17 Maret 2010

Selamat Jalan Uti

Eyang Putri, biasa kami panggil Uti, menghadap ke hadirat Illahi Robbi pada (16/3) dini hari di Manokwari akibat sakit. Beliau, terlahir dengan nama Muryatmi dan sangat kami cintai, meninggal di usia 80 tahun dengan meninggalkan 1 suami, 11 putra putri dan puluhan cucu cicit.

Saya tidak bisa mengikuti prosesi pemakaman beliau karena saya nggak dapat tiket ke Manokwari. Sedih banget rasanya, tapi bagaimana lagi. Keadaan nggak memungkinkan. Yang lebih penting doa bagi arwah beliau dan semoga iman islam serta amal ibadah beliau diterima di sisi Alloh swt. Amin.

Terus terang, tidak banyak kenangan yang melekat di benak saya tentang Uti karena memang kontak secara langsung dengan beliau tidak banyak. Sejak lahir hingga kuliah saya tidak pernah bertemu beliau kecuali barangkali waktu saya masih kecil. Saya nggak terlalu ingat momen itu. Tapi, pertama kali saya bertemu beliau di masa dewasa adalah tahun 2006. Tepat setelah menyelesaikan proyek dosen, menjelang Idul Fitri, dan setelah pengumuman bahwa saya diterima di tempat kerja sekarang, saya pergi ke Papua untuk pertama kalinya. Saya bertemu dengan Uti dengan perasaan segan dan takut. Jelas perasaan itu menyeruak karena saya dengar dari saudara2 saya kalau Uti galak. Tapi nyatanya waktu saya bertemu beliau, kok nggak ya. Bahkan beliau teramat baik sama saya. Saya dimasakin makanan, dibelikan durian satu karung, sampai2 waktu mau pulang ke Jawa beliau ikut mengantar sambil bawa keripik sukun satu kardus besar. Sekarang, beliau pergi untuk selamanya.

Selamat jalan Uti, semoga diterangkan dan dilapangkan alam kuburnya. Percayalah kalau kami selalu mencintai dan menyayangi Uti.

23 Februari 2010

Cerita pertama di tahun 2010

Wah, lama nggak nge-blog. Rasanya kangen. Padahal banyak kejadian yang saya lalui dua bulan kemarin, tapi berhubung sibuk jadinya nggak sempet bikin blog deh.

Awal bulan ini dibuka dengan milad saya yang alhamdulillah tahun ini memasuki usia 28 tahun. Dibilang muda juga nggak, tapi tua juga masih belum. Nanggung gitu kali ya. Nggak terasa memang kalau dalam 28 tahun ini sudah banyak pengalaman dan kejadian yang saya lalui, entah suka atau duka. Kejadian itu yang membentuk karakter saya hingga sampai sekarang ini. Jelas masih banyak hal yang mesti saya perbaiki. Masih banyak juga yang harus saya lakukan. Semoga Alloh menguatkan niat, langkah, dan proses perjalanan saya menuju jalanNya. Amin.

Oia, insya Alloh Kamis (25/2) Alis mau nikah. Doakan ya semoga pernikahannya langgeng dan lancar. Amin. Doakan juga semoga saya segera menyusul :D
Saya insya Alloh mau ke sana, sekalian wisata kuliner di Yogya, Solo, dsk. Makanan di sana tuh bikin kangen. Murah dan enak. Yogya, here I come ^.^

31 Desember 2009

Wafatnya Gus Dur, agamawan sekaligus negarawan

Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun. Telah berpulang ke Rahmatullah, kyai pembesar Nahdlatul 'Ulama (NU) sekaligus Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam usia 69 tahun. Beliau wafat di RSCM pukul 18.45 WIB akibat mengalami komplikasi jantung, stroke, diabetes, dan ginjal.

Mendengar nama Gus Dur, ingatan kita tidak akan lepas dari NU dan perannya sebagai pemimpin tertinggi republik ini meskipun tidak sampai 2 tahun. Memang kondisi negara ketika itu baru memasuki tahap pemulihan dan reformasi setelah dihantam krisis moneter. Tugas berat tentunya bagi seorang Gus Dur untuk memimpin bangsa dalama masa transisi di tengah kondisi fisiknya yang terbatas. Tapi sebagai negarawan yang sangat mencintai tanah airnya, beliau tidak pantang menyerah dalam membawa bahtera negara ini ke arah yang lebih baik. Terbukti, banyak jasa beliau ditorehkan semasa menjabat sebagai kepala negara. Setidaknya, beliau membuka "keran" kebebasan beragama yang selama ini tersumbat pada pemerintahan sebelumnya. Kong Hu Chu diakui sebagai agama negara dan kebudayaan Tionghoa diakui sebagai bagian budaya nasional. Implikasinya, berbagai perayaan dalam menyambut tahun baru imlek diperbolehkan seiring dengan diberlakukannya tahun baru tersebut sebagai hari libur nasional. Hal tersebut menjadi simbol pluralisme yang dianut cucu dari pendiri NU ini, yaitu semua keyakinan bebas berkembang di negeri ini. Tentunya tetap dalam koridor kerukunan antar-umat beragama.

Bukan Gus Dur namanya kalau tidak membuat keputusan kontroversial. Ketika Inul dihujat berbagai kalangan akibat goyangannya yang dianggap seronok, beliau justru tampil di depan mendukung Inul. Ketika isu gerakan separatis sedang memanas, beliau justru mengizinkan pengibaran bendera gerakan separatis tersebut untuk dikibarkan di daerah konflik. Terang saja hal itu menimbulkan berbagai pro dan kontra.

Ketika melihat tayangan penyerahan jenazah beliau kepada pemerintah melalui Ketua MPR Taufik Kiemas pagi tadi, saya tiba2 teringat kontroversi kyai ini semasa menjabat dengan seringnya pelesir ke luar negeri. Di tengah kondisi negara yang masih terseok-seok akibat dihantam krisis moneter, beliau malah menciptakan rekor tertinggi pergi ke LN. Dulu saya merasa sangat benci dengan apa yang beliau lakukan. Tapi saat menonton acara tadi, saya tiba2 berpikir jangan2 memang ada alasan beliau melakukan itu namun tidak terinfokan dengan baik. Ternyata, dugaan saya memang benar. Panjang umur, pagi tadi saya sempat melihat berita di berbagai media pemberitaan di internet baik dalam maupun luar negeri, tanpa diduga sampailah saya pada artikel yang ditulis oleh asisten pribadi beliau ketika menjadi presiden. Beliau memang ada motivasi dalam melakukan perjalanan ke luar negeri. Ternyata banyak dari negara2 yang beliau kunjungi merupakan negara peserta konferensi Asia Afrika. Brazil mengekspor ratusan ribu ton kedelai ke AS sementara kita mengimpor setengahnya dari AS, maka beliau datang ke Rio de Janeiro untuk membeli langsung dari Brazil tanpa melalui AS. Sementara itu, Venezuela mengimpor 100% rempah2nya dari Rotterdam sementara kita mengekspor 100% rempah2 ke Rotterdam. Yang beliau lakukan, menawari Hugo Chavez untuk membeli rempah2 langsung dari kita. Kepada Sultan Hassanal Bolkiah, beliau mengusulkan pembangunan Islamic Financial Centre di Brunei Darussalam lalu membujuk para pemimpin di Timur Tengah untuk menempatkan dananya di sana ketimbang di Singapura. Malu rasanya diri ini sempat membenci beliau di balik kebersihan niat baiknya untuk memajukan meskipun tidak didukung oleh rakyatnya sendiri.

Gus Dur tetaplah Gus Dur. Kini, tidak ada lagi negarawan dengan kelakarnya yang khas.
Selamat jalan Gus Dur, jasamu akan selalu dikenang. Semoga engkau diterima di sisi-Nya. Amin.

30 November 2009

Long Trip to London (5, Habis)

Selesai kursus, kesempatan saya untuk jalan2. Sebenernya agak kurang terorganisir juga sih. Pertama, karena pengetahuan saya tentang Inggris emang nggak terlalu banyak dan kedua, saya emang pengen berhemat karena ada satu dan lain hal hehehe..

Jadinya, hari Sabtu (21/11) saya keliling London sendiri. Seperti biasa, Tube jadi andalan utama. Agenda penting saya, liat Buckingham Palace dan sekitarnya. Alhamdulillah kesampaian juga. Dari Northern Line nyambung ke Victoria Line, turun di Green Park. Jalan kaki dikit lewat St. James Park, ketemu deh istananya. Mungkin kalo diliat sekilas kayak biasa aja. Ukuran juga nggak seberapa besar. Cuma ya karena biasanya liat di TV dan sekarang liat dengan mata kepala sendiri jadinya ya berasa beda aja hehe. Berhubung sendiri, saya ya foto2 sendiri aja. Malu kalo minta tolong orang ;p


Dari sana, saya jalan kaki ke arah sembarang, karena saya nggak mau terlalu terpaku sama satu objek wisata yang umum. Eh, di ujung jalan saya nemu Wellington Arch. Modelnya kayak gerbang besar Arch de Triumph di Paris itu. Dari situ, karena saya lapar, saya masuk stasiun deket situ untuk cari makan di tengah kota yang banyak nyediain makanan halal, eh ternyata saldonya abis. Harus top up, akhirnya saya keluar lagi dan jalan kaki cari warung terdekat. Setelah dapet, saya jalan lagi tapi ke arah lain, eh tembus2 di Big Ben lagi. Ya udah daripada sia2 saya foto2 lagi di sana. Dari sana, saya balik lagi ke Oxford St. untuk cari oleh2 yang belum kebeli. Nggak lama ternyata hujan gede. Berhubung males hujan2an, saya akhirnya mutusin untuk pulang.

Besoknya (22/11), saya janjian sama mas Ferry. Sempet miskomunikasi juga sih. Saya berpikiran nggak akan main ke Coventry tempat dia tinggal untuk menempuh S3 di Warwick karena berpikiran mas Ferry pengen ke London untuk beli barang kebutuhan sehari2, sedangkan mas Ferry mikirnya saya yang memang nggak mau main ke Coventry, makanya dia jauh2 datang ke London anterin buku mikro Mascollel yang terkenal tebalnya itu.
Saya ketemu di Euston station, tapi sebelumnya saya ke masjid di belakang stasiun karena waktu kemarinnya saya jalan2, buku panduan ketinggalan di sana. Untung masih ada hehe. Begitu ketemu mas Ferry, kami langsung ke Piccadilly Circus. Mas Ferry bawa saya ke Lillywhites, toko sport terbesar di sana. Wah, keren banget. Banyak perlengkapan bola asli dari berbagai cabang olahraga dan klub. Saking silaunya, saya ambil beberapa baju bola untuk dijadikan buah tangan. Beres belanja, saya diajak makan di C&R Restaurant di bilangan Chinatown. Awalnya sih ragu, karena takut ada B2-nya, tapi mas Ferry ngeyakinin kalo makanannya halal. Kami makan nasi goreng dan laksa. Enak juga ternyata. Tapi saya nggak makan dagingnya, karena ingat liat di menu tadi ada B2-nya. Tapi di tengah2 makan, saya liat ada kartu nama restorannya. Ternyata ada label halal. Hmm.. jadi bingung. Tapi dengan label halal itu saya jadi lebih tenang. Saya berpikiran siapa tau masaknya dipisah, jadi nggak tercampur. hehe..

Selesai makan kami ke toko makanan Asia. Mas Ferry beli tempe dan beras. Kapan lagi liat tempe di London ya hehe. Terus, kami ke Regent St. dan Oxford St. sampai malam. Saatnya pulang, tapi saya kok rasanya bosan ya di London. Rasanya muter di situ2 aja. Akhirnya saya minta ikut sama mas Ferry ke Coventry. Begitu sampai Euston station, ternyata keretanya jalan dalam waktu 4 menit. Akhirnya kami lari2an menuju loket dan ke jalur 4. Begitu naik, kereta langsung jalan. Phew, just in the nick of time. Sejam perjalanan, kami tiba di Coventry. Wusss.. angin jauh lebih dingin berhembus. Saya yang biasa nggak menggigil di London pas di Coventry langsung kedinginan. Sampai di apartemen mas Ferry, saya ketemu dengan teman sekamar yang juga teman kuliahnya sejak S2, Chris dari Taiwan. Waaaww fasilitas lengkap. Ada heater, TV, dapur dan home appliances, sampai TV LCD. Keren deh pokoknya. Untuk makan, kami pesen di restoran Chinese food dekat apartemen. Lagi2, karena saya ragu, saya cuma pesen sayur2an walaupun nggak jamin minyak apa yang dipakai untuk masak. Tapi berhubung nggak ada makanan lain, bismillah aja deh. Mudah2an nggak aneh2 makanannya.
Besok pagi (23/11) waktu saya bangun mas Ferry ternyata lagi belajar. Wih, keren juga. Jadi makin semangat pengen lanjut sekolah. Kayaknya suasananya enak buat belajar di sana. Mas Ferry cerita tentang Game Theory, bidang yang dia ambil untuk S3-nya. Asik juga lho. Saya sampai dikasih lihat buku2 referensinya. Makin ngiler aja untuk lanjut sekolah. Mudah2an bisa tahun depan deh amin..
Sebelum mas Ferry ajak jalan keliling kota, saya masak nasi goreng. Doyan juga dia rupanya. Dia selama ini nggak pernah masak katanya, soalnya nggak pernah enak. Hehehe.. Selesai sarapan, kami langsung ke toko O2 untuk beli iPhone. Bukan apa2, sejak pagi HP saya rusak dan nggak bisa nyala. Demi komunikasi (nyari pembenaran aja sih sebenarnya ;p) saya akhirnya mau beli iPhone. Padahal sehari sebelumnya mas Ferry udah bujuk2 untuk beli, tapi saya tolak mentah2 karena anggaran terbatas. Dari situ, kami ke pasar untuk unlock iPhonenya. Ternyata butuh waktu sehari. Berhubung besok harinya saya harus pulang ke Indonesia, saya urungkan niat. Ya sudah, akhirnya kami ke Starbucks di alun2 kota, mas Ferry oprek2 iPhone saya sambil kasih tau cara ini itu untuk nambah aplikasi di iPhone.
Jarum jam menunjuk di angka 12, kami harus kembali ke urusan masing2. Saya harus kejar kereta jam 1 ke London, sementara mas Ferry jam 2 ada kuliah. Jadinya kami ke apartemen, ambil barang masing2 dan naik bis ke arah Warwick. Saya turun di halte stasiun kereta dan berpisah dengan mas Ferry di sana. Setibanya di London, lagi2 saya ke Oxford St. Apalagi kalau bukan untuk cari oleh2 pesanan teman2 dan keluarga yang belum kebeli. Malam terakhir di kota London, saya benar2 menikmati suasana. Sedih rasanya harus ninggalin London. Berkesan dan berarti banget. Insya Alloh bisa ke sana lagi. Amin.
Besok paginya (24/11) jam setengah 7 pagi, masih gelap gulita saya meluncur ke Colindale station untuk ambil Tube ke arah bandara Heathrow. Dari Northern Line, saya ganti di King's Cross St. Pancras karena pergantian stationnya ada eskalator, jadi nggak perlu angkat koper yang superberat dan hampir overbaggage itu hehe. Sekitar 1,5 jam perjalanan, saya tiba di bandara dan check-in. Belanja makanan seperlunya di World Duty Free Shop, akhirnya tiba saatnya meninggalkan London penuh kenangan. Next destination? ^.^

21 November 2009

Long Trip to London (4)

Hari kelima kursus, akhirnya selesai juga. Nggak kerasa. Sedih juga. Baru mulai akrab ngobrol sama temen2 bank sentral lain, eh udah pisah aja. Tadi saya nggak ikut sampai selesai karena harus Jumatan. Saya pergi ke East London Mosque di Whitechapel, London Timur. Ternyata di situ komunitas orang2 Bangladesh. Meskipun adzan jam 11.46 tapi sholat Jum'atnya sendiri jam 1.05. Jadi sekitar 50 menit setelah adzan, khutbah baru dimulai. Khutbah pertama pake bahasa Arab, Bengal, baru deh pake Inggris. Awalnya ngerasa asing juga sholat di sana. Ada beberapa kebiasaan yang nggak pernah saya liat di Indonesia. Mulai dari adzan yang sampai 3 kali, khutbah 3 bahasa, bahkan Qur'an dengan gaya tulisan yang nggak biasa. Tapi itulah seninya sholat di negara lain.

Setelah sholat, saya ke halal fastfood restaurant deket masjid. Dari sana, saya meluncur ke Covent Garden untuk cari barang titipan Bunga. Walaupun deket, tapi saya harus ganti 3 kali Tube. Dari Hammersmith, Northern, nyambung ke Piccadilly line. Begitu sampe, mmm... OK, agak2 bingung ternyata. Instruksi Bunga, keluar dari stasiun belok kanan. Tapi saya belok kanan malah ada Covent Garden Market dengan ratusan toko berjejer di sana. Keren juga tempatnya. Anyway, setelah muter2 nggak jelas kebingungan, pas banget saya nemu denah Covent Garden. Liat index, taddaaa.. ketemu deh. Saya langsung ke sana. Tanpa basa basi langsung gesek, cabut deh. Bingung mau ke mana, saya cuma liat2 sekitar sambil fotoin beberapa bangunan. Sambil jalan nyari Tube terdekat untuk pulang karena ngerasa udah nggak ada tujuan lagi, eh tiba2 di sudut mata ngeliat kapal ferry. Ternyata Thames River. Huaa.. Tanpa basa basi saya langsung meluncur ke arah sungai, nyebrang jembatan, keliatanlah semua. Mulai dari London Eye, Big Ben, Gedung Parlemen, Westminster Abbey, dsb. Akhirnya saya putusin untuk jalan kaki ke sana. Sambil jalan, saya foto beberapa spot menarik. Dalam waktu kurang dari satu jam, saya udah sampe di semua tempat yang saya liat dari jembatan di kejauhan tadi. Dengan cueknya saya foto diri sendiri karena ngerasa nggak enak kalo minta tolong foto terus hehehe.. Saya berkeliaran di daerah Big Ben tanpa peta. Jadi saya gambling aja untuk nemu underground terdekat untuk pulang. Sambil jalan, saya lewat Downing Street dan ketemu Trafalgar Square. Sayang udah malem, jadi saya nggak foto2 di sana.

Kaki rasanya capek banget. Di saat yang sama, saya baru inget bag hanger pesenan temen. Karena udah gelap (meskipun masih jam 5-an) dan capek, saya akhirnya putusin untuk pulang. Besok lanjut jalan lagi aja. Entah ke mana. Wales, Greenwich, atau ke Scotland sekalian. Gimana cuaca, mood, uang, dan hasil survei nanti malem ^_^

19 November 2009

Long Trip to London (3)

Kemarin (18/11) akhirnya agenda social event yang diselenggarain sama penyelenggara kursus terlaksana juga. Kami nonton Jersey Boys di Prince Edward Theatre, Old Compton Street. Kalo mau ke sana gampang, tinggal naik Central Line, turun di Tottenham Court Road Underground. Persis di ujung timur Oxford Street.
Cerita drama ini terinspirasi dari kisah nyata Frankie Valli dan The Four Seasons. Mereka yang berasal dari working class di jalanan New Jersey, dengan logat Jersey yang kental, menghadapi lika liku menuju ketenaran sebagai kelompok vokal legendaris di AS. Lagu2nya keren, kayak Can't Take My Eyes Off of You, Big Girls Don't Cry, sampai Walk Like a Man. Suara para pemain sekaligus penyanyinya top abis. Haaahh.. masih kerekam jelas banget di otak teater tadi malem. Sebanding lah dengan harga tiketnya yang 60 pounds. Wah, pokoknya highly recommended deh. Kalo ada yang mau nonton, dateng aja ke sana. Dijamin nggak bakalan nyesel ^_^

17 November 2009

Long Trip to London (2)

Hari kedua di London, saya berangkat kursus tadi pagi naik Tube dari Colindale ke Bank. Waktu tempuh satu jam sharp, mulai dari wisma sampai Bank of England, termasuk jalan kaki. Sepanjang jalan, saya belajar dan liat banyak hal. Pertama, di sini mereka sangat suka baca, entah itu buku, koran, atau lainnya. Kedua, tertib yang nggak ada duanya. Mulai dari eskalator, masuk stasiun, sampe nyebrang jalan pun mereka kasih kesempatan buat pedestrian. duh keren banget dah. Kapan ya Indonesia kayak begini hihihi.. Ketiga, mereka baik dan ramah. Ngapain2 mesti bilang terima kasih. Seneng banget dengernya, secara di negeri sendiri kayaknya belum membudaya. Liat tuh adik saya sendiri, udah saya amuk berapa kali gara2 nggak sadar bilang terima kasih kalau habis berinteraksi sama orang hihihi..
Kesan pertama liat London, FANTASTIC. Setelah seharian kemarin terkurung di country side London, Colindale, yang masuk Zone 4, akhirnya liat kota London asli, lengkap dengan hiruk pikuk kendaraan dan bule yang berseliweran, double decker, dan penumpang Tube yang berdesakan buat nyari sesuap nasi, eh.. roti ;p
Sampai di Bank of England, bangunannya duh klasik banget. Sayang nggak boleh difoto. Untuk kursus hari pertama ini, it was good. Materinya ada yang enak, ada juga yang bikin ngantuk. Yang jelas, pesertanya pinter2. Pinter ngomong Inggris jelas, tapi mereka juga pinter secara keilmuan. Pinter bersosialisasi juga. Kalo saya mah boro2, masih a-i-u-e-o ;p
Selama acara, agak repot juga kalo lagi break dan makan. Bingung, karena takut nggak halal. Pas makan siang saya cuma makan sayur rebus. Makan malam diajak sama penyelenggara kursusnya ke Barcelona Tapas Bar. Yap, dari namanya it is the real bar. Seumur hidup akhirnya masuk bar juga. Bertentangan dengan prinsip selama ini sih. Hiks, I felt guilty and terribly sorry. Bahkan sepanjang acara saya nggak banyak dengerin apa yang lagi diomongin sama sesama pesertam, soalnya berusaha mencari pembenaran buat tindakan saya malam tadi. Saya beranggapan, toh saya nggak minum alkohol. Makanan di sana juga nggak saya sentuh karena nggak jelas statusnya. Yang saya minum cuma pure orange juice. Yah, walaupun bisa jadi gelasnya bekas minum minuman keras dan nyucinya nggak bersih, sisanya masih ada yang nempel di pori2 gelas yang sebesar atom, bla bla bla. Hmpf.. nyesel juga. I think it's time for me to dare say no for everything what I believe in..

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar