Tampilkan postingan dengan label dinas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dinas. Tampilkan semua postingan

18 April 2011

Perjalanan ke Hong Kong

Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya, saya mendapat amanah lagi untuk menimba ilmu ke negeri seberang. Kali ini, giliran negeri Cina yang saya sambangi, tepatnya ke Hong Kong. Awalnya saya nggak suka dengan Hong Kong, berhubung "rasa2nya" bakal susah cari makanan halal di sana. Belum lagi, Caucasian-minded yang bikin saya rasanya selalu pengen ke negeri2 bule.

Tapi, pengalaman selama seminggu tinggal di sana membuat pikiran saya berubah total. Kota yang tertib biarpun terdiri dari blok2 kecil yang sempit karena diapit gedung2 tinggi. Betul2 bukan tipikal kebanyakan kota di Asia yang semrawut. Mungkin ada bagusnya juga negeri ini sempat dikuasai Inggris, jadi nilai2 sosial positif bisa berkembang, membudaya dan melekat dalam keseharian mereka. Selain itu, kota ini memiliki banyak ragam transportasi publik, mulai dari tram sampai subway (di sana disebut MTR) dengan fasilitas yang memadai, modern, dan murah. Itu yang membuat masyarakat sana lebih memilih naik transportasi publik ketimbang bawa mobil pribadi yang tentunya bisa dihitung dengan jari. Menuju masing2 moda angkutan itu pastinya perlu jalan kaki. Itu yang membuat mereka tampak bugar, nggak gampang capek dan nggak ngos2an waktu jalan jauh. Another positive thing about people of Hong Kong. Kita perlu berkaca pada mereka.
Uniknya lagi, pakaian mereka modis2, beda banget dengan orang2 kita kebanyakan. Hampir nggak ada yang tampak culun dan dandan seadanya. Rambut tertata rapi, pakaian yang dipadankan dengan sepatu yang mengkilap, belum tasnya yang trendi. Bikin sirik deh :)

Selama seminggu di sana, saya tinggal di wisma KJRI, kawasan Causeway Bay. Enaknya tinggal di sana, selain murah (HKD250/malam), banyak warung yang menyediakan masakan Indonesia, dan pastinya halal. Harga makanan rata2 berkisar HKD40. Kurs waktu itu sekitar Rp1100-an/HKD. Hitung aja jadinya berapa. 4 hari kursus yang saya ikuti terletak di 2ifc, hanya 3 stasiun jaraknya dari penginapan. Gedung dengan 70-an lantai, menjulang dengan angkuhnya, pertanda pusat ekonomi Hong Kong berada.

Setiap selesai kursus, saya dan teman2 kursus dari tempat kerja saya selalu menyempatkan diri jalan2. Mulai dari Causeway Bay dengan toko2nya yang bertebaran, menggoda setiap mata yang lapar dengan barang2nya yang branded dan murah. Harga gadget bisa sampai 2 juta selisihnya dengan di sini. Beli elektronik, sesuai saran panitia kursus, mendingan ke Broadway atau Fortress. Terjamin keasliannya. Untuk harga perabotan rumah murah, satu baju dengan harga yang sama di sini, di HK bisa dapet dua potong. Menggoda iman :)
Kami sempat juga ke Mong Kok dan Tsim Sha Tsui, keduanya di kawasan Kowloon. Kurang lebih mirip Causeway Bay, tapi lebih semrawut. Kalau mau cari suvenir, di sana enak karena banyak pilihan dan murah. Kalau secara kualitas, ya mesti pinter2 milih juga sih. Oia, waktu ke Ladies' Market, sempet kejam lho. Barang bisa ditawar sampai sepertiganya. Tapi ya dengan bonus muka jutek a la mereka sih hehe..
Wisata lainnya, kami sempat ke The Peak, puncak bukit yang ada di HK, dicapai dengan menggunakan tram. Harga HKD50 p.p. kalau pakai Octopus. Octopus itu kartu untuk naik segala macam moda transportasi umum di sana, bisa dibeli dengan harga HKD150 (100 untuk ongkos dan 50 deposit). Kalau udah mau pulang, kartu ini bisa direfund lho, semuanya. Back to topic, sayang karena nggak satupun dari kami yang bawa kamera, seadanya lah foto2 pakai kamera hp, dan itupun kehabisan batere di tengah2 foto. Mau foto di atas bisa sih, tapi mahal. Ukuran 6R yang paling kecil aja udah HKD100. Kalau patungan, bingung nanti fotonya buat siapa, berhubung cuma dapet satu.

Khusus weekend, hari Sabtu (16/4) kami ke Ngong Ping, tempat patung raksasa Buddha berada. Kita di Central transit untuk ambil Thung Cung Line. Dari stasiun, kami naik cable car hanya dengan HKD80 (single trip) karena pulangnya kami berencana naik bis, cukup dengan HKD17. Itu supaya banyak pemandangan yang bisa diliat :) Kalau mau round trip, cukup bayar HKD115 saja.
Setiba di Thung Cung, kami mampir ke Citygate Outlet, mall dengan barang2 diskonan 30-70%, all-year round ^^ Kalap juga sih, borong jam tangan asli di sana ;p Puas belanja dan makan siang, kami langsung ke Disneyland. Bukan untuk main. Selain nggak tertarik, emang udah bukan umurnya lagi. Jadi kami cuma cari suvenir di Disneyland Hotel. Sepulang dari sana, saya pun belum puas. Saya kembali menjelajahi toko2 pakaian di Causeway Bay. Berkantong2 akhirnya yang masuk koper. Betul2 surga dunia, murah dan terjangkau, tanpa pajak, branded. Kapan2 kayaknya perlu ke sana lagi khusus buat belanja ^^

26 Maret 2010

Another Trip: the US (3)

Hari Kamis (25/3) penuh keceriaan.

Pertama, hari gajian. Menghibur di tengah2 masa sulit (sulit nggak belanja hihihi - kidding). Utang kartu kredit dan ke teman2 langsung saya lunasi. Gaji langsung ludes, tapi rasanya lega nggak ada utang lagi hehe.

Kedua, kursus cuma setengah hari. Jadi, sisa hari saya habiskan untuk mengunjungi beberapa landmark kota yang hanya buka sampai jam 5 sore. National Mall, daerah luas antara Washington Monument dan Capitol Hill, tempat Smithsonian berada. Yap, dengar kata Smithsonian pikiran langsung tertuju ke kawasan dengan sederet museum besar dan megah, koleksi super lengkap, dan pastinya gratis! Saya nggak sabar untuk masuk ke sana.

Museum pertama yang saya kunjungi adalah Natural History Museum. Koleksinya luar biasa banyaknya. Dengan pembagian zona berdasarkan habitatnya, regionnya, sampai zamannya. Semua benar2 rapi dan terorganisir. Layout museumnya juga nggak bikin bingung, jadi kita nggak tersesat. Informasi tersedia di mana2.
Museum kedua adalah National Gallery of Art. Saya nggak terlalu ngerti seni sih, tapi mencoba untuk mengerti lah senggaknya. Tapi saya memang suka dengan seni lukis Eropa. Di sana terdapat bermacam koleksi dari berbagai negara dan dari beberapa abad lampau. Semua dibagi berdasarkan tema lukisannya.
Museum ketiga adalah Air and Space Museum. Di sana dipajang berbagai sejarah penerbangan mulai dari alat paling sederhana dan konyol sampai Wright Brothers yang menjadi pencetus awal pesawat terbang masa kini. Seksi astronomi juga ada di sana. Alat peraga canggih, informatif, dan user-friendly. Mulai dari pesawat ulang alik, satelit, teleskop Hubble, sampai roket juga ada. Pemajangannya juga menarik jadi kita penasaran dan tertarik untuk melihat. Puas banget rasanya. Cuma sayang, saya pakai baju kantor, jadi kaki sakit buat jalan. Makanya saya nggak bisa lama2. Huh. Tapi gpp lah. Yang penting rasa penasaran terbayar sudah. Apa ya selanjutnya?

25 Maret 2010

Another Trip: the US (2)

Saya kursus di IMF selama satu minggu. Sebagai informasi umum, IMF itu paling deket dengan Metro (nama subway di sana) Farragut North. Jalan kaki sekitar 10 menit. Di sekitar sana cuma ada kantor, kedutaan, dan toko2. Mungkin karena memang kota ini cuma untuk kegiatan pemerintahan, bisnis, dan perkantoran, jadi nggak ada rumah tinggal. Pilihan makanan banyak, tapi karena saya takut nggak halal, pilihan saya jatuhkan ke Mehran Restaurant di Pennsylvania Avenue. Restoran khas Asia Selatan - Timur Tengah dengan ciri khasnya kebab dan kari ayam lengkap dengan nasi lemaknya. Letaknya cuma sekitar 3 blok dari IMF, 5 menit jalan kaki.

Tiga hari pertama kursus di DC, semua tampak berjalan lancar dan baik2 saja. Materi kursus ada yang bisa dicerna dan jauh lebih banyak yang nggak dimengerti. Masih wajar kan? Hehehe. Kursusnya sih lebih ke pengenalan mengenai pemilihan model yang tepat dengan menggunakan suatu alat bantu ciptaan University of Oxford supaya bisa menghasilkan forecast yang baik juga. That's the course all about.

Selebihnya, 3 hari di DC saya coba habiskan untuk menikmati musim semi yang sudah datang. Sakura di berbagai penjuru kota mulai bermekaran, udara sudah nggak terlalu dingin. Hari pertama saya langsung pulang saja karena masih kecapekan. Sementara hari kedua saya sempat jalan sebentar, tapi karena rasanya masih capek, baru setengah jam saya langsung pulang. Tapi sempet foto2 depan White House dulu hehe. Untung saya langsung pulang, karena ternyata di tengah jalan menuju stasiun Metro hujan turun.
Baru di hari ketiga ini saya pasang niat kuat2 untuk jalan dan kunjungi sebanyak mungkin situs khas DC. Mulai dari White House (lagi, soalnya foto2nya masih kurang hehe), Washington Monument yang kayak monas itu, Lincoln Memorial yang ada patung Abraham Lincoln lagi duduk segede gaban, disambung ke Capitol Hill tempat Senate berkantor. Puas? Belum sih, tapi capek jelas. Sekitar 240 menit saya jalan kaki, saya putuskan untuk pulang demi hak kaki saya untuk istirahat hehe. Tapi karena penasaran dengan cerita Justin yang katanya di Pentagon City ada Macy's-nya, akhirnya saya meluncur ke sana. Ternyata, nggak sebagus yang dibayangkan. Mallnya masih setara ITC atau Atrium Senen kalau mau lebih kejam. Padat dengan manusia berjalan merayap dan super berisik saking banyaknya orang yang ngobrol di saat yang bersamaan. Ke Macy's ternyata tokonya nggak sebagus dan sekelas Next atau Marks & Spencer di London. Tapi gitu2 juga saya nggak sanggup beli barang2 di sana hihihi. Tapi sudahlah, rasa penasaran terbayar sudah biarpun nggak beli apa2. Pulanglah saya dengan segera saking capeknya, hasilnya ya tulisan ini. Sekali lagi, kalau ditanya sudah puas, jelas belum. Cuma capek. Yang saya perlukan cuma recharge tenaga untuk jalan lagi besok sore sepulang kursus :)

20 Maret 2010

Another Trip: the US (1)

Perjalanan panjang dimulai lagi. Kali ini giliran benua Amerika yang akan saya pijak. Saya pergi dalam rangka kursus selama 1 minggu di D.C.

Berangkat dari rumah jam 12.30, saya mampir ke kantor dulu gara2 ketinggalan dasi ;p
Dari situ saya langsung meluncur ke bandara Soetta. Sampai bandara kurang dari satu jam take off. Mepet, tapi untung masih sempat hehe. Semua proses dilalui, naiklah ke pesawat. Lima jam perjalanan ke Hong Kong untuk transit nggak begitu terasa. Itu belum ada apa2nya. Tiba di bandara Hong Kong jam setengah 9 waktu setempat, saya harus tunggu penerbangan lanjutan ke NY via Vancouver yang dijadwalkan take off jam 1 dini hari waktu setempat. Lama? Jelas. Sembari menunggu Myrna take off jam 11 malam tadi, kami jalan2 dan belanja beberapa buah tangan untuk teman2 dan handai taulan nanti di tanah air. Setelah antar Myrna boarding, saya pergi ke gate yang ke NY. Untung ada Wi-Fi gratis untuk membunuh rasa bosan. Entah mau dengan cara apa lagi nunggu pesawat ini. Lebih baik saya persiapkan segala dokumen dan kelengkapan imigrasi, jangan lupa berdoa demi kelancaran proses sejak dari sini sampai tiba kembali di Tanah Air. Amin.

See you around... *boarding menuju NY*

...11 hours later...

Alhamdulillah tiba dengan selamat di Vancouver. Ya, Vancouver, bukan NY. Cakep banget ya. Di tiket nggak ada pemberitahuan kalau pesawatnya bakal transit dulu di Vancouver. Alhasil, tadi pas antri untuk boarding ditanya sama petugas karena saya nggak pegang form izin transit tanpa visa Kanada. Mana kutahu. Tapi semua lancar alhamdulillah.
Sekarang saya baru sampai, dan sekarang sudah harus boarding lagi heading to NY.

See you around again ^.^

...5 hours later...

Alhamdulillah sampai di bandara JFK, NY. Imigrasi, bagasi, semua lancar. Tadi sempet bingung, connecting flight dari NY ke DC di mana ya. Kok nggak lihat. Bodohnya, kan harusnya ada di tiket. Tadaaa, ternyata memang ada. Tanya security, pergilah saya dari Terminal 7 ke Terminal 3 naik AirTrain, layanan kereta antarterminal, "no fares no tickets" kata pak satpamnya hehe.
Sampai sini, saya masih harus tunggu flight sekitar 3 jam lagi. Lagi2, untungnya ada layanan Wi-Fi gratis, jadi nggak terisolir deh. Kapan ya Indonesia bakal banyak layanan internet gratis kayak gini ya? *Still wondering*

19 November 2009

Long Trip to London (3)

Kemarin (18/11) akhirnya agenda social event yang diselenggarain sama penyelenggara kursus terlaksana juga. Kami nonton Jersey Boys di Prince Edward Theatre, Old Compton Street. Kalo mau ke sana gampang, tinggal naik Central Line, turun di Tottenham Court Road Underground. Persis di ujung timur Oxford Street.
Cerita drama ini terinspirasi dari kisah nyata Frankie Valli dan The Four Seasons. Mereka yang berasal dari working class di jalanan New Jersey, dengan logat Jersey yang kental, menghadapi lika liku menuju ketenaran sebagai kelompok vokal legendaris di AS. Lagu2nya keren, kayak Can't Take My Eyes Off of You, Big Girls Don't Cry, sampai Walk Like a Man. Suara para pemain sekaligus penyanyinya top abis. Haaahh.. masih kerekam jelas banget di otak teater tadi malem. Sebanding lah dengan harga tiketnya yang 60 pounds. Wah, pokoknya highly recommended deh. Kalo ada yang mau nonton, dateng aja ke sana. Dijamin nggak bakalan nyesel ^_^

17 November 2009

Long Trip to London (2)

Hari kedua di London, saya berangkat kursus tadi pagi naik Tube dari Colindale ke Bank. Waktu tempuh satu jam sharp, mulai dari wisma sampai Bank of England, termasuk jalan kaki. Sepanjang jalan, saya belajar dan liat banyak hal. Pertama, di sini mereka sangat suka baca, entah itu buku, koran, atau lainnya. Kedua, tertib yang nggak ada duanya. Mulai dari eskalator, masuk stasiun, sampe nyebrang jalan pun mereka kasih kesempatan buat pedestrian. duh keren banget dah. Kapan ya Indonesia kayak begini hihihi.. Ketiga, mereka baik dan ramah. Ngapain2 mesti bilang terima kasih. Seneng banget dengernya, secara di negeri sendiri kayaknya belum membudaya. Liat tuh adik saya sendiri, udah saya amuk berapa kali gara2 nggak sadar bilang terima kasih kalau habis berinteraksi sama orang hihihi..
Kesan pertama liat London, FANTASTIC. Setelah seharian kemarin terkurung di country side London, Colindale, yang masuk Zone 4, akhirnya liat kota London asli, lengkap dengan hiruk pikuk kendaraan dan bule yang berseliweran, double decker, dan penumpang Tube yang berdesakan buat nyari sesuap nasi, eh.. roti ;p
Sampai di Bank of England, bangunannya duh klasik banget. Sayang nggak boleh difoto. Untuk kursus hari pertama ini, it was good. Materinya ada yang enak, ada juga yang bikin ngantuk. Yang jelas, pesertanya pinter2. Pinter ngomong Inggris jelas, tapi mereka juga pinter secara keilmuan. Pinter bersosialisasi juga. Kalo saya mah boro2, masih a-i-u-e-o ;p
Selama acara, agak repot juga kalo lagi break dan makan. Bingung, karena takut nggak halal. Pas makan siang saya cuma makan sayur rebus. Makan malam diajak sama penyelenggara kursusnya ke Barcelona Tapas Bar. Yap, dari namanya it is the real bar. Seumur hidup akhirnya masuk bar juga. Bertentangan dengan prinsip selama ini sih. Hiks, I felt guilty and terribly sorry. Bahkan sepanjang acara saya nggak banyak dengerin apa yang lagi diomongin sama sesama pesertam, soalnya berusaha mencari pembenaran buat tindakan saya malam tadi. Saya beranggapan, toh saya nggak minum alkohol. Makanan di sana juga nggak saya sentuh karena nggak jelas statusnya. Yang saya minum cuma pure orange juice. Yah, walaupun bisa jadi gelasnya bekas minum minuman keras dan nyucinya nggak bersih, sisanya masih ada yang nempel di pori2 gelas yang sebesar atom, bla bla bla. Hmpf.. nyesel juga. I think it's time for me to dare say no for everything what I believe in..

15 November 2009

Long Trip to London (1)

Setelah setahun lebih nggak dinas, alhamdulillah akhirnya dinas lagi. Sekarang bukan untuk presentasi, tapi ikut kursus tentang pemodelan ekonomi. Terus terang persiapan agak kurang. Selain belum baca materi yang direkomendasiin sama penyelenggaranya, CCBS, juga belum banyak yang direncanain selama di London. Belum tau jelas kota apa aja yang mau didatengin, belum tau mau naik apa aja. Tapi kalo survei mesjid, tempat beli oleh2, tempat beli makanan halal, dan transportasi ke CCBS sih udah. Untuk colokan listrik, berdasarkan pengalaman dinas ke Aussie yang lalu, saya coba browse di internet bentuk colokan di Inggris. Saya coba cari ke toko serba ada di Jakarta ternyata juga nggak ada.
Dengan persiapan yang seadanya, berangkat juga kemarin (14/11) ke London. Saya naik Singapore Airlines. Transit di Singapore sekitar 1,5 jam. Liat Changi Airport tuh jadi malu juga liat bandara kita tercinta. Well, gimanapun tetep cinta Indonesia pastinya ^_^
Perjalanan panjang selama 14 jam nonstop dimulai sekitar jam 23.00 waktu Singapore. Sepanjang jalan saya tidur bangun terus. Rasanya nggak nyaman duduk berjam-jam. Kadang ngobrol sama Ibu2 dari Australia di sebelah, kadang main game, kadang liatin peta posisi pesawat, kadang dengerin lagu, bahkan sampe nonton Harry Potter dan Cinlok segala hahaha...
Tapi emang sih, seperti yang diceritain sama orang2, Singapore Airlines emang enak fasilitasnya. Kursi lebar dan empuk, space luas, banyak hiburan, dan makanan juga berlimpah. Cuma sayangnya saya lupa minta makanan halal. Awalnya saya kira kalo mau minta makanan halal waktu pas check-in. Ternyata kata pramugarinya harus request online. Ya udah deh, saya makan crackers aja. Tapi nggak berapa lama pramugarinya nawarin cup noodle yang berlabel halal produk Singapura. Ya udah saya makan aja, biarpun pake styrofoam dan berbahan pengawet hehehe..
Sesampai di London, saya dijemput sama pemilik wisma Indonesia tempat saya menginap. Tadinya saya mau naik Tube, sebutan untuk kereta bawah tanah di Inggris. Tapi info dari temen yang lagi S3 di sana, tanggal 14-15 Nov ini lagi ada maintenance, jadi nggak jalan di sejumlah besar trayek, termasuk yang dari bandara Heathrow London ke Central London. Ya udah saya minta dijemput aja. Agak mahal sih, sekitar 50 poundsterling. Tapi terpaksa, daripada repot lagi.
Sampai di London, saya disambut dengan 9 derajat Celcius suhunya yang menggigit, mana hujan pula. Tapi pas agak siang sih lebih bersahabat cuacanya. Di wisma saya kenalan dengan beberapa penghuni yang menyewa kamar untuk beberapa waktu yang lebih panjang karena dinas atau studi. Mereka ajak saya belanja di ASDA. Saya ke sana naik bus Double Decker yang ternama itu. Canggih ternyata. Untuk naik itu, saya beli Oyster dulu, semacam kartu magnetik sebagai karcis masuk berbagai moda transportasi di London seperti Tube, Bus, dll. Harga beli pertama 3 pound. Kita bisa isi senilai tertentu dan bisa diisi ulang kalo udah mau habis. Kayak pulsa telepon gitu deh jadinya.
Di ASDA ternyata barang2nya murah2, ada stand tersendiri untuk makanan halal, juga produk2 di sana (dan saya Inggris secara umum juga) disertai dengan beragam info, misalnya tanpa pengawet, kandungan nutrisi, cocok untuk vegetarian, dll. Informatif deh pokoknya.
Sejauh ini, kesan kota London bagus di hari pertama. Semoga akan tetap begitu dan jauh lebih baik tentunya selama saya tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan ^_^

22 Juli 2008

Long time no see

Akhirnya bisa nulis blog lagi. Udah lama nggak nulis rasanya kangen juga. Banyak cerita juga yang terjadi selama saya nggak nulis. Yang jelas, seperti manusia2 lain, saya selain menjalani rutinitas, juga menemui banyak hal baru dan mengesankan setiap harinya.

Yang paling berkesan dalam bulan ini, my very first time going abroad :)
Saya ke Australia untuk menghadiri seminar mengenai perdagangan Asia Pasifik di Sydney, 14-15 Juli lalu. Awalnya sih Kepala Biro saya, Pak Wijoyo, yang akan presentasi mewakili kantor.
Ternyata, tanpa diduga, hanya beberapa jam setelah kami tiba di sana pada Minggu siang, beliau mendapat kabar kalau ayahandanya meninggal dunia. Alhasil, dia langsung pulang lagi ke Indonesia. Karena acara seperti tidak mungkin ditinggalkan begitu saja, akhirnya saya diminta untuk menggantikan dia presentasi keesokan harinya.

Alhamdulillah dengan pertolongan Alloh SWT saya bisa menjalani misi tersebut dengan baik. Pengalaman baru, pertama ke luar negeri sendiri (karena jadwal penerbangan saya dengan Kepala Biro beda), presentasi dalam bahasa Inggris sendirian mewakili institusi negara. Wow.... sensasi luar biasa deh pokoknya.

Hari kedua seminar, saya nggak ikutan, soalnya pas hari Minggu nggak sempet jalan2 :p Akhirnya saya memutuskan untuk mulai jalan2 jam 7 pagi, pas matahari baru terbit, di musim dingin begini. Saya jalan kaki ke downtown melewati taman Victoria Park, terus sampai Circular Quay. Di sana saya melihat berbagai objek menarik di Sydney, mulai dari Sydney Opera House, Harbour Bridge, sampai Luna Park di Miller's Point. Kesan saya selama traveling ke sana... Hmm.. Bersih, tertib, disiplin, maju, dan segudang kata lainnya yang berasosiasi dengan itu :D
Oia, cari makanan halal di sana agak sulit. Di pusat kota untung ada Cafe Kasturi, punya orang Malaysia. Dia ada di sudut jalan George St. dan Valentine St. Nggak terlalu jauh dari Railway Square kok.

Kesulitan yang saya temui selama di sana kayaknya cuma makanan dan udara dingin :p Saya padahal udah persiapan bawa lotion supaya kulit nggak kering. Tapi nggak ngaruh. Sampai di Bali pas transit menuju pulang ke Jakarta, kulit pecah2.

Beberapa saran saya kalau mau bepergian ke luar negeri berdasarkan pengalaman:
Jangan bawa benda berbentuk cair, liquid, aerosol dan sejenisnya melebihi 100 ml per kemasan dan jangan melebihi 1 liter secara total; bawa koper yang besar tapi isi dengan barang seefisien mungkin karena siapa tau bakal banyak bawa oleh2, apalagi batas max bagasi 20 kg saja; bawa lotion setiap kali pergi keluar rumah; cari informasi sebanyak2nya tentang tempat wisata, akses transportasi massal, toko souvenir, peta kota, juga mesjid, jadwal sholat dan restoran halal bagi yang muslim; kalau bisa sudah punya kartu kredit untuk memudahkan berbagai transaksi keuangan di sana; jangan lupa untuk menukarkan rupiah dengan mata uang negara tujuan di Indonesia, karena jatuhnya lebih murah daripada kita beli di sana; jangan lupa untuk bawa travel adapter (colokan listrik untuk berbagai bentuk) karena seringkali tempat colokan listrik beda banget sama di Indonesia; dan satu lagi, jangan lupa daftarkan nomor ponsel kita untuk international roaming.

Nanti kalo ada tips lain, saya kasih tau lagi :)

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar