Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

11 Oktober 2011

Dengan syukur, karunia berlimpah

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan membuatkan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”


Kutipan ayat di atas benar2 saya rasakan hari ini, setelah sehari sebelumnya saya mencoba membuat daftar hal apa saja yang terlintas di benak saya tentang apa saja yang selayaknya saya syukuri sembari menunggu kereta sampai di stasiun.
Bukan berarti saya sudah termasuk orang yang bertaqwa, tapi Alloh memang menepati janjinya untuk memberikan jalan keluar dari segala permasalahan. Di tengah ujian sepanjang sebulan ke belakang, tanpa diduga saya ditelp tim lain untuk mengikuti salah satu bos mendiseminasikan kebijakan kami ke masyarakat di Batam.
Kaget? Jelas. Pekerjaan itu nggak ada sangkut pautnya dengan saya, tapi tugas saya lebih ke pengurusan administrasi dan liaison. Apapun alasannya, anugerah itu datang di saat tepat tanpa saya pernah sangka.
Terbantu? Jelas. Senggaknya bisa bernafas agak lega sampai gajian berikutnya hehe.
Bersyukur? Makin. Benar adanya, kalau kita bersyukur, Alloh akan menambah nikmatNya, kalau ingkar, Alloh hanya mengingatkan bahwa azabNya teramat pedih. Syukur atau ingkar? Pilihlah ^_^

10 Oktober 2011

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Hari menjelang sore, jadwal kereta telat, di kereta berhimpitan, AC nggak dingin, dsb dsb dsb. Kalau mau dihitung, cukup banyak hal yang bikin kita rasanya menggerutu sepanjang sore ini. Tapi, tau nggak sih kalau kita sedikiiitt saja bermuhasabah (introspeksi), kayaknya itu nggak ada apa2nya dibandingkan dengan nikmat yang sudah kita rasakan sampai detik ini, mulai dari hal yang sepele sampai yang terrumit sekalipun.

Iseng2 nunggu 2 stasiun lagi, bikin list yuk semampunya, apa yang kita syukuri sampai sekarang. Kalau saya:
1. Iman dan islam, karenanya saya mengenal Sang Penggenggam Alam Raya, Alloh Ta'ala
2. Orang tua yang selalu support di bidang pendidikan yang karenanya saya bisa sampai seperti sekarang
3. Bisa tinggal di rumah, padahal sepanjang rel orang tinggal di gubuk
4. Masih bisa makan enak, padahal banyak yang kelaparan
5. Bisa beraktivitas dan beribadah dengan tenang, sementara di luar sana orang masih dicekam rasa takut
6. Masih bisa bayar kereta, padahal ada orang yang dengan susah payah naik ke atap kereta karena mungkin nggak mampu bayar
7. Senantiasa dikaruniai keselamatan dalam perjalanan
8. Sehat selalu dan diberi kekuatan fisik yang memadai
9. Dikelilingi orang baik, sholeh, dan jujur
10. Bekerja di lingkungan yang baik, sementara orang harus berpeluh2 aau sampai dini hari mengais rezeki, bahkan masih ada yang mengemis
11. Mengenal dunia dari berbagai sisi

Apa yang saya buat bukan maksud riya atau ujub, tapi lebih ke muhasabah supaya saya selalu optimis dan bersikap positif daripada cuma menggerutu. Syukur atas anugerah Yang Maha Kuasa.

Mari mulai bersyukur :)

02 Oktober 2011

Harga Sebuah Keikhlasan

Dalam menjalani keseharian kita, pasti nggak pernah lepas dari keadaan lapang dan sempit. Lapang jelas menggambarkan keadaan yang serba memungkinkan. Mau beli apapun dan ke manapun yang kita mau, rasanya tinggal menjentikkan jari atau mengedipkan mata, seketika keinginan kita tercapai. Sebaliknya, sempit membuat kita serba payah. Ibarat naik tangga, biasanya tinggal naik eskalator, sekarang mesti naik sendiri, sambil gendong anak, dorong troli, dan diomelin satpam *agak lebay tapi kebayang kan emosinya? ;)*

Lapang dan sempit menjadi sebuah keniscayaan dalam hidup. Di kala lapang, idealnya kita mesti senantiasa bersyukur dan membantu banyak orang. Sebaliknya, di kala sempit, kita selayaknya bisa menerima dengan ikhlas, nggak menggerutu atau ngedumel, tetap ikhtiar untuk mengatasi kesulitan, dan sisanya pasrahkan pada Sang Penguasa Jagad Raya.
Dalam Islam, Alloh telah memberikan harapan bagi yang menghadapi kesulitan dengan dua kemudahan, seperti termaktub dalam Q.S. Al-Insyiroh 5-6. "Sesungguhnya sesudah kesulitan terdapat kemudahan".
Seringkali harapan itu terlupakan, sama seperti yang sedang saya alami *mulai curcol, emosi menguasai hati*
Padahal, dengan kesulitan, harusnya kita jadi jauh lebih kuat karena sudah ditempa. Ibarat kelapa, sudah jatuh dari ketinggian, sabut kelapa dirobek2, dibelah pakai parang, daging kelapa diparut, diperas2 sampai gepeng. Hasilnya, sari kelapa putih bersih bernama santan yang bikin rendang jadi seenak yang kita kenal dan biasa kita makan selama ini.
Sadis? Kelihatannya sih begitu. Tapi hasil akhir yang dicapai justru menjadi manfaat bagi banyak orang. Itu cara Ilahi menempa kita untuk menjadi yang Dia inginkan, yaitu calon penghuni surga dengan balutan keikhlasan di hati.

Gambaran betapa besar arti sebuah keikhlasan pernah saya baca di suatu artikel. Selama ini, kita selalu beranggapan bahwa memberi lebih baik sedikit, yang penting ikhlas. Sepintas masuk akal, tapi mindset ini harus kita ubah. Kenapa? Karena yang ada kita malah justru nggak sedekah2 juga karena nggak ikhlas2. Bagusnya malahan kita sedekah banyak meskipun nggak ikhlas. Bayangkan, biarpun kita nggak dapat pahala karena nggak ikhlas, tapi senggaknya uang itu menjadi jalan kebaikan dan mengangkat kesulitan orang lain. Bahkan doa bisa mengalir dari mereka untuk kita. Kalau sudah membiasakan diri, lama2 apa yang kita sedekahkan itu nggak memberatkan dan akan berbuah keikhlasan. Kemauan untuk membantu orang lain nggak semata dari materi, tapi bisa dari hal paling sederhana. Bisa dengan senyuman, jadi sukarelawan, atau kegiatan sosial lainnya, entah itu buat keluarga, rekan, relasi, atau orang yang nggak dikenal sekalipun. Terbiasa senyum, lama2 suka senyum (asal jangan sendirian ;p). Daripada nggak sama sekali kan?

Yuk kita belajar ikhlas!! ^.^

26 September 2011

Rahmat Alloh, bagaimana meraihnya?

"wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)"

Doa di atas dikutip dari Q.S. Al-Kahfi ayat 10. Doa ini dipanjatkan oleh para penghuni gua ketika menghindar dari kezaliman penguasa mereka ketika itu. Saya bukan mau menceritakan ulang kisah mereka, tapi mau mengulas sedikit makna dan hikmah dari ayat di atas.

Mereka memohon kepada Alloh untuk diberikan rahmat. Mengapa rahmat dulu baru minta petunjuk? Karena tanpa rahmat, mustahil petunjuk didapat. Nabi Adam a.s. ketika memohon ampun atas kekhilafannya memakan buah khuldi yang dilarang oleh Alloh sehingga terusir dari surga pun memohon rahmat terlebih dahulu. Lalu bagaimana ciri orang yang mendapat rahmat? Atau, bagaimana cara mendapatkannya?

Sebagaimana yang termaktub dalam Q.S. Ali 'Imron ayat 159, ciri dari orang yang mendapat rahmat adalah orang yang berlaku lemah lembut, senang memberi maaf dan memohonkan ampun, tenang, tidak cepat tersinggung, dan welas asih terhadap sesama. Sikap ini tidak serta merta diperoleh melainkan melalui rahmat-Nya. Tidak sulit mencari sosok yang diliputi rahmat dalam hidupnya. Ya, beliau baginda Muhammad saw yang dalam kesehariannya menampakkan ciri orang yang penuh rahmat. Sahabat2 nabi pun tetap rendah hati meski harta berlimpah. Sikap inilah yang patut kita contoh.
Banyak cara untuk mendapat rahmat-Nya, salah satunya dengan tidak bersikap ujub. Ujub secara mudahnya diartikan sebagai merasa. Orang yang merasa pintar karena ilmunya, merasa sholeh karena ibadahnya, merasa terhormat karena jabatan dan hartanya dapat menjadi hijab bagi diri kita dalam mendapatkan rahmat Alloh swt. Muslim layaknya menjauhi sikap ujub sedapat mungkin. Jika ujub bisa disingkirkan dari hati, niscaya rahmat Alloh menghampiri, petunjuk pun mengiringi langkah kita.

Sta. Tanah Abang, 21.50 sambil nunggu kereta jam 23.15.

*disarikan dari ceramah Aa Gym tgl 26 Sept 2011 di masjid Baitul Ihsan berdasarkan interpretasi sendiri tanpa mengurangi makna yang disampaikan :)

03 September 2011

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Masih dalam suasana lebaran, saya dan keluarga mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga ibadah Ramadhan teman2 muslim diterima oleh Allah swt dan kita mampu mencapai derajat taqwa serta kembali fitrah. Amin.
Ramadhan yang lalu bukan saja "memaksa" kita untuk berbuat baik di bulan suci saja, tapi juga menjadikannya kebiasaan yang terus melekat. Orang yang temperamental dan suka marah2 dipaksa untuk bersabar, senggaknya sampai maghrib. Yang suka ngomongin orang, mendadak jadi orang pendiam dan alergi kalau ada orang saling mencela saudaranya karena khawatir pahala puasa berkurang. Yang biasanya lupa atau nggak sempat bersedekah, di bulan Ramadhan mendadak kita berlomba2 kasih makan orang untuk buka puasa. Yang biasa makan menggila dan tanpa aturan, tiba2 cuma makan seadanya karena perut gampang terasa kenyang. Ya, ibadah Ramadhan sangat identik dengan perbaikan, pembersihan, dan pengendalian diri. Bukan hanya untuk diri pribadi, tapi juga sosial kemasyarakatan. Kita diajarkan untuk lebih peduli dan lebih tergerak untuk benar2 membantu meskipun dalam taraf kecil dan sederhana, ketimbang hanya protes dan mengkritik para pemangku kebijakan tanpa berbuat apa2.
Ramadhan memang terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Detik demi detik berlalu sudah sepantasnya dihabiskan untuk mendulang pahala sebanyak yang kita bisa. Ramadhan memang sudah berlalu. Harapan diterimanya ibadah tentu muncul di setiap benak muslim yang mengisinya dengan suka cita. I miss Ramadhan already. Semoga Allah swt mempertemukanku dengan Ramadhan tahun depan. Amin.

16 November 2010

Dasar Penyebab Perbedaan Penentuan Kalender Qomariyah


Saya kutip dari blog tetangga, semoga bermanfaat.
Kalau saya pribadi lebih condong kepada hal yang pasti. Adapun ketika zaman Rasulullah saw berpedoman pada ru'yat, semata2 karena keterbatasan ilmu dan teknologi ketika itu. Sementara di zaman sekarang, dengan dibantu teknologi yang sudah ada, kita bisa menentukan secara akurat dan hampir pasti ijtima' bulan.
Sementara itu, pada ru'yat mereka tetap berpedoman dengan hitungan minimal 2 derajat di atas ufuk sebagai batas masuknya bulan baru, tentu dengan catatan hilal terlihat. Yang masih menjadi pertanyaan saya, dari mana asal usul persyaratan 2 derajat itu, dari hadits, perhitungan, atau apa. Kalau ada yang tau mohon pencerahan dan infonya ya. Kalau memang ada unsur hitungan dalam penampakan hilal, kenapa nggak yang pasti2 saja dengan ilmu astronomi yang sudah ada? Toh sama2 hitungan :)
Bagaimanapun, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah, itulah indahnya Islam. Toh kalau salah masih dapat pahala satu kan? Wallahu a'lam bish-shawaab.
---
Seringnya perbedaan penetapan dalam menentukan Bulan Qamariyah (Berdasarkan Bulan) terutama dalam penetapan Iedul Fitri dan Iedul Adha, menimbulkan banyak pertanyaan bahkan ada sebagian yang dibuat bingung karenanya. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan karena kita butuh kepastian dan setidaknya yang paling mendekati dengan Quran dan Sunnah, serta ketenangan dalam beribadah. Mengenai perbedaan penetapan waktu ini disebabkan perbedaan criteria, yaitu antara criteria wujudul hilal dan Imkanur rukyat. Mari kita kaji mana kah yang lebih kuat.
A.      Wujudul Hilal
Wujud artinya ada, sedangkan hilal adalah pantulan sinar bulan ke bumi yang berbentuk kelengkungan. Maksudnya adalah saat matahari tenggelam, hilal (bulan sabit muda) suda ada di atas ufuk mar’I (berapapun tingginya, terlihat atau tidak terlihat). Alas an diberlakukannya pendapat ini adalah dengan perkembangan IPTEK saat ini, posisi hlal sudah dapat dihitung secara teliti dan tidak diragukan (hampir pasti).
Untuk kelompok wujudul hilal awal bulan diteteapkan jika terpenuhi dua syarat berikut:
a.       Ijtima’ (posisi bulan dan matahari berada dalam satu bujur astronomis. Dilihat dari bumi, bulan sejajar dengan matahari) terjadi sebelum matahari terbenam.
b.      Saat ghurub (setelah itima’) hilal/bulan berada di atas ufuq mar’I (garis horizon/cakrawala yang terliat oleh mata seseorang). Berapa pun ketinggianna, terlihat ataupun tidak
Adapun dalil yang dijadikan landasannya adalah ayat al-Quran berikut ini:

189. mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya[1], akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.(QS. Al-Baqarah:189)

[1] Pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji, mereka memasuki rumah dari belakang bukan dari depan. hal ini ditanyakan pula oleh Para sahabat kepada Rasulullah s.a.w., Maka diturunkanlah ayat ini.

39. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua[2].
40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yaasin:39-40)

[2] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

Aayat pertama mengandung arti bahwa hilal (bulan sabit muda) dapat dijadikan pedoman waktu untuk manusia, terutama dalam melaksanakan ibadah haji harus dijadikan acuan miqat zamani. Mengenai kapan, bagaimana, kea rah mana kita lihat hilal, ayat tadi tidak membicarakannya.
Petunjuk lebih jells dapat kita temukan dalam surat yaasin:39-40, sebagaimana dijelaskan oleh H. Saadoe’ddin Djambek dalam bukunya “Hisab Awal Bulan Qamariyah”, ayat ke 39 surat Yasin tersebut menjadi petunjuk bahwa kembalinya bentuk bulan seperti tandan tua sebagai awal pergantian bulan hijriyyah. Bentuk bulan seperti itu dapat dilihat dari bumi menjeang dan setelah bulan mati (Ijtima’). Ntuk mengetahui bulan sabit yang mana yang dimaksud dalam ayat ini, maka ayat selanjutnya menerangkan “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan (mengejar) bulan”

Penggalan arti ayat diatas menerangkan tentang perjalanan semua tahunan matahari dan perjalanan hakiki bulan, dimana perjalanan bulan lebih cepat 12 Ú per harinya dibandingkan dengan matahari. Oleh Karen itu tidak matahari dapat mengejarnya. Per harinya matahari bergeser kearah timur sebesar 0 Ú 59’ 8.25”. hampir 1̊ (360Ú : 365.25 hari), sedngkan bulan bergerak kearah timur sebesar 13Ú 10’ 37.77”/hari (360Ú:27.32 hari). Dengan demikian maka yang dimaksud dengan bulan sabit pada ayat di atas adalah bulan sabit yang terjadi setelah terkejarnya matahari oleh bulan atau dengan kata lain setelah terjadinya ijtima’.

Apa yang jadi patokan bahwa perjalanan bulan telah mendahului matahari? Atau kalau diibaratkan perlombaan mana garis finisnya? Penggalan ayat selanjutnya mengatakan “dan malam pun tidak dapat mendahului siang”. Rupanya ayat ini menginformasikan tentang ufuk/horizon barat. Karena yang dapat memisahkan antara siang dan malam adalah garis ufuk barat setempat.Suatu tempat akan mengalami malam apabila matahari sudah masuk atau berada dibawah ufuk, sedangkan kalau matahari masih diatas ufuk maka tempat itu mengalami siang. Dengan demikian bulan akan dikatakan telah mendahului matahari apabila ketika matahari mendekati garis finis (ufuk barat) bulan telah berada disebelah timurnya-karena perlombaan tersebut berlaku dari arah barat kearah timur-. Atau dengan perkataan lain ketika matahari terbenam di ufuk barat, bulan sudah ada di atasnya, karena ke bawah menunjukan barat dan ke atas menunjukan timur.

B.       Kritik Terhadap Kriteria Wujudul Hilal

Dari segi sumber dalil yang dijadikan landasan untuk penentuan ABQ, criteria wujudul—hilal ini hanya berdasarkan Al-quran saja. ADapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang praktek penentuan ABQ pada masa rasul SAW tidak dijadikan landasan hokum. Padahal kalu kita hubungkan dengan fungsi hadits terhadap al-quran, fungsinya adalah untuk menjelaskan atau memperinci dai-dalil al-Quran- dalam hal ini tentang ABQ- yang masih bersifat mujmal (Global). Kalaupun digunakan, maka pengertian yang sebenarnya dari hadits-hadits tersebut diselewengkan, yaitu dengan menerjemahkan lafazh “ra aytul hilaal” (melihat dengan akal pikiran).

Untuk mengetahuivaliditas (kebenaran) dari pendapat di atas, mak lafazh ra ay tersebut harus diuji dengan kaidah-kaidah bahasa yang telah dibuat oleh par ahli tenang makna-makna sutu lafazhm lafazh (ra ay) di atas bisa ditempatkan pada dua kemungkinan, kemungkinan pertama termasuk lafazh musytarak, yaitu lafazh yang mempunyai beberapa arti. Dimana arti-arti tersebut adalah, melihat dengan mata, melihat dengan akal pikiran, dan melihat dengan hati.

Menurut point dalam kaidah kedua di atas, apabila persekutuan makna dalam nash syar’I tersebut terjadi antara beberapa makna lughawi, maka seseorang wajib berijtihad untuk menentukan arti yang dimaksud. Sebab syar’I (pembuat syariat) niscaya tidak menghendaki seluruh arti lfazh musytarak, melainkan salah satu arti dari beberapa arti yang tiga macam itu. Oleh karena itu seorang mujtahid harus sanggup menunjukan qarinah (keterngan pendukung) atau dalil-dalil yang dapat menentukan arti yang dikehendaki.
Bagi yang mengartikanlafazh (ra ay) melihat dengan qarinahnya adalah konteks kalimat dari hadits-hadits tentang praktek penentuan ABQ di zaman Rasulullah SAW, yang salah satunya hadits dibawah ini:

“Seorang badwi mendatangi Rasulullah SAW, ia berkata: Sesungguhnya saya telah melihat hilal (Ramadhan), “Rasul bertanya: “Apakah engkau mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah?’ Orang badwi tersebut menjawab “Ya”. Rasul bertanya lagi “Apakah engkau mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah?’ orang badwi menjawab “Ya”. Kemudian Rasul bersabda “ya Bilal, beriahukanlah kepada orang-orang supaya shaum esok hari”

Berdasarkan hadits diatas kita mengetahui bahwa melihat hilalnya orag badwi (arabgunung) adalah penglihatan dengan mata kepalanya sendiri, bukan dengan akal pikiran atau dengan hatinya. Sesuai dengan keumuman masyarkat arab pada waktu itu yang ummi terlebih lagi orang arab gunung diatas, tidak mungkin dia melihat hilal dengan akal pikirannya atau dengan hasil hisabnya.

Memang betul kata (ra ay yari) bisa diartikan melihat dengan akal pikiran tetapi harus melihat dulu konteks kalimatya dan ada qarinahnya untuk bisa diartikan dengannya, misalnya kalimat dalam surat al-Fiil:1harus diartikan dengan akal pikiran karena nabi SAW yang baru lahir saat itu belum bisa menyaksikan peristiwa dihancurkannya tentara bergajah. Tetapi semua lafazh (ra ay) dalam hadits-hadits ABQ memiliki arti melihat dengan mata, karena dari segi konteks mengharuskannya demikin dan juga tidak ada qarinah lain yang memalingkan artinya selain melihat dengan mata.

Kemungkinna yang kedua, lafazh (ra  ay) nii dikategorikan lafazh hakiki atau majazi. Hakiki maksudnya arti yang sebenarnya, sedangkan majazi maksudnya arti pinjaman, bukan sebenarnya.

Dalam hal ini para ahli ushul membuat kaidah sebagai berikut:
1.       Lafazh hakikat (sebenarnya) harus diamalkan menurut arti yang semula diciptakan untuknya.
2.       Jika suatu lafazh dapat diartikan dengan arti hakiki dan majazi hendaklah diartikan dengan arti yang hakiki, karena arti hakiki itulah yang asli.

Jadi, berdasarkan kaidah diatas mengartikan (ra ay) melihat dengan mata itu lebih shahih dibandingkan dengan melihat pakai pikiran atau melihat dengan hati, karena denga mata merupakan arti hakikinya (asli)

C.       Imkanur-Ru’yat

Menurut bahasa, imkan artinya mungkin atau memungkinkan, sedang ru’yat artinya melihat, maksudnya posisi hilal saat terbenam matahari harus sudah memungkinkan untuk dilihat.
Kelompok ini berpendapat bahwa, agar hilal disebut wujud, selain hilal harus berada di atas ufuk (saat maghrib setelah ijtima’), hilal (yang berada di atas ufuk) tersebut juga harus memungkinkan untuk diru’yat (imkan-ru’yat), untuk kelompok imkanurru’yat awal bulan ditetapkan jika terpenuhi tiga syarat sebaga berikut:
a.        Ijtima’ terjadi sebelum matahari terbenam
b.       Saat matahari gurub, hilal beradadiatas ufuq mar’i
c.        Hilal yang berada di atas ufuq tersebut harus memungkinkan untuk diru’yat
Syarat hilal agar memingkinkan untuk diru;yat menurut criteria MABIMS (Menter Agama Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) adalah:
-          Tinggi (irtifa’) hilal minimal 2̊ ̊
-          Selisih azimuth matahari dan bulan minimal 3̊ ̊(jarak horizontal bulan-matahari)
-          Umur bulan dan matahari berdasarkan imkanur-ru’yat dapat digambarkan sebagai berikut;

Dail-dalil imkanu-ru’yat tersebut antara lain
1.        matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (QS. Ar-Rahman:5)

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (QS.Al-AN’am:96)

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[3]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus:5)

[3] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.

dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (QS. Yaasin: 38)

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[4]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[5] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(QS. AT-taubah: 36)

[4] Maksudnya antara lain Ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram.
[5] Maksudnya janganlah kamu Menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan Mengadakan peperangan.


mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.(QS. Al-Baqarah:189)

39. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.
40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yaasin:39-40)

2.       Hadits-hadits Rasul SAW tentang ABQ, diantaranya:

Shaumlah bila kalian melihatnya (hilal) dan akhirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal). Tetapi jika terhalang maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari. (HR. Bukhariy Muslim)

Shaumlah bila kalian melihatnya (hilal) dan akhirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal, Tetapi jika diantara kalian dengan hilal terhalang awan, maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari. (HR Ahmad bin hanbal)

Shaumah bila kalian melihatnya (hilal) dan akhirilah shaum bila kalian melihatnya (Hilal). Tetapi jika  kalian terhalang maka tetapkanlah (shaum) 30 hari. (HR. Muslim)

Apabila kalian melihat hilal maka shaumlah, dan jika kalian melihat hilal (kembali) maka akhirilah shaum. Tetapi jika terhalang (sehingga hilal tidak terlihat) shaumlah 30 hari (HR. Muslim)

Lafazh fain ghabya ‘alaykum-fain haala baynakum wabaynahu sahaabun-fain aghmiya ‘alaykum-fain ghamma ‘alaykum

Dalam hadits diatas mengandung makna bahwa jika hilal tidak terlihat atau terhalang (walaupun beradadiatas uduk) maka hilal dianggap tidak/belum wujud. Artinya posisi hilal zaman rasul tidak hanya beradadi atas ufukmar’I saja tetapi hilal yang dapat terlihat sebagai cahaya pertama yang dipantulkan bulan setelah ijtima’

Jadi menurut kelompok imkanur-ru’yat yang disebut hilal adalah cahaya yang dipantulkan bulan setelah ijtima’, pda saat maghrib terlihat berupa garis lengkung putih. Sedangkan menurt kelompok wujudul hilal, hilal didefinisikan sebagai posisi bulan setelah ijtima’ dan pada saat maghrib berada di atas ufuk, walau belum tentu terlihat berupa garis lengkung putih

Padahal dalam bahasa Arab untuk bulan itu dikenal beberapa istilah, antara lain:
a.        Al-Qamaru: benda langit berupa satelit alam yang beredar mengelilingi bumi
b.       Al-hulalu: cahaya yang dupantulkan bulan berupa garis lengkung putih terlihat setelah ijtima’ sa’at maghrib (pantulan cahaya minimal)
c.        Al-Badru: cahaya yang dipantulkan bulan berupa lingkaran penuh (purnama / fullmoon/pantulan cahaya maksimal)

D.       Keberlakuan hasil Hisab Dan Ru’yat
Dalam khazanah fiqh, ditemukan tiga pendapat mengenai keberlakuan hasil hisab dan ru’yat ini. Pertama, hasil ru’yat (hisab) itu hanya berlaku untuk wilayah yang melihat hilal saja, sedangkan yang tidak melihat hilal, bulan yang sedang berjalan digenapkan menjadi 30 hari. Keuda, hasil ru’yat (hisab) itu berlaku untuk seluruh wilayah kekuasaan hakim (satu Negara). Ketiga. Hasil itu berlaku untuk seluruh dunia.

Pendapat pertama didasarkan pada hadits riwayat Muslim dan Kuraib, dimana pada waktu itu antara Syam dan Madinah berbeda dalam memulai bulan Ramadhan, Padahal Syam dan Madinah itu berada dalam satu wilayah kekhalifahan Mu’awiyah. Ketika hal itu ditanyakan kepada Ibnu Abbas beliau menjawab “Demikianlah rasulullah memerintah kami” artinya hasil ru’yat itu berlaku hanya untuk daerah yang melihat saja

Adapun pendapat kedua dan ketiga didasarkan kepada dalil umum tentang memulai puasa, dimana rasulullah SAW bersabda “Shaumlah kamu setelah melihat hilal) hadits tersebut dan hadits-hadits yang semakna dengannya memerintahkan kepada umat Islam dimana saja untuk shaum tanpa dibatasi oleh lokasi, daerah atau wilayah kekuasaan. Dengan perkataan lain, hasil hisab ru’yat itu berlaku untuk satu wilayah kekuasaan hakim (Negara), bahkan untuk seluruh dunia.

E.        Kesimpulan
1.       Landasan hokum criteria wujudul-hilal hanya dalil-dalil Al-Quran saja yang bserifat majmul (global), sedangkan criteria imkanur-ru’yat berdasarkan al-Quan dan al-hadits elalui cara istinbath yang dibuat dan disepakati oleh para ahli ushul fiqih
2.       Kriteria Imkanur-ru’yat adalah criteria yang dapat menyatukan antr wujudul-hilal dengan ahli ru’yat
3.       Menyarankan kepada pihak yang berpedoman wihdatul-mathali’ fi wilayatil-hukmi, kalau mau berpegang teguh kepada wujudul-hilal. Maka markaznya harus digeser ke kota paling timur di Indonesia, misalnya jayapura atau Merauke, jangan di kota Yogyakarta misalnya. Supaya seluruh wilayah Indoneia hilalnya positif di atas ufuk. Wallahu a’lam bis-shawab.
ket: ABQ (Awal Bulan Qamariyah)

08 September 2010

Ramadhan Berakhir, Idul Fitri Tiba

Tak terasa, bulan mulia segera berakhir setelah hampir 30 hari lamanya kita berpuasa. Rasa sedih menghampiri karena rasanya belum optimal dalam beribadah, meskipun waktu yang disediakan cukup panjang. Suka tidak suka, Ramadhan tetap harus berlalu. Meninggalkan sesal dan kenangan.

Memang Ramadhan tiada duanya. Menikmati santap sahur, curahan tausiyah yang berlimpah, ibadah malam di rumah dan di masjid, sampai puasnya saat berbuka puasa selalu menjadi momen yang teramat berharga untuk dilupakan. Rasanya tidak pernah bosan juga untuk melakoni itu semua. Apalagi ketika 10 hari terakhir, usaha untuk menggapai Lailatul Qadr semakin teguh dijalankan.

Bagaimanapun, waktu terus berjalan. Sekarang, saatnya menyambut kemenangan di hari yang fitri. Teriring harapan semoga diri menjadi hamba yang semakin bertakwa dan mampu membawa kebaikan bagi umat. Insya Alloh dipertemukan dengan Ramadhan kembali. Amin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.
Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.

10 Agustus 2010

Marhaban ya Ramadhan

Alhamdulillah wa syukurillah, Ramadhan kembali tiba. Bulan suci yang dinanti umat muslim di seluruh muka bumi, bulan penuh berkah dan ampunan, bulan kebaikan yang menuntun umatnya menjadi lebih baik dari sebelumnya, lebih peduli terhadap sesama, dan utamanya menjadi insan bertakwa sesuai kehendak Ilahi Robbi.

Rasanya baru kemarin merasakan indahnya Ramadhan, sekarang sudah tiba lagi saatnya mendulang amal ibadah dan kebaikan di dalamnya. Tak terasa usia pun semakin tua, tanda waktu kita semakin sedikit di dunia ini. Ramadhan seolah menjadi cambuk untuk mengingatkan kita sudah seberapa besar amal kita untuk di akhirat kelak, sudah seberapa banyak kebaikan yang kita tebar ke sesama manusia, sudah seberapa jauh kita melenceng dari ajaranNya yang lurus, dan sudah seberapa banyak puja dan puji yang kita haturkan ke hadiratNya meskipun sepanjang kita bernafas pun masih belum cukup untuk merangkai kalam Ilahi yang sakral dan hasan.

Ya Alloh, terima kasih telah menyampaikan kami pada bulan ini, bimbing kami agar bisa mereguk hidayah dan kasih sayang-Mu untuk menjadi pribadi yang muttaqin. Amin.

13 April 2010

Makanan Halal, Di Manakah Kalian?

Ironis, kita hidup di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tapi kenapa untuk makan makanan halal di restoran saja sedemikian sulit. Tulisan ini saya buat tanpa niat sama sekali menghina teman, saudara, atau rekan yang memakan makanan tertentu, tapi ini semata untuk mengingatkan saudara seiman dengan cara yang baik dan nggak menyinggung perasaan siapapun.

Saya mungkin bisa dibilang paling rewel untuk hal yang satu itu. Bagaimana nggak, setiap ada acara makan di luar dalam rangka traktiran teman2, saya pasti tanya status makanan di restoran itu. Sampai2 restoran itu saya telpon dan interogasi apakah makanannya layak dikonsumsi oleh muslim atau nggak. Lucunya, kalau saya bertanya apakah makanan yang dijual halal atau nggak, mereka mengatakan halal. Tapi, lain lagi ceritanya kalau saya bertanya baik2 mana makanan yang nggak bisa saya konsumsi mengingat saya seorang muslim. Alhasil, hampir semua menu terlontar dari mulut sang pelayan dan manajer restoran yang menyatakan bahwa makanan mereka tercampur dengan hal yang berbau alkohol atau b2.
Kalau ada oleh2 coklat atau apapun dari luar, saya jadi orang pertama yang browsing untuk cari status halalnya. Bukan tidak menghargai pemberian mereka, tapi apa yang saya lakukan semata2 hanya untuk tunduk patuh pada perintahNya, yaitu dengan memakan makanan halal dan baik.
Makanan halal memang nggak mudah untuk didapat, karena untuk menjadi makanan yang dikatakan halal tidaklah mudah. Pertama, makanan itu bukan sesuatu yang dilarang untuk dikonsumsi. Kedua, makanan itu harus disembelih dengan nama Alloh. Ketiga, cara memperoleh makanan itupun harus dengan cara yang baik.
Nah, dari ketiga kategori itu, rasanya kalau kita hanya sekadar makan daging yang bukan b2 pun belum tentu halal, karena siapa tau daging itu dimasak dengan (katakanlah) angciu, semacam arak merah.

Rasanya, yang harus mulai diperbaiki adalah kesadaran masing2 setidaknya untuk memiliki rasa ingin tahu apakah makanan yang mereka makan halal atau tidak. Lalu, sudah sepatutnya lembaga yang berwenang untuk menyatakan suatu makanan berlabel halal atau nggak (dalam hal ini MUI) memperluas ruang geraknya sehingga kepentingan umat dapat terjaga. Untuk yang merasa tersinggung bagi orang yang mentraktir atau membawa oleh2, rasanya nggak rugi juga kalau mencoba menghargai kami yang nggak mau makan makanan yang dilarang agama, sama halnya dengan kami yang nggak mengusik dan mencela mereka ketika mereka mengkonsumsi makanan2 itu. Yuk, mari kita galakkan program makan makanan halal :)

21 November 2009

Long Trip to London (4)

Hari kelima kursus, akhirnya selesai juga. Nggak kerasa. Sedih juga. Baru mulai akrab ngobrol sama temen2 bank sentral lain, eh udah pisah aja. Tadi saya nggak ikut sampai selesai karena harus Jumatan. Saya pergi ke East London Mosque di Whitechapel, London Timur. Ternyata di situ komunitas orang2 Bangladesh. Meskipun adzan jam 11.46 tapi sholat Jum'atnya sendiri jam 1.05. Jadi sekitar 50 menit setelah adzan, khutbah baru dimulai. Khutbah pertama pake bahasa Arab, Bengal, baru deh pake Inggris. Awalnya ngerasa asing juga sholat di sana. Ada beberapa kebiasaan yang nggak pernah saya liat di Indonesia. Mulai dari adzan yang sampai 3 kali, khutbah 3 bahasa, bahkan Qur'an dengan gaya tulisan yang nggak biasa. Tapi itulah seninya sholat di negara lain.

Setelah sholat, saya ke halal fastfood restaurant deket masjid. Dari sana, saya meluncur ke Covent Garden untuk cari barang titipan Bunga. Walaupun deket, tapi saya harus ganti 3 kali Tube. Dari Hammersmith, Northern, nyambung ke Piccadilly line. Begitu sampe, mmm... OK, agak2 bingung ternyata. Instruksi Bunga, keluar dari stasiun belok kanan. Tapi saya belok kanan malah ada Covent Garden Market dengan ratusan toko berjejer di sana. Keren juga tempatnya. Anyway, setelah muter2 nggak jelas kebingungan, pas banget saya nemu denah Covent Garden. Liat index, taddaaa.. ketemu deh. Saya langsung ke sana. Tanpa basa basi langsung gesek, cabut deh. Bingung mau ke mana, saya cuma liat2 sekitar sambil fotoin beberapa bangunan. Sambil jalan nyari Tube terdekat untuk pulang karena ngerasa udah nggak ada tujuan lagi, eh tiba2 di sudut mata ngeliat kapal ferry. Ternyata Thames River. Huaa.. Tanpa basa basi saya langsung meluncur ke arah sungai, nyebrang jembatan, keliatanlah semua. Mulai dari London Eye, Big Ben, Gedung Parlemen, Westminster Abbey, dsb. Akhirnya saya putusin untuk jalan kaki ke sana. Sambil jalan, saya foto beberapa spot menarik. Dalam waktu kurang dari satu jam, saya udah sampe di semua tempat yang saya liat dari jembatan di kejauhan tadi. Dengan cueknya saya foto diri sendiri karena ngerasa nggak enak kalo minta tolong foto terus hehehe.. Saya berkeliaran di daerah Big Ben tanpa peta. Jadi saya gambling aja untuk nemu underground terdekat untuk pulang. Sambil jalan, saya lewat Downing Street dan ketemu Trafalgar Square. Sayang udah malem, jadi saya nggak foto2 di sana.

Kaki rasanya capek banget. Di saat yang sama, saya baru inget bag hanger pesenan temen. Karena udah gelap (meskipun masih jam 5-an) dan capek, saya akhirnya putusin untuk pulang. Besok lanjut jalan lagi aja. Entah ke mana. Wales, Greenwich, atau ke Scotland sekalian. Gimana cuaca, mood, uang, dan hasil survei nanti malem ^_^

30 September 2009

Ketika Cinta Bertasbih 2

Kemarin malam sepulang dari kantor saya sempatkan nonton Ketika Cinta Bertasbih 2. Meskipun kemasannya seperti sinetron, tapi saya tetap nonton dengan harapan ceritanya mampu membawa pencerahan dan inspirasi. Ada beberapa yang bisa saya petik hikmahnya.

Pertama, ketika permintaan ibunda Azzam kepada ayahanda Anna untuk menjadi penceramah pada saat walimah Azzam sehingga mereka pulang dengan tangan hampa, ternyata kematian menjemput sang bunda tanpa diduga dan begitu cepat. Semua sudah tercatat di Lauhul Mahfudz, dan tidak ada seorangpun yang bisa mengelak darinya. Jangan sia2kan hidup di dunia yang singkat ini dengan perbuatan tercela.
Kedua, saat Azzam untuk kesekian kalinya gagal dalam berta'aruf untuk menjalankan separuh agamanya. Dengan niat ikhlas dan dukungan kuat dari keluarganya, Azzam tidak berputus asa mencari pasangan hidupnya. Itu memotivasi saya untuk melakukan hal yang sama. Bukan seperti sekarang, berkali2 mencoba membina hubungan tapi selalu gagal karena niat yang nggak ikhlas.
Ketiga, saat Furqon akhirnya memeriksakan dirinya berkali2 untuk memastikan bahwa dia memang tidak mengidap HIV, bertolak belakang dengan hasil tes ketika dia masih berada di Mesir. membuat saya harus benar2 menyaring informasi atau masukan dari orang sebelum kita percaya dan kita yakini kebenarannya.
Keempat, orang yang merasa dirinya tawadhu', maka sesungguhnya dia tergolong orang yang takabbur. Betapa halus iblis menjerat kita melakukan perbuatan tercela melalui perbuatan baik. Ini dikupas dalam kitab al-Hikam Ibnu Athaillah. Jadi pengen belajar dan tau lebih banyak isinya.

Sebenernya masih ada beberapa yang bisa dipetik, cuma rasanya empat hal ini yang berkesan sekali. Dari KCB 2, saya membuat target baru yang harus difokuskan saat ini, (1) nikah dan (2) pelajari agama lebih dalam lagi ^.^

20 September 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriyah

Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar, Wa Lillahi Al Hamd

Alhamdulillah, setelah sebulan penuh kita berpuasa dan beribadah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya di bulan yang penuh rahmah, barokah, dan maghfirah, akhirnya kita sambut hari kemenangan menyambutnya kembali fitrinya diri kita dengan penuh suka cita, teriring harapan dan doa semoga kita mencapai derajat taqwa. Amin.
Suasana yang agak berbeda saya rasakan pada lebaran kali ini. Saya nggak berlebaran dengan ibu dan saudara2 kandung. Kami hanya berhubungan lewat telpon saja. Tapi rasanya itu nggak mengurangi semangat kami untuk saling bermaafan.
Semoga dengan hati dan jiwa baru, kemenangan yang sesungguhnya dapat kita raih, yaitu bagaimana mewujudkan tempaan ibadah kita selama 1 bulan lalu mempengaruhi perilaku kita dalam 11 bulan ke depan. Semoga Alloh swt menyertai kita dengan ridhoNya. Amin.
Selamat Idul Fitri buat teman2 yang merayakan, maaf lahir batin ^_^

19 September 2009

I'm back..!!!

Setelah sekian lama vakum dari dunia blogging, akhirnya saya kembali lagi. Segudang hambatan bikin saya nggak sempet nge-blog lagi beberapa bulan terakhir ini. Mulai dari lembur, lupa, nggak ada akses internet di kosan gara2 laptop rusak, dan emang lagi kehilangan minat nulis hehehe..
Di penghujung bulan Ramadhan ini, saya nyoba untuk nulis lagi. Pengennya sih yang agak2 santai gitu ya bahasanya. Oia, saya baru aja install PC suite di netbook. Makanya ada akses internet meskipun lagi libur gini. Saya sempetin buka situs yang udah lama nggak saya kunjungi, termasuk blogger ini.
Bicara tentang Ramadhan, rasanya sedih udah mau ditinggal bulan yang suci dan mulia itu. Rasanya baru kemarin saya mengubah gaya hidup, mulai dari sholat tarawih, sahur, memperbanyak tadarus, rasa senang yang membuncah saat berbuka puasa, sampai rasa kantuk yang mendera di tengah hari karena kurang tidur. Tapi itulah seninya Ramadhan. Saat sudah mulai terbiasa dan senang dengan kebiasaan baru, tiba2 harus berubah lagi. Sedih...
Semoga rasa sedih itu malah memotivasi saya untuk tetap, bahkan lebih, membuat saya mempertahankan ibadah yang saya lakukan selama Ramadhan lalu. Ramadhan, terlalu indah untuk dilupakan. Semoga Alloh SWT mempertemukan saya sekeluarga dengan Ramadhan tahun depan dengan persiapan, semangat, motivasi, dan rasa haus akan ibadah yang lebih prima, mantap, dan baik. Amin.
Dalam menyambut hari kemenangan yang fitri bagi setiap insan muslim, saya ucapkan
"..Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiamana wa shiamakum.."
Semoga iman kita semakin tebal, derajat taqwa ditinggikan, tali silaturahim dipererat, dan akhlak semakin dimuliakan.. Amin..

14 Mei 2009

Ikhlas

Naif, dulu saya berpikir bahwa yang namanya hati bersih - di antaranya ditandai dengan kemampuan kita berlaku adil, sabar, jujur, ikhlas, dan teguh pendirian - hanya hinggap pada hati orang-orang yang dari sananya sudah begitu. Tapi, ternyata semua itu bisa diraih dengan usaha yang tentu tidak mudah.
Ikhlas. Kata yang mudah diucapkan tapi sulit dalam penerapannya. Ikhlas yang timbul dari hati menandakan bahwa kita sepenuhnya melakukan sesuatu dengan sukarela tanpa mengharap imbalan dari pihak lain, entah itu pujian atau materi. Jujur, saya dulu orangnya sangat tidak ikhlas. Kalau memberi suka mengungkit-ungkit; kalau ada makanan rasanya tidak ikhlas kalau harus memberi jatah lebih banyak ke orang lain; dan kalau ada pengambilan keputusan yang merugikan saya, saya seringkali ngedumel dan sakit hati. Tapi itu dulu. Bukan berarti saya sekarang sudah menjadi orang yang 100% ikhlas, tapi rasanya saya sedang berproses menuju itu. Sekarang, saya merasa jauh lebih baik dengan keadaan saya sekarang. Rasanya, beban yang harus dipikul untuk memikirkan orang lain sudah tidak ada. Saya merasa hidup lebih ringan karena tidak harus memikirkan orang lain yang "lebih" dari saya. Saya nggak bisa mengungkapkan bagaimana rasanya menjadi orang yang lebih ikhlas dari sebelumnya meskipun masih jauh dari harapan. Tapi setidaknya satu saran saya, cobalah. Tidak ada ruginya mencoba. Dijamin, hidup lebih tenang, bebas rasa gelisah ^_^

25 September 2008

Ramadhan menuju Idul Fitri

Hmm.. Akhirnya nge-blog lagi nih. Setelah sekian lama. Kayaknya selama puasa saya nggak pernah nge-blog. Nggak tau kenapa. Entah males, entah apa.

Saya bersyukur sekali udah dikasih kesempatan lagi untuk menikmati lezatnya dan indahnya bulan Ramadhan. Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda. Setelah mengalami (bisa dibilang) titik balik pada Maret lalu, saya sekarang merasa bisa menikmati dan menghayati Ramadhan lebih dalam. Sampai2, saya berkorban untuk tidak terlalu sering janjian sama teman2 untuk buka puasa bersama di luar rumah. Untuk belanja keperluan, saya bela2in pas weekend dan pagi2, jadi ga ganggu sholat dan buka puasa. Nggak tau kenapa. Kalau bulan puasa, musholla penuh. Restoran juga penuh. Terus, kalau nggak sempet pagi2, malam sekalian perginya setelah tarawih.
Selama Ramadhan ini, ada yang dirasa berat untuk dijalankan. Ngaji dan tahajud. Mau khatam Quran aja kok susah ya. Berat ke tidur. Gimana ya caranya? Tahajud juga keteteran. Semoga 5 hari terakhir ini bisa saya maksimalkan dengan baik.
Urusan mudik, seperti tahun lalu, insya Alloh saya pulang ke Manokwari. Kali ini terasa berbeda. Mungkin karena saya sudah beberapa kali pergi ke sana, jadi tidak seantusias tahun lalu. Tapi tetap ada yang saya nanti di sana. Durian. Hmmm... Aromanya itu lho. Mudah2an pas saya ke sana, masih musim durian, jadi bisa saya bawa ke Jawa dan dibagi ke teman2 kantor :D
Dalam menyambut Idul Fitri, saya mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1429 H. Taqqabbalallahu minna wa minkum, Shiamana wa shiamakum. Semoga Alloh senantiasa melimpahkan keberkahan dan keselamatan, meraih jiwa nan fitri, serta dapat meraih derajat taqwa sebagai ijazah kelulusan kita dari Ramadhan yang mulia. Amin.

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar