Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

04 Maret 2011

Who Do You Think You Are?

Judul di atas sebetulnya nama sebuah acara di salah satu stasiun televisi asal Inggris. Acara ini sebenarnya keliatan sederhana, yaitu mencari siapa sih nenek moyang kita, dari mana mereka berasal, di mana mereka tinggal, dan dengan cara apa mereka wafat. Subjek utama dari acara ini biasanya orang2 ternama di AS atau Inggris, sebut saja Lisa Kudrow, pemeran serial komedi Friends yang juga jadi salah satu produser dari acara ini, Sarah Jessica Parker, sampai Gwyneth Paltrow.

Ada satu episode di mana seseorang akhirnya mengetahui bahwa dirinya merupakan satu2nya keluarga yang selamat di keluarga besarnya dari holocaust di zaman Perang Dunia I. Ada juga episode lain di mana seseorang mengetahui mengapa buyutnya menghilang tanpa kabar. Ternyata buyutnya menjadi bagian dari sejarah terjadinya Gold Rush pada abad ke-19 di AS dan meninggal di sana.

Well, apapun ceritanya, ada beberapa hal yang mengganjal saya.
Pertama, sebegitu hebatnya kesadaran mereka akan data dan betapa lengkapnya genealogi yang tercatat di arsip setempat, sampai2 mereka bisa melacak keluarga mereka mulai dari kakek, buyut, sampai beberapa tingkat di atasnya. Itu pun sampai tahun 1600-an. Sementara kita di Indonesia mungkin masih zaman kerajaan tradisional, lengkap dengan pasukan berkuda membawa panah yang bahkan terpikirkan untuk mencatat silsilah pun nggak. Ya, biarpun nggak dengan pohon keluarga, minimal dengan akta kelahiran dan kematian kan bisa dilacak posisi keluarga kita.

Kedua, saya malah jadi bertanya ke diri sendiri. Keluarga saya sendiri gimana ya? Tau sendiri kalau pencatatan silsilah kita belum ada, atau kalaupun ada barangkali masih sangat prematur dan sederhana, dengan jaringan yang belum meluas ke seluruh Indonesia. Sementara eyang buyut dan orang tua dari bapak sudah nggak ada, sedangkan yang dari ibu tinggal satu, eyang kakung. Sepertinya saya mesti segera melacak silsilah keluarga saya. Selama ini yang berkembang kan cuma dari mulut ke mulut kalau kami keturunan sultan apa, pangeran mana, atau kyai siapa. Dengan melacak silsilah, selain saya bisa tau siapa saja keluarga saya sebenarnya, ke mana saja mereka selama ini, dan bagaimana kehidupan mereka, saya pun senggaknya bisa melengkapi potongan sejarah yang selama ini hilang, sehingga bisa jadi pengetahuan dan sumber informasi bagi anak cucu kelak supaya lebih menghargai keluarganya.

30 Desember 2010

Selamat Jalan Papa

Innalillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun
Telah berpulang ke Rahmatulloh, ayahanda tercinta yang telah setia menemani mama selama kurang lebih 7 tahun terakhir ini, papa Abidin Nunsi, pada Jumat dini hari, pukul 04.30 WIT. Kepulangannya ke hadirat Illahi Robbi yang tidak terduga membuat kami terpukul dan terkejut. Beliau yang merupakan keturunan suku Sunda dan Dobo ini berpulang untuk selama2nya, meninggalkan mama, kesembilan putra putrinya, dan keempat cucunya.

Begitu banyak kenangan kami bersama papa selama ini. Papa yang mengenalkan saya dengan kehidupan Jakarta sebelum akhirnya saya benar2 bekerja di sini. Papa juga yang membuat saya punya tempat menginap untuk menghadapi tes wawancara di tempat kerja saya sekarang, biarpun waktu itu menginap bersama rekan2 kerja beliau. Papa yang bisa membawa saya kembali ke Dufan lagi semenjak SMP. Papa yang sering mengajak piknik ke Pantai Pasir Putih di Manokwari sambil bakar ikan. Papa juga yang sering bawakan durian dan roti abon gulung khas Manokwari yang disukai banyak orang. Papa yang pernah antar saya ke bandara untuk pulang ke Jakarta biarpun dalam kondisi lemah. Papa pula yang mengenalkan seluk beluk Jakarta karena sering menginap di berbagai hotel di segenap penjuru Jakarta.

Kini, Papa telah pergi untuk selamanya, ke pangkuanNya dalam keadaan damai dan tenang, tanpa rasa sakit yang sudah menghampiri beliau setahun ini. Semoga Alloh menerima amal ibadah dan iman islam beliau, dilapangkan kuburnya, dan diberikan ganjaran yang sempurna di hadapanNya. Amin.

Maafkan karena Papa nggak bisa lihat saya ketika menikah kelak, maafkan kalau saya masih kurang berbakti selama ini, maafkan juga kalau pernah ada salah kata dan perbuatan. Satu hal yang Papa perlu tau, dan saya yakin Papa sudah tau, kalau saya selalu menyayangi Papa. Terima kasih telah membawa kebahagiaan bagi mama dan kami sekeluarga. Selamat jalan.

02 Agustus 2010

Papa Sakit, Saya Sadar

Hari ini saya dengar kabar buruk. Dua minggu lalu saya dapat laporan kalau pandangan Papa mulai memburuk. Saya malah memakluminya karena saya anggap itu wajar mengingat usia Papa yang semakin lanjut. Tapi bodohnya, saya lupa kalau Papa menderita diabetes. Lupa juga kalau saya pernah baca artikel kalau penderita diabetes rentan terhadap kebutaan. Itulah akibat dari kelalaian dan kealpaan saya. Setelah tes lab minggu lalu, pagi ini dokter kasih tau hasilnya kalau Papa menderita Glaukoma.

Rasa sesal teramat dalam saya rasakan. Kenapa nggak dari dulu waktu Papa mulai mengeluh "Mata Papa kok rasanya makin rabun ya Ki" saya langsung cekatan bawa Papa ke dokter atau RS. YA Alloh Ya Rabb, Engkau Yang Maha Menyembuhkan, sembuhkan Papa. Jadikan sakitnya sebagai penggugur dosa. Maafkan hamba yang telah lalai mengurus orang tua :'(

Sejak saya tau Papa menderita diabetes, saya memang sangat strict menjaga makanan supaya nggak terlalu banyak mengandung glukosa. Karena kan katanya sakit itu genetik, tapi nggak akan banyak terasa dampaknya kalau pola makan dan hidup sudah diatur sejak dini. Sekarang, begitu Papa divonis menderita glaukoma, selain rasa sesal, saya juga khawatir karena dokter bilang anak2 Papa harus periksa kalau sudah menginjak usia 35-40 tahun.

Papa dulu pernah mengeluh kalau setiap buang air kecil rasanya sakit. Pasti ada yang salah dengan prostatnya. Rasanya saya harus segera memeriksakan Papa ke dokter sebelum semuanya terlambat. Pokoknya Papa harus sehat supaya bisa lancar ibadah hajinya. Doakan ya Pa, semoga bisa cepat terkumpul uangnya. Amin.

"...Ya Alloh, berkahilah kami, berikan kami kesehatan agar khusyuk dalam beribadah kepadaMu, ampuni kami atas segala khilaf baik yang disadari atau tidak, disengaja atau tidak... Amin"

01 Juli 2010

Selamat Ultah Papa

Papa kemarin (30/6), menginjak usia 63 tahun. Tiada hadiah yang bisa diberi selain ucapan doa yang tulus, teriring harapan semoga Papa diberikan usia yang barokah, kesehatan, sakit yang sekarang dialami dijadikan sebagai penggugur dosa, dan bisa segera naik haji. Amin.
Tak terasa waktu terus bergulir, usia semakin lanjut. Rasanya, sejak Papa stroke 13 tahun lalu, belum ada sesuatu yang teramat membahagiakan Papa. Maaf ya Pa, Oki belum bisa membahagiakan Papa. Tapi, insya Alloh setiap hari doa nggak pernah lupa dipanjatkan pada Ilahi Robbi demi Papa tercinta. Luv you Pa ^^

01 Juni 2010

Silaturahmi dengan Keluarga Ungaran

Long weekend lalu, saya pergi ke Ungaran untuk liburan bareng keluarga di sana. Sepupu2 dan putra2nya emang tinggal di sana sejak sekitar 2 tahun yang lalu dan saya baru mengunjungi mereka 2 kali. Libur kali ini, saya emang pengen pergi ke sana karena lama nggak ketemu dan ngobrol2 seru. Ternyata, 2 hari menjelang libur panjang, mama mendadak datang dari Papua. Saya jadi bimbang. Di satu sisi, lama nggak ketemu mama jadi pengen menghabiskan waktu bareng2, tapi di sisi lain saya sudah merencanakan liburan ini sejak 2 bulan yang lalu. Dengan bijak, mama bilang saya liburan saja, toh mama juga masih ada urusan yang harus diselesaikan.

Dengan sedikit perasaan sedih, saya tetap pergi ke Semarang. Hari pertama di sana, saya cuma ngobrol2 sambil nunggu Jumatan, lalu istirahat. Ada satu pelajaran penting. Ternyata kalau mau liburan semaksimal mungkin bukan berarti harus berangkat sepagi mungkin. Konyol sebenarnya hehe. Untuk ngejar pesawat jam 7, saya harus lapor jam setengah 6, which is dari rumah senggaknya dari jam setengah 5. hooaahhmm.. yang ada malah ngantuk dan nggak jalan ke mana2.
Hari kedua saya baru bisa jalan2. Siang kami ke Djati Legi, restoran keluarga di Perumnas Banyumanik, letaknya deket banget sama Sarinah. Makanannya enak, terutama Sop Buntut dan Iga Bakar. Nggak nguatin bener. Kalau ada yang sempat ke sana, coba deh icip2. Habis makan, kami ke Ada Swalayan di Setiabudi. Kami main di tempat permainan anak2. Keponakan2 saya seneng banget bisa main di sana. Ternyata sudah setahun lebih mereka nggak pernah main. Jadi kasian. Syukurlah mereka bisa main2 di mall barang sekali aja. Dari sana, saya ajak mereka makan es krim di McD, lanjut take away Pizza di Sukun yang nggak jauh dari Ada. Sampai rumah, kami makan2 sambil ngobrol.
Hari Minggu, saya diajak ke Joglo Villa di deket Gunung Pati. Villa itu dibuat dengan memakai Joglo asli yang diboyong dari Jepara ke sana. Tempatnya kecil tapi cukup eksotis. Barangkali suatu waktu saya akan coba nginep di sana.

Selama liburan di sana emang nggak banyak yang saya lakukan. Cuma ngobrol dan jalan2 sebentar bareng keluarga. Tapi yang saya cari, keceriaan dan kebersamaan yang nggak saya dapat di Jakarta. Saya sayang mereka, begitu juga sebaliknya. Bahkan waktu saya pamit pulang, ponakan2 langsung murung dan keliatan sedih. Om pulang dulu ya. Nanti kita ketemu lagi. Makasih oleh2 gambar dan kerajinan tangannya ya Ja'far. Sesuai pesan, Om udah pasang di meja kantor supaya inget Ja'far, Amar, Fikar, Dijah, dan Bibin terus :)

17 Maret 2010

Selamat Jalan Uti

Eyang Putri, biasa kami panggil Uti, menghadap ke hadirat Illahi Robbi pada (16/3) dini hari di Manokwari akibat sakit. Beliau, terlahir dengan nama Muryatmi dan sangat kami cintai, meninggal di usia 80 tahun dengan meninggalkan 1 suami, 11 putra putri dan puluhan cucu cicit.

Saya tidak bisa mengikuti prosesi pemakaman beliau karena saya nggak dapat tiket ke Manokwari. Sedih banget rasanya, tapi bagaimana lagi. Keadaan nggak memungkinkan. Yang lebih penting doa bagi arwah beliau dan semoga iman islam serta amal ibadah beliau diterima di sisi Alloh swt. Amin.

Terus terang, tidak banyak kenangan yang melekat di benak saya tentang Uti karena memang kontak secara langsung dengan beliau tidak banyak. Sejak lahir hingga kuliah saya tidak pernah bertemu beliau kecuali barangkali waktu saya masih kecil. Saya nggak terlalu ingat momen itu. Tapi, pertama kali saya bertemu beliau di masa dewasa adalah tahun 2006. Tepat setelah menyelesaikan proyek dosen, menjelang Idul Fitri, dan setelah pengumuman bahwa saya diterima di tempat kerja sekarang, saya pergi ke Papua untuk pertama kalinya. Saya bertemu dengan Uti dengan perasaan segan dan takut. Jelas perasaan itu menyeruak karena saya dengar dari saudara2 saya kalau Uti galak. Tapi nyatanya waktu saya bertemu beliau, kok nggak ya. Bahkan beliau teramat baik sama saya. Saya dimasakin makanan, dibelikan durian satu karung, sampai2 waktu mau pulang ke Jawa beliau ikut mengantar sambil bawa keripik sukun satu kardus besar. Sekarang, beliau pergi untuk selamanya.

Selamat jalan Uti, semoga diterangkan dan dilapangkan alam kuburnya. Percayalah kalau kami selalu mencintai dan menyayangi Uti.

12 Oktober 2009

Selamat Menempuh Hidup Baru, Iwan Adikku

Lima hari ke belakang, saya pergi ke Makassar untuk menghadiri pernikahan adik kandung saya yang nomor 3, Iwan. Berhubung Iwan dapat gadis keturunan Bugis, jadi pernikahannya dilangsungkan di Makassar. Saya ambil cuti 3 hari sejak Rabu (7/10). Sesampainya saya di sana, saya langsung ikut membantu mengurus persiapan pernikahan, mulai dari mencari seserahan, hiasan mobil pengantin, sampai mencari mas kawin. Semua dilakukan dalam 2 hari. Saking sibuknya mengurus ini dan itu, sampai2 tugas kantor yang harusnya saya selesaikan minggu lalu jadi nggak tersentuh.

Menjelang pernikahan, saudara2 dari Manokwari dan Nabire berdatangan. Kami semua menginap di Hotel Panakkukang. Dari namanya, memang lokasinya di dekat Mall Panakkukang, salah satu mall terbesar di sana. Kami nggak banyak jalan2 atau berwisata karena harus membantu acara adik supaya semuanya lancar.

Akhirnya, hari besar pun tiba. Menjelang akad nikah di Jumat pagi (9/10) yang cerah, ternyata listrik padam. Dari pengakuan saudara2 baru saya di sana, memang akhir2 ini Makassar sering mengalami pemadaman listrik bergilir. Berhubung waktu sudah mepet dengan waktu sholat Jumat, akhirnya akad tetap berjalan tanpa listrik. Alhamdulillah ijab kabul berjalan dengan baik. Terharu dan sedih rasanya. Adikku akhirnya menikah dan melepas status lajangnya. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Amin.

Selesai akad, kami langsung pulang ke hotel dan sholat Jumat. Menjelang sore, saya putar2 kota Makassar untuk cari konsumsi teman2 Iwan yang latihan Pedang Pora di Gedung Manunggal tapi nggak dapat. Akhirnya saya hanya jemput Iwan dan Fitri, calonnya. Kami langsung meluncur ke hotel, istirahat sebentar, langsung siap2. Iwan dan Fitri dirias sama mama sendiri. Hasilnya keren deh.

Begitu jam setengah 7 malam, dengan diiringi Voorijder, kami konvoi ke gedung resepsi pernikahan. Setibanya di sana, Pedang Pora digelar dengan Irup Kapolwiltabes Makassar Pak Kombespol Barhanuddin Andi. Saya baru tahu tuh hehehe.. Haru banget, nggak sangka adik kecilku menikah juga dengan langkah gagah melewati tamu undangan. Terbayang betapa terharunya mama lihat Iwan di sana.
Sejam pertama acara lancar, tapi sekitar jam 8 malam, listrik lagi2 mati. Tapi setengah jam kemudian listrik nyala lagi. Padahal orang2 sempat khawatir karena biasanya kalo lampu padam bisa sampai 4-5 jam. Dengar2 sih anak buahnya pak Kapolwiltabes telpon PLN untuk dinyalakan listriknya karena ada koleganya yang sedang resepsi. Alhamdulillah.
Tapi, ternyata listrik menyala bukan akhir dari cerita sedih. Ternyata waktu listrik padam, ada orang dengan jahilnya membobol salah satu dari empat kotak angpao. Saya nggak tau isinya ludes apa nggak karena sedang urus keluarga.
Acara berlalu. Apapun insiden yang terjadi, yang penting pernikahannya lancar dan langgeng, membawa kebahagiaan dan ketenangan dunia akhirat. Amin.

Sabtu (10/10) dan Minggu (11/10) saya habiskan waktu secara penuh bersama keluarga sampai2 nggak sempat beli oleh2. Sabtu kami merayakan ultah Papi yang ke 49 di restoran seafood Kahyangan. Papi sampai terharu. Dari tempat makan, kami ke tempat mbah Aris. Dari situ, kami ke Hotel Pantai Gapura sambil minum saraba di tengah udara malam yang dingin sambil menunggu waktu kakak saya, Ato, untuk pulang ke Nabire. Berhubung tengah malam, kami nggak antar. Hari Minggu kami ke Malino. Waktu cuma habis untuk perjalanan, total sekitar 6 jam p.p. sementara kami di sana hanya 3 jam, 2 jam untuk makan, foto2, dan naik kuda. Tapi nggak apa2. Yang penting sudah menjelajahi tanah Sulawesi, impian bertahun2. Sampai di Makassar jam setengah 7, ambil barang, langsung meluncur ke bandara untuk kejar penerbangan jam 7.40. Untung bukan Jakarta, jadi nggak macet.

Selama di Makassar, waktu yang saya habiskan benar2 berkualitas. Penuh untuk keluarga. Sampai2 saya nggak sempat beli oleh2. Malahan sepupuku, Ririn, yang belikan oleh2 menjelang ke bandara. Jadi nggak enak. Makasih banyak ya Rin.

Lain waktu, saya yang menikah. Kapan dan di manakah itu? Wallahu a'lam. Yang penting tetap ikhtiar ^_^

08 Juni 2009

Papa Sakit

Rabu pagi (3/6) saya mendapat telpon dari ibu Gina, pengurus Panti Bunda tempat papa tinggal selama 3 tahun ini untuk mengabarkan bahwa papa harus dirawat di RS. Shock rasanya. Apalagi di saat itu juga, ibu Gina minta saya segera pulang. Dilema merangsek. Saya baru masuk kantor, sementara persiapan belum ada. Sembari menunggu keputusan dokter apakah Papa harus dirawat atau nggak, saya berusaha menenangkan diri. Sore saya dapat kabar kalau Papa akhirnya dirawat di RS Advent Bandung. Sayang saya harus lembur. Besok paginya, saya meluncur ke Bandung. Saya baru minta izin waktu di jalan via SMS hehehe.. Sampai di Bandung, saya langsung ke RS. Saya jaga papa 4 hari, sampai hari Minggu. Pas banget dokternya bilang Papa boleh pulang. Alhamdulillah nggak apa2. Papa mungkin shock karena jatuh terpeleset, jadi reaksi badannya yang memang sudah lemah karena stroke itu bikin Papa tambah lemah. Keluar dari RS alhamdulillah Papa udah jauh lebih baik. Semoga Papa senantiasa diberi kesehatan. Amin ^_^

05 Februari 2009

Yogyakarta Kota Berhati Nyaman

Kata itu yang sering saya dapati selama berkunjung ke Yogya. Ternyata itu bukan sekadar istilah semata, setidaknya itu yang saya rasakan selama 3 hari libur akhir Januari lalu. Saya awalnya tidak berniat berlibur ke Yogya, tapi setelah dibujuk teman2, juga terpikir untuk bersilaturahmi dengan pakdhe Bambang sekeluarga, dan keinginan untuk memberi kejutan pada teman, saya akhirnya secara mendadak memutuskan pergi ke sana. Senin saya putuskan pergi ke sana, hari Selasa ada teman kantor, Wulan, yang mendadak harus dinas ke Lhokseumawe. Tiket mudik ke Yogya yang dia punya pun dia tawarkan pada saya. Tanpa ragu langsung saya beli tiketnya. Pulang kantor, saya langsung meluncur ke stasiun. Selepas sholat, saya langsung naik kereta.

Setibanya di stasiun Tugu Yogya, saya minta tolong Yudhi jemput saya di sana. Saya diantar Yudhi ke rumah Pakdhe. Saya awalnya ingin memberi kejutan pada pakdhe, dan berhasil :D Kami mengobrol sampai menjelang setengah tujuh pagi. Dilanjut dengan sarapan dan mandi pagi, saya diantar pakdhe ke stasiun Tugu untuk beli tiket pulang. Awalnya saya mau pulang dengan Argo Dwipangga. Tapi ternyata habis tiketnya. Akhirnya saya ambil tiket Bima kelas Executive. Nggak disangka, ternyata harga tiketnya murah lho, cuma 190 ribu, beda dengan tiket keberangkatan saya yang sampai 350 ribu. Dari sana, saya diajak pakdhe dan budhe ke daerah Ngireng-ireng, Panggungharjo, Bantul, tepatnya di belakang ISI. Ternyata di sana ada rumah makan gudeg tradisional, namanya Sego Gudeg Nggeneng. Cara penyajiannya, makanan yang kita pengen langsung ambil ke dapurnya. Tapi ternyata waktu sampai di sana, sedang ada pengajian karena tetangga warung tadi meninggal. Dalam keadaan berkabung, mustahil warungnya buka. Karena itu, pakdhe langsung mengganti tujuan makan ke daerah lain, tepatnya di daerah Sumberagung, Jetis. Masih di Bantul. Nama warung makannya Mangut Lele Jetis.

Enaknya nggak terperi. Hehehe... Sayur2an mentahnya ada yang belum pernah saya makan atau lihat. Sekilas mirip rumput, tapi rasanya seperti daun pandan. Selepas makan kenyang di sana, saya kembali ke Yogya. Saya janjian dengan Yudhi dan Alis di Malioboro. Tapi saya sebenarnya mau memberi kejutan buat teman saya yang lagi datang dari Solo, Elok. Tanpa sepengetahuan dia, saya pergi ke Yogya di saat yang bersamaan dia pergi ke Yogya juga. Tapi ternyata dia sudah terlanjur naik Pramek ke Solo waktu saya sampai di Malioboro. Akhirnya selepas siang saya habiskan hari ngobrol2 di restoran di Malioboro Mall dan rumah Alis di dekat Alun2 Selatan. Selepas Maghrib, kami jalan ke Ngasem, makan bakmi godhog. Enaknya :D

Selesai makan, kami ke Ring Road Utara. Ada yang mau karaokean di Happy Puppy. Rasa capek karena perjalanan di kereta membuat saya nggak bersemangat karaoke, apalagi sampai jam 11 malam. Yang lebih nggak enak lagi, gimana pulang ke rumah pakdhe kalau beliau sudah tidur. Akhirnya dengan diantar teman2, saya pulang. Untung pakdhe nggak marah. Hehe..Keesokan harinya, saya ke Malioboro lagi. Dengan ditemani Yudhi, saya akhirnya ketemu dengan Elok dan temannya, Ryna, Alis, dan mas Erwin. Dari sana, kami ke arah Kaliurang untuk wisata alam. Tapi sebelumnya kami makan dulu di Boyong Kalegan. Suasananya kayak restoran saung khas Sunda. Makanannya lumayan enak, apalagi guramenya ;p


Nggak diduga, hujan lebat mengguyur. Jadinya kami nggak jadi ke Kaliurang. Sambil menunggu reda, kami ngobrol ngalor ngidul.
Hehehe... Ternyata hujan nggak berhenti2, jadinya kami nekad juga menerobos hujan. Tapi kami nggak jadi ke Kaliurang, tapi karaokean di Happy Puppy. Berhubung tiba2 saya teringat dengan janji mau diajak pergi pakdhe sekeluarga, mendadak di jalan saya batalkan acaranya. Akhirnya saya langsung pulang. Begitu selesai sholat maghrib, kami pergi ke daerah selatan. Kalau nggak salah di Suryowijayan. Makan bakmi godhog, terus minumnya wedang uwuh. Tampilannya sih ga menarik, tapi rasanya enak lho ternyata. Makan kenyang, tidur nyenyak, senangnya :D

Besoknya, saya diajak ke Bebeng, di sekitar kaki gunung Merapi. Pakdhe bilang kalau mall banyak, tapi kalau objek wisata begini cuma ada satu2nya ini. Kapan lagi pikir saya. Akhirnya kita ke sana. Di sana sempat berfoto depan Merapi dari jarak dekat. Kota Yogya terlihat di kejauhan. Pemandangannya bagus. Di sana saya sempat icip jadah tempe ditemani wedang jahe. Sebelum pulang, mampir ke rumah mbah Maridjan. Senang banget saya bisa ke sana. Kapan2 lagi ya pakdhe :)Siang hingga sore saya habiskan waktu di rumah. Kecuali sempat ke Beringharjo beli sanggul titipan mama. Selama saya ke Yogya, banyak bahan obrolan dengan pakdhe yang saya petik dan pelajari, mulai dari filosofi dan makna hidup, kesederhanaan, kebersahajaan, kebijaksanaan, dan kepasrahan pada Yang Kuasa. Makasih banget buat pakdhe atas nasihat2nya.Malam saya pulang, perjalanan serasa menyenangkan karena sudah melewati weekend dengan senang juga. Meskipun ternyata saya telat sampai Jakarta. Sampai Gambir jam 8 pagi, ternyata hujan lebat. Apalagi saya bawa sanggul sekotak besar. Jadi mau nggak mau saya antre taksi. Hampir sejam kemudian saya baru dapat taksi, langsung meluncur ke kosan, mandi secepat kilat, dan kembali lagi. Bos alhamdulillah nggak marah karena saya sudah ijin sebelumnya. Duh, nggak lagi deh pulang mepet2. Hehehe...

Yogya, kali ini dia berhasil mencuri hati saya. Nggak sampai 3 hari saya sudah mulai jatuh cinta pada Yogya, tanpa melupakan Bandung pastinya ;p

22 Desember 2008

Selamat Hari Ibu

Mama, sesosok manusia yang sangat saya cintai. Cinta yang tulus, biarpun perih pedih pernah kurasakan dan kulalui bersama Ibu, namun tidak melunturkan rasa cintaku pada Ibu. Rasanya sudah banyak kesalahan dan kekhilafan yang pernah saya buat, bahkan kebohongan besar pernah saya lakukan.
Tidak banyak kejadian di masa balita yang saya ingat bersama Mama. Tapi setidaknya sekitar umur 4 tahun ketika masuk TK, Mama selalu mengantar saya ke sekolah. Bekal setiap pagi? Bolu beruang warna warni yang dibeli di warung dekat rumah. Beranjak dewasa, semakin banyak kenangan yang terpatri di memori saya. Ketika SD, yang paling saya kenang adalah Mama mulai memanggil guru ngaji supaya kami bisa mengaji, walaupun terkadang tanpa Mama sadari kami sering minta Mama mengajak kami jalan2 menjelang jam ngaji karena kemalasan kami ;p Biasanya Mama baru sadar ketika sampai di rumah, tiba2 nyeletuk "Loh, bukannya kalian harusnya ngaji?" Hehehe. Masa SD berlalu, ketika SMP Mama sering mengantar dan menjemput kami ke sekolah hampir setiap hari. Mama melakukannya sampai kami SMA. Mungkin Mama melakukan itu selain mengisi waktu, juga memastikan kalau anak2nya tidak keluyuran ke mana2. Tapi kebiasaan itu tertanam dalam otak, sampai2 saat Mama tidak mengantar pun kami sangat patuh dengan pergi hanya ke sekolah dan pulang langsung ke rumah, tidak tersangkut di mall atau tempat main dingdong hehe. Memasuki masa kuliah, kesuraman mulai meliputi kami sekeluarga. Ujungnya, saya putus kuliah di UNDIP karena keterbatasan biaya. Untuk makan pun masih kesulitan. Sampai2, pernah saya sekeluarga bersama Mama hanya mampu beli makan satu piring dan itu kami makan bersama. Sedih rasanya.
Kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan pada Mama adalah saya harus berbohong dan berpura2 kuliah pada tahun 2000 lalu. Kejadian itu bermula dari kejadian traumatis ketika kuliah di Teknik Sipil UNDIP tahun 1999. Mungkin bagi sebagian orang, OSPEK di sana tidak terlampau berat. Tapi bagi saya, di saat rapuh akibat orang tua saya yang sedang berseteru ditambah dengan kesulitan biaya membuat saya kesulitan menghadapi itu semua. Trauma yang terpahat di otak membuat saya tidak mau mengikuti kuliah, bahkan meskipun saya sudah diterima UMPTN untuk kedua kalinya di Matematika UNPAD tahun 2000. Perlu sekitar setahun untuk membuat saya cukup berani melangkah ke kampus. Selama itu pula saya berbohong pada Mama dan pura2 berangkat ke kampus hampir setiap harinya. Jengah dengan itu semua, untuk ketiga kalinya saya ikut UMPTN dan diterima lagi di Matematika UNPAD tahun 2001. Dengan keberanian yang tersisa, saya akhirnya mau mengikuti kuliah. Ternyata di sana tidak banyak hambatan berarti. Bahkan selama di sana saya mendapat teman2 yang baik2, saya mendapat pencerahan dalam agama, juga mampu berprestasi di atas rata. Alhamdulillah. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Ayat itu yang paling terngiang saat itu.Dengan segala yang telah saya lalui, menjadikan diri semakin kuat, menerima keadaan, banyak bersyukur atas semua yang saya dapat, diusahakan tidak mengeluh, walaupun masih suka sewot kalau ada yang nggak sreg di hati ;p
Kalau bicara bagaimana cara Mama mendidik kami, satu yang saya salut. Adil. Itu kuncinya. Kami kalau bertengkar, tanpa mau tahu siapa yang salah, pokoknya kami pasti disalahkan semua, pastinya dengan tangan atau sapu yang mendarat di paha hehe.. Tapi cara itu cukup ampuh dan membuat kami jarang bertengkar, karena percuma meskipun kita benar toh dipukul juga. Jadinya kami malah tidak mau cari ribut. Kalaupun ribut, kami berusaha menyelesaikannya sendiri dan harus sudah selesai sebelum Mama tahu :)
Mama, terima kasih sudah menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup saya, sudah mendoakan dan mengiringi langkah saya menjalani hidup, tentunya tanpa melupakan Alloh SWT. Semoga kebahagiaan, keselamatan senantiasa meliputi kehidupan Mama. Amin.

19 November 2008

Perjalanan di segitiga Joglosemar

Yang namanya jalan2 emang nggak ada habisnya. Setelah 2 minggu lalu pergi ke Bandung nengok papa, minggu lalu saya pergi ke sekitaran Jawa Tengah. Sebenernya, hari Kamis (13/11) itu saya dinas ke Solo. Tapi saya sempatkan main ke Yogya dan Solo.

Hari Rabu (12/11) pagi sengaja saya berangkat ke Solo untuk mengejar kereta Prameks (Prambanan Express) yang menurut jadwal yang saya lihat di internet sih jam 8 pagi. Ternyata tanpa diduga pesawatnya ditunda dengan alasan cuaca buruk di Solo. Meskipun orang2 di sekitar saya yang ikut menunggu di ruang tunggu bandara merasa tidak percaya adanya gangguan cuaca di Solo setelah mereka menghubungi kerabat atau relasi mereka di sana, toh saya cuek saja. Malas menambah pikiran yang nggak perlu. Ya nggak? :D

Setelah menunggu hampir 2 jam, kami akhirnya sekitar setengah 8 boarding. Sekitar 1 jam kemudian, saya tiba di Solo. Dengan menumpang taksi (terpaksa, karena ternyata nggak ada moda transportasi lain semisal angkot, bis, kereta, atau becak yang bisa membawa saya ke pusat kota), saya tiba di Hotel Novotel Solo sekitar jam setengah 10, tempat saya menginap, untuk menitipkan barang. Karena setahu saya jam check in itu sekitar jam 12.00. Iseng saya tanya ke resepsionis (kelak saya mengenalnya, namanya Elok) apa sudah bisa check in jam segini. Tanpa diduga, saya bisa check in saat itu juga. Tanpa menunggu lama, mendaratlah saya di kasur empuk kamar 318, persis menghadap Timur, sembari menonton Oprah Show yang sudah lama saya lewatkan. Sambil menonton, saya cari informasi jadwal kereta Pramek. Setelah dapat, saya putuskan untuk ke Yogya jam setengah 12. Jam 11 saya naik becak dari hotel ke Stasiun Solobalapan. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat saya hanya membayar 10 ribu saja. Setibanya di stasiun, saya ke loket 4, beli tiket Prameks. Well, ternyata harga tiket kereta malah lebih murah lagi, Rp 7000 saja.

Kereta berangkat sesuai jadwal. Satu jam kemudian saya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, saya ambil bus jalur 4 menuju Kaliurang, tempat pakdhe dan keluarganya tinggal. Setibanya di sana, ternyata pakdhe kerja, sementara budhe tiba2 harus melayat ke tantenya yang meninggal di Solo. Tanpa membuang waktu, saya memutuskan pulang saat itu juga, pastinya setelah makan siang dan sholat. Karena agak bingung jalur mana yang harus saya ambil untuk sampai di Stasiun Tugu, akhirnya baru sekitar setengah 5 saya baru sampai di stasiun. Tapi entah kenapa saya ragu dan belum merasa harus pulang. Akhirnya saya putuskan untuk keliling dan (mungkin) belanja di sepanjang Malioboro. Tapi, panjang umur. Budhe saya telpon dan bilang kalau dia sudah sampai rumah. Tanpa ragu2, akhirnya saya kembali ke arah Utara untuk sekadar mampir ke rumah pakdhe dan budhe. Alhamdulillah sekitar jam 5 saya sampai dan akhirnya bertemu mereka. Lama sekali saya tidak bertemu mereka. Tepat hampir setahun lalu saya bertemu mereka. Waktu itu saya ke Yogya dalam rangka acara outing teman sekantor. Sepanjang malam, saya diberi nasihat dan wejangan mengenai kehidupan, apa arti dari kesabaran serta perasaan menerima dan mensyukuri apa yang selama ini sudah saya dapatkan. Nggak lupa juga nasihat mengenai kehidupan berrumah tangga ;p

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 21.15. Saya diantar ke perbatasan Yogya di Timur untuk naik bus ke arah Solo. Sekitar satu setengah jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Solo, sekitar daerah Jajar, lalu saya sambung dengan becak. Bejak jadi moda transportasi favorit saya selama berada di Solo karena unik, tidak berisik, santai.. Pokoknya Solo banget deh :D
Hari Kamis (13/11) hanya ada seminar, seminar, dan seminar. Acara cuma sampai siang sekitar jam 1. Untuk mengisi sisa waktu, sekitar jam 2 saya pergi menemani atasan saya berbelanja ke Orion untuk beli oleh2, Pusat Grosir Solo, dan Srabi Notosuman. Di PGS saya sekalian belanja batik. Bener2 murah. Saya nggak pernah nemu baju batik cuma Rp 22000 aja. Hehehe... Srabi? Hmmm.. Ga usah ditanya deh. Saya sukkkaaa banget. Enaknya nggak karuan. Nggak tahu kenapa. Paduan santan, gula, garam, dan adonan lainnya tuh kok pas banget di lidah. Jadi kangen Solo deh :DMalam hari saya habiskan untuk bertemu dengan teman saya. Kami makan di Solo Grand Mall. Nggak berapa lama, lagi2 saya naik becak ke Jl Kalilarangan untuk beli oleh2 khas Solo. Beruntung saya sampai di tokonya masih buka, padahal tadinya udah mau tutup 1 menit lagi Hehehe.. just in the nick of time. Merasa belum terlalu malam, saya ajak teman saya minum susu murni di Sriwedari. Katanya sih susunya dari Boyolali. Slurp... enak juga susunya. Saya pesan menu favorit, Susu Madu. Duh, kalau inget itu rasanya pengen terus. Sambil minum kami ngobrol ngalor ngidul, sampai sekitar jam setengah 11 malam. Saya harus istirahat karena rencananya besok pagi mau ke Semarang.

Hari Jumat (14/11) pagi saya berubah rencana. Merasa sayang dengan kamar yang harusnya bisa check out jam 12 siang, saya putuskan untuk mengurungkan niat pergi ke Semarang sampai jam 12 siang. Tadinya saya mau ke Semarang naik Joglosemar, tapi ternyata adanya jam 12 siang, padahal jamnya pas waktu Jumatan. Ada lagi sih, tapi jam 4 sore. Merasa terlalu sore, saya ganti pilihan ke kereta api. Ternyata untuk kereta yang melayani Solo Semarang sekelas Pramek, namanya Banyubiru. Dia berangkat dari Sragen, lalu melanjutkan perjalanan dari Solo sekitar jam 9.20 ke Semarang dengan waktu tempuh hampir 3 jam. Lagi2 karena saya merasa belum siap2 dan terlalu pagi, saya mengurungkan niat pergi ke Semarang naik KA. Tanpa kepastian, saya Jumatan dulu di masjid dekat hotel. Selesai sholat, saya check out dan (lagi2 ;p) naik becak ke Terminal Tirtonadi. Sesampainya saya di sana, ternyata ada bus patas AC jurusan Solo Semarang dengan tarif hanya Rp 20000 saja. Berangkat jam 14.30 tepat, saya sampai di Ungaran (saya berubah pikiran untuk menjenguk sepupu2 dibanding budhe ehehehe) sekitar jam 17.00. Senang sekali bisa melihat sepupu2 saya lagi dan anak2 mereka kumpul di sana. Sambil makan masakan rumah, kami ngobrol ngalor ngidul sampai sekitar jam setengah 2 malam. Fiuh, capek juga sih, tapi namanya lama nggak ketemu saudara, rasanya nggak sia2 aja sampai jauh2 dan capek2 pergi ke sana.

Hari Sabtu (15/11) shubuh saya siap2 pergi ke bandara. Dengan jadwal pesawat jam 06.05 dengan Garuda, saya pergi dari Ungaran (sekitar 20 km dari bandara) naik motor, diantar suami sepupu, dengan kecepatan tinggi. Sampai jam setengah 6, saya harus urus tiket dulu karena saya lupa urus tiket yang sempat saya re-route dari Solo-Jakarta ke Semarang-Jakarta. Sambil menunggu, saya janjian dengan Lunpia Express, lunpia yang bisa diantar ke rumah atau bandara. Enak lho. Saya paling suka yang rasa Kepiting daripada yang original isi rebung.OK, kembali ke tiket. Dengan terburu2, saya masuk untuk check in counter setelah urusan validasi re-route tiket selesai. Ternyata saya datang dalam keadaan counter sudah ditutup tapi masih menerima penumpang untuk check in. Thank God. Begitu saya bayar airport tax dan antri untuk masuk ruang tunggu, tiba2 ada pemberitahuan buat penumpang Garuda tujuan Jakarta untuk segera boarding. Bwahahaa... lagi2 in the nick of time, saya sampai di bandara dan bisa boarding tanpa harus menunggu lama. Ini nggak boleh dicontoh pastinya. Tapi kalau yang namanya rejeki sih nggak akan ke mana. Hihihihi. Dalam waktu satu jam, saya sudah sampai di Jakarta, langsung ke kosan untuk siap2 ke resepsi pernikahan Ina di daerah Cijantung jam 11 siangnya. Saya harus datang, makanya bela2in pulang hari Sabtu tanpa menikmati liburan di Jawa. Namanya juga teman satu kantor. Apalagi saya didaulat untuk nyanyi I Finally Found Someone, walaupun ternyata tidak sesukses yang saya bayangkan. Saya lupa teks karena emang latihannya jarang sih. Tapi saya nggak kapok. Nanti saya mau menawarkan diri nyanyi di kawinan teman2 kantor yang lain ah ;p

14 Oktober 2008

Hari-hari selama menghabiskan libur lebaran di Papua

Pulang dari Papua, banyak banget yang pengen diceritain. Mulai dari yang lucu, unik, sampai yang sedih ada semua :)

Hari Jumat (26/9) dengan berbekal dua koper besar (salah satunya berisi penuh dengan kue kering :p) saya pulang lebih awal dari biasanya. Sebagai langkah antisipasi, siapa tau macet parah kejadian lagi seperti tahun lalu. Ternyata, tanpa diduga, jalanan sepi banget. Alhasil, saya harus nunggu penerbangan jam 10 malam sejak jam 5 sore. Saya dan Asti senasib. Teman2 yang lain yang pulangnya rata2 ke Yogya dan Surabaya masih lebih beruntung, cuma perlu nunggu sampai jam 7 aja. Sambil nunggu buka puasa, saya dan teman2 ngobrol. Selepas buka puasa, saya dan Asti ke Terminal 2 untuk cari makanan berat karena pilihan restoran di Terminal 1 kurang variatif. Kami berdua dan teman2 yang terbang jam 7 pun berpisah. Di terminal 2, saya makan sambil ngobrol. Begitu jam setengah 9, kami baru ke Terminal 1 untuk check in, saya ke Terminal 1B sementara Asti ke Terminal 1C. Saya sholat Tarawih di bandara sambil menunggu boarding. Akhirnya pesawat berangkat sekitar jam setengah 11 malam, sedikit lebih lambat dari jadwal yang seharusnya.
Alhamdulillah saya tiba sekitar pukul 06.00 WIT keesokan harinya, Sabtu (27/9), di Manokwari. Dengan dijemput keluarga, saya tiba di rumah dan langsung istirahat. Senangnya bisa kembali ke sana. Nggak tau ya. Kalo yang namanya kumpul bareng keluarga tuh rasanya tenang, damai, ga keganggu pikiran2 kerjaan dll.Sabtu siang saya main ke salon mama. Bukan main. Sekarang udah bagus banget. Tampak megah dan gagah. Semoga bisnis mama di sana lancar. Amin. Pulang sore harinya, saya minta mama buka puasa sama es pisang ijo khas Makassar. Alhamdulillah dapet. Buka puasa hari pertama di Papua terasa nikmat banget, plus teh manis hangat dan gorengan yang dijamin bebas plastik hehehe...
Hari Minggu (28/9) saya hanya menghabiskan seharian di rumah. Saya berusaha dekat dengan ponakan saya, Icha yang baru berusia 8 bulan. Maklum, namanya bayi, kalo pertama2 ketemu masih takut. Malah kadang nangis hihihi.. Tapi perjuangan saya nggak berhenti dong.Oia, siang harinya, kakak saya tiba dari Nabire. Kami sekeluarga jemput dia ke pelabuhan. Senangnya, akhirnya ketemu kakak saya. Kangen deh. Emang sih, ketemu terakhir pas Agustus waktu dia masih menjalani pendidikan di Jakarta. Tapi selama Agustus ke September itu, saya mendengar kabar dia yang sakitlah, kuruslah, dll yang bikin saya khawatir. Makanya pas ketemu dia dengan keadaan sehat, seneng banget rasanya. Apalagi dia bawa Jeruk dan Salak Nabire. Hmmm... Ga kalah sama yang di Jawa lho :p
Hari Senin (29/9) kami menjemput mbah kakung, bude Yati, dan Titut di bandara setelah mereka menempuh perjalanan panjang dari Semarang. Semakin lengkaplah keluarga yang akan berlebaran di Manokwari. Kecuali adik saya, Iwan, yang sekarang bertugas di Kalimantan. Mungkin dia harus piket atau harus ikut Operasi Ketupat di sana, makanya nggak bisa bergabung.Kegiatan saya selama di sana sudah mulai rutin. Tidur siang, maen komputer, atau nonton sinetron kesukaan adik2, Muslimah sama Tasbih Cinta. Duh, saya sih ga suka sinetron sebenernya. Tapi apa daya, jadinya ikutan deh ;p
Hari Selasa (30/9) mulai terasa sibuk di rumah deh. Setelah kemaren mama belanja seharian untuk keperluan memasak makanan khas Lebaran, hari ini kami semua gotong royong masak. Saya kebagian motong mangga untuk bikin es buah. Kentang buat sambal goreng ati pun nggak ketinggalan. Kalo rendang sih udah dimasak sehari sebelumnya. Di tengah keriaan memasak, eh ada gempa cukup kuat. Alhamdulillah nggak apa2.Malamnya, kami nonton takbiran di jalan2 yang didominasi oleh konvoi motor dan kendaraan hias. Mayoritas peserta takbiran orang2 dari Kampung Makassar. Dari situ, saya belanja makanan pelengkap di Hadi Swalayan, termasuk beli hadiah lebaran.
Hari Rabu (1/10) tibalah hari kemenangan. Sholat Id di lapangan Borarsi berjalan lancar. Tapi pas baru mulai khutbah, hujan turun. Beberapa jamaah sempat berlarian pulang atau mencari tempat berteduh. Di saat yang bersamaan, sang khatib berujar kalo ini tidak ada apa2nya dibanding nanti di Padang Mahsyar. Hmmm.. iya juga ya hehehe... Akhirnya kami sekeluarga yang semula ragu untuk tetap tinggal mendengarkan khutbah, akhirnya membulatkan tekad untuk mendengar ceramah sampai selesai. Alhamdulillah hujan nggak terlalu besar sih, jadi masih lancar2 aja :D Apalagi saya teringat dengan tragedi pembagian Zakat di Pasuruan. Duh, jangan sampai kita berebut pulang atau cari tempat berteduh malah jadi korban karena berdesak2an.Begitu sampai di rumah sebelum berangkat ke rumah eyang untuk sungkeman sekeluarga besar, hujan ternyata turun lebat. Berhubung mobil yang kami pakai mobil pick up, jadi nggak mungkin kami ke sana. Akhirnya kami menunggu hujan reda. Begitu reda sekitar jam 10, kami meluncur ke rumah eyang. Di sana, saudara2 sudah berkumpul. Kami pun akhirnya sungkem ke eyang, disusul ke orang tua dan saudara2 lainnya. Dari sekian orang yang saya sungkemi, rata2 mendoakan saya cepat menikah. Hehehe. Doakan saja ya teman2 :D Saya sendiri masih dalam upaya untuk menuju gerbang pernikahan.Setelah sungkem, kami singgah di rumah sodara di Kampung Makassar, Wosi. Dari situ kami pulang untuk menerima tamu yang ternyata nggak putus2 sampe sekitar jam 9 malam.
Hari Kamis (2/10) kami berkunjung ke rumah teman2 lama orang tua di sekitaran Manokwari sejak menjelang siang sampai sore. Selebihnya, kami menerima tamu lagi.
Hari Jumat (3/10) saya jalani di rumah saja. Bikin proposal buat pembentukan lembaga pendidikan yang mama buat, main komputer, jaga Icha yang lucu, dan nemenin mama dekorasi rumah yang mau manten. Malamnya saya dan mama ke pasar ikan untuk persiapan piknik di pantai Pasir Putih.
Sabtu (4/10) dengan persiapan matang, kami pergi ke Pasir Putih. Kami bakar ikan, ayam, dan udang, lengkap dengan lalapan. Nggak lupa salad buah dan es buah. Enak sekali. Kapan lagi coba piknik sekeluarga begini. Alhamdulillah nggak terkira senangnya. Selesai makan, saya mandi di pantai deh.
Minggu (5/10) menjadi awal pulangnya keluarga2 saya satu per satu. Kakak saya giliran pertama. Dia harus pulang ke Nabire karena hanya dapat izin sampai Minggu. Kami mengantar ke pelabuhan diiringi isak tangis. Wajar, karena dia harus meninggalkan anak istrinya di Manokwari. Hari Senin (6/10) giliran Bude Ari dan Mbah Aris yang harus pulang ke Makassar. Hari Selasa (7/10) waktunya Titut dan bude Yati pulang ke Semarang. Sedangkan hari Rabu (8/10) giliran saya pulang ke Jakarta setelah mengambil cuti selama 3 hari. Life must go on. Segala keceriaan dan kegembiraan selama menyambut hari kemenangan memang harus disudahi. Saatnya mengarungi hidup masing2 untuk kebahagiaan diri dan keluarga.

06 Juni 2008

Long journey ^_^

Weekend kemaren bener2 capek deh.

Hari Sabtu (31/5) saya ke Bandung. Begitu sampe sana sekitar jam 11 siang, saya langsung meluncur ke Pasar Baru. Seperti biasa. Kalo saya ke sana, pasti membawa misi, yaitu beli barang pesenan ibunda tercinta :) Setelah muter2, akhirnya saya dapet satu dari dua pesenan ibu. Setelah itu, saya ke Palaguna Nusantara untuk beli kosmetik pesenan ibu di tempat langganannya. Dari sana, saya meluncur ke daerah Braga. Awalnya sih mau nyari selimut pesenan ibu, tapi ternyata tokonya tutup (apa nggak ada ya? soalnya papan namanya udah nggak ada :p). Karena nggak dapet, saya langsung meluncur ke warung nasi timbel Suniaraja di Jl. Merdeka depan Hotel Panghegar persis. Selesai makan, saya ke Braga CitiWalk deh. Belanja di Carrefour, secara saya punya voucher Rp.100.000 dan masa berlakunya sampe tgl 31/5 hihihi… Belanjanya mepet di hari terakhir. Yang penting kan vouchernya kepake :D
Dari sana, saya baru ketemuan sama adek saya , Iwan, dan pacarnya Fitri di CiWalk. Katanya sih mereka bareng temen2 Fitri. Tapi kami nggak ketemuan, karena teman2nya pada pengen jalan2 sendiri. Oia, di sana sempet muter2 bentar nyari kemeja dan celana buat acara di Bali. Tapi ternyata nggak ada yang bagus. Ya udah, akhirnya kami ke BSM. Di sana akhirnya nemu juga kemeja yang cocok. Mahal sih, tapi diskon jadi ga terlalu berat ngelepas duitnya :P Oia, di sana sempet maen Dance Revolution lho. Udah lama nggak maen. Jadi pengen deh punya game-nya. Ga berasa ternyata sampe malem kami di sana. Akhirnya kami cari tempat makan. Iwan pengennya di Rumah Makan Sulawesi di Setiabudi. Ya udah, akhirnya kami ke sana. Waw, di sana ternyata ada lobster. Berhubung nggak pernah nyoba, saya pilih itu deh. Enak banget makanannya ternyata. Suasananya juga cozy. Suasana Sulawesi banget, lengkap dengan orang2 berlogat Makassar dan lagu2 khas Sulawesi. Selama makan, teman2 adek (Donna, Shenni, sama sapa satu lagi lupa :p) dateng menyusul ke restoran setelah mereka muter2 sekitar Bandung seharian. But anyway, pas mau bayar, saya baru tau kalo harga lobsternya 300.000, lebih dari setengah total bill. Buseett…. Mahal amat. Tapi ya sudahlah. itu harga yang harus dibayar demi pengalaman makan lobster enak. Malam makin larut. Saya putusin untuk pulang, nggak ikut adek yang katanya masih mau nongkrong di Sierra, Dago Pakar. Maklum, orang kantoran, biasanya udah capek kerja duluan, jadinya biasanya jam 10 udah tidur.

Hari Minggu (1/6) kami pergi lagi.sekarang giliran FO sekitaran Dago yang diobok2. Muter2 beberapa jam, saya akhirnya beli sandal Donatello. Maklum, sandalnya udah jelek. Saya sih emang gitu, kalo barang udah rusak banget, baru deh saya ganti yang baru :) Selesai belanja, baru deh makan di Rumah Pasta sekitaran ITB. Saya baru pertama makan ke tempat itu. ternyata enak juga ya. Cuma sayang, saya pesennya medium karena ngiranya yang large bakal terlalu banyak porsinya, eh ternyata nggak tuh. Nyesel deh. Lain kali kalo makan di sana pesen yang large ah.
Hari makin sore, di sinilah awal rasa capek berasal. Iwan dan Fitri ngajakin saya pulang bareng ke Jakarta naek mobilny Donna. Nah, berhubung Iwan mau ambil barangnya dulu di Soreang, pergilah kami ke sana. Yah, namanya Soreang, pasti harus lewat Cibaduyut. Macet deh. Singkat cerita, sekitar setengah 8 malem baru sampe sana. Cabut dari sana ke Jakarta jam 8-an malem, sampe Cikampek untuk makan malem di Solaria sekitar jam 10 malem, sampe di kosan Fitri dan Shenni jam setengah 12 malem, sampe rumah Donna jam 12-an, sampe kosan jam 1 dinihari, selesai packing dan telp Blue Bird jam setengah 2. Tidur, bangun shubuh, langsung cabut jam setengah 6 ke bandara. Jam 7 check in, jam 8 take off deh. Sekitar jam 11.30 saya sampe di Ngurah Rai, Bali. Begitu sampai, saya langsung dijemput, diantar ke Hotel Conrad, Tanjung Benoa-Nusa Dua. Beres2 bentar, langsung kerja. Di tengah2 kerjaan, saya disuruh mem-back up temen kantor, mas Ferry, untuk jemput tamu2 asing di bandara karena jadwal kedatangan mereka berdekatan. Alhasil, saya harus menjemput tamu2 asing sampe jam 12 malem. Fiuh, kebayang kan? Hehehe… tapiiii…. Asik banget lho jemput tamu2 asing itu. Selain kenal orang baru dari luar negeri, saya juga seneng karena bisa praktik bahasa Inggris secara langsung. Dan ternyata, mereka tuh ramah2 dan baek2 banget lho. Apalagi Jepang dan Korea. Saya sempet ngobrol panjang lebar sama Nobuyuki Oda dan Jong Shik Lee. Cerita2 mereka sangat menyenangkan. Jadi pengen deh maen ke sana. Oia, di akhir hari penyelenggaraan workshop, saya mengantar Mr. Lee dan istrinya ke bandara. Mereka secara mengejutkan ngasih souvenir koin Korea. Waaahh…. Seneng banget. Terharu deh. Saya nggak nyangka aja. Duh, baik banget ya mereka itu. saya bener2 sangat terkesan dengan mereka. Saya jadi tau rasanya dibahagiakan. Jadi terpacu nih buat ngebahagiain orang lain. semoga saya dimampukan ya ^_^
Saya baru tau juga, kalo ternyata apa yang sudah menjadi tugas saya, begitu pelaksanaannya belum tentu sesuai. Saya yang tadinya ditugasin ngerjain administrasi dan koordinator tour, malah jadi LO seharian. Jadi koordinator tournya gagal karena apa coba? Ketinggalan bus karena sholat dulu :p tapi yah, apapun itu, Alhamdulillah acaranya sukses dan berjalan dengan baik. Kekurangan dan kekecewaan pasti ada, tapi nggak sebanding dengan hasil dan kepuasan yang dicapai. Seneng deh…

Hari Rabu (4/6) pas saya ketinggalan acara tour, saya akhirnya jalan2 sendirian di seputar Kuta. Niat mau liat sunset, ternyata ketutupan awan, kecewa deh. Tapi rasa kecewanya terobati, karena akhirnya saya tau kayak apa sih Poppies Lane dan Tugu Bali Bombing itu. Karena lapar, saya cepat2 pulang ke hotel untuk ikut dengan sebagian rombongan untuk menuju Jimbaran, tempat acara makan malam dengan tamu2 asing itu berlangsung. Saya naik taksi dari Jl. Tuban deket Joger, sampe ke Hotel Conrad habis 55 ribu. Emang sih pas buka pintu argonya 5000 kayak di Jakarta, tapi ternyata tarifnya 4000/km, sedangkan di Jakarta Blue Bird aja 2500/km. mending sewa mobil aja kalo mau jalan2 lama dan nggak terlalu kepepet. Ada kok yang nyewain 170 ribu per hari.

Setelah kerja yang melelahkan, akhirnya pulang juga kemaren siang. Selesai beres2, tidur deh seharian hihihihi… hmm… kapan ya ke Bali lagi? Tapi liburan, bukan kerja hehehe...

06 Mei 2008

Akhir pekan yang menyenangkan ^_^

Weekend kemarin saya kedatangan dua saudara kandung saya. Adik saya yang bekerja di Kalimantan sekarang sedang menjalani pendidikan di Soreang, Bandung. Sedangkan kakak saya yang bekerja di Papua akan menjalani pendidikan di Jakarta selama 3 bulan. Alhamdulillah. Sekarang kami bisa berkumpul, setidaknya dalam waktu yang cukup lama. Saya terakhir ketemu kakak waktu libur Idul Adha lalu, sedangkan adik saya terakhir tahun lalu.
Selama weekend, kami hanya di kosan saya. Membicarakan berbagai hal, apa yang terjadi dengan keluarga besar di Papua, apa yang dilakukan adik saya di Kalimantan, dll. Bagi saya, berkumpul dengan keluarga saja sudah teramat menyenangkan.

18 Maret 2008

Karunia

Alhamdulillah. Tadi malam saya mendengar kabar gembira dari kakak saya bahwa dia lolos seleksi internal di tempat dia bekerja untuk mengikuti pendidikan di Jakarta selam kurang lebih 4 bulan untuk persiapan menuju tingkat jabatan yang lebih tinggi. Tidak ada yang bisa saya ucapkan selain rasa syukur. Setelah kakak saya menanti cukup lama, akhirnya dia memperoleh apa yang diimpikannya selama ini. Saya hanya bisa berdoa semoga ini menjadi jalan kebaikan untuk menjadi semakin dekat dengan Alloh SWT. Amin.

Ngomong2, lagu Sherina yang berjudul "Jalan Cinta" benar2 keren. Jarang2 lho lagu Indonesia yang saya dengar membuat saya merinding. Sepintas, detail musiknya mirip lagu Frozen-nya Madonna. Tapi terlepas dari itu, menurut saya lagu itu benar2 bagus. Apalagi penghayatan Sherina dalam membawakan lagu itu benar2 dapat membuat pendengarnya berimajinasi tentang jalan menuju cinta sejati. Ya nggak sih?

31 Januari 2008

Anggota baru di keluargaku

Hari ini, tanggal 31 Januari 2008, tepat 3 hari sebelum saya ulang tahun nanti (oops..) saya berubah status menjadi seorang Om. Senangnya. Ponakan perempuan yang belum saya tahu namanya karena usianya belum satu hari akan mengisi hari2 saya kelak dengan "Om, mana permen buat saya? Katanya mau ngasih..." dengan gaya yang manja. Wah, kebayang kan. Lucunya. Jadi pengen deh berkeluarga, walaupun kenangan pahit berkeluarga masih melekat di otak. Tapi saya harus bisa menjalani itu. Toh bagian dari sunnah rasul juga kan?

Ibu tadi cerita, kakak saya waktu melihat proses persalinan istrinya sampai tidak sanggup, bahkan sampai menangis. Ibuku geli, karena waktu kakak saya melihat binatang kurbannya disembelih saja sudah menangis, apalagi ini.

Saya sampai terbayang, betapa berat dan sakitnya perjuangan ibu ketika melahirkan. Itu saja bukan permulaan. Mulainya kan dari sejak mengandung, belum pas nanti disapih selama 2 tahun, dst. Wajar saja kalau kita durhaka, neraka menanti.

Hidup ini terasa cepat berlalu. Bayangkan saja. Rasa2nya masih belum terlalu lama saya sekolah SD, tiba2 sudah kuliah. Sekarang sudah bekerja, eh tiba2 dapat ponakan. nanti tiba2 menikah, eh tiba2 punya anak, dst. Hidup selalu berjalan tanpa kenal henti. Yang penting sekarang, bagaimana hidup kita dinilai sebagai ibadah, jadi menjalani hidup nggak sia2. Semoga Alloh melindungi kita dari segala perbuatan dosa. Amin.

22 November 2007

Lots of stories (part I)

Mmm... berhubung masih baru di blog ini, aku jadi bingung nih. Cerita di otak udah numpuk. Kalo aku cerita semua, pada bosen ga? Kalo ga diceritain, sayang. Emang kebanyakan cuma cerita selewat doang. Ga ada lucu2nya. I just want to memorize all things happened to me.
Ceritanya kubuat bersambung aja ya... :D

Pertama, libur lebaran di Papua.
Kantor ngasih cuti bersama mulai 12-21 Oktober. Alhasil, 10 hari libur bisa kunikmati sepuasnya tanpa harus "menyesali" mahalnya tiket ke Papua sana. Worthed lah menurutku. Bayangin aja. Tadinya, aku mau pake salah satu maskapai penerbangan. Eh, ternyata harga tiket sekali jalan 3,8 juta. Innalillahi. Sampe2 aku hampir ga jadi mudik karena mahalnya tiket. Tapi Alloh emang Maha Pemurah. Ternyata ada maskapai penerbangan lain yang lagi promo. Bisa ketebak kan. Biaya perjalananku menyusut drastis jadi 3,9 juta untuk bolak balik. Senangnya. Alloh memang selalu memberi jalan pada hambaNya. Alhamdulillah.

Hari Jumat, 12 oktober
Aku sampe di bandara sekitar jam 14.30 WIT. Dari sana, aku langsung ke daerah Satuan Pemukiman (SP) Transmigran yang paling dekat dengan Manokwari yaitu daerah Andai untuk ngambil spring bed di rumah lama mbah kakung dan mbah putriku ketika mereka pertama transmigrasi pada 1974 lalu. Kondisi rumahnya sudah tidak begitu terawat. Mungkin karena mbah udah nggak tinggal di sana lagi kecuali beberapa kali saja pas weekend. Mbah2ku lebih banyak menghabiskan waktu di kota. Setelah mengambil spring bed, saya langsung pulang ke rumah di daerah Reremi yang letaknya sekitar 1 km dari pantai tapi berbukit. Jadi dari sana bisa terlihat bandara, pelabuhan, pusat kota, gunung, dan pulau2 sekitar Manokwari. Suasana kota yang tenang membuat saya ikut merasa tenang juga setelah bergumul kurang lebih 11 bulan di kota Jakarta yang penuh sesak oleh jutaan orang. Hati makin senang karena aku buka puasa 2 jam lebih cepat dari yang seharusnya. Hehehe. Seneng juga sih, tapi ga tau deh, secara syar'i boleh apa ga ya. Setelah berbuka puasa, saya mengajak kakak saya ke pusat kota untuk ke ATM, sekalian bayar zakat fitrah. Ternyata arak2an takbir keliling yang didominasi oleh orang2 Makassar melintas depan bank. Suasananya sangat meriah. Penduduk pribumi yang notabene mayoritas beragama Nasrani pun tidak kalah antusias dengan warga muslim saat menonton pawai itu. Seneng deh kalo lait kita rukun. Ya ga sih :)

Hari Sabtu, 13 Oktober
Sekitar jam 06.30 kita baru berangkat dari rumah menuju lapangan Borarsi dekat pelabuhan. Pemandangan yang jarang terlihat menjadi lumrah saat itu, kemacetan diiringi pawai orang2 berkendara roda dua dan empat dengan baju muslim yang berwarna warni. Terharu deh liatnya. Kalo di Jawa sih mungkin udah biasa, tapi ini kan di Papua. Jadi kayaknya ada sensasi tersendiri :)
Setelah sholat, kita pulang dulu untuk bermaaf2an. seperti sudah diduga, saya pasti nangis. Inget banyak dosa sama mama. Dulu kan sering bohong. Duh, ga lagi deh. Selesai itu, kita langsung ke rumah mbah untuk bergabung dengan saudara2 yang lain. Di sana kami sungkem sama mbah. Makan2 sebentar, kita langsung ke tempat kerabat di kampung Makassar untuk selanjutnya pulang dan bersiap2 menjamu teman2 dan relasi di sana yang bertandang ke rumah. Tamu datang silih berganti sejak siang sampai larut malam. Tidur pulas banget, bahkan ga peduli sama nyamuk hutan.

Hari Minggu, 14 Oktober
Kami sekeluarga bersiap2 untuk mendatangi beberapa relasi mama dan papi di sana. Seperti tahun sebelumnya, aku akhirnya melanggar prinsipku yang menghindari minum soda. Habis mau gimana lagi. Di sana panas, yang disuguhin cuma soda, soda, dan soda. Ya mau ga mau minum deh. Mungkin kalo ditotal2 sehari itu ada kali 1 liter. Mudah2an usus dan lambungku gpp deh :) Kami sempat ke daerah Arfai, lalu ke Wosi. Sedikit lebih jauh dari daerah Andai tempat mbah2ku. Siang kami sudah pulang, karena harus menyambut tamu2 lagi yang pastinya masih mengalir datang ke rumah, bahkan sampai sekitar jam 12 malam.

Hari Senin, 15 Oktober
Masih suasana lebaran, kami masih berkunjung ke beberapa relasi di sana. Masih daerah Wosi yang belum sempat kami kunjungi. Salah satunya ke rumah pak Penghulu yang menikahkan kakakku beberapa waktu lalu. Kami disuguhi kue lontar (kalo orang di pulau Jawa sih bilangnya Roomboter). Enak banget, soalnya pas kita dateng, kuenya baru aja diangkat dari oven, Kayaknya ibunya tau deh kalo kita mau dateng (hihihi ge-er). Malam harinya kami mengunjungi teman lama mama yang tinggal di kampung Makassar.


Hari Selasa, 16 Oktober
Kami sekeluarga main ke Pantai Pasir Putih atau yang sering disebut pantai PasPut. Saking menikmatinya, ga terasa kalau kita di sana sampe sore sekitar jam 5-an. Seneng banget main di pantai yang lumayan bersih, ombaknya kecil, dengan pasir putih dan airnya yang bening. Jarang banget (kalo ga bisa dibilang ga pernah) aku nemu pantai begini di Jawa.

Hari Rabu, 17 Oktober
Pagi hari aku diajak mamaku ke pasar ikan di pinggir laut dekat pasar tingkat (pasting) daerah Sanggeng. Ikan yang baru ditangkap langsung dibawa ke pasar itu untuk langsung dipotong2. Benar2 segar dan tanpa bahan kimia atau sejenisnya. Mama beli ikan beberapa untuk dibuatkan masakan khas Papua, yaitu Papeda. Papeda terbuat dari sagu. Bentuknya kayak lem, putih2 kenyal dan lengket. Rasanya nikmat luar biasa. Papeda ini disuguhkan dengan siraman ikan kuah kuning yang dibeli di pasar ikan pagi sebelumnya.



Hari Kamis, 18 Oktober
Siang hari aku diajak sepupuku ke pulau Mansinam di seberang kota. Pulau ini cukup bersejarah di Manokwari. Konon, agama Nasrani pertama memasuki Papua melalui pulau ini. Karenanya, kota Manokari disebut Kota Injil. Memang pemeluk Nasrani mayoritas di sini, mencakup sekitar 70% total penduduk. Di pulau ini, terdapat tugu salib dan gereja tertua di Papua sebagai simbol dan bukti sejarah tadi. Setiap 5 Februari selalu diadakan perayaan besar2an untuk memperingati Jubelium (masuknya Injil) ke Tanah Papua. Di sana, saya mandi di siang hari bolong sampe2 kulitku terbakar ga karuan :p Pantainya bener2 masih bersih, indah, berpasir putih, dihiasi karang2 sehat, tanpa ombak karena membelakangi samudra Pasifik, dengan ikan2 terbang yang banyak terdapat di sana semakin melengkapi keindahan pulau Mansinam. Sore harinya aku maen ke daerah Amban, tempat UNIPA berada. Kampusnya gede juga. Asri, ga kayak UNPAD yang masih agak gersang. Dari sana aku bisa liat Samudera Pasifik. Terbentang luas. Hebat banget. Aku ngerasa kecil aja di sana. Pulang dari sana, aku ke Fanindi untuk beli beberapa souvenir khas Papua.

Hari Jumat, 19 Oktober
Aku mengantar kakakku pagi2 ke bandara untuk pergi kursus di Jakarta selama seminggu. Kami tidak berangkat bareng karena aku mash pengen berlibur dan bersama mama. Jarang2 kan. Secara di Jakarta ga ada saudara. Ada sih, tapi saudara jauh dari pihak papa. Setelah jumatan, aku cuma menghabiskan waktu dengan keluarga. Kan udah mau pulang ke Jakarta. Jadi makin dipuas2in lagi sama keluarga. Ngobrol sama mama juga. yang jelas, aku ngajarin anak2 maen cepe. Pasti pada ga tau ya. Kayak Uno sih sebenernya. Maen gebrak juga seru. Adek2 dan sepupu2ku sampe pada ketagihan maen itu. Seru banget.

Hari Sabtu, 20 Oktober
Kami ke daerah Arfai lagi. Kali ini mengunjungi Kepala Suku Besar Arfak, Pak Obeth. Dia tokoh yang sangat berpengaruh di sana. Ternyata dia teman SD adik papiku. Mereka sibuk bernostalgia, aku sih main di pantai di belakang rumahnya persis. Dengan karang2, bahkan ada bintang lautnya segala. Seneng deh. Di sana kita disuguhi papeda. Tambah ikan kuah kuning dan ayam goreng, dengan ikan segar yang baru ditangkap di laut. Makin mantap aja. Yummy :) Sabtu malem aku dianterin keripik sukun dan keripik keladi khas Papua. Kakak iparku yang beliin. Banyak banget. Ampe ga enak deh. Hehehe. Dia lagi hamil. Jalan 6 bulan kalo ga salah. Asik, Insya Alloh aku punya keponakan. Seneng banget :D

Hari Minggu, 21 Oktober
Hari terakhir liburan aku di Papua. Pagi aku nganterin sepupu2 dan om tanteku yang mau pulang ke Biak. Mereka naik kapal laut. Kita ke pelabuhan. Selesai mengantar mereka, aku ke mbah kakung dan mbah putri. Mau pamit. Takut ga sempet pamit pas pulang siangnya. Aku kan harus ngejar jadwal check in. Di sana aku diberi beberapa wejangan terutama tentang pernikahan :D
Rumah sudah mulai terasa sepi. Adikku Monik mulai cemberut, apalagi dia inget aku siangnya pulang ke Jakarta. Dia makin cemberut aja. Jam setengah satu siang aku berangkat ke bandara, diantar hampir semua anggota keluarga. Sebelumnya beli souvenir lagi di Fanindi untuk teman2. Di Bandara, aku ketemu mbah Putri dan sepupuku. Ngobrol2 sebentar, ibuku sambil memberi wejangan tentang kehidupan dan pernikahan. Ketika dipanggil petugas, aku pun segera naik pesawat. Suasana haru biru pun menyeruak di bandara, tidak peduli orang2 yang memperhatikan. Akhirnya aku pun pulang pukul 14.30 WIT setelah 10 hari di sana. Puas...!!! Itu yang aku rasakan. Perjalanan yang memakan waktu 7 jam tidak membuat aku capek. Aku tiba di bandara 19.30 WIB. Langsung ke kosan, bersih2, tidur deh. Senengnya :D Siap2 untuk ke kantor esok harinya.

bersambung.....

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar