Long weekend lalu, saya pergi ke Ungaran untuk liburan bareng keluarga di sana. Sepupu2 dan putra2nya emang tinggal di sana sejak sekitar 2 tahun yang lalu dan saya baru mengunjungi mereka 2 kali. Libur kali ini, saya emang pengen pergi ke sana karena lama nggak ketemu dan ngobrol2 seru. Ternyata, 2 hari menjelang libur panjang, mama mendadak datang dari Papua. Saya jadi bimbang. Di satu sisi, lama nggak ketemu mama jadi pengen menghabiskan waktu bareng2, tapi di sisi lain saya sudah merencanakan liburan ini sejak 2 bulan yang lalu. Dengan bijak, mama bilang saya liburan saja, toh mama juga masih ada urusan yang harus diselesaikan.
Dengan sedikit perasaan sedih, saya tetap pergi ke Semarang. Hari pertama di sana, saya cuma ngobrol2 sambil nunggu Jumatan, lalu istirahat. Ada satu pelajaran penting. Ternyata kalau mau liburan semaksimal mungkin bukan berarti harus berangkat sepagi mungkin. Konyol sebenarnya hehe. Untuk ngejar pesawat jam 7, saya harus lapor jam setengah 6, which is dari rumah senggaknya dari jam setengah 5. hooaahhmm.. yang ada malah ngantuk dan nggak jalan ke mana2.
Hari kedua saya baru bisa jalan2. Siang kami ke Djati Legi, restoran keluarga di Perumnas Banyumanik, letaknya deket banget sama Sarinah. Makanannya enak, terutama Sop Buntut dan Iga Bakar. Nggak nguatin bener. Kalau ada yang sempat ke sana, coba deh icip2. Habis makan, kami ke Ada Swalayan di Setiabudi. Kami main di tempat permainan anak2. Keponakan2 saya seneng banget bisa main di sana. Ternyata sudah setahun lebih mereka nggak pernah main. Jadi kasian. Syukurlah mereka bisa main2 di mall barang sekali aja. Dari sana, saya ajak mereka makan es krim di McD, lanjut take away Pizza di Sukun yang nggak jauh dari Ada. Sampai rumah, kami makan2 sambil ngobrol.
Hari Minggu, saya diajak ke Joglo Villa di deket Gunung Pati. Villa itu dibuat dengan memakai Joglo asli yang diboyong dari Jepara ke sana. Tempatnya kecil tapi cukup eksotis. Barangkali suatu waktu saya akan coba nginep di sana.
Selama liburan di sana emang nggak banyak yang saya lakukan. Cuma ngobrol dan jalan2 sebentar bareng keluarga. Tapi yang saya cari, keceriaan dan kebersamaan yang nggak saya dapat di Jakarta. Saya sayang mereka, begitu juga sebaliknya. Bahkan waktu saya pamit pulang, ponakan2 langsung murung dan keliatan sedih. Om pulang dulu ya. Nanti kita ketemu lagi. Makasih oleh2 gambar dan kerajinan tangannya ya Ja'far. Sesuai pesan, Om udah pasang di meja kantor supaya inget Ja'far, Amar, Fikar, Dijah, dan Bibin terus :)
01 Juni 2010
26 Mei 2010
Selamat Ultah mba Dhini
Mba Dhini, selamat ulang tahun yang ke-.. ya (nggak berani nyebut, takut nggak boleh hehe).
Semoga panjang umur, sehat dan barokah, sukses dan bahagia dunia akhirat. Wish all the best. Amin.
Lama nggak nge-blog, tiba2 kepikiran mau cerita dikit. Hari ini, dalam rangka berbagi kebahagiaan, mba Dhini traktir temen2 satu lantai di sini dengan Rotiboy. Tapi ternyata saya agak kesulitan mencari no telp yang bisa dihubungi untuk memesan roti. Makanya saya sengaja tulis di sini, barangkali ada yang nyari juga no telp nya, jadi kalau search di google ketemu deh :)
Jakarta dsk:
Gedung Sarinah (021) 2306043
Grand Indonesia (021) 23581050
Airport Jakarta Terminal 2F (021) 55911078
Airport Jakarta Terminal 1B (021) 55911973
ITC Mangga Dua (021) 6014253/4010
Cibubur Junction (021) 87756483
Pasaraya Grande (021) 72780658
Mall Taman Anggrek (021) 5639993
Supermall Karawaci (021) 54211590
Mall Kelapa Gading 3 (021) 45853826/3939
Bekasi Square (021) 82434898
Margo City Depok (021) 78871099
Bandung:
Istana Plaza (022) 6014090
Bandung Indah Plaza (022) 4224890
Medan:
Sun Plaza (061) 4501612
Airport Polonia (061) 4513967
Makassar:
Mal Panakkukang (0411) 4661968
Airport Makassar (0411) 3656080
Mal Ciputra Semarang (024) 8417751
Plaza Ambarukmo Yogya (0274) 4331033
Solo Grand Mall (0271) 741841/2
MOG Malang (0341) 360777
Mal SKA Pekanbaru (0761) 864222
Palembang Square (0711) 366084
Chandra Superstore Lampung (0721) 7364094
Plaza Mulia Samarinda (0541) 7770850
Airport Balikpapan (0542) 761651
Semoga panjang umur, sehat dan barokah, sukses dan bahagia dunia akhirat. Wish all the best. Amin.
Lama nggak nge-blog, tiba2 kepikiran mau cerita dikit. Hari ini, dalam rangka berbagi kebahagiaan, mba Dhini traktir temen2 satu lantai di sini dengan Rotiboy. Tapi ternyata saya agak kesulitan mencari no telp yang bisa dihubungi untuk memesan roti. Makanya saya sengaja tulis di sini, barangkali ada yang nyari juga no telp nya, jadi kalau search di google ketemu deh :)
Jakarta dsk:
Gedung Sarinah (021) 2306043
Grand Indonesia (021) 23581050
Airport Jakarta Terminal 2F (021) 55911078
Airport Jakarta Terminal 1B (021) 55911973
ITC Mangga Dua (021) 6014253/4010
Cibubur Junction (021) 87756483
Pasaraya Grande (021) 72780658
Mall Taman Anggrek (021) 5639993
Supermall Karawaci (021) 54211590
Mall Kelapa Gading 3 (021) 45853826/3939
Bekasi Square (021) 82434898
Margo City Depok (021) 78871099
Bandung:
Istana Plaza (022) 6014090
Bandung Indah Plaza (022) 4224890
Medan:
Sun Plaza (061) 4501612
Airport Polonia (061) 4513967
Makassar:
Mal Panakkukang (0411) 4661968
Airport Makassar (0411) 3656080
Mal Ciputra Semarang (024) 8417751
Plaza Ambarukmo Yogya (0274) 4331033
Solo Grand Mall (0271) 741841/2
MOG Malang (0341) 360777
Mal SKA Pekanbaru (0761) 864222
Palembang Square (0711) 366084
Chandra Superstore Lampung (0721) 7364094
Plaza Mulia Samarinda (0541) 7770850
Airport Balikpapan (0542) 761651
13 April 2010
Makanan Halal, Di Manakah Kalian?
Ironis, kita hidup di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tapi kenapa untuk makan makanan halal di restoran saja sedemikian sulit. Tulisan ini saya buat tanpa niat sama sekali menghina teman, saudara, atau rekan yang memakan makanan tertentu, tapi ini semata untuk mengingatkan saudara seiman dengan cara yang baik dan nggak menyinggung perasaan siapapun.
Saya mungkin bisa dibilang paling rewel untuk hal yang satu itu. Bagaimana nggak, setiap ada acara makan di luar dalam rangka traktiran teman2, saya pasti tanya status makanan di restoran itu. Sampai2 restoran itu saya telpon dan interogasi apakah makanannya layak dikonsumsi oleh muslim atau nggak. Lucunya, kalau saya bertanya apakah makanan yang dijual halal atau nggak, mereka mengatakan halal. Tapi, lain lagi ceritanya kalau saya bertanya baik2 mana makanan yang nggak bisa saya konsumsi mengingat saya seorang muslim. Alhasil, hampir semua menu terlontar dari mulut sang pelayan dan manajer restoran yang menyatakan bahwa makanan mereka tercampur dengan hal yang berbau alkohol atau b2.
Kalau ada oleh2 coklat atau apapun dari luar, saya jadi orang pertama yang browsing untuk cari status halalnya. Bukan tidak menghargai pemberian mereka, tapi apa yang saya lakukan semata2 hanya untuk tunduk patuh pada perintahNya, yaitu dengan memakan makanan halal dan baik.
Makanan halal memang nggak mudah untuk didapat, karena untuk menjadi makanan yang dikatakan halal tidaklah mudah. Pertama, makanan itu bukan sesuatu yang dilarang untuk dikonsumsi. Kedua, makanan itu harus disembelih dengan nama Alloh. Ketiga, cara memperoleh makanan itupun harus dengan cara yang baik.
Nah, dari ketiga kategori itu, rasanya kalau kita hanya sekadar makan daging yang bukan b2 pun belum tentu halal, karena siapa tau daging itu dimasak dengan (katakanlah) angciu, semacam arak merah.
Rasanya, yang harus mulai diperbaiki adalah kesadaran masing2 setidaknya untuk memiliki rasa ingin tahu apakah makanan yang mereka makan halal atau tidak. Lalu, sudah sepatutnya lembaga yang berwenang untuk menyatakan suatu makanan berlabel halal atau nggak (dalam hal ini MUI) memperluas ruang geraknya sehingga kepentingan umat dapat terjaga. Untuk yang merasa tersinggung bagi orang yang mentraktir atau membawa oleh2, rasanya nggak rugi juga kalau mencoba menghargai kami yang nggak mau makan makanan yang dilarang agama, sama halnya dengan kami yang nggak mengusik dan mencela mereka ketika mereka mengkonsumsi makanan2 itu. Yuk, mari kita galakkan program makan makanan halal :)
Saya mungkin bisa dibilang paling rewel untuk hal yang satu itu. Bagaimana nggak, setiap ada acara makan di luar dalam rangka traktiran teman2, saya pasti tanya status makanan di restoran itu. Sampai2 restoran itu saya telpon dan interogasi apakah makanannya layak dikonsumsi oleh muslim atau nggak. Lucunya, kalau saya bertanya apakah makanan yang dijual halal atau nggak, mereka mengatakan halal. Tapi, lain lagi ceritanya kalau saya bertanya baik2 mana makanan yang nggak bisa saya konsumsi mengingat saya seorang muslim. Alhasil, hampir semua menu terlontar dari mulut sang pelayan dan manajer restoran yang menyatakan bahwa makanan mereka tercampur dengan hal yang berbau alkohol atau b2.
Kalau ada oleh2 coklat atau apapun dari luar, saya jadi orang pertama yang browsing untuk cari status halalnya. Bukan tidak menghargai pemberian mereka, tapi apa yang saya lakukan semata2 hanya untuk tunduk patuh pada perintahNya, yaitu dengan memakan makanan halal dan baik.
Makanan halal memang nggak mudah untuk didapat, karena untuk menjadi makanan yang dikatakan halal tidaklah mudah. Pertama, makanan itu bukan sesuatu yang dilarang untuk dikonsumsi. Kedua, makanan itu harus disembelih dengan nama Alloh. Ketiga, cara memperoleh makanan itupun harus dengan cara yang baik.
Nah, dari ketiga kategori itu, rasanya kalau kita hanya sekadar makan daging yang bukan b2 pun belum tentu halal, karena siapa tau daging itu dimasak dengan (katakanlah) angciu, semacam arak merah.
Rasanya, yang harus mulai diperbaiki adalah kesadaran masing2 setidaknya untuk memiliki rasa ingin tahu apakah makanan yang mereka makan halal atau tidak. Lalu, sudah sepatutnya lembaga yang berwenang untuk menyatakan suatu makanan berlabel halal atau nggak (dalam hal ini MUI) memperluas ruang geraknya sehingga kepentingan umat dapat terjaga. Untuk yang merasa tersinggung bagi orang yang mentraktir atau membawa oleh2, rasanya nggak rugi juga kalau mencoba menghargai kami yang nggak mau makan makanan yang dilarang agama, sama halnya dengan kami yang nggak mengusik dan mencela mereka ketika mereka mengkonsumsi makanan2 itu. Yuk, mari kita galakkan program makan makanan halal :)
09 April 2010
Another Trip: the US (habis)
Karena perjalanan panjang dan kerja lembur saya jadi belum sempat ngeblog lagi. Pengen lanjut cerita lagi hehe..
Hari Jumat (26/3) hari terakhir kursus. Di penghujung kursus saya minta Prof pengajar membubuhkan tanda tangannya di buku yang dia beri pada para peserta kursus. Kapan lagi kan :)
Selepas sholat Ashar, saya pergi ke Potomac Mills, semacam mall tapi lebih mirip hanggar saking luasnya. Lokasinya di Virginia, kurang lebih 2 jam dari DC. Lumayan jauh dan capek, tapi pengalaman liat country side seru juga. Jalan tol yang macet dengan tipe kendaraan yang belum pernah saya lihat, belum lagi model mall yang nggak biasa, lengkap dengan hutan kota yang sangat2 terawat. Saya naik Metro sampai stasiun Franconia, dari situ disambung bis. Saya nggak lama di sana karena harus mengejar bis ke arah Franconia. Bukan apa2, bis itu agak jarang. Bisa sampai 1 jam jarak dari bis satu ke bis yang lain. Alhasil, saya sampai rumah mas Erwin jam setengah 12 malam. Hehehe..
Hari Sabtu (27/3) hari terakhir saya di DC, karena saya berniat pergi ke NY. Saya diajak mas Erwin sekeluarga ke Cherry Blossom Festival. Kami pergi ke Tidal Basin, tempat bunga sakura bertebaran dengan indahnya. Sayang belum masuk masa puncak mekar, tapi itu nggak mengurangi keindahannya. Festivalnya sendiri sih nggak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya kira bakal ada konvoi atau pawai, lengkap dengan stand bazaar yang diisi ibu2. Walaupun tampak kurang meriah, tapi tetap seru karena ini kan cuma ada setahun sekali.
Sore saya ke Dupont Circle untuk naik bis yang sudah saya pesan sehari sebelumnya untuk menuju NY. Sekitar 4 jam perjalanan saya habiskan dengan tidur, beda banget sama orang2 sana yang biasanya baca buku atau kerja. Salut, wajar kalau mereka maju. Habis gimana ya, saya kok ngantuk banget. Efek jetlag kali ya *ngeles ;p
Sampai di NY, saya sudah ditunggu mas Heri, istrinya mba Sekar, mas Ija yang kebetulan sedang main juga ke NY, dan pak Didi staf lokal kantor cabang sana. Ternyata pool bis dekat sekali dengan Times Square. Wah, saya langsung foto2 di sana. Dari situ saya beli oleh2. Ternyata barang2 di sana jauh lebih murah ketimbang di DC. Jadinya saya borong cinderamata di sana. Lanjut ke Hard Rock Cafe, lalu kami makan malam dan pulang. Simpan energi untuk jalan2 keesokan harinya :)
Hari Minggu (28/3) pagi2 di tengah suhu yang turun drastis sampai 4 derajat, saya dan mas Ija langsung ke downtown untuk antri ke pulau Liberty dan pulau Ellis diantar mas Hery, mba Sekar, dan pak Didi. Tarif cuma $12 dengan kapal ferry yang berangkat setiap 25 menit sekali. Pengamanan di sana serasa di bandara, lengkap dengan alat metal detector dan x-ray scan. Karena masih pagi, antriannya nggak berapa panjang sih. Setelah sekitar setengah jam antri, akhirnya berangkatlah kami. Dari situ foto2 dimulai. Mulai dari patung Liberty, sampai ke Ellis Island tempat karantina ketika gelombang imigran besar2an memasuki Amerika sekitar abad ke-19. Dua jam keliling2 daerah itu, kami langsung keliling NY sehari semalam sampai gempor. Foto di segala tempat, mulai dari gedung, jalan, taman, mall, toko, sampai restoran.
Hari Senin (29/3) saya cuma ke toko cari pesanan teman2 kantor. Karena nggak ada yang saya dapat, akhirnya saya main ke kantor cabang di sana untuk sekadar menyapa pimpinan dan rekan2. Saya nggak lama di sana karena ada kerjaan yang harus saya selesaikan, termasuk packing untuk pulang malam harinya. Tapi secara umum sih NY kayaknya lebih serem dan lebih nggak manusiawi ketimbang DC ya. Metronya jorok, banyak orang dengan dandanan preman, belum lagi suburban kayak Queens yang banyak pendatangnya kok auranya serem aja gitu. Untunglah jarang ke daerah sana.
Sedih rasanya harus pulang. Saya harus masuk hari Kamisnya karena ada deadline kerjaan. Perjalanan dua hari cukup bikin capek. Sempet bingung sholat waktu di pesawat. Jadi, waktu berangkat kan hari Senin (29/3) jam 10 malam, terbang berlawanan arah dengan rotasi bumi, jadi waktu saya transit di Vancouver setelah terbang 5 jam waktu baru menunjukkan jam 1 malam keesokan harinya Selasa (30/3). Begitu terbang sekitar 6 jam dan melewati garis tanggal internasional, otomatis saya sudah memasuki hari Rabu (31/3). Akibatnya, saya sudah kehilangan Shubuh, Zhuhur, dan Ashar untuk hari Selasa, sementara Maghrib dan Isya masih bisa saya ambil dengan cara dijama' sebelum masuk waktu Shubuh. Wallahu a'lam.
Capek, seru, rame, pengalaman tak terlupakan :)
Hari Jumat (26/3) hari terakhir kursus. Di penghujung kursus saya minta Prof pengajar membubuhkan tanda tangannya di buku yang dia beri pada para peserta kursus. Kapan lagi kan :)
Selepas sholat Ashar, saya pergi ke Potomac Mills, semacam mall tapi lebih mirip hanggar saking luasnya. Lokasinya di Virginia, kurang lebih 2 jam dari DC. Lumayan jauh dan capek, tapi pengalaman liat country side seru juga. Jalan tol yang macet dengan tipe kendaraan yang belum pernah saya lihat, belum lagi model mall yang nggak biasa, lengkap dengan hutan kota yang sangat2 terawat. Saya naik Metro sampai stasiun Franconia, dari situ disambung bis. Saya nggak lama di sana karena harus mengejar bis ke arah Franconia. Bukan apa2, bis itu agak jarang. Bisa sampai 1 jam jarak dari bis satu ke bis yang lain. Alhasil, saya sampai rumah mas Erwin jam setengah 12 malam. Hehehe..
Hari Sabtu (27/3) hari terakhir saya di DC, karena saya berniat pergi ke NY. Saya diajak mas Erwin sekeluarga ke Cherry Blossom Festival. Kami pergi ke Tidal Basin, tempat bunga sakura bertebaran dengan indahnya. Sayang belum masuk masa puncak mekar, tapi itu nggak mengurangi keindahannya. Festivalnya sendiri sih nggak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya kira bakal ada konvoi atau pawai, lengkap dengan stand bazaar yang diisi ibu2. Walaupun tampak kurang meriah, tapi tetap seru karena ini kan cuma ada setahun sekali.
Sore saya ke Dupont Circle untuk naik bis yang sudah saya pesan sehari sebelumnya untuk menuju NY. Sekitar 4 jam perjalanan saya habiskan dengan tidur, beda banget sama orang2 sana yang biasanya baca buku atau kerja. Salut, wajar kalau mereka maju. Habis gimana ya, saya kok ngantuk banget. Efek jetlag kali ya *ngeles ;p
Sampai di NY, saya sudah ditunggu mas Heri, istrinya mba Sekar, mas Ija yang kebetulan sedang main juga ke NY, dan pak Didi staf lokal kantor cabang sana. Ternyata pool bis dekat sekali dengan Times Square. Wah, saya langsung foto2 di sana. Dari situ saya beli oleh2. Ternyata barang2 di sana jauh lebih murah ketimbang di DC. Jadinya saya borong cinderamata di sana. Lanjut ke Hard Rock Cafe, lalu kami makan malam dan pulang. Simpan energi untuk jalan2 keesokan harinya :)
Hari Minggu (28/3) pagi2 di tengah suhu yang turun drastis sampai 4 derajat, saya dan mas Ija langsung ke downtown untuk antri ke pulau Liberty dan pulau Ellis diantar mas Hery, mba Sekar, dan pak Didi. Tarif cuma $12 dengan kapal ferry yang berangkat setiap 25 menit sekali. Pengamanan di sana serasa di bandara, lengkap dengan alat metal detector dan x-ray scan. Karena masih pagi, antriannya nggak berapa panjang sih. Setelah sekitar setengah jam antri, akhirnya berangkatlah kami. Dari situ foto2 dimulai. Mulai dari patung Liberty, sampai ke Ellis Island tempat karantina ketika gelombang imigran besar2an memasuki Amerika sekitar abad ke-19. Dua jam keliling2 daerah itu, kami langsung keliling NY sehari semalam sampai gempor. Foto di segala tempat, mulai dari gedung, jalan, taman, mall, toko, sampai restoran.
Hari Senin (29/3) saya cuma ke toko cari pesanan teman2 kantor. Karena nggak ada yang saya dapat, akhirnya saya main ke kantor cabang di sana untuk sekadar menyapa pimpinan dan rekan2. Saya nggak lama di sana karena ada kerjaan yang harus saya selesaikan, termasuk packing untuk pulang malam harinya. Tapi secara umum sih NY kayaknya lebih serem dan lebih nggak manusiawi ketimbang DC ya. Metronya jorok, banyak orang dengan dandanan preman, belum lagi suburban kayak Queens yang banyak pendatangnya kok auranya serem aja gitu. Untunglah jarang ke daerah sana.
Sedih rasanya harus pulang. Saya harus masuk hari Kamisnya karena ada deadline kerjaan. Perjalanan dua hari cukup bikin capek. Sempet bingung sholat waktu di pesawat. Jadi, waktu berangkat kan hari Senin (29/3) jam 10 malam, terbang berlawanan arah dengan rotasi bumi, jadi waktu saya transit di Vancouver setelah terbang 5 jam waktu baru menunjukkan jam 1 malam keesokan harinya Selasa (30/3). Begitu terbang sekitar 6 jam dan melewati garis tanggal internasional, otomatis saya sudah memasuki hari Rabu (31/3). Akibatnya, saya sudah kehilangan Shubuh, Zhuhur, dan Ashar untuk hari Selasa, sementara Maghrib dan Isya masih bisa saya ambil dengan cara dijama' sebelum masuk waktu Shubuh. Wallahu a'lam.
Capek, seru, rame, pengalaman tak terlupakan :)
26 Maret 2010
Another Trip: the US (3)
Hari Kamis (25/3) penuh keceriaan.
Pertama, hari gajian. Menghibur di tengah2 masa sulit (sulit nggak belanja hihihi - kidding). Utang kartu kredit dan ke teman2 langsung saya lunasi. Gaji langsung ludes, tapi rasanya lega nggak ada utang lagi hehe.
Kedua, kursus cuma setengah hari. Jadi, sisa hari saya habiskan untuk mengunjungi beberapa landmark kota yang hanya buka sampai jam 5 sore. National Mall, daerah luas antara Washington Monument dan Capitol Hill, tempat Smithsonian berada. Yap, dengar kata Smithsonian pikiran langsung tertuju ke kawasan dengan sederet museum besar dan megah, koleksi super lengkap, dan pastinya gratis! Saya nggak sabar untuk masuk ke sana.
Museum pertama yang saya kunjungi adalah Natural History Museum. Koleksinya luar biasa banyaknya. Dengan pembagian zona berdasarkan habitatnya, regionnya, sampai zamannya. Semua benar2 rapi dan terorganisir. Layout museumnya juga nggak bikin bingung, jadi kita nggak tersesat. Informasi tersedia di mana2.
Museum kedua adalah National Gallery of Art. Saya nggak terlalu ngerti seni sih, tapi mencoba untuk mengerti lah senggaknya. Tapi saya memang suka dengan seni lukis Eropa. Di sana terdapat bermacam koleksi dari berbagai negara dan dari beberapa abad lampau. Semua dibagi berdasarkan tema lukisannya.
Museum ketiga adalah Air and Space Museum. Di sana dipajang berbagai sejarah penerbangan mulai dari alat paling sederhana dan konyol sampai Wright Brothers yang menjadi pencetus awal pesawat terbang masa kini. Seksi astronomi juga ada di sana. Alat peraga canggih, informatif, dan user-friendly. Mulai dari pesawat ulang alik, satelit, teleskop Hubble, sampai roket juga ada. Pemajangannya juga menarik jadi kita penasaran dan tertarik untuk melihat. Puas banget rasanya. Cuma sayang, saya pakai baju kantor, jadi kaki sakit buat jalan. Makanya saya nggak bisa lama2. Huh. Tapi gpp lah. Yang penting rasa penasaran terbayar sudah. Apa ya selanjutnya?
Pertama, hari gajian. Menghibur di tengah2 masa sulit (sulit nggak belanja hihihi - kidding). Utang kartu kredit dan ke teman2 langsung saya lunasi. Gaji langsung ludes, tapi rasanya lega nggak ada utang lagi hehe.
Kedua, kursus cuma setengah hari. Jadi, sisa hari saya habiskan untuk mengunjungi beberapa landmark kota yang hanya buka sampai jam 5 sore. National Mall, daerah luas antara Washington Monument dan Capitol Hill, tempat Smithsonian berada. Yap, dengar kata Smithsonian pikiran langsung tertuju ke kawasan dengan sederet museum besar dan megah, koleksi super lengkap, dan pastinya gratis! Saya nggak sabar untuk masuk ke sana.
Museum pertama yang saya kunjungi adalah Natural History Museum. Koleksinya luar biasa banyaknya. Dengan pembagian zona berdasarkan habitatnya, regionnya, sampai zamannya. Semua benar2 rapi dan terorganisir. Layout museumnya juga nggak bikin bingung, jadi kita nggak tersesat. Informasi tersedia di mana2.
Museum kedua adalah National Gallery of Art. Saya nggak terlalu ngerti seni sih, tapi mencoba untuk mengerti lah senggaknya. Tapi saya memang suka dengan seni lukis Eropa. Di sana terdapat bermacam koleksi dari berbagai negara dan dari beberapa abad lampau. Semua dibagi berdasarkan tema lukisannya.
Museum ketiga adalah Air and Space Museum. Di sana dipajang berbagai sejarah penerbangan mulai dari alat paling sederhana dan konyol sampai Wright Brothers yang menjadi pencetus awal pesawat terbang masa kini. Seksi astronomi juga ada di sana. Alat peraga canggih, informatif, dan user-friendly. Mulai dari pesawat ulang alik, satelit, teleskop Hubble, sampai roket juga ada. Pemajangannya juga menarik jadi kita penasaran dan tertarik untuk melihat. Puas banget rasanya. Cuma sayang, saya pakai baju kantor, jadi kaki sakit buat jalan. Makanya saya nggak bisa lama2. Huh. Tapi gpp lah. Yang penting rasa penasaran terbayar sudah. Apa ya selanjutnya?
25 Maret 2010
Another Trip: the US (2)
Saya kursus di IMF selama satu minggu. Sebagai informasi umum, IMF itu paling deket dengan Metro (nama subway di sana) Farragut North. Jalan kaki sekitar 10 menit. Di sekitar sana cuma ada kantor, kedutaan, dan toko2. Mungkin karena memang kota ini cuma untuk kegiatan pemerintahan, bisnis, dan perkantoran, jadi nggak ada rumah tinggal. Pilihan makanan banyak, tapi karena saya takut nggak halal, pilihan saya jatuhkan ke Mehran Restaurant di Pennsylvania Avenue. Restoran khas Asia Selatan - Timur Tengah dengan ciri khasnya kebab dan kari ayam lengkap dengan nasi lemaknya. Letaknya cuma sekitar 3 blok dari IMF, 5 menit jalan kaki.
Tiga hari pertama kursus di DC, semua tampak berjalan lancar dan baik2 saja. Materi kursus ada yang bisa dicerna dan jauh lebih banyak yang nggak dimengerti. Masih wajar kan? Hehehe. Kursusnya sih lebih ke pengenalan mengenai pemilihan model yang tepat dengan menggunakan suatu alat bantu ciptaan University of Oxford supaya bisa menghasilkan forecast yang baik juga. That's the course all about.
Selebihnya, 3 hari di DC saya coba habiskan untuk menikmati musim semi yang sudah datang. Sakura di berbagai penjuru kota mulai bermekaran, udara sudah nggak terlalu dingin. Hari pertama saya langsung pulang saja karena masih kecapekan. Sementara hari kedua saya sempat jalan sebentar, tapi karena rasanya masih capek, baru setengah jam saya langsung pulang. Tapi sempet foto2 depan White House dulu hehe. Untung saya langsung pulang, karena ternyata di tengah jalan menuju stasiun Metro hujan turun.
Baru di hari ketiga ini saya pasang niat kuat2 untuk jalan dan kunjungi sebanyak mungkin situs khas DC. Mulai dari White House (lagi, soalnya foto2nya masih kurang hehe), Washington Monument yang kayak monas itu, Lincoln Memorial yang ada patung Abraham Lincoln lagi duduk segede gaban, disambung ke Capitol Hill tempat Senate berkantor. Puas? Belum sih, tapi capek jelas. Sekitar 240 menit saya jalan kaki, saya putuskan untuk pulang demi hak kaki saya untuk istirahat hehe. Tapi karena penasaran dengan cerita Justin yang katanya di Pentagon City ada Macy's-nya, akhirnya saya meluncur ke sana. Ternyata, nggak sebagus yang dibayangkan. Mallnya masih setara ITC atau Atrium Senen kalau mau lebih kejam. Padat dengan manusia berjalan merayap dan super berisik saking banyaknya orang yang ngobrol di saat yang bersamaan. Ke Macy's ternyata tokonya nggak sebagus dan sekelas Next atau Marks & Spencer di London. Tapi gitu2 juga saya nggak sanggup beli barang2 di sana hihihi. Tapi sudahlah, rasa penasaran terbayar sudah biarpun nggak beli apa2. Pulanglah saya dengan segera saking capeknya, hasilnya ya tulisan ini. Sekali lagi, kalau ditanya sudah puas, jelas belum. Cuma capek. Yang saya perlukan cuma recharge tenaga untuk jalan lagi besok sore sepulang kursus :)
Tiga hari pertama kursus di DC, semua tampak berjalan lancar dan baik2 saja. Materi kursus ada yang bisa dicerna dan jauh lebih banyak yang nggak dimengerti. Masih wajar kan? Hehehe. Kursusnya sih lebih ke pengenalan mengenai pemilihan model yang tepat dengan menggunakan suatu alat bantu ciptaan University of Oxford supaya bisa menghasilkan forecast yang baik juga. That's the course all about.
Selebihnya, 3 hari di DC saya coba habiskan untuk menikmati musim semi yang sudah datang. Sakura di berbagai penjuru kota mulai bermekaran, udara sudah nggak terlalu dingin. Hari pertama saya langsung pulang saja karena masih kecapekan. Sementara hari kedua saya sempat jalan sebentar, tapi karena rasanya masih capek, baru setengah jam saya langsung pulang. Tapi sempet foto2 depan White House dulu hehe. Untung saya langsung pulang, karena ternyata di tengah jalan menuju stasiun Metro hujan turun.
Baru di hari ketiga ini saya pasang niat kuat2 untuk jalan dan kunjungi sebanyak mungkin situs khas DC. Mulai dari White House (lagi, soalnya foto2nya masih kurang hehe), Washington Monument yang kayak monas itu, Lincoln Memorial yang ada patung Abraham Lincoln lagi duduk segede gaban, disambung ke Capitol Hill tempat Senate berkantor. Puas? Belum sih, tapi capek jelas. Sekitar 240 menit saya jalan kaki, saya putuskan untuk pulang demi hak kaki saya untuk istirahat hehe. Tapi karena penasaran dengan cerita Justin yang katanya di Pentagon City ada Macy's-nya, akhirnya saya meluncur ke sana. Ternyata, nggak sebagus yang dibayangkan. Mallnya masih setara ITC atau Atrium Senen kalau mau lebih kejam. Padat dengan manusia berjalan merayap dan super berisik saking banyaknya orang yang ngobrol di saat yang bersamaan. Ke Macy's ternyata tokonya nggak sebagus dan sekelas Next atau Marks & Spencer di London. Tapi gitu2 juga saya nggak sanggup beli barang2 di sana hihihi. Tapi sudahlah, rasa penasaran terbayar sudah biarpun nggak beli apa2. Pulanglah saya dengan segera saking capeknya, hasilnya ya tulisan ini. Sekali lagi, kalau ditanya sudah puas, jelas belum. Cuma capek. Yang saya perlukan cuma recharge tenaga untuk jalan lagi besok sore sepulang kursus :)
20 Maret 2010
Another Trip: the US (1)
Perjalanan panjang dimulai lagi. Kali ini giliran benua Amerika yang akan saya pijak. Saya pergi dalam rangka kursus selama 1 minggu di D.C.
Berangkat dari rumah jam 12.30, saya mampir ke kantor dulu gara2 ketinggalan dasi ;p
Dari situ saya langsung meluncur ke bandara Soetta. Sampai bandara kurang dari satu jam take off. Mepet, tapi untung masih sempat hehe. Semua proses dilalui, naiklah ke pesawat. Lima jam perjalanan ke Hong Kong untuk transit nggak begitu terasa. Itu belum ada apa2nya. Tiba di bandara Hong Kong jam setengah 9 waktu setempat, saya harus tunggu penerbangan lanjutan ke NY via Vancouver yang dijadwalkan take off jam 1 dini hari waktu setempat. Lama? Jelas. Sembari menunggu Myrna take off jam 11 malam tadi, kami jalan2 dan belanja beberapa buah tangan untuk teman2 dan handai taulan nanti di tanah air. Setelah antar Myrna boarding, saya pergi ke gate yang ke NY. Untung ada Wi-Fi gratis untuk membunuh rasa bosan. Entah mau dengan cara apa lagi nunggu pesawat ini. Lebih baik saya persiapkan segala dokumen dan kelengkapan imigrasi, jangan lupa berdoa demi kelancaran proses sejak dari sini sampai tiba kembali di Tanah Air. Amin.
See you around... *boarding menuju NY*
...11 hours later...
Alhamdulillah tiba dengan selamat di Vancouver. Ya, Vancouver, bukan NY. Cakep banget ya. Di tiket nggak ada pemberitahuan kalau pesawatnya bakal transit dulu di Vancouver. Alhasil, tadi pas antri untuk boarding ditanya sama petugas karena saya nggak pegang form izin transit tanpa visa Kanada. Mana kutahu. Tapi semua lancar alhamdulillah.
Sekarang saya baru sampai, dan sekarang sudah harus boarding lagi heading to NY.
See you around again ^.^
...5 hours later...
Alhamdulillah sampai di bandara JFK, NY. Imigrasi, bagasi, semua lancar. Tadi sempet bingung, connecting flight dari NY ke DC di mana ya. Kok nggak lihat. Bodohnya, kan harusnya ada di tiket. Tadaaa, ternyata memang ada. Tanya security, pergilah saya dari Terminal 7 ke Terminal 3 naik AirTrain, layanan kereta antarterminal, "no fares no tickets" kata pak satpamnya hehe.
Sampai sini, saya masih harus tunggu flight sekitar 3 jam lagi. Lagi2, untungnya ada layanan Wi-Fi gratis, jadi nggak terisolir deh. Kapan ya Indonesia bakal banyak layanan internet gratis kayak gini ya? *Still wondering*
Berangkat dari rumah jam 12.30, saya mampir ke kantor dulu gara2 ketinggalan dasi ;p
Dari situ saya langsung meluncur ke bandara Soetta. Sampai bandara kurang dari satu jam take off. Mepet, tapi untung masih sempat hehe. Semua proses dilalui, naiklah ke pesawat. Lima jam perjalanan ke Hong Kong untuk transit nggak begitu terasa. Itu belum ada apa2nya. Tiba di bandara Hong Kong jam setengah 9 waktu setempat, saya harus tunggu penerbangan lanjutan ke NY via Vancouver yang dijadwalkan take off jam 1 dini hari waktu setempat. Lama? Jelas. Sembari menunggu Myrna take off jam 11 malam tadi, kami jalan2 dan belanja beberapa buah tangan untuk teman2 dan handai taulan nanti di tanah air. Setelah antar Myrna boarding, saya pergi ke gate yang ke NY. Untung ada Wi-Fi gratis untuk membunuh rasa bosan. Entah mau dengan cara apa lagi nunggu pesawat ini. Lebih baik saya persiapkan segala dokumen dan kelengkapan imigrasi, jangan lupa berdoa demi kelancaran proses sejak dari sini sampai tiba kembali di Tanah Air. Amin.
See you around... *boarding menuju NY*
...11 hours later...
Alhamdulillah tiba dengan selamat di Vancouver. Ya, Vancouver, bukan NY. Cakep banget ya. Di tiket nggak ada pemberitahuan kalau pesawatnya bakal transit dulu di Vancouver. Alhasil, tadi pas antri untuk boarding ditanya sama petugas karena saya nggak pegang form izin transit tanpa visa Kanada. Mana kutahu. Tapi semua lancar alhamdulillah.
Sekarang saya baru sampai, dan sekarang sudah harus boarding lagi heading to NY.
See you around again ^.^
...5 hours later...
Alhamdulillah sampai di bandara JFK, NY. Imigrasi, bagasi, semua lancar. Tadi sempet bingung, connecting flight dari NY ke DC di mana ya. Kok nggak lihat. Bodohnya, kan harusnya ada di tiket. Tadaaa, ternyata memang ada. Tanya security, pergilah saya dari Terminal 7 ke Terminal 3 naik AirTrain, layanan kereta antarterminal, "no fares no tickets" kata pak satpamnya hehe.
Sampai sini, saya masih harus tunggu flight sekitar 3 jam lagi. Lagi2, untungnya ada layanan Wi-Fi gratis, jadi nggak terisolir deh. Kapan ya Indonesia bakal banyak layanan internet gratis kayak gini ya? *Still wondering*
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- Oki Jelly
- Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar