Saya cuma mau berbagi pengalaman. Alloh menyarankan kita untuk menceritakan nikmat yang kita terima untuk menunjukkan bahwa Alloh lah yang memberikan nikmat, tentunya dengan niat yang dijaga supaya nggak riya.
Jadi gini, saya sekitar 2 bulan yang lalu sempat naik taksi ke arah Senen untuk beli barang pesanan Mama. Tanpa diduga, ketika berhenti di lampu merah Tugu Tani, taksi yang saya tumpangi ditabrak mobil dari belakang. Ternyata yang nabrak salah satu teman kantor. Saya nggak mau menegur, karena saya ingin melihat itikad baiknya. Ketika sang sopir mau minta ganti rugi, teman kantor saya itu dengan setengah memaksa ditambah wajah garangnya memberi uang ganti rugi 200 ribu. Ketika sang sopir kembali ke mobil, dia langsung bilang, "males saya urusan sama orang2 kayak gitu". Sesaat kemudian, terjadilah percakapan singkat dari Tugu Tani ke Senen. Ternyata dia tadi malas berurusan dengan teman kantor saya tadi karena dikiranya tentara (memang teman saya ini wajahnya agak garang hehehe). Dia lalu bercerita kalau dia nggak mau cari masalah juga, apalagi setelah naik haji, dia ingin berusaha menjadi orang yang sabar. Dia pun cerita tentang sulitnya hidup. Ujung cerita, dia bilang kalau biaya yang dibutuhkan untuk sekadar membetulkan bumper sekitar 500 ribu. Karena dia cuma dikasih 200 ribu, saya pun merasa iba. Saya pun memberi sejumlah uang untuk membantu dia.
Tanpa diduga sekitar sebulan kemudian, saya ditunjuk oleh bagian di kantor saya untuk dinas ke Australia. Subhanalloh. Saya yakin inilah nikmat yang Alloh janjikan. Kenapa begitu? Karena pada awalnya, orang yang mau pergi ke Australia dalam rangka dinas itu awalnya mas Haris sebagai penulis utama dan saya sebagai asisten penulis. Karena satu dan lain hal, kepala Biro saya, Pak Wijoyo, juga ingin ikut. Secara logika, karena dia kepala biro dan mas Haris sebagai penulis utama, harusnya mereka berdua yang pergi. Tapi entah bagaimana ceritanya, jadinya Pak Wijoyo dan saya yang berangkat ke Sydney. Bukankah itu sebuah nikmat? Saya pun mendapat uang perjalanan dinas yang jumlahnya hampir 100 kali lipat dari yang pernah saya berikan pada sopir taksi kala itu. Inikah janji Alloh? Saya yakin itu pasti. Segala puji memang hanya milik Alloh semata.
18 Agustus 2008
15 Agustus 2008
Penyesalan Mendalam
Sebelum kita melakukan suatu tindakan, pikirkan berulang kali sebelum kita menyesali perbuatan kita. Mungkin kalimat itu sudah sering kita dengar. Tapi kalau belum mengalaminya sendiri, kita mungkin menganggap mudah melakukannya. Tapi ternyata sebaliknya. Itu yang saya petik dari kejadian kemaren, 14/8. Memang apa yang saya lakukan sepele. Pekerjaan yang saya lakukan sudah mengalami titik jenuh karena tidak kunjung selesai. Tidak selesai bukan berarti karena tidak bisa mengerjakan, tapi pekerjaan itu selalu diubah dari hari ke hari. Mungkin maksudnya baik, yaitu demi kesempurnaan. Tapi kalau itu dilakukan sampai berhari2 dan kesan tak berujung, lama2 otak tumpul juga. Disuruh mikir ini itu juga udah males. Di akhir hari, atasan saya mulai ngomel2 lagi. Tidak terima dengan perkataan dia, saya hanya diam tapi geram. Begitu dia pulang, saya langsung mengamuk "sekadarnya" di kantor di depan teman kantor saya, Myrna. Saat itu, saya ngomel2 tentang kondisi pekerjaan dan masalah keluarga. Saya yang selama ini mencoba untuk menjadi pribadi yang sabar, tulus, ikhlas, murah senyum, istiqomah, dan ramah seketika berubah. Saya nggak tau kenapa saya bisa melakukan hal seperti itu. Entah memang saya lagi kalap, atau memang itu sifat asli saya dan baru menampakkan wajah aslinya setelah "dibangunkan"? Entahlah. Yang jelas, saya sangat menyesali perbuatan saya kemarin. Saya berjanji akan terus memperbaiki diri.
Terus terang, saya di keluarga termasuk yang temperamental. Tidak sedikit korban dari kemarahan saya, mulai dari kakak, adik, sepupu, teman sekolah, dll. Tapi semenjak sekitar tahun 2000, terjadi perubahan total dalam diri saya. Ini dipicu dari seringnya saya membaca buku agama dan mendengar ceramah mengenai manajemen qalbu dari salah seorang da'i di Bandung yang pada waktu itu mulai kondang di seantero Bandung. Mulailah saya melakukan proyek pembenahan besar2an pada diri dan kepribadian saya. Alhamdulillah itu berhasil.
Untuk minggu ini, hal kebalikan justru yang terjadi. Saya nggak tau. Apa karena saya stres (tapi saya tidak merasa stres) atau karena kemarahan yang terpendam selama ini (ini mungkin masuk akal, karena selama ini saya tidak pernah bereaksi apapun kalau dimarahi atau dikomentari yang tidak sedap). Tapi yang membuat saya menyesal adalah, kenapa saya harus bereaksi sejauh itu, dan kenapa saya tidak melakukan hal yang lebih terpuji lagi. Ketimbang marah pada orang dan keadaan, lebih baik berzikir dan berdoa, sholat dan mohon ampun. Astaghfirulloh.... Semoga Alloh SWT selalu menuntun saya ke arah yang lebih baik dan menjadi pribadi yang diharapkanNya. Amin.
Terus terang, saya di keluarga termasuk yang temperamental. Tidak sedikit korban dari kemarahan saya, mulai dari kakak, adik, sepupu, teman sekolah, dll. Tapi semenjak sekitar tahun 2000, terjadi perubahan total dalam diri saya. Ini dipicu dari seringnya saya membaca buku agama dan mendengar ceramah mengenai manajemen qalbu dari salah seorang da'i di Bandung yang pada waktu itu mulai kondang di seantero Bandung. Mulailah saya melakukan proyek pembenahan besar2an pada diri dan kepribadian saya. Alhamdulillah itu berhasil.
Untuk minggu ini, hal kebalikan justru yang terjadi. Saya nggak tau. Apa karena saya stres (tapi saya tidak merasa stres) atau karena kemarahan yang terpendam selama ini (ini mungkin masuk akal, karena selama ini saya tidak pernah bereaksi apapun kalau dimarahi atau dikomentari yang tidak sedap). Tapi yang membuat saya menyesal adalah, kenapa saya harus bereaksi sejauh itu, dan kenapa saya tidak melakukan hal yang lebih terpuji lagi. Ketimbang marah pada orang dan keadaan, lebih baik berzikir dan berdoa, sholat dan mohon ampun. Astaghfirulloh.... Semoga Alloh SWT selalu menuntun saya ke arah yang lebih baik dan menjadi pribadi yang diharapkanNya. Amin.
09 Agustus 2008
Makanan Halal susah susah gampang dicari
Pengalaman saya selama ini, apalagi sejak bekerja, ternyata susah2 gampang ya cari makanan halal.
Pertama, kalau ada acara syukuran teman kantor yang baru mendapat rejeki lebih, terkadang mereka mentraktir ke restoran2 elit, mahal, dan yang berasal dari LN. Tapi terkadang sebelum makan, kalau saya iseng nanya ke mbah Google, restoran itu belum mendapat sertifikat halal dari MUI, atau senggaknya ada pengakuan kehalalan produk mereka dari pihak manajemen restoran tersebut (seperti salah satu restoran junk food di London yang mengkonfirmasi kalau ayam mereka tidak halal).
Kedua, oleh2 dari teman2 sepulang dinas dari LN terkadang mengandung alkohol yang tidak disadari. Setiap mau makan coklat, saya harus googling dulu untuk memastikan bahwa coklat tersebut halal.
Ketiga, selama di Australia, saya kesulitan mencari makanan halal. Meskipun orang2 menganggap "ya udah makan aja, yang penting bukan B*** dan alkohol" tapi kan tetep aja, kalau makanan nggak disembelih dengan cara syar'i ya jadi nggak halal. Makanya saya tetap nggak makan makanan junk food meskipun hanya ayam goreng.
Disamping kendala menemukan makanan halal, orang sekarang sepertinya sudah mulai bergeser cara pandangnya terhadap makanan halal. Tapi kalau saya pribadi sih nggak mau ikut campur dengan pandangan mereka. Saya hanya berusaha menjalankan ajaran agama sesuai yang dituntunkan dengan baik ^_^
Pertama, kalau ada acara syukuran teman kantor yang baru mendapat rejeki lebih, terkadang mereka mentraktir ke restoran2 elit, mahal, dan yang berasal dari LN. Tapi terkadang sebelum makan, kalau saya iseng nanya ke mbah Google, restoran itu belum mendapat sertifikat halal dari MUI, atau senggaknya ada pengakuan kehalalan produk mereka dari pihak manajemen restoran tersebut (seperti salah satu restoran junk food di London yang mengkonfirmasi kalau ayam mereka tidak halal).
Kedua, oleh2 dari teman2 sepulang dinas dari LN terkadang mengandung alkohol yang tidak disadari. Setiap mau makan coklat, saya harus googling dulu untuk memastikan bahwa coklat tersebut halal.
Ketiga, selama di Australia, saya kesulitan mencari makanan halal. Meskipun orang2 menganggap "ya udah makan aja, yang penting bukan B*** dan alkohol" tapi kan tetep aja, kalau makanan nggak disembelih dengan cara syar'i ya jadi nggak halal. Makanya saya tetap nggak makan makanan junk food meskipun hanya ayam goreng.
Disamping kendala menemukan makanan halal, orang sekarang sepertinya sudah mulai bergeser cara pandangnya terhadap makanan halal. Tapi kalau saya pribadi sih nggak mau ikut campur dengan pandangan mereka. Saya hanya berusaha menjalankan ajaran agama sesuai yang dituntunkan dengan baik ^_^
31 Juli 2008
Overtime
Hmm...
Kalo dipikir2, udah sebulanan ini saya lembur terus. Sampe2 nge-blog udah jarang :p
Tapi iya lho. Kemaren kan sibuk nyelesaiin model Balance of Payments. Jeda seminggu, saya dinas ke Sydney. Pulang dari sana, saya langsung ikut workshop Data Panel di kantor. Termasuk weekend dan sampe malem pula. Habis itu, diserang habis2an dengan kerjaan yang mepet. Tugas rutin saya untuk bikin buku Indonesian Economic Outlook setahun dua kali untuk edisi kali ini dipercepat jadi akhir Juli (dari yang biasanya akhir Agustus). Artinya dari sejak pelatihan data panel, saya dan tim di sini cuma punya waktu kurang lebih 2-3 minggu aja untuk nyelesaiin buku itu. Kebayang kan padatnya. Mulai dari minta data ke BPS, studi literatur untuk riset yang disisipkan di buku itu, bikin bahan tayangan untuk tingkat biro, belum lagi, interpretasi model yang kita bikin. Pheww.... Melelahkan dan padat, tapi saya bener2 seneng lho. Nggak tau kenapa. Tapi kalo nggak banyak kerja rasanya gimannaaa gitu. Kalo kerja gini, sampe malem (kecuali kalo udah nikah lain cerita :p), dan ada produknya yang tidak mengecewakan, rasanya bangga. Bisa memberi sesuatu buat kantor dan bangsa pastinya :)
Bos saya bilang, nanti begitu kerjaan ini selesai, kita bebas mau ambil cuti kapan, ke mana aja terserah (pastinya tetep di koridor ketentuan yang berlaku). Yippiieee.... Can't wait ^_^
Kalo dipikir2, udah sebulanan ini saya lembur terus. Sampe2 nge-blog udah jarang :p
Tapi iya lho. Kemaren kan sibuk nyelesaiin model Balance of Payments. Jeda seminggu, saya dinas ke Sydney. Pulang dari sana, saya langsung ikut workshop Data Panel di kantor. Termasuk weekend dan sampe malem pula. Habis itu, diserang habis2an dengan kerjaan yang mepet. Tugas rutin saya untuk bikin buku Indonesian Economic Outlook setahun dua kali untuk edisi kali ini dipercepat jadi akhir Juli (dari yang biasanya akhir Agustus). Artinya dari sejak pelatihan data panel, saya dan tim di sini cuma punya waktu kurang lebih 2-3 minggu aja untuk nyelesaiin buku itu. Kebayang kan padatnya. Mulai dari minta data ke BPS, studi literatur untuk riset yang disisipkan di buku itu, bikin bahan tayangan untuk tingkat biro, belum lagi, interpretasi model yang kita bikin. Pheww.... Melelahkan dan padat, tapi saya bener2 seneng lho. Nggak tau kenapa. Tapi kalo nggak banyak kerja rasanya gimannaaa gitu. Kalo kerja gini, sampe malem (kecuali kalo udah nikah lain cerita :p), dan ada produknya yang tidak mengecewakan, rasanya bangga. Bisa memberi sesuatu buat kantor dan bangsa pastinya :)
Bos saya bilang, nanti begitu kerjaan ini selesai, kita bebas mau ambil cuti kapan, ke mana aja terserah (pastinya tetep di koridor ketentuan yang berlaku). Yippiieee.... Can't wait ^_^
22 Juli 2008
Long time no see
Akhirnya bisa nulis blog lagi. Udah lama nggak nulis rasanya kangen juga. Banyak cerita juga yang terjadi selama saya nggak nulis. Yang jelas, seperti manusia2 lain, saya selain menjalani rutinitas, juga menemui banyak hal baru dan mengesankan setiap harinya.
Yang paling berkesan dalam bulan ini, my very first time going abroad :)
Saya ke Australia untuk menghadiri seminar mengenai perdagangan Asia Pasifik di Sydney, 14-15 Juli lalu. Awalnya sih Kepala Biro saya, Pak Wijoyo, yang akan presentasi mewakili kantor.
Ternyata, tanpa diduga, hanya beberapa jam setelah kami tiba di sana pada Minggu siang, beliau mendapat kabar kalau ayahandanya meninggal dunia. Alhasil, dia langsung pulang lagi ke Indonesia. Karena acara seperti tidak mungkin ditinggalkan begitu saja, akhirnya saya diminta untuk menggantikan dia presentasi keesokan harinya.
Alhamdulillah dengan pertolongan Alloh SWT saya bisa menjalani misi tersebut dengan baik. Pengalaman baru, pertama ke luar negeri sendiri (karena jadwal penerbangan saya dengan Kepala Biro beda), presentasi dalam bahasa Inggris sendirian mewakili institusi negara. Wow.... sensasi luar biasa deh pokoknya.
Hari kedua seminar, saya nggak ikutan, soalnya pas hari Minggu nggak sempet jalan2 :p Akhirnya saya memutuskan untuk mulai jalan2 jam 7 pagi, pas matahari baru terbit, di musim dingin begini. Saya jalan kaki ke downtown melewati taman Victoria Park, terus sampai Circular Quay. Di sana saya melihat berbagai objek menarik di Sydney, mulai dari Sydney Opera House, Harbour Bridge, sampai Luna Park di Miller's Point. Kesan saya selama traveling ke sana... Hmm.. Bersih, tertib, disiplin, maju, dan segudang kata lainnya yang berasosiasi dengan itu :D
Oia, cari makanan halal di sana agak sulit. Di pusat kota untung ada Cafe Kasturi, punya orang Malaysia. Dia ada di sudut jalan George St. dan Valentine St. Nggak terlalu jauh dari Railway Square kok.
Kesulitan yang saya temui selama di sana kayaknya cuma makanan dan udara dingin :p Saya padahal udah persiapan bawa lotion supaya kulit nggak kering. Tapi nggak ngaruh. Sampai di Bali pas transit menuju pulang ke Jakarta, kulit pecah2.
Beberapa saran saya kalau mau bepergian ke luar negeri berdasarkan pengalaman:
Jangan bawa benda berbentuk cair, liquid, aerosol dan sejenisnya melebihi 100 ml per kemasan dan jangan melebihi 1 liter secara total; bawa koper yang besar tapi isi dengan barang seefisien mungkin karena siapa tau bakal banyak bawa oleh2, apalagi batas max bagasi 20 kg saja; bawa lotion setiap kali pergi keluar rumah; cari informasi sebanyak2nya tentang tempat wisata, akses transportasi massal, toko souvenir, peta kota, juga mesjid, jadwal sholat dan restoran halal bagi yang muslim; kalau bisa sudah punya kartu kredit untuk memudahkan berbagai transaksi keuangan di sana; jangan lupa untuk menukarkan rupiah dengan mata uang negara tujuan di Indonesia, karena jatuhnya lebih murah daripada kita beli di sana; jangan lupa untuk bawa travel adapter (colokan listrik untuk berbagai bentuk) karena seringkali tempat colokan listrik beda banget sama di Indonesia; dan satu lagi, jangan lupa daftarkan nomor ponsel kita untuk international roaming.
Nanti kalo ada tips lain, saya kasih tau lagi :)
Yang paling berkesan dalam bulan ini, my very first time going abroad :)
Saya ke Australia untuk menghadiri seminar mengenai perdagangan Asia Pasifik di Sydney, 14-15 Juli lalu. Awalnya sih Kepala Biro saya, Pak Wijoyo, yang akan presentasi mewakili kantor.
Ternyata, tanpa diduga, hanya beberapa jam setelah kami tiba di sana pada Minggu siang, beliau mendapat kabar kalau ayahandanya meninggal dunia. Alhasil, dia langsung pulang lagi ke Indonesia. Karena acara seperti tidak mungkin ditinggalkan begitu saja, akhirnya saya diminta untuk menggantikan dia presentasi keesokan harinya.
Alhamdulillah dengan pertolongan Alloh SWT saya bisa menjalani misi tersebut dengan baik. Pengalaman baru, pertama ke luar negeri sendiri (karena jadwal penerbangan saya dengan Kepala Biro beda), presentasi dalam bahasa Inggris sendirian mewakili institusi negara. Wow.... sensasi luar biasa deh pokoknya.
Hari kedua seminar, saya nggak ikutan, soalnya pas hari Minggu nggak sempet jalan2 :p Akhirnya saya memutuskan untuk mulai jalan2 jam 7 pagi, pas matahari baru terbit, di musim dingin begini. Saya jalan kaki ke downtown melewati taman Victoria Park, terus sampai Circular Quay. Di sana saya melihat berbagai objek menarik di Sydney, mulai dari Sydney Opera House, Harbour Bridge, sampai Luna Park di Miller's Point. Kesan saya selama traveling ke sana... Hmm.. Bersih, tertib, disiplin, maju, dan segudang kata lainnya yang berasosiasi dengan itu :D
Oia, cari makanan halal di sana agak sulit. Di pusat kota untung ada Cafe Kasturi, punya orang Malaysia. Dia ada di sudut jalan George St. dan Valentine St. Nggak terlalu jauh dari Railway Square kok.
Kesulitan yang saya temui selama di sana kayaknya cuma makanan dan udara dingin :p Saya padahal udah persiapan bawa lotion supaya kulit nggak kering. Tapi nggak ngaruh. Sampai di Bali pas transit menuju pulang ke Jakarta, kulit pecah2.
Beberapa saran saya kalau mau bepergian ke luar negeri berdasarkan pengalaman:
Jangan bawa benda berbentuk cair, liquid, aerosol dan sejenisnya melebihi 100 ml per kemasan dan jangan melebihi 1 liter secara total; bawa koper yang besar tapi isi dengan barang seefisien mungkin karena siapa tau bakal banyak bawa oleh2, apalagi batas max bagasi 20 kg saja; bawa lotion setiap kali pergi keluar rumah; cari informasi sebanyak2nya tentang tempat wisata, akses transportasi massal, toko souvenir, peta kota, juga mesjid, jadwal sholat dan restoran halal bagi yang muslim; kalau bisa sudah punya kartu kredit untuk memudahkan berbagai transaksi keuangan di sana; jangan lupa untuk menukarkan rupiah dengan mata uang negara tujuan di Indonesia, karena jatuhnya lebih murah daripada kita beli di sana; jangan lupa untuk bawa travel adapter (colokan listrik untuk berbagai bentuk) karena seringkali tempat colokan listrik beda banget sama di Indonesia; dan satu lagi, jangan lupa daftarkan nomor ponsel kita untuk international roaming.
Nanti kalo ada tips lain, saya kasih tau lagi :)
18 Juni 2008
Kawinan
Hmm... Hari Sabtu (14/6) kemarin, saya menghadiri pernikahan mas Awan, kakaknya Latif. Bukan menghadiri, tapi ikut menyemarakkan tepatnya :) Saya diminta jadi pager bagus (kurang lebih begitu) selama acara berlangsung, termasuk Doni. Saya dimintai tolong ngeliat dekorasi gedung dinihari menjelang acara. Akhirnya saya ke Hotel Atlet Century Park di Senayan untuk menginap karena udah di-booking-in keluarganya Latif, lalu ke gedung sekitar jam 2 sampai jam setengah 4.
Capek dan ngantuk sih. Tapi seru deh, ngeliat proses menuju resepsi dengan segala detailnya yang harus diperhatikan. Kebayang ya nanti kalo nikah gimana repotnya :P
Singkat cerita, tibalah acara yang dinanti. Setelah antri untuk dipakaikan beskap, akhirnya saya siap menjalankan misi. Karena bingung harus ngapain (dan nggak di-brief sebelumnya harus ngapain) akhirnya saya berinisiatif jaga di depan sambil menyambut para tamu yang datang. Anyway, tau nggak? Acaranya meriah dan spektakuler lho menurut saya. Kenapa? Soalnya ada acara tariannya. Namanya apa ya? Kalo nggak salah Panembahan Pare Anom (maaf kalau salah). Penarinya bener2 nunjukin kalo ini adalah kawinan adat Jawa. Belum lagi pagelaran tari Gatotkaca. Sayang, karena saya jaga di depan, jadi saya nggak terlalu bisa melihat tariannya dengan jelas. FYI, mereka juga sebenernya kerabat dari Mangkunegaran II. Jadi, adat Jawa sangat kental terasa di sana. Warna dekorasi dan baju pengantin juga bernuansa hijau dan kuning, warna khas Mangkunegaran katanya. Duh, jadi pengen deh nikah pake adat Jawa pas resepsi nanti :D Tapi berhubung ada darah Padang, saya pengennya sih ada resepsi adat Minang juga.
Speaking of marriage, dua bulan ini sudah ada 4 pernikahan teman2, minggu depan ada 2, bulan depan ada 2 juga. Duh, kayaknya lagi musim kawin nih. Kapan nyusul ya? *wondering*
06 Juni 2008
Long journey ^_^
Weekend kemaren bener2 capek deh.
Hari Sabtu (31/5) saya ke Bandung. Begitu sampe sana sekitar jam 11 siang, saya langsung meluncur ke Pasar Baru. Seperti biasa. Kalo saya ke sana, pasti membawa misi, yaitu beli barang pesenan ibunda tercinta :) Setelah muter2, akhirnya saya dapet satu dari dua pesenan ibu. Setelah itu, saya ke Palaguna Nusantara untuk beli kosmetik pesenan ibu di tempat langganannya. Dari sana, saya meluncur ke daerah Braga. Awalnya sih mau nyari selimut pesenan ibu, tapi ternyata tokonya tutup (apa nggak ada ya? soalnya papan namanya udah nggak ada :p). Karena nggak dapet, saya langsung meluncur ke warung nasi timbel Suniaraja di Jl. Merdeka depan Hotel Panghegar persis. Selesai makan, saya ke Braga CitiWalk deh. Belanja
di Carrefour, secara saya punya voucher Rp.100.000 dan masa berlakunya sampe tgl 31/5 hihihi… Belanjanya mepet di hari terakhir. Yang penting kan vouchernya kepake :D
Dari sana, saya baru ketemuan sama adek saya , Iwan, dan pacarnya Fitri di CiWalk. Katanya sih mereka bareng temen2 Fitri. Tapi kami nggak ketemuan, karena teman2nya pada pengen jalan2 sendiri. Oia, di sana sempet muter2 bentar nyari kemeja dan celana buat acara di Bali. Tapi ternyata nggak ada yang bagus. Ya udah, akhirnya kami ke BSM. Di sana akhirnya nemu juga kemeja yang cocok. Mahal sih, tapi diskon jadi ga terlalu berat ngelepas duitnya :P Oia, di sana sempet maen Dance Revolution lho. Udah lama nggak maen. Jadi pengen deh punya game-nya. Ga berasa ternyata sampe malem kami di sana. Akhirnya kami cari tempat makan.
Iwan pengennya di Rumah Makan Sulawesi di Setiabudi. Ya udah, akhirnya kami ke sana. Waw, di sana ternyata ada lobster. Berhubung nggak pernah nyoba, saya pilih itu deh. Enak banget makanannya ternyata. Suasananya juga cozy. Suasana Sulawesi banget, lengkap dengan orang2 berlogat Makassar dan lagu2 khas Sulawesi. Selama makan, teman2 adek (Donna, Shenni, sama sapa satu lagi lupa :p) dateng menyusul ke restoran setelah mereka muter2 sekitar Bandung seharian. But anyway, pas mau bayar, saya baru tau kalo harga lobsternya 300.000, lebih dari setengah total bill. Buseett…. Mahal amat. Tapi ya sudahlah. itu harga yang harus dibayar demi pengalaman makan lobster enak. Malam makin larut. Saya putusin untuk pulang, nggak ikut adek yang katanya masih mau nongkrong di Sierra, Dago Pakar. Maklum, orang kantoran, biasanya udah capek kerja duluan, jadinya biasanya jam 10 udah tidur. 
Hari Minggu (1/6) kami pergi lagi.sekarang giliran FO sekitaran Dago yang diobok2. Muter2 beberapa jam, saya akhirnya beli sandal Donatello. Maklum, sandalnya udah jelek. Saya sih emang gitu, kalo barang udah rusak banget, baru deh saya ganti yang baru :) Selesai belanja,
baru deh makan di Rumah Pasta sekitaran ITB. Saya baru pertama makan ke tempat itu. ternyata enak juga ya. Cuma sayang, saya pesennya medium karena ngiranya yang large bakal terlalu banyak porsinya, eh ternyata nggak tuh. Nyesel deh. Lain kali kalo makan di sana pesen yang large ah.
Hari makin sore, di sinilah awal rasa capek berasal. Iwan dan Fitri ngajakin saya pulang bareng ke Jakarta naek mobilny Donna. Nah, berhubung Iwan mau ambil barangnya dulu di Soreang, pergilah kami ke sana. Yah, namanya Soreang, pasti harus lewat Cibaduyut. Macet deh. Singkat cerita, sekitar setengah 8 malem baru sampe sana. Cabut dari sana ke Jakarta jam 8-an malem, sampe Cikampek untuk makan malem di Solaria sekitar jam 10 malem, sampe di kosan Fitri dan Shenni jam setengah 12 malem, sampe rumah Donna jam 12-an, sampe kosan jam 1 dinihari, selesai packing dan telp Blue Bird jam setengah 2. Tidur, bangun shubuh, langsung cabut jam setengah 6 ke bandara. Jam 7 check in, jam 8 take off deh. Sekitar jam 11.30 saya sampe di Ngurah Rai, Bali. Begitu sampai, saya langsung dijemput, diantar ke Hotel Conrad, Tanjung Benoa-Nusa Dua. Beres2 bentar, langsung kerja. Di tengah2 kerjaan, saya disuruh mem-back up temen kantor, mas Ferry, untuk jemput tamu2 asing di bandara karena jadwal kedatangan mereka berdekatan. Alhasil, saya harus menjemput tamu2 asing sampe jam 12 malem. Fiuh, kebayang kan? Hehehe… tapiiii…. Asik banget lho jemput tamu2 asing itu. Selain kenal orang baru dari luar negeri, saya juga seneng karena bisa praktik bahasa Inggris secara langsung. Dan ternyata, mereka tuh ramah2 dan baek2 banget lho. Apalagi Jepang dan Korea. Saya sempet ngobrol panjang lebar sama Nobuyuki Oda dan Jong Shik Lee. Cerita2 mereka sangat menyenangkan. Jadi pengen deh maen ke sana. Oia, di akhir hari penyelenggaraan workshop, saya mengantar Mr. Lee dan istrinya ke bandara. Mereka secara mengejutkan ngasih souvenir koin Korea. Waaahh…. Seneng banget. Terharu deh. Saya nggak nyangka aja. Duh, baik banget ya mereka itu. saya bener2 sangat terkesan dengan mereka. Saya jadi tau rasanya dibahagiakan. Jadi terpacu nih buat ngebahagiain orang lain. semoga saya dimampukan ya ^_^
Saya baru tau juga, kalo ternyata apa yang sudah menjadi tugas saya, begitu pelaksanaannya belum tentu sesuai. Saya yang tadinya ditugasin ngerjain administrasi dan koordinator tour, malah jadi LO seharian. Jadi koordinator tournya gagal karena apa coba? Ketinggalan bus karena sholat dulu :p tapi yah, apapun itu, Alhamdulillah acaranya sukses dan berjalan dengan baik. Kekurangan dan kekecewaan pasti ada, tapi nggak sebanding dengan hasil dan kepuasan yang dicapai. Seneng deh…
Hari Rabu (4/6) pas saya ketinggalan acara tour, saya akhirnya jalan2 sendirian di seputar Kuta. Niat mau liat sunset, ternyata ketutupan awan, kecewa deh. Tapi rasa kecewanya terobati, karena akhirnya saya tau kayak apa sih Poppies Lane dan Tugu Bali Bombing itu. Karena lapar, saya cepat2 pulang ke hotel untuk ikut dengan sebagian rombongan untuk menuju Jimbaran, tempat acara makan malam dengan tamu2 asing itu berlangsung. Saya naik taksi dari Jl. Tuban deket Joger, sampe ke Hotel Conrad habis 55 ribu. Emang sih pas buka pintu argonya 5000 kayak di Jakarta, tapi ternyata tarifnya 4000/km, sedangkan di Jakarta Blue Bird aja 2500/km. mending sewa mobil aja kalo mau jalan2 lama dan nggak terlalu kepepet. Ada kok yang nyewain 170 ribu per hari.
Setelah kerja yang melelahkan, akhirnya pulang juga kemaren siang. Selesai beres2, tidur deh seharian hihihihi… hmm… kapan ya ke Bali lagi? Tapi liburan, bukan kerja hehehe...
Hari Sabtu (31/5) saya ke Bandung. Begitu sampe sana sekitar jam 11 siang, saya langsung meluncur ke Pasar Baru. Seperti biasa. Kalo saya ke sana, pasti membawa misi, yaitu beli barang pesenan ibunda tercinta :) Setelah muter2, akhirnya saya dapet satu dari dua pesenan ibu. Setelah itu, saya ke Palaguna Nusantara untuk beli kosmetik pesenan ibu di tempat langganannya. Dari sana, saya meluncur ke daerah Braga. Awalnya sih mau nyari selimut pesenan ibu, tapi ternyata tokonya tutup (apa nggak ada ya? soalnya papan namanya udah nggak ada :p). Karena nggak dapet, saya langsung meluncur ke warung nasi timbel Suniaraja di Jl. Merdeka depan Hotel Panghegar persis. Selesai makan, saya ke Braga CitiWalk deh. Belanja
Dari sana, saya baru ketemuan sama adek saya , Iwan, dan pacarnya Fitri di CiWalk. Katanya sih mereka bareng temen2 Fitri. Tapi kami nggak ketemuan, karena teman2nya pada pengen jalan2 sendiri. Oia, di sana sempet muter2 bentar nyari kemeja dan celana buat acara di Bali. Tapi ternyata nggak ada yang bagus. Ya udah, akhirnya kami ke BSM. Di sana akhirnya nemu juga kemeja yang cocok. Mahal sih, tapi diskon jadi ga terlalu berat ngelepas duitnya :P Oia, di sana sempet maen Dance Revolution lho. Udah lama nggak maen. Jadi pengen deh punya game-nya. Ga berasa ternyata sampe malem kami di sana. Akhirnya kami cari tempat makan.
Hari Minggu (1/6) kami pergi lagi.sekarang giliran FO sekitaran Dago yang diobok2. Muter2 beberapa jam, saya akhirnya beli sandal Donatello. Maklum, sandalnya udah jelek. Saya sih emang gitu, kalo barang udah rusak banget, baru deh saya ganti yang baru :) Selesai belanja,
Hari makin sore, di sinilah awal rasa capek berasal. Iwan dan Fitri ngajakin saya pulang bareng ke Jakarta naek mobilny Donna. Nah, berhubung Iwan mau ambil barangnya dulu di Soreang, pergilah kami ke sana. Yah, namanya Soreang, pasti harus lewat Cibaduyut. Macet deh. Singkat cerita, sekitar setengah 8 malem baru sampe sana. Cabut dari sana ke Jakarta jam 8-an malem, sampe Cikampek untuk makan malem di Solaria sekitar jam 10 malem, sampe di kosan Fitri dan Shenni jam setengah 12 malem, sampe rumah Donna jam 12-an, sampe kosan jam 1 dinihari, selesai packing dan telp Blue Bird jam setengah 2. Tidur, bangun shubuh, langsung cabut jam setengah 6 ke bandara. Jam 7 check in, jam 8 take off deh. Sekitar jam 11.30 saya sampe di Ngurah Rai, Bali. Begitu sampai, saya langsung dijemput, diantar ke Hotel Conrad, Tanjung Benoa-Nusa Dua. Beres2 bentar, langsung kerja. Di tengah2 kerjaan, saya disuruh mem-back up temen kantor, mas Ferry, untuk jemput tamu2 asing di bandara karena jadwal kedatangan mereka berdekatan. Alhasil, saya harus menjemput tamu2 asing sampe jam 12 malem. Fiuh, kebayang kan? Hehehe… tapiiii…. Asik banget lho jemput tamu2 asing itu. Selain kenal orang baru dari luar negeri, saya juga seneng karena bisa praktik bahasa Inggris secara langsung. Dan ternyata, mereka tuh ramah2 dan baek2 banget lho. Apalagi Jepang dan Korea. Saya sempet ngobrol panjang lebar sama Nobuyuki Oda dan Jong Shik Lee. Cerita2 mereka sangat menyenangkan. Jadi pengen deh maen ke sana. Oia, di akhir hari penyelenggaraan workshop, saya mengantar Mr. Lee dan istrinya ke bandara. Mereka secara mengejutkan ngasih souvenir koin Korea. Waaahh…. Seneng banget. Terharu deh. Saya nggak nyangka aja. Duh, baik banget ya mereka itu. saya bener2 sangat terkesan dengan mereka. Saya jadi tau rasanya dibahagiakan. Jadi terpacu nih buat ngebahagiain orang lain. semoga saya dimampukan ya ^_^
Saya baru tau juga, kalo ternyata apa yang sudah menjadi tugas saya, begitu pelaksanaannya belum tentu sesuai. Saya yang tadinya ditugasin ngerjain administrasi dan koordinator tour, malah jadi LO seharian. Jadi koordinator tournya gagal karena apa coba? Ketinggalan bus karena sholat dulu :p tapi yah, apapun itu, Alhamdulillah acaranya sukses dan berjalan dengan baik. Kekurangan dan kekecewaan pasti ada, tapi nggak sebanding dengan hasil dan kepuasan yang dicapai. Seneng deh…
Hari Rabu (4/6) pas saya ketinggalan acara tour, saya akhirnya jalan2 sendirian di seputar Kuta. Niat mau liat sunset, ternyata ketutupan awan, kecewa deh. Tapi rasa kecewanya terobati, karena akhirnya saya tau kayak apa sih Poppies Lane dan Tugu Bali Bombing itu. Karena lapar, saya cepat2 pulang ke hotel untuk ikut dengan sebagian rombongan untuk menuju Jimbaran, tempat acara makan malam dengan tamu2 asing itu berlangsung. Saya naik taksi dari Jl. Tuban deket Joger, sampe ke Hotel Conrad habis 55 ribu. Emang sih pas buka pintu argonya 5000 kayak di Jakarta, tapi ternyata tarifnya 4000/km, sedangkan di Jakarta Blue Bird aja 2500/km. mending sewa mobil aja kalo mau jalan2 lama dan nggak terlalu kepepet. Ada kok yang nyewain 170 ribu per hari.
Setelah kerja yang melelahkan, akhirnya pulang juga kemaren siang. Selesai beres2, tidur deh seharian hihihihi… hmm… kapan ya ke Bali lagi? Tapi liburan, bukan kerja hehehe...
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- Oki Jelly
- Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar