasi besar dalam tahun2 mendatang.

25 Maret 2008

Libur panjang di Solo

Weekend kemarin diwarnai dengan libur panjang lagi. Libur Maulid Baginda Nabi Muhammad saw dan Kenaikan Isa Almasih. Rencana liburan ke Yogya dan Solo yang sudah dibuat jauh2 hari alhamdulillah terlaksana. Apalagi saya belum pernah pergi ke Solo sebelumnya.

Rabu (19/3) saya berangkat ke Bandung. Saya memang naik kereta menuju Yogya-Solo dari Bandung, karena rencana berlibur ke sana sangat mendadak, jadi saya tidak dapat tiket kereta langsung dari Jakarta.

Kamis (20/3) pagi saya berangkat menuju Yogya-Solo dari Stasiun Bandung. Sepanjang perjalanan, saya sibuk berfoto2, tidak mau kalah dengan bule2 di kereta yang sibuk memotret kanan kiri. Menjelang tiba di Yogya, saya membatalkan liburan di Yogya, karena ternyata Om saya di Yogya sedang ke Solo juga. Akhirnya saya putuskan untuk langsung ke Solo. Sesampainya di sana, saya langsung bertemu keluarga besar teman saya-Latif. Awalnya agak kikuk karena memang banyak yang tidak saya kenal, tapi ternyata sikap mereka sangat baik. Malam hari saya pergi ke pusat kota untuk melihat pasar Sekatenan dalam rangka Maulidan yang memang rutin dilakukan oleh masyarakat Solo. Walaupun saya agak terlambat, karena acara Sekatenannya siang harinya, tapi pasarnya masih ada, jadi masih bisa lihat2 dan beli jajanan2 pasar yang jarang saya temui di Jakarta. Sepulangnya dari sana, saya berfoto2 di sekitaran Keraton Solo yang banyak bangunan zaman Belanda.

Jumat (21/3) pagi saya berangkat ke Astana Mangadeg, Karang Anyar, tempat leluhur Latif dimakamkan. Dia memang salah satu keturunan dari Mangkunegaran II. Ya, dia masih bersaudara dengan keluarga alm. Ibu Tien yang kalau tidak salah beliau keturunan Mangkunegaran I. Di sana saya menyempatkan berfoto di kompleks pemakaman tersebut. Pemandangan alamnya sangat indah dan sedap dipandang mata. Iklim yang sejuk dan hutan yang menyelimuti bukit semakin menambah keindahan kompleks tersebut, jauh dari kesan angker. Setelah mereka nyekar, saya mengikuti mereka untuk berziarah sebentar ke makam Pak Harto dan Ibu Tien. Saya tidak menyangka, ternyata ratusan peziarah memadati kompleks pemakaman tersebut.
Kami tidak lama berada di sana karena ingin mengejar sholat Jumat di Solo. Selesai Jumatan, saya mencoba Es Kobar (Kota Barat) yang konon katanya enak. Ternyata enak juga lho. Apalagi harganya murah. Entah karena cuaca panas atau memang enak. Hehehehe. Sore hari, sambil mencari aktivitas supaya tidak bosan menunggu acara wayangan di rumah eyang Latif digelar malam harinya, saya pergi ke Solo Grand Mall. Dari sana, saya pergi ke pusat jajanan dan oleh2 khas Solo di Jl. Kalilarangan. Saya ke tempat Pak Mesran. Katanya itu yang terkenal. Di sana ada banyak jajanan seperti Intip, Enting2, Brem, Ampyang, Rengginang Terasi, Kue Semprong, Bakpia, Abon Sapi dan Ayam, dll. Dari sana saya langsung pulang ke rumah eyangnya Latif untuk mengikuti acara wayangan. Saya yang sudah sakit sehari sebelumnya, semakin parah sakitnya. Hidung meler, bersin, flu, tambah batuk. Sepanjang acara wayangan saya sering ketiduran. Akhirnya saya memaksakan diri untuk tidur jam setengah 12 malam.

Sabtu (22/3) saya bangun pagi untuk pergi ke Yogya, karena harus ketemu dengan Om saya dan mengantarkan oleh2 yang sudah saya beli waktu di Bandung. Tapi apa daya saya tidak kuat karena badan jadi meriang. Jadi saya cuma tidur seharian sampai siang. Tapi sempat cari jajanan di sekitar Stadion Manahan. Saya menemukan Sari Kacang Hijau yang tidak lebih dari kacang hijau yang dijus. Sore harinya saya baru memberanikan diri untuk jalan2. Saya ke Pasar Klewer. Tadinya sih niat mau beli batik, tapi nggak jadi karena terlalu capek untuk milih2 baju. Pas mau pulang, di depan gerbang Pasar Klewer, ada satu tempat yang dipenuhi orang. Mereka berjubel. Saya penasaran. Ternyata ada yang jual Tengkleng. Baru buka. Karena penasaran, saya dan teman2 ikut antri. Perjuangan kita nggak sia2 akhirnya kita dapat porsi yang terakhir. Dua panci besar dalam waktu kurang lebih setengah jam sudah ludes terjual. Hmmm.... enak banget. Rasa dan baunya masih terasa sampai sekarang. Kalau mau coba saja makan Tengkleng di sana. Pulang dari sana, kami ke sekitaran Kota Barat. Mau cari wedangan. Di sana saya akhirnya mencoba yang namanya nasi kucing. Nggak seberapa sih porsinya, tapi sambalnya itu lho, kok enak banget. Apalagi ditambah susu murni panas. Hmm..
Malam harinya, saya pulang ke Bandung. Kami diantar ke Stasiun Solo Balapan. Ketika kereta melintasi rumah eyang Latif, kami didadahi dari seberang. Wah, lucunya. Latif bilang itu memang sudah jadi tradisi di keluarganya, kalau ada yang datang atau pulang, pasti semua sudah berderet di depan untuk melambaikan tangan.

Minggu (23/3) pagi kami tiba di Bandung. Yang saya lakukan hanya tidur seharian karena masih nggak enak badan. Jam 2 siang kami pulang ke Jakarta karena khawatir macet. Liburan panjang membuat banyak orang Jakarta mudik ke kampung halamannya. Oia, ada satu kejadian. Pas di travel, di awal2 perjalanan saya dan beberapa penumpang lain merasa ada yang tidak beres dengan ban, karena guncangannya cukup kuat dan terasa. Eh, benar. Ternyata belum separuh perjalanan, bannya agak sobek. Alhamdulillah mobil tidak melaju terlalu kencang dan ban tidak meledak. Kami selamat. Setelah menunggu beberapa saat sang supir mengganti ban, kami melanjutkan perjalanan dengan guncangan yang masih terasa. Tapi alhamdulillah kami sampai dengan selamat. Malam saya sampai di kosan langsung tidur deh... Capekk..zzzz...

03 Maret 2008

Ayat-ayat Cinta

Ya,,,, ayat-ayat cinta.
Itu yang terlintas dalam pikiran saya mengenai tema yang ingin saya angkat kali ini. Saya sangat terkesan dengan film Ayat-ayat Cinta ini, bahkan saya berani mengatakan inilah film terbaik yang pernah saya lihat. Jangan lihat film ini hanya dari sisi romantisme, alur cerita, pemeran, atau lokasi syutingnya yang eksotis. Tapi lihatlah makna yang diusungnya. Benar2 menohok, mengena dan menyentuh dengan sangat dalam.

Bagaimana tidak. Film ini mengajarkan apa arti Islam sesungguhnya-yakni kesederhanaan, kesabaran, dan keikhlasan-, bagaimana mengarungi rumah tangga yang sakinah melalui pernikahan yang suci dan sakral antara dua manusia dengan niat hanya karena Alloh SWT melalui ta'aruf, bagaimana pengorbanan seorang istri yang rela berbagi cinta demi keselamatan sang suami (bukan sembarang poligami yang sering dilakukan orang dengan niat yang tidak semestinya), sampai pengajaran mengenai bagaimana kejamnya fitnah.

Pastinya film memiliki dampak yang berbeda-beda bagi setiap orang, tapi yang jelas, film ini benar2 telah menyadarkan saya akan banyak hal. Itu yang membuat saya tidak kuasa menahan tangis ketika menonton film ini. Betapa saya ini lemah di hadapan Alloh, betapa bergelimangnya dosa yang saya pikul tanpa peduli sudah sejauh apa saya berbuat baik pada diri sendiri, keluarga, agama, dan orang lain. Saya pun menjadi semakin ikhlas dan menerima apa adanya atas apa yang saya alami. Di saat yang bersamaan, saya menyadari betapa sulitnya mencari pasangan hidup yang tulus ikhlas menerima saya -terlebih karena banyaknya kekurangan-, tanpa dipengaruhi hasrat dunia mengenai materi. Ya Alloh, hamba sungguh ikhlas atas apa yang telah terjadi pada diri hamba. Hamba Insya Alloh akan tetap istiqomah di jalanMu, dan pasrah atas ketentuan yang Engkau tetapkan. Yang ingin hamba lakukan hanya berbuat baik sebanyak2nya selagi hamba di dunia, menjadikan diri hamba tidak pernah sia-sia hadir di sini. Amin.

23 November 2007

Lots of stories (part II)

Sambungan cerita lalu :D

Kedua, pentas tari di Bali.
Minggu pertama ngantor diisi dengan latihan nari untuk persiapan pentas sebagai pembuka di acara pertemuan 11 Deputi Gubernur Bank Sentral Asia Pasifik Timur di Bali. Latihannya hari Selasa-Sabtu. Aku ga dateng 2 kali. Pas lagi sibuk2nya di kantor. Sekalinya dateng cuma setengah sesi latihan. Temen2 dan pelatih mungkin sempet khawatir juga. Soalnya kan udah mepet banget. Kalo aku ga bisa ngejar latihannya gimana coba? Nanti pas Hari H malah kacau narinya.

Hari Senin, 29 Oktober
Setelah masuk kantor, aku berangkat ke Gambir, menuruti saran temanku untuk naik DAMRI ke bandara supaya ga terlalu mahal. Tunggu punya tunggu, bisnya ternyata udah ga ada. Alhasil, aku tetep naek taxi juga. Bayangin. Jam 19.45 aku baru berangkat dari Gambir. Aku keukeuh ke supirnya untuk lewat Tomang, ga lewat Thamrin Sudirman seperti yang disaranin sang supir. Akhirnya aku malah terjebak macet. Dalam kepanikan mengejar jadwal check in jam 21.00 aku cuma berdoa, berdzikir, berusaha sabar dan tenang, sambil sms kakakku. Alhamdulillah dari Tomang ke sana lancar tuh. Supirnya aja sampe heran. Katanya sih jam segituan ga biasanya lancar kayak begitu. Alhamdulillah jam 20.55 aku sampe bandara dan langsung check in. Sekitar jam 22.00 aku berangkat. Dengan beberapa keterlambatan di sana sini, akhirnya jam 00.20-an aku sampe Bandara dan langsung ke Hard Rock Hotel, Kuta untuk istirahat. Kan katanya pagi2 harus olahraga untuk menjaga kebugaran dan stamina.

Hari Selasa, 30 Oktober
Kita olahraga sesuai jadwal. Ternyata kita dibawa sama sang manager ke Sanur dan Nusa Dua untuk "senam bibir" alias foto2 mulu di beberapa spot menarik di sana. Jam 10 balik ke hotel, langsung jam setengah 12 ke KBI untuk latihan. Latihan tidak sesuai ekspektasi, karena pelatih nari sibuk mengajari pemain musik yang katanya pengalaman memainkan musik seluruh nusantara. Pemain musik mungkin memang ahli, tapi alat musiknya terlalu bernuansa Bali, bukan nuansa etnik Minang yang sesuai dengan jenis tarian kita. Kami akhirnya melobi pihak panitia untuk menyediakan pemain musik yang benar2 memainkan alat dari Minang. Kesepakatan pun didapat. Hasilnya, kita akan latihan di Natrabu, salah satu restoran Padang terkenal yang katanya punya alat musik dan pemainnya sekaligus :D Senangnya...

Hari Rabu, 31 Oktober
Setelah agak sia2 latihan kemaren, kami akhirnya latihan dengan orang2 Natrabu. Tung..tung.. sekali mereka mainin musik, kita langsung bersorak saking girangnya mendengar musik yang asli Minang dan cocok sama tarian kita. Kita semangat latihan sampe jam 10 malem. Sempet pulang dulu ke hotel sorenya sih untuk ambil kostum, istirahat sebentar, dan foto2 di Kuta sambil menikmati sunset. Seneng deh. Pemandangannya bener2 indah :D

Hari Kamis, 1 November
The D-day. Deg-degan juga sih pentas untuk pertama kalinya di depan publik eksternal, setelah kami alhamdulillah memukau para penonton di kantor saat pertandingan tari Agustus lalu. Kami ke hotel Conrad di Tanjung Benoa untuk gladi resik sekitar jam 2 siang. Siangnya kan ada wedding, jadinya panggung baru di-set sekitar jam 2. Makanya kami menunggu di kamar salah satu teman yang kebetulan lagi nginep di situ karena jadi panitia acaranya. Jam 4 lewat panggung baru jadi. Kami langsung gladi resik. Jam 17.00 kita udah dipaksa panitia untuk selesai gladi karena mereka masih harus menyelesaikan beberapa hal. Kami ngotot sampe jam 17.15 latihannya karena saat itu yang kedua dan terakhir kalinya kami latihan bareng pemain musiknya. Setelah dandan, kita tampil sekitar jam 7 malem. Keseluruhan acara selesai sekitar pukul 22.00 WITA. Selesai acara, kami langsung berkemas dan makan malam. Sekitar pukul 00.00 WITA kami dijemput untuk kembali ke hotel. Aku ga jadi extend. Soalnya bos di Direktorat penyelenggara acara itu ga mau ambil risiko setelah dia minta ijin ke atasanku supaya aku bisa berangkat ke Bali untuk pentas. Apa boleh buat. Aku harus pulang hari Jumat.

Hari Jumat, 2 November
Pagi hari aku sudah berkemas. Aku harus ke loket salah satu maskapai penerbangan untuk membatalkan kepulangan tanggal 4. Hiks. Tapi ga apa2 kok. Selesai urus tiket, aku langsung ke bandara. Setelah check in, aku beli oleh2 seadanya karena ga sempat cari di luar bandara. Setibanya aku di Jakarta, aku langsung ke kantor untuk "setor muka" hehehehe. Selesai jam kantor aku langsung pulang. Cape bgt. Pengen istirahat.

bersambung lagi..... :D

22 November 2007

Lots of stories (part I)

Mmm... berhubung masih baru di blog ini, aku jadi bingung nih. Cerita di otak udah numpuk. Kalo aku cerita semua, pada bosen ga? Kalo ga diceritain, sayang. Emang kebanyakan cuma cerita selewat doang. Ga ada lucu2nya. I just want to memorize all things happened to me.
Ceritanya kubuat bersambung aja ya... :D

Pertama, libur lebaran di Papua.
Kantor ngasih cuti bersama mulai 12-21 Oktober. Alhasil, 10 hari libur bisa kunikmati sepuasnya tanpa harus "menyesali" mahalnya tiket ke Papua sana. Worthed lah menurutku. Bayangin aja. Tadinya, aku mau pake salah satu maskapai penerbangan. Eh, ternyata harga tiket sekali jalan 3,8 juta. Innalillahi. Sampe2 aku hampir ga jadi mudik karena mahalnya tiket. Tapi Alloh emang Maha Pemurah. Ternyata ada maskapai penerbangan lain yang lagi promo. Bisa ketebak kan. Biaya perjalananku menyusut drastis jadi 3,9 juta untuk bolak balik. Senangnya. Alloh memang selalu memberi jalan pada hambaNya. Alhamdulillah.

Hari Jumat, 12 oktober
Aku sampe di bandara sekitar jam 14.30 WIT. Dari sana, aku langsung ke daerah Satuan Pemukiman (SP) Transmigran yang paling dekat dengan Manokwari yaitu daerah Andai untuk ngambil spring bed di rumah lama mbah kakung dan mbah putriku ketika mereka pertama transmigrasi pada 1974 lalu. Kondisi rumahnya sudah tidak begitu terawat. Mungkin karena mbah udah nggak tinggal di sana lagi kecuali beberapa kali saja pas weekend. Mbah2ku lebih banyak menghabiskan waktu di kota. Setelah mengambil spring bed, saya langsung pulang ke rumah di daerah Reremi yang letaknya sekitar 1 km dari pantai tapi berbukit. Jadi dari sana bisa terlihat bandara, pelabuhan, pusat kota, gunung, dan pulau2 sekitar Manokwari. Suasana kota yang tenang membuat saya ikut merasa tenang juga setelah bergumul kurang lebih 11 bulan di kota Jakarta yang penuh sesak oleh jutaan orang. Hati makin senang karena aku buka puasa 2 jam lebih cepat dari yang seharusnya. Hehehe. Seneng juga sih, tapi ga tau deh, secara syar'i boleh apa ga ya. Setelah berbuka puasa, saya mengajak kakak saya ke pusat kota untuk ke ATM, sekalian bayar zakat fitrah. Ternyata arak2an takbir keliling yang didominasi oleh orang2 Makassar melintas depan bank. Suasananya sangat meriah. Penduduk pribumi yang notabene mayoritas beragama Nasrani pun tidak kalah antusias dengan warga muslim saat menonton pawai itu. Seneng deh kalo lait kita rukun. Ya ga sih :)

Hari Sabtu, 13 Oktober
Sekitar jam 06.30 kita baru berangkat dari rumah menuju lapangan Borarsi dekat pelabuhan. Pemandangan yang jarang terlihat menjadi lumrah saat itu, kemacetan diiringi pawai orang2 berkendara roda dua dan empat dengan baju muslim yang berwarna warni. Terharu deh liatnya. Kalo di Jawa sih mungkin udah biasa, tapi ini kan di Papua. Jadi kayaknya ada sensasi tersendiri :)
Setelah sholat, kita pulang dulu untuk bermaaf2an. seperti sudah diduga, saya pasti nangis. Inget banyak dosa sama mama. Dulu kan sering bohong. Duh, ga lagi deh. Selesai itu, kita langsung ke rumah mbah untuk bergabung dengan saudara2 yang lain. Di sana kami sungkem sama mbah. Makan2 sebentar, kita langsung ke tempat kerabat di kampung Makassar untuk selanjutnya pulang dan bersiap2 menjamu teman2 dan relasi di sana yang bertandang ke rumah. Tamu datang silih berganti sejak siang sampai larut malam. Tidur pulas banget, bahkan ga peduli sama nyamuk hutan.

Hari Minggu, 14 Oktober
Kami sekeluarga bersiap2 untuk mendatangi beberapa relasi mama dan papi di sana. Seperti tahun sebelumnya, aku akhirnya melanggar prinsipku yang menghindari minum soda. Habis mau gimana lagi. Di sana panas, yang disuguhin cuma soda, soda, dan soda. Ya mau ga mau minum deh. Mungkin kalo ditotal2 sehari itu ada kali 1 liter. Mudah2an usus dan lambungku gpp deh :) Kami sempat ke daerah Arfai, lalu ke Wosi. Sedikit lebih jauh dari daerah Andai tempat mbah2ku. Siang kami sudah pulang, karena harus menyambut tamu2 lagi yang pastinya masih mengalir datang ke rumah, bahkan sampai sekitar jam 12 malam.

Hari Senin, 15 Oktober
Masih suasana lebaran, kami masih berkunjung ke beberapa relasi di sana. Masih daerah Wosi yang belum sempat kami kunjungi. Salah satunya ke rumah pak Penghulu yang menikahkan kakakku beberapa waktu lalu. Kami disuguhi kue lontar (kalo orang di pulau Jawa sih bilangnya Roomboter). Enak banget, soalnya pas kita dateng, kuenya baru aja diangkat dari oven, Kayaknya ibunya tau deh kalo kita mau dateng (hihihi ge-er). Malam harinya kami mengunjungi teman lama mama yang tinggal di kampung Makassar.


Hari Selasa, 16 Oktober
Kami sekeluarga main ke Pantai Pasir Putih atau yang sering disebut pantai PasPut. Saking menikmatinya, ga terasa kalau kita di sana sampe sore sekitar jam 5-an. Seneng banget main di pantai yang lumayan bersih, ombaknya kecil, dengan pasir putih dan airnya yang bening. Jarang banget (kalo ga bisa dibilang ga pernah) aku nemu pantai begini di Jawa.

Hari Rabu, 17 Oktober
Pagi hari aku diajak mamaku ke pasar ikan di pinggir laut dekat pasar tingkat (pasting) daerah Sanggeng. Ikan yang baru ditangkap langsung dibawa ke pasar itu untuk langsung dipotong2. Benar2 segar dan tanpa bahan kimia atau sejenisnya. Mama beli ikan beberapa untuk dibuatkan masakan khas Papua, yaitu Papeda. Papeda terbuat dari sagu. Bentuknya kayak lem, putih2 kenyal dan lengket. Rasanya nikmat luar biasa. Papeda ini disuguhkan dengan siraman ikan kuah kuning yang dibeli di pasar ikan pagi sebelumnya.



Hari Kamis, 18 Oktober
Siang hari aku diajak sepupuku ke pulau Mansinam di seberang kota. Pulau ini cukup bersejarah di Manokwari. Konon, agama Nasrani pertama memasuki Papua melalui pulau ini. Karenanya, kota Manokari disebut Kota Injil. Memang pemeluk Nasrani mayoritas di sini, mencakup sekitar 70% total penduduk. Di pulau ini, terdapat tugu salib dan gereja tertua di Papua sebagai simbol dan bukti sejarah tadi. Setiap 5 Februari selalu diadakan perayaan besar2an untuk memperingati Jubelium (masuknya Injil) ke Tanah Papua. Di sana, saya mandi di siang hari bolong sampe2 kulitku terbakar ga karuan :p Pantainya bener2 masih bersih, indah, berpasir putih, dihiasi karang2 sehat, tanpa ombak karena membelakangi samudra Pasifik, dengan ikan2 terbang yang banyak terdapat di sana semakin melengkapi keindahan pulau Mansinam. Sore harinya aku maen ke daerah Amban, tempat UNIPA berada. Kampusnya gede juga. Asri, ga kayak UNPAD yang masih agak gersang. Dari sana aku bisa liat Samudera Pasifik. Terbentang luas. Hebat banget. Aku ngerasa kecil aja di sana. Pulang dari sana, aku ke Fanindi untuk beli beberapa souvenir khas Papua.

Hari Jumat, 19 Oktober
Aku mengantar kakakku pagi2 ke bandara untuk pergi kursus di Jakarta selama seminggu. Kami tidak berangkat bareng karena aku mash pengen berlibur dan bersama mama. Jarang2 kan. Secara di Jakarta ga ada saudara. Ada sih, tapi saudara jauh dari pihak papa. Setelah jumatan, aku cuma menghabiskan waktu dengan keluarga. Kan udah mau pulang ke Jakarta. Jadi makin dipuas2in lagi sama keluarga. Ngobrol sama mama juga. yang jelas, aku ngajarin anak2 maen cepe. Pasti pada ga tau ya. Kayak Uno sih sebenernya. Maen gebrak juga seru. Adek2 dan sepupu2ku sampe pada ketagihan maen itu. Seru banget.

Hari Sabtu, 20 Oktober
Kami ke daerah Arfai lagi. Kali ini mengunjungi Kepala Suku Besar Arfak, Pak Obeth. Dia tokoh yang sangat berpengaruh di sana. Ternyata dia teman SD adik papiku. Mereka sibuk bernostalgia, aku sih main di pantai di belakang rumahnya persis. Dengan karang2, bahkan ada bintang lautnya segala. Seneng deh. Di sana kita disuguhi papeda. Tambah ikan kuah kuning dan ayam goreng, dengan ikan segar yang baru ditangkap di laut. Makin mantap aja. Yummy :) Sabtu malem aku dianterin keripik sukun dan keripik keladi khas Papua. Kakak iparku yang beliin. Banyak banget. Ampe ga enak deh. Hehehe. Dia lagi hamil. Jalan 6 bulan kalo ga salah. Asik, Insya Alloh aku punya keponakan. Seneng banget :D

Hari Minggu, 21 Oktober
Hari terakhir liburan aku di Papua. Pagi aku nganterin sepupu2 dan om tanteku yang mau pulang ke Biak. Mereka naik kapal laut. Kita ke pelabuhan. Selesai mengantar mereka, aku ke mbah kakung dan mbah putri. Mau pamit. Takut ga sempet pamit pas pulang siangnya. Aku kan harus ngejar jadwal check in. Di sana aku diberi beberapa wejangan terutama tentang pernikahan :D
Rumah sudah mulai terasa sepi. Adikku Monik mulai cemberut, apalagi dia inget aku siangnya pulang ke Jakarta. Dia makin cemberut aja. Jam setengah satu siang aku berangkat ke bandara, diantar hampir semua anggota keluarga. Sebelumnya beli souvenir lagi di Fanindi untuk teman2. Di Bandara, aku ketemu mbah Putri dan sepupuku. Ngobrol2 sebentar, ibuku sambil memberi wejangan tentang kehidupan dan pernikahan. Ketika dipanggil petugas, aku pun segera naik pesawat. Suasana haru biru pun menyeruak di bandara, tidak peduli orang2 yang memperhatikan. Akhirnya aku pun pulang pukul 14.30 WIT setelah 10 hari di sana. Puas...!!! Itu yang aku rasakan. Perjalanan yang memakan waktu 7 jam tidak membuat aku capek. Aku tiba di bandara 19.30 WIB. Langsung ke kosan, bersih2, tidur deh. Senengnya :D Siap2 untuk ke kantor esok harinya.

bersambung.....

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar