Ya,,,, ayat-ayat cinta.
Itu yang terlintas dalam pikiran saya mengenai tema yang ingin saya angkat kali ini. Saya sangat terkesan dengan film Ayat-ayat Cinta ini, bahkan saya berani mengatakan inilah film terbaik yang pernah saya lihat. Jangan lihat film ini hanya dari sisi romantisme, alur cerita, pemeran, atau lokasi syutingnya yang eksotis. Tapi lihatlah makna yang diusungnya. Benar2 menohok, mengena dan menyentuh dengan sangat dalam.
Bagaimana tidak. Film ini mengajarkan apa arti Islam sesungguhnya-yakni kesederhanaan, kesabaran, dan keikhlasan-, bagaimana mengarungi rumah tangga yang sakinah melalui pernikahan yang suci dan sakral antara dua manusia dengan niat hanya karena Alloh SWT melalui ta'aruf, bagaimana pengorbanan seorang istri yang rela berbagi cinta demi keselamatan sang suami (bukan sembarang poligami yang sering dilakukan orang dengan niat yang tidak semestinya), sampai pengajaran mengenai bagaimana kejamnya fitnah.
Pastinya film memiliki dampak yang berbeda-beda bagi setiap orang, tapi yang jelas, film ini benar2 telah menyadarkan saya akan banyak hal. Itu yang membuat saya tidak kuasa menahan tangis ketika menonton film ini. Betapa saya ini lemah di hadapan Alloh, betapa bergelimangnya dosa yang saya pikul tanpa peduli sudah sejauh apa saya berbuat baik pada diri sendiri, keluarga, agama, dan orang lain. Saya pun menjadi semakin ikhlas dan menerima apa adanya atas apa yang saya alami. Di saat yang bersamaan, saya menyadari betapa sulitnya mencari pasangan hidup yang tulus ikhlas menerima saya -terlebih karena banyaknya kekurangan-, tanpa dipengaruhi hasrat dunia mengenai materi. Ya Alloh, hamba sungguh ikhlas atas apa yang telah terjadi pada diri hamba. Hamba Insya Alloh akan tetap istiqomah di jalanMu, dan pasrah atas ketentuan yang Engkau tetapkan. Yang ingin hamba lakukan hanya berbuat baik sebanyak2nya selagi hamba di dunia, menjadikan diri hamba tidak pernah sia-sia hadir di sini. Amin.
03 Maret 2008
25 Februari 2008
Phewww....!!!
Setelah mengalami masa padat dalam bekerja, terbukti dengan beberapa kali lembur pas weekend, pulang yang selalu larut selama (bisa dibilang) dua bulan, dan dinas ke Bandung yang kerjanya selalu sampai larut malam. Akhirnya masa tenang itu datang. Bisa pulang cepat, tidur lama (nggak dianjurkan sih kalau nggak kepaksa :p), sering nonton TV, dll.
Hari Jumat, sepulang dari kantor saya nonton Jumper sendirian. Menyenangkan sekali. Rasanya bebas :D Tadinya nggak terpikirkan sih mau nonton. Tapi gara-gara baru sampe Sarinah saya terjebak macet, lebih baik saya turun, jalan ke Djakarta Theater, beli tiket, terus ke Hero beli cemilan buat nonton :p
Filmnya keren banget. It's a must seen movie. Aksi Hayden Christensen memukau. (mungkin banyak yang belum tahu ya. Tapi dulu saya menyenangi film serial yang dia bintangi, "Highly Underground", yang dulu rutin ditayangkan SCTV setiap hari Minggu jam 3 sore).
Hari Sabtu, saya membatalkan rencana ke Tanah Abang untuk mencari selimut pesanan Ibu karena diajak teman ke Wall Street Institute. Ternyata bagus dan menarik. Pola belajar dan evaluasinya benar2 berbeda dari lembaga kursus bahasa Inggris. Saya sempat mau join. Tapi setelah berkonsultasi dengan kakak saya membatalkan rencana itu. Mungkin heran ya, kenapa untuk mengambil keputusan semacam itu saya harus meminta saran dari kakak. Itu lebih disebabkan karena pemikirannya yang rasional, dan dari sudut pandang yang tidak biasa dia bisa memberikan masukan yang benar2 bisa mempengaruhi jalan pemikiran saya. Bukan berarti saya tidak berpendirian dan tidak bisa membuat keputusan sendiri, tapi lebih ke arah pertimbangan. Kalau yang dia sarankan masuk akal dan bisa saya jalani, kenapa nggak. Termasuk masalah penggunaan kartu kredit yang sampai sekarang satu saja pun saya tidak punya, saya akhirnya mengambil keputusan untuk membuat kartu kredit. Masalah investasi pun saya berkonsultasi dengan dia, karena intuisi ekonomi dia tajam. Seperti, bagaimana jika saya mengambil asuransi ketimbang reksadana, bagaimana dengan investasi di emas, bagaimana kalau beli rumah di sini, bagaimana kalau beli ORI, dsb.
Back to topic. Hari Minggu, akhirnya saya ke Tanah Abang. Dengan bermodal bakti pada Ibu, peluh dan keringat, serta macet karena pengalihan arus lalu lintas dalam rangka Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), saya meluncur ke sana, walaupun akhirnya pulang tanpa hasil :p Pulang di siang hari, saya hanya menghabiskan dengan baca.. baca.. dan baca.. Berbagai majalah, buku, artikel, dll saya hajar juga. Ternyata menarik. Iya sih, yang saya baca beberapa dari majalah wanita. Tapi kan artikel yang diangkat beberapa masih bersifat umum, seperti bagaimana berlaku di kantor, bagaimana cara menggunakan kartu kredit yang benar (hehehehe teuteup), dll. Terakhir saya baca buku tentang pernikahan. Semakin memperkuat keinginan saya untuk menikah. Semoga jalan saya dikuatkan untuk mencapai ridho Alloh. Amin.
Hari Jumat, sepulang dari kantor saya nonton Jumper sendirian. Menyenangkan sekali. Rasanya bebas :D Tadinya nggak terpikirkan sih mau nonton. Tapi gara-gara baru sampe Sarinah saya terjebak macet, lebih baik saya turun, jalan ke Djakarta Theater, beli tiket, terus ke Hero beli cemilan buat nonton :p
Filmnya keren banget. It's a must seen movie. Aksi Hayden Christensen memukau. (mungkin banyak yang belum tahu ya. Tapi dulu saya menyenangi film serial yang dia bintangi, "Highly Underground", yang dulu rutin ditayangkan SCTV setiap hari Minggu jam 3 sore).
Hari Sabtu, saya membatalkan rencana ke Tanah Abang untuk mencari selimut pesanan Ibu karena diajak teman ke Wall Street Institute. Ternyata bagus dan menarik. Pola belajar dan evaluasinya benar2 berbeda dari lembaga kursus bahasa Inggris. Saya sempat mau join. Tapi setelah berkonsultasi dengan kakak saya membatalkan rencana itu. Mungkin heran ya, kenapa untuk mengambil keputusan semacam itu saya harus meminta saran dari kakak. Itu lebih disebabkan karena pemikirannya yang rasional, dan dari sudut pandang yang tidak biasa dia bisa memberikan masukan yang benar2 bisa mempengaruhi jalan pemikiran saya. Bukan berarti saya tidak berpendirian dan tidak bisa membuat keputusan sendiri, tapi lebih ke arah pertimbangan. Kalau yang dia sarankan masuk akal dan bisa saya jalani, kenapa nggak. Termasuk masalah penggunaan kartu kredit yang sampai sekarang satu saja pun saya tidak punya, saya akhirnya mengambil keputusan untuk membuat kartu kredit. Masalah investasi pun saya berkonsultasi dengan dia, karena intuisi ekonomi dia tajam. Seperti, bagaimana jika saya mengambil asuransi ketimbang reksadana, bagaimana dengan investasi di emas, bagaimana kalau beli rumah di sini, bagaimana kalau beli ORI, dsb.
Back to topic. Hari Minggu, akhirnya saya ke Tanah Abang. Dengan bermodal bakti pada Ibu, peluh dan keringat, serta macet karena pengalihan arus lalu lintas dalam rangka Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), saya meluncur ke sana, walaupun akhirnya pulang tanpa hasil :p Pulang di siang hari, saya hanya menghabiskan dengan baca.. baca.. dan baca.. Berbagai majalah, buku, artikel, dll saya hajar juga. Ternyata menarik. Iya sih, yang saya baca beberapa dari majalah wanita. Tapi kan artikel yang diangkat beberapa masih bersifat umum, seperti bagaimana berlaku di kantor, bagaimana cara menggunakan kartu kredit yang benar (hehehehe teuteup), dll. Terakhir saya baca buku tentang pernikahan. Semakin memperkuat keinginan saya untuk menikah. Semoga jalan saya dikuatkan untuk mencapai ridho Alloh. Amin.
08 Februari 2008
Happy Birthday ^_^
Ga terasa ya. 26 tahun saya berjalan di dunia ini. Banyak cerita yang sudah tertoreh di diri saya. Banyak kejutan yang saya alami, baik yang indah maupun yang menyesakkan. Banyak pelajaran dan hikmah yang dapat saya ambil dari segala kejadian yang saya lalui. Mulai dari berbagai kesenangan masa kecil yang saya dapat, berpindah2 sekolah di Jawa dan Sumatra, traveling ke seluruh Indonesia, perceraian orang tua yang mengubah cara saya memandang hidup, sampai kehidupan karier yang tidak disangka akan membawa banyak perubahan baik dan pencerahan atas diri, keluarga, lingkungan, dan kehidupan pada umumnya.
Yang jelas, saya harus berusaha menjadi pribadi yang istiqomah, pemaaf, penyabar, santun, dan senantiasa bersyukur sebagai ganti atas berbagai sikap kasar yang pernah saya perbuat. Masih banyak yang harus saya lakukan. Selamat Ulang Tahun Oki..... ^_^ Semoga bisa menjadi harapan bagi semua orang. Amin.
Ulang tahun sekarang sangat berkesan bagi saya, karena banyak yang memberi kado. Uniknya, hampir semua memberi dasi. Barang yang tidak terpikirkan oleh saya secara khusus untuk membelinya. Alhamdulillah... :)
Yang jelas, saya harus berusaha menjadi pribadi yang istiqomah, pemaaf, penyabar, santun, dan senantiasa bersyukur sebagai ganti atas berbagai sikap kasar yang pernah saya perbuat. Masih banyak yang harus saya lakukan. Selamat Ulang Tahun Oki..... ^_^ Semoga bisa menjadi harapan bagi semua orang. Amin.
Ulang tahun sekarang sangat berkesan bagi saya, karena banyak yang memberi kado. Uniknya, hampir semua memberi dasi. Barang yang tidak terpikirkan oleh saya secara khusus untuk membelinya. Alhamdulillah... :)
31 Januari 2008
Anggota baru di keluargaku
Hari ini, tanggal 31 Januari 2008, tepat 3 hari sebelum saya ulang tahun nanti (oops..) saya berubah status menjadi seorang Om. Senangnya. Ponakan perempuan yang belum saya tahu namanya karena usianya belum satu hari akan mengisi hari2 saya kelak dengan "Om, mana permen buat saya? Katanya mau ngasih..." dengan gaya yang manja. Wah, kebayang kan. Lucunya. Jadi pengen deh berkeluarga, walaupun kenangan pahit berkeluarga masih melekat di otak. Tapi saya harus bisa menjalani itu. Toh bagian dari sunnah rasul juga kan?
Ibu tadi cerita, kakak saya waktu melihat proses persalinan istrinya sampai tidak sanggup, bahkan sampai menangis. Ibuku geli, karena waktu kakak saya melihat binatang kurbannya disembelih saja sudah menangis, apalagi ini.
Saya sampai terbayang, betapa berat dan sakitnya perjuangan ibu ketika melahirkan. Itu saja bukan permulaan. Mulainya kan dari sejak mengandung, belum pas nanti disapih selama 2 tahun, dst. Wajar saja kalau kita durhaka, neraka menanti.
Hidup ini terasa cepat berlalu. Bayangkan saja. Rasa2nya masih belum terlalu lama saya sekolah SD, tiba2 sudah kuliah. Sekarang sudah bekerja, eh tiba2 dapat ponakan. nanti tiba2 menikah, eh tiba2 punya anak, dst. Hidup selalu berjalan tanpa kenal henti. Yang penting sekarang, bagaimana hidup kita dinilai sebagai ibadah, jadi menjalani hidup nggak sia2. Semoga Alloh melindungi kita dari segala perbuatan dosa. Amin.
Ibu tadi cerita, kakak saya waktu melihat proses persalinan istrinya sampai tidak sanggup, bahkan sampai menangis. Ibuku geli, karena waktu kakak saya melihat binatang kurbannya disembelih saja sudah menangis, apalagi ini.
Saya sampai terbayang, betapa berat dan sakitnya perjuangan ibu ketika melahirkan. Itu saja bukan permulaan. Mulainya kan dari sejak mengandung, belum pas nanti disapih selama 2 tahun, dst. Wajar saja kalau kita durhaka, neraka menanti.
Hidup ini terasa cepat berlalu. Bayangkan saja. Rasa2nya masih belum terlalu lama saya sekolah SD, tiba2 sudah kuliah. Sekarang sudah bekerja, eh tiba2 dapat ponakan. nanti tiba2 menikah, eh tiba2 punya anak, dst. Hidup selalu berjalan tanpa kenal henti. Yang penting sekarang, bagaimana hidup kita dinilai sebagai ibadah, jadi menjalani hidup nggak sia2. Semoga Alloh melindungi kita dari segala perbuatan dosa. Amin.
Wafatnya Pak Harto, The Smiling General
Pak harto wafat.
Berita yang sangat menggemparkan. Saya sempat menangis karena terharu dan terkenang akan masa keemasan kepemimpinan beliau, serta jasanya yang tak terhitung bagi bangsa ini, tanpa menafikan beberapa hal yang pernah dilakukannya terkait dengan HAM di masa lalu. Tapi bagi saya pribadi, sudahlah. Maafkan sajalah. Toh beliau sudah berpulang. Tugas kita yang masih hidup dan terutama yang muslim, mendoakan semoga beliau diterima di sisi Alloh SWT, dimaafkan segala kesalahannya, dan tidak usah mengungkit2 masa lalu. Yang penting, bagaimana kita menyelesaikan persoalan bangsa yang pelik ini. Kalau kita hanya sibuk berkoar2 memprotes kesalahan orang dan nggak bertindak secara nyata, sama saja bohong. Kalau mau bicara politik akan sangat panjang dan nggak habis2. Daripada kita sibuk memenuhi otak kita dengan pikiran2 jelek dan mengingat2 kesalahan orang lain, lebih baik kita introspeksi, apa yang sudah kita lakukan selama hidup, bekal apa yang sudah dipersiapkan untuk mengahadapi hari perhitungan yang mahaadil, dll. Itulah yang diajarkan Islam.
Bagaimanapun, Pak Harto merupakan tokoh yang selalu akan dikenang dan yang pasti, tercatat dalam sejarah. Seorang pemimpin besar yang layak dihargai. Bukankah bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghargai pahlawannya?
Berita yang sangat menggemparkan. Saya sempat menangis karena terharu dan terkenang akan masa keemasan kepemimpinan beliau, serta jasanya yang tak terhitung bagi bangsa ini, tanpa menafikan beberapa hal yang pernah dilakukannya terkait dengan HAM di masa lalu. Tapi bagi saya pribadi, sudahlah. Maafkan sajalah. Toh beliau sudah berpulang. Tugas kita yang masih hidup dan terutama yang muslim, mendoakan semoga beliau diterima di sisi Alloh SWT, dimaafkan segala kesalahannya, dan tidak usah mengungkit2 masa lalu. Yang penting, bagaimana kita menyelesaikan persoalan bangsa yang pelik ini. Kalau kita hanya sibuk berkoar2 memprotes kesalahan orang dan nggak bertindak secara nyata, sama saja bohong. Kalau mau bicara politik akan sangat panjang dan nggak habis2. Daripada kita sibuk memenuhi otak kita dengan pikiran2 jelek dan mengingat2 kesalahan orang lain, lebih baik kita introspeksi, apa yang sudah kita lakukan selama hidup, bekal apa yang sudah dipersiapkan untuk mengahadapi hari perhitungan yang mahaadil, dll. Itulah yang diajarkan Islam.
Bagaimanapun, Pak Harto merupakan tokoh yang selalu akan dikenang dan yang pasti, tercatat dalam sejarah. Seorang pemimpin besar yang layak dihargai. Bukankah bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghargai pahlawannya?
Libur tahun baru
Libur tahun baru? Ngapain ya? Yang jelas, selama dua hari di tanggal 29 dan 30 Des, saya mendapat 4 undangan perkawinan, baik dari teman sekolah maupun teman kantor. Yang 1 di jakarta, yang 3 di Bandung. Demi kemaslahatan perut, saya memutuskan ke Bandung sambil melewatkan tahun baru di sana. Saya menyewa rumah istirahat yang disediakan kantor. Harus daftar dulu sih. 3 bulan sebelumnya. Penuh perjuangan, karena peminatnya sangat banyak dan kami harus berebut daftar melalui intranet kantor. Alhamdulillah dapat.
Selama 2 hari, saya hanya berpindah dari satu perkawinan ke perkawinan yang lain, tentunya diselingi dengan wisata kuliner dan ngubek2 FO dong. Hari ke-3 cuma diisi dengan jalan2 keliling Bandung sambil mengajak teman2 kantor. Malam hari saya sempat sowan ke tempat Bapak sekaligus mengantar hadiah tahun baru, yaitu berupa tongkat. Tongkat Bapak ternyata selama ini sudah rusak dan tidak diganti2.
Malam tahun baru saya habiskan di rumah istirahat karena hujan yang sangat lebat. Tapi saya sudah cukup senang, karena beberapa orang sejawat menyalakan kembang api yang tidak kecil dan tentunya cukup spektakuler yang sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja. Siang harinya, saya pulang ke Jakarta, lagi2 untuk menjalani rutinitas yang seharusnya dan tentunya bersiap2 menyambut libur panjang lagi dalam 9 hari ke depan.
Selama 2 hari, saya hanya berpindah dari satu perkawinan ke perkawinan yang lain, tentunya diselingi dengan wisata kuliner dan ngubek2 FO dong. Hari ke-3 cuma diisi dengan jalan2 keliling Bandung sambil mengajak teman2 kantor. Malam hari saya sempat sowan ke tempat Bapak sekaligus mengantar hadiah tahun baru, yaitu berupa tongkat. Tongkat Bapak ternyata selama ini sudah rusak dan tidak diganti2.
Malam tahun baru saya habiskan di rumah istirahat karena hujan yang sangat lebat. Tapi saya sudah cukup senang, karena beberapa orang sejawat menyalakan kembang api yang tidak kecil dan tentunya cukup spektakuler yang sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja. Siang harinya, saya pulang ke Jakarta, lagi2 untuk menjalani rutinitas yang seharusnya dan tentunya bersiap2 menyambut libur panjang lagi dalam 9 hari ke depan.
Libur tahun baru Muharram
Libur lagi. Saya mampir tempat saudara2 di Semarang, karena terkahir ke sana setahun yang lalu, tepatnya tgl 1/1/2007, bertepatan dengan pernikahan sepupu saya. Di sana saya menginap tempat budhe. Hari kedua dan ketiga saya menginap bergantian di rumah sepupu2 saya. Menyenangkan sekali, karena sudah lama nggak bernostalgia dan bertukar pikiran dengan mereka. Buktinya, wawasan saya untuk mengembangkan sektor riil semakin teruka lebar, terbukti dengan komitmen yang akan dijalankan oleh kami untuk membentuk usaha di bidang makanan. Insya Alloh berjalan lancar.
Di sana, saya juga bertemu dengan keponakan2 yang banyak dan lucu2 tingkah polahnya. Jadi kepikiran pengen berkeluarga. Tapi belum ada calon :p
Di ujung liburan, saya sempat khawatir kalau uang tidak akan cukup karena terlalu seringnya traveling yang saya lakukan selama satu bulan ke belakang. Belum lagi jarak gajian Desember dan Januari 40 hari, karena waktu bulan Desember, tanggal gajian pas hari libur, jadi dipercepat pembayarannya. Belum lagi saya tukar tambah HP dengan sepupu saya karena ingin membantu keluarganya yang ingin menghibur anak2 mereka yang baru mendapat juara kelas di TKnya. Belum lagi, pas mau pulang, saya ketinggalan pesawat karena beberapa alasan. Akhirnya saya harus membeli tiket lagi. Pengeluaran jadi bertambah besar. Akhirnya, seminggu sebelum gajian, saya menyerah dengan keadaan dan meminjam uang ke teman untuk bertahan sampai gajian, itupun setelah menguras semua isi tabungan. Setelah kejadian itu, saya langsung membuat rencana keuangan yang cukup matang kalau boleh dibilang. Yang jelas saya nggak mau uangnya nggak barokah dan menguap begitu saja. Habis hanya untuk foya2. Alhamdulillah kemarin sih uangnya habis untuk menjalin silaturahmi dan kebutuhan primer dan sekunder, bukan untuk sesuatu yang mudharat. Jadi teringat lagu "bing beng bang yok kita ke bank, bang bing bung yok kita nabung..." :D
Di sana, saya juga bertemu dengan keponakan2 yang banyak dan lucu2 tingkah polahnya. Jadi kepikiran pengen berkeluarga. Tapi belum ada calon :p
Di ujung liburan, saya sempat khawatir kalau uang tidak akan cukup karena terlalu seringnya traveling yang saya lakukan selama satu bulan ke belakang. Belum lagi jarak gajian Desember dan Januari 40 hari, karena waktu bulan Desember, tanggal gajian pas hari libur, jadi dipercepat pembayarannya. Belum lagi saya tukar tambah HP dengan sepupu saya karena ingin membantu keluarganya yang ingin menghibur anak2 mereka yang baru mendapat juara kelas di TKnya. Belum lagi, pas mau pulang, saya ketinggalan pesawat karena beberapa alasan. Akhirnya saya harus membeli tiket lagi. Pengeluaran jadi bertambah besar. Akhirnya, seminggu sebelum gajian, saya menyerah dengan keadaan dan meminjam uang ke teman untuk bertahan sampai gajian, itupun setelah menguras semua isi tabungan. Setelah kejadian itu, saya langsung membuat rencana keuangan yang cukup matang kalau boleh dibilang. Yang jelas saya nggak mau uangnya nggak barokah dan menguap begitu saja. Habis hanya untuk foya2. Alhamdulillah kemarin sih uangnya habis untuk menjalin silaturahmi dan kebutuhan primer dan sekunder, bukan untuk sesuatu yang mudharat. Jadi teringat lagu "bing beng bang yok kita ke bank, bang bing bung yok kita nabung..." :D
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- Oki Jelly
- Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar