"wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)"
Doa di atas dikutip dari Q.S. Al-Kahfi ayat 10. Doa ini dipanjatkan oleh para penghuni gua ketika menghindar dari kezaliman penguasa mereka ketika itu. Saya bukan mau menceritakan ulang kisah mereka, tapi mau mengulas sedikit makna dan hikmah dari ayat di atas.
Mereka memohon kepada Alloh untuk diberikan rahmat. Mengapa rahmat dulu baru minta petunjuk? Karena tanpa rahmat, mustahil petunjuk didapat. Nabi Adam a.s. ketika memohon ampun atas kekhilafannya memakan buah khuldi yang dilarang oleh Alloh sehingga terusir dari surga pun memohon rahmat terlebih dahulu. Lalu bagaimana ciri orang yang mendapat rahmat? Atau, bagaimana cara mendapatkannya?
Sebagaimana yang termaktub dalam Q.S. Ali 'Imron ayat 159, ciri dari orang yang mendapat rahmat adalah orang yang berlaku lemah lembut, senang memberi maaf dan memohonkan ampun, tenang, tidak cepat tersinggung, dan welas asih terhadap sesama. Sikap ini tidak serta merta diperoleh melainkan melalui rahmat-Nya. Tidak sulit mencari sosok yang diliputi rahmat dalam hidupnya. Ya, beliau baginda Muhammad saw yang dalam kesehariannya menampakkan ciri orang yang penuh rahmat. Sahabat2 nabi pun tetap rendah hati meski harta berlimpah. Sikap inilah yang patut kita contoh.
Banyak cara untuk mendapat rahmat-Nya, salah satunya dengan tidak bersikap ujub. Ujub secara mudahnya diartikan sebagai merasa. Orang yang merasa pintar karena ilmunya, merasa sholeh karena ibadahnya, merasa terhormat karena jabatan dan hartanya dapat menjadi hijab bagi diri kita dalam mendapatkan rahmat Alloh swt. Muslim layaknya menjauhi sikap ujub sedapat mungkin. Jika ujub bisa disingkirkan dari hati, niscaya rahmat Alloh menghampiri, petunjuk pun mengiringi langkah kita.
Sta. Tanah Abang, 21.50 sambil nunggu kereta jam 23.15.
*disarikan dari ceramah Aa Gym tgl 26 Sept 2011 di masjid Baitul Ihsan berdasarkan interpretasi sendiri tanpa mengurangi makna yang disampaikan :)
26 September 2011
18 September 2011
Kenapa sih Ada Inflasi?
“Enakan jaman pak Harto, semua serba murah. nyari sandang pangan mudah RT @RCTFM: #Topix Rindu jaman orde baru (soeharto) atau lebih suka jaman sekarang (reformasi)?? share yuk #SundayWorkOut”
Melalui jejaring sosial, saya menemukan tweet di atas yang sederhana namun bermakna, yakni bagaimana kita selalu dihadapkan pada kenaikan harga barang. Kenaikan harga barang yang sering diistilahkan dengan inflasi ini pantas menjadikan masyarakat cemas, apalagi jika inflasi tinggi. Bagaimana tidak, inflasi dengan mudahnya menggerus daya beli masyarakat. Imam Semar dalam blog-nya mencoba memberikan ilustrasi secara sederhana. Gaji pembantu selama satu bulan di jaman kolonial Belanda sebesar 75 sen per bulan mampu membeli 150 bungkus nasi rames. Kalau dihitung dengan harga jaman sekarang, gaji pembantu 800.000 rupiah hanya bisa membeli 80 bungkus nasi rames. Bisa dibayangkan betapa merugikannya dampak inflasi terhadap kemampuan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, penting bagi pemangku kebijakan seperti pemerintah dan bank sentral, serta kita sebagai masyarakat untuk berperan aktif dalam mengendalikan inflasi langsung dari akar permasalahannya.
Fenomena kekakuan sisi penawaran yang masih terdengar awam bagi sebagian besar dari kita ditengarai sebagai penyebab tingginya inflasi. Kekakuan sisi penawaran disebabkan oleh adanya persoalan di sisi struktural perekonomian sehingga belum mampu merespons sisi permintaan di masyarakat. Bahasa mudahnya, setiap kita mau membeli barang namun sulit diperoleh, otomatis harga akan naik karena penjual mencoba mengambil untung lebih besar. Logikanya, meskipun mahal, barang itu masih akan tetap dicari. Akibatnya, perekonomian akan mengalami inflasi yang tinggi.
Untuk mencari tahu apa akar permasalahan kekakuan sisi penawaran tersebut, Hausmann dkk pada tahun 2004 menawarkan metode praktis, yakni metode Growth Diagnostics. Melalui metode tersebut, kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa sebenarnya sumber utama persoalan struktural yang kita hadapi terkait erat dengan (i) kurang efisiennya layanan birokrasi, (ii) masih tingginya persoalan dalam tatakelola publik, serta (iii) kurang memadainya ketersediaan infrastruktur, baik keras maupun lunak. Layanan birokrasi yang tidak efisien dan tatakelola publik yang bermasalah menyebabkan tingginya biaya yang dikeluarkan oleh para pelaku usaha. Padahal peran pelaku usaha sangat penting dalam memenuhi permintaan masyarakat. Sementara itu, infrastruktur yang belum memadai mengakibatkan para pengusaha enggan membuka usaha karena membayangkan biaya lebih yang harus mereka keluarkan.Biaya tersebut timbul antara lain ketika mengurus perizinan untuk membuka usaha, pungutan liar ketika mendistribusikan barang ke daerah, sampai infrastruktur keras seperti jalanan rusak yang membuat biaya bahan bakar membengkak. Sementara itu, infrastruktur lunak yang menggambarkan kualitas manusia juga sama pentingnya. Pelaku usaha akan berpikir dua kali sebelum membuka usaha kalau para pekerja sulit memahami proses atau mengoperasikan mesin produksi.
Dalam lima tahun terakhir, berbagai kendala utama perekonomian di atas tampaknya sudah mulai membaik, khususnya dari aspek layanan birokrasi dan tatakelola publik. Perbaikan tersebut, ditambah dengan prestasi kinerja ekonomi makro kita, berdampak positif terhadap perkembangan investasi dan pada gilirannya perbaikan pada tingkat kekakuan sisi penawaran. Kemampuan sisi penawaran dalam merespons permintaan di masyarakat dalam lima tahun terakhir sudah semakin membaik meskipun belum seperti sebelum krisis 1997/98. Namun demikian, ketersediaan infrastruktur keras dan lunak belum mendukung iklim usaha di Indonesia. Oleh karena itu, langkah-langkah kerja sama antara pemerintah dengan bank sentral perlu tetap dibina dan diperluas untuk mengurangi berbagai kelemahan di sisi struktural. Dengan begitu, diharapkan investasi yang meningkat akan mampu memenuhi permintaan masyarakat dan dapat berlangsung secara berkesinambungan. Pada akhirnya, harga barang-barang di masyarakat akan dapat terkendali, didukung oleh sistem distribusi yang lebih lancar. Kelak, ungkapan “enakan jaman pak Harto” di atas hanya tinggal cerita belaka karena kita mampu menunjukkan bahwa kita lebih baik.
*Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari pelatihan penulisan artikel ilmiah populer di Bandung, 15-17 September 2011. Terima kasih pada Kabamedia sebagai penyelenggara atas pencerahan dan pengarahannya selama pelatihan sehingga saya semakin bersemangat untuk menulis ilmiah namun berbahasa populer. It was just great ^^
Melalui jejaring sosial, saya menemukan tweet di atas yang sederhana namun bermakna, yakni bagaimana kita selalu dihadapkan pada kenaikan harga barang. Kenaikan harga barang yang sering diistilahkan dengan inflasi ini pantas menjadikan masyarakat cemas, apalagi jika inflasi tinggi. Bagaimana tidak, inflasi dengan mudahnya menggerus daya beli masyarakat. Imam Semar dalam blog-nya mencoba memberikan ilustrasi secara sederhana. Gaji pembantu selama satu bulan di jaman kolonial Belanda sebesar 75 sen per bulan mampu membeli 150 bungkus nasi rames. Kalau dihitung dengan harga jaman sekarang, gaji pembantu 800.000 rupiah hanya bisa membeli 80 bungkus nasi rames. Bisa dibayangkan betapa merugikannya dampak inflasi terhadap kemampuan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, penting bagi pemangku kebijakan seperti pemerintah dan bank sentral, serta kita sebagai masyarakat untuk berperan aktif dalam mengendalikan inflasi langsung dari akar permasalahannya.
Fenomena kekakuan sisi penawaran yang masih terdengar awam bagi sebagian besar dari kita ditengarai sebagai penyebab tingginya inflasi. Kekakuan sisi penawaran disebabkan oleh adanya persoalan di sisi struktural perekonomian sehingga belum mampu merespons sisi permintaan di masyarakat. Bahasa mudahnya, setiap kita mau membeli barang namun sulit diperoleh, otomatis harga akan naik karena penjual mencoba mengambil untung lebih besar. Logikanya, meskipun mahal, barang itu masih akan tetap dicari. Akibatnya, perekonomian akan mengalami inflasi yang tinggi.
Untuk mencari tahu apa akar permasalahan kekakuan sisi penawaran tersebut, Hausmann dkk pada tahun 2004 menawarkan metode praktis, yakni metode Growth Diagnostics. Melalui metode tersebut, kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa sebenarnya sumber utama persoalan struktural yang kita hadapi terkait erat dengan (i) kurang efisiennya layanan birokrasi, (ii) masih tingginya persoalan dalam tatakelola publik, serta (iii) kurang memadainya ketersediaan infrastruktur, baik keras maupun lunak. Layanan birokrasi yang tidak efisien dan tatakelola publik yang bermasalah menyebabkan tingginya biaya yang dikeluarkan oleh para pelaku usaha. Padahal peran pelaku usaha sangat penting dalam memenuhi permintaan masyarakat. Sementara itu, infrastruktur yang belum memadai mengakibatkan para pengusaha enggan membuka usaha karena membayangkan biaya lebih yang harus mereka keluarkan.Biaya tersebut timbul antara lain ketika mengurus perizinan untuk membuka usaha, pungutan liar ketika mendistribusikan barang ke daerah, sampai infrastruktur keras seperti jalanan rusak yang membuat biaya bahan bakar membengkak. Sementara itu, infrastruktur lunak yang menggambarkan kualitas manusia juga sama pentingnya. Pelaku usaha akan berpikir dua kali sebelum membuka usaha kalau para pekerja sulit memahami proses atau mengoperasikan mesin produksi.
Dalam lima tahun terakhir, berbagai kendala utama perekonomian di atas tampaknya sudah mulai membaik, khususnya dari aspek layanan birokrasi dan tatakelola publik. Perbaikan tersebut, ditambah dengan prestasi kinerja ekonomi makro kita, berdampak positif terhadap perkembangan investasi dan pada gilirannya perbaikan pada tingkat kekakuan sisi penawaran. Kemampuan sisi penawaran dalam merespons permintaan di masyarakat dalam lima tahun terakhir sudah semakin membaik meskipun belum seperti sebelum krisis 1997/98. Namun demikian, ketersediaan infrastruktur keras dan lunak belum mendukung iklim usaha di Indonesia. Oleh karena itu, langkah-langkah kerja sama antara pemerintah dengan bank sentral perlu tetap dibina dan diperluas untuk mengurangi berbagai kelemahan di sisi struktural. Dengan begitu, diharapkan investasi yang meningkat akan mampu memenuhi permintaan masyarakat dan dapat berlangsung secara berkesinambungan. Pada akhirnya, harga barang-barang di masyarakat akan dapat terkendali, didukung oleh sistem distribusi yang lebih lancar. Kelak, ungkapan “enakan jaman pak Harto” di atas hanya tinggal cerita belaka karena kita mampu menunjukkan bahwa kita lebih baik.
*Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari pelatihan penulisan artikel ilmiah populer di Bandung, 15-17 September 2011. Terima kasih pada Kabamedia sebagai penyelenggara atas pencerahan dan pengarahannya selama pelatihan sehingga saya semakin bersemangat untuk menulis ilmiah namun berbahasa populer. It was just great ^^
03 September 2011
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Masih dalam suasana lebaran, saya dan keluarga mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga ibadah Ramadhan teman2 muslim diterima oleh Allah swt dan kita mampu mencapai derajat taqwa serta kembali fitrah. Amin.
Ramadhan yang lalu bukan saja "memaksa" kita untuk berbuat baik di bulan suci saja, tapi juga menjadikannya kebiasaan yang terus melekat. Orang yang temperamental dan suka marah2 dipaksa untuk bersabar, senggaknya sampai maghrib. Yang suka ngomongin orang, mendadak jadi orang pendiam dan alergi kalau ada orang saling mencela saudaranya karena khawatir pahala puasa berkurang. Yang biasanya lupa atau nggak sempat bersedekah, di bulan Ramadhan mendadak kita berlomba2 kasih makan orang untuk buka puasa. Yang biasa makan menggila dan tanpa aturan, tiba2 cuma makan seadanya karena perut gampang terasa kenyang. Ya, ibadah Ramadhan sangat identik dengan perbaikan, pembersihan, dan pengendalian diri. Bukan hanya untuk diri pribadi, tapi juga sosial kemasyarakatan. Kita diajarkan untuk lebih peduli dan lebih tergerak untuk benar2 membantu meskipun dalam taraf kecil dan sederhana, ketimbang hanya protes dan mengkritik para pemangku kebijakan tanpa berbuat apa2.
Ramadhan memang terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Detik demi detik berlalu sudah sepantasnya dihabiskan untuk mendulang pahala sebanyak yang kita bisa. Ramadhan memang sudah berlalu. Harapan diterimanya ibadah tentu muncul di setiap benak muslim yang mengisinya dengan suka cita. I miss Ramadhan already. Semoga Allah swt mempertemukanku dengan Ramadhan tahun depan. Amin.
18 Agustus 2011
Kekayaan Indonesia
Akhir pekan kemarin saya sempatkan ke PRJ. Niat saya ke sana sebetulnya cuma sekadar berkunjung, berhubung HUT Jakarta, kan cuma setahun sekali. Kebetulan juga, sepupu saya dari Papua lagi berkunjung ke Jakarta. Nggak ada salahnya saya ajak dia jalan2 ke sana bareng adik2 juga. Yah, niat tinggal niat. Ternyata di sana ada obral karpet. Saya nggak tau harganya memang sebetulnya wajar segitu atau nggak. Tapi yang jelas bagi saya itu murah. Jadi, saya borong empat karpet dengan ukuran dan jenis yang beda2. Intinya, saya puas :D
Dari sana, saya dan sepupu saya pindah ke hall lain. Di satu hall, satu ruangan khusus stand berbagai pemerintah daerah di Indonesia, mulai dari Aceh sampai antah berantah. Saya yang sudah terlanjur teramat sangat mencintai Indonesia sudah pasti kalap borong sana sini. Mulai dari coba kopi Luwak yang hanya 10 ribu per cangkir di stand Bali, beli rendang kering di stand Padang, sampai beli rencong dan dompet di stand Aceh. Memang ya, Indonesia itu memang kaya. Nggak heran kalau banyak orang terpesona olehnya. Itulah sebabnya saya mencanangkan resolusi tengah tahun lalu untuk keliling Indonesia, pastinya dengan biaya murah. Salah satu cara, saya cari teman baru di facebook dengan mengutarakan niat saya ke sana. Surprisingly, mereka merespons dengan baik dan dengan tangan terbuka menerima kedatangan saya. Bromo dan Bengkulu tujuan awal. Berikutnya? :)
Dari sana, saya dan sepupu saya pindah ke hall lain. Di satu hall, satu ruangan khusus stand berbagai pemerintah daerah di Indonesia, mulai dari Aceh sampai antah berantah. Saya yang sudah terlanjur teramat sangat mencintai Indonesia sudah pasti kalap borong sana sini. Mulai dari coba kopi Luwak yang hanya 10 ribu per cangkir di stand Bali, beli rendang kering di stand Padang, sampai beli rencong dan dompet di stand Aceh. Memang ya, Indonesia itu memang kaya. Nggak heran kalau banyak orang terpesona olehnya. Itulah sebabnya saya mencanangkan resolusi tengah tahun lalu untuk keliling Indonesia, pastinya dengan biaya murah. Salah satu cara, saya cari teman baru di facebook dengan mengutarakan niat saya ke sana. Surprisingly, mereka merespons dengan baik dan dengan tangan terbuka menerima kedatangan saya. Bromo dan Bengkulu tujuan awal. Berikutnya? :)
05 Mei 2011
Make something from nothing
Kalau ada yang pernah menonton acara Dragon's Den di BBC Knowledge lewat TV kabel berbayar dan memang menyenangi hal2 berbau bisnis, pasti nggak akan pernah mau melewatkan acara itu. Dragon's Den menampilkan 5 naga (dragon) yang menjadi bagian dari segelintir orang di seantero Inggris yang cukup (atau sangat) beruntung dapat memiliki kerajaan bisnis yang besar dan diperhitungkan. Dalam satu episode, ada beberapa pengusaha muda, amatir, atau berskala kecil yang mencoba melebarkan sayap atau melakukan ekspansi bisnisnya lebih luas melalui presentasi di depan para naga di sarangnya (den). Harapannya, jika para naga terkesan, mereka bisa mendapat tambahan modal dari para naga dengan konsekuensi sebagian dari saham mereka akan dikuasai oleh para naga yang setuju untuk menjadi partner bisnisnya. Tentunya dengan pengalaman para naga di dunia bisnis akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi mereka.
Satu dari 5 naga adalah Deborah Meaden yang menjadi naga wanita satu2nya. Sosok wanita ini bisa dibilang brilian, ulet, cekatan, berani, dan tegas. Diilhami dari bisnis keluarganya di taman hiburan, dia memulai sendiri bisnisnya sejak dari penjaga permainan Bingo, menjadi pemilik permainan Bingo, sampai menjadi pemilik taman bermain yang sudah dimiliki oleh keluarganya sendiri. Nggak berhenti di situ, dia mulai merambah ke taman bermain lainnya. Di Den, dia mulai merambah ke sektor lain, mulai dari fashion, sampai eco-green. Dengan ketegasannya, di Den dia sering dianggap sebagai wanita yang jahat dengan komentar2nya yang pedas. Tapi dengan modal itulah, dia bisa melihat peluang bisnis calon2 pebisnis ulung, mengorek kelemahan dan kebohongan presenter yang dikemas dengan apik. Satu ucapannya yang terekam saat wawancara dia: "I make something from nothing". Perlu dijadikan motto pribadi nih, biar tetap semangat biarpun banyak rintangan, entah dari luar atau dari diri sendiri. Mari terus berusaha dan maju..!!!
Satu dari 5 naga adalah Deborah Meaden yang menjadi naga wanita satu2nya. Sosok wanita ini bisa dibilang brilian, ulet, cekatan, berani, dan tegas. Diilhami dari bisnis keluarganya di taman hiburan, dia memulai sendiri bisnisnya sejak dari penjaga permainan Bingo, menjadi pemilik permainan Bingo, sampai menjadi pemilik taman bermain yang sudah dimiliki oleh keluarganya sendiri. Nggak berhenti di situ, dia mulai merambah ke taman bermain lainnya. Di Den, dia mulai merambah ke sektor lain, mulai dari fashion, sampai eco-green. Dengan ketegasannya, di Den dia sering dianggap sebagai wanita yang jahat dengan komentar2nya yang pedas. Tapi dengan modal itulah, dia bisa melihat peluang bisnis calon2 pebisnis ulung, mengorek kelemahan dan kebohongan presenter yang dikemas dengan apik. Satu ucapannya yang terekam saat wawancara dia: "I make something from nothing". Perlu dijadikan motto pribadi nih, biar tetap semangat biarpun banyak rintangan, entah dari luar atau dari diri sendiri. Mari terus berusaha dan maju..!!!
25 April 2011
Bukittinggi nan elok
Elok nian Bukittinggi itu. Sejak awal menginjakkan kaki di sana sampai pulang, kesannya betul2 melekat. Libur panjang akhir minggu lalu saya dan sebagian kecil teman kuliah saya, Adisty, Ulong, Sofyan, dan Latif, berlibur bersama. Kalau dipikir2, ini jadi ajang reuni kami juga setelah hampir 10 tahun saling mengenal. Tak terasa, usia semakin bertambah, waktu terus berlalu, dan kami masih seperti dulu.
Jumat pagi (22/4) kami berangkat terlambat 2 jam. Alasannya kenapa saya nggak mau bilang, karena nanti saya jadi seperti Prita. Komplain yang konstruktif supaya hal yang sama nggak terulang pada orang lain, eh malah jadi bumerang. Sudahlah. Intinya kami sampai di Padang hampir 2 jam kemudian. Kesan pertama, tampak sepi ya Padang itu. Ternyata bandara internasional Minangkabau itu di luar kota. Entah bagaimana nasib bandara lamanya. Di bandara kami dijemput om Syofyan, terhitung masih kakeknya Adisty. Beliau punya usaha rental mobil dan kafe di Bukittinggi. Bisa jadi pilihan buat teman2 kalau mau ke sana.
Dari bandara kami diajak ke Pantai Padang. Sederet restoran seafood menggoda kami untuk mampir. Makan sebentar, sholat Jumat, kami langsung ke arah Bukittinggi. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Tipikal landscape-nya memang berbeda dengan yang selama ini saya lihat. Mulai dari Lembah Anai, tempat air terjun di pinggir jalan raya, belum lagi ngarai2 yang sedemikian luas dan tinggi. Di sepanjang perjalanan, kami juga mampir di beberapa tempat kuliner khas sana, seperti Pinyaram, semacam kue ketan yang memiliki rasa seperti cucur, juga Sate Mak Syukur, sate padang di Padang Panjang yang bumbunya belum pernah saya rasa sebelumnya.
Setibanya di Bukittinggi, kami ke Mess Anggraini dengan tarif hanya 100 ribu/malam untuk umum. Berbenah sebentar, kami langsung jalan lagi untuk makan malam di Turret Cafe milik Om Syofyan. Selesai makan, kami mengantar Adisty untuk bersilaturahmi dengan keluarga besarnya yang belum pernah dia kenal dan temui sebelumnya. Unik ^^
Besoknya, Sabtu pagi (23/4) kami langsung meluncur ke Ngarai Sianok. Pemandangan luar biasa indah. Dari situ kami ke Lobang Jepang yang masih satu kompleks, sarapan di Pical Ayang, lanjut ke Danau Maninjau. Karena keterbatasan waktu, kami nggak sampai di danaunya. Kami cuma berhenti di suatu jalan, entah kelok ke berapa (ke Maninjau perlu 44 kelok jalan). Dari sana, lagi2 mata kami dihiasi dengan indahnya lukisan Sang Maha Pencipta. Danau yang tertutup kabut dan dikelilingi ngarai tinggi membuat Maninjau makin elok. Puas berfoto2, kami langsung ke Batusangkar untuk lihat istana Pagaruyung. Berhubung habis terbakar, istana masih tertutup untuk umum, tapi kami tetap menyempatkan diri untuk berfoto. Arsitektur yang khas Minang dengan ukiran dinding kayu yang cantik dan berwarna-warni, juga ukuran yang tidak kecil semakin membuat saya terpana. Hebat juga orang Minang mengembangkan budaya mereka sampai sedemikian.
Dari sana, kami langsung balik ke Bukittinggi supaya masih sempat belanja di Pasar Ateh. Di tengah jalan sempat mampir di warung Cancang Kambing H. Marah di dekat perbatasan kota Bukittinggi. Lagi2 makanan yang belum pernah saya coba. Sesampainya kami di pasar, kami langsung belanja songket untuk ibu masing2 dan sekadar buah tangan. Foto2 di jam gadang sepuasnya, jajan cendol durian, dan air tawar yang sebetulnya cincau ditambahkan sejenis jeruk sebagai obat masyarakat Minang jaman dulu sebelum dikenal obat2an medis kedokteran seperti sekarang ini. Itu pengakuan uda penjualnya. Puas belanja dan foto2, kami makan malam di by pass, dijamu oleh keluarganya Adisty. Senang, tapi malu juga karena merepotkan keluarga mereka hehe..
Minggu pagi (24/4) saya joging keliling kota selepas shubuh. Udara dingin dan segar, pemandangan alami, diiringi obrolan warga setempat dengan bahasa Minangnya yang unik bikin saya makin menyenangi kota ini. Sepulang joging, saya dan teman2 keliling Bukittinggi lagi, mulai ke benteng Fort de Kock, kebun binatang, sampai museum. Jam 9 pagi langsung ke Padang karena harus kejar pesawat jam 1 siang dan menghindari macet. Di tengah jalan kami beli Bika, kue khas sana yang mirip dengan Wingko Babat Semarang. Menjelang bandara kami makan siang di restoran Lamun Ombak.
Tepat jam 12 kami tiba di bandara, usai sudah petualangan kami di sana. Terkesan buru2 karena waktu yang mepet, tapi nggak mengurangi kesan yang kami dapat. Seperti iklan, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Yang berencana liburan, nggak ada salahnya memasukkan Bukittinggi ke daftar incaran. Nggak akan menyesal ^^
Jumat pagi (22/4) kami berangkat terlambat 2 jam. Alasannya kenapa saya nggak mau bilang, karena nanti saya jadi seperti Prita. Komplain yang konstruktif supaya hal yang sama nggak terulang pada orang lain, eh malah jadi bumerang. Sudahlah. Intinya kami sampai di Padang hampir 2 jam kemudian. Kesan pertama, tampak sepi ya Padang itu. Ternyata bandara internasional Minangkabau itu di luar kota. Entah bagaimana nasib bandara lamanya. Di bandara kami dijemput om Syofyan, terhitung masih kakeknya Adisty. Beliau punya usaha rental mobil dan kafe di Bukittinggi. Bisa jadi pilihan buat teman2 kalau mau ke sana.
Dari bandara kami diajak ke Pantai Padang. Sederet restoran seafood menggoda kami untuk mampir. Makan sebentar, sholat Jumat, kami langsung ke arah Bukittinggi. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Tipikal landscape-nya memang berbeda dengan yang selama ini saya lihat. Mulai dari Lembah Anai, tempat air terjun di pinggir jalan raya, belum lagi ngarai2 yang sedemikian luas dan tinggi. Di sepanjang perjalanan, kami juga mampir di beberapa tempat kuliner khas sana, seperti Pinyaram, semacam kue ketan yang memiliki rasa seperti cucur, juga Sate Mak Syukur, sate padang di Padang Panjang yang bumbunya belum pernah saya rasa sebelumnya.
Setibanya di Bukittinggi, kami ke Mess Anggraini dengan tarif hanya 100 ribu/malam untuk umum. Berbenah sebentar, kami langsung jalan lagi untuk makan malam di Turret Cafe milik Om Syofyan. Selesai makan, kami mengantar Adisty untuk bersilaturahmi dengan keluarga besarnya yang belum pernah dia kenal dan temui sebelumnya. Unik ^^
Besoknya, Sabtu pagi (23/4) kami langsung meluncur ke Ngarai Sianok. Pemandangan luar biasa indah. Dari situ kami ke Lobang Jepang yang masih satu kompleks, sarapan di Pical Ayang, lanjut ke Danau Maninjau. Karena keterbatasan waktu, kami nggak sampai di danaunya. Kami cuma berhenti di suatu jalan, entah kelok ke berapa (ke Maninjau perlu 44 kelok jalan). Dari sana, lagi2 mata kami dihiasi dengan indahnya lukisan Sang Maha Pencipta. Danau yang tertutup kabut dan dikelilingi ngarai tinggi membuat Maninjau makin elok. Puas berfoto2, kami langsung ke Batusangkar untuk lihat istana Pagaruyung. Berhubung habis terbakar, istana masih tertutup untuk umum, tapi kami tetap menyempatkan diri untuk berfoto. Arsitektur yang khas Minang dengan ukiran dinding kayu yang cantik dan berwarna-warni, juga ukuran yang tidak kecil semakin membuat saya terpana. Hebat juga orang Minang mengembangkan budaya mereka sampai sedemikian.Dari sana, kami langsung balik ke Bukittinggi supaya masih sempat belanja di Pasar Ateh. Di tengah jalan sempat mampir di warung Cancang Kambing H. Marah di dekat perbatasan kota Bukittinggi. Lagi2 makanan yang belum pernah saya coba. Sesampainya kami di pasar, kami langsung belanja songket untuk ibu masing2 dan sekadar buah tangan. Foto2 di jam gadang sepuasnya, jajan cendol durian, dan air tawar yang sebetulnya cincau ditambahkan sejenis jeruk sebagai obat masyarakat Minang jaman dulu sebelum dikenal obat2an medis kedokteran seperti sekarang ini. Itu pengakuan uda penjualnya. Puas belanja dan foto2, kami makan malam di by pass, dijamu oleh keluarganya Adisty. Senang, tapi malu juga karena merepotkan keluarga mereka hehe..
Minggu pagi (24/4) saya joging keliling kota selepas shubuh. Udara dingin dan segar, pemandangan alami, diiringi obrolan warga setempat dengan bahasa Minangnya yang unik bikin saya makin menyenangi kota ini. Sepulang joging, saya dan teman2 keliling Bukittinggi lagi, mulai ke benteng Fort de Kock, kebun binatang, sampai museum. Jam 9 pagi langsung ke Padang karena harus kejar pesawat jam 1 siang dan menghindari macet. Di tengah jalan kami beli Bika, kue khas sana yang mirip dengan Wingko Babat Semarang. Menjelang bandara kami makan siang di restoran Lamun Ombak.
Tepat jam 12 kami tiba di bandara, usai sudah petualangan kami di sana. Terkesan buru2 karena waktu yang mepet, tapi nggak mengurangi kesan yang kami dapat. Seperti iklan, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Yang berencana liburan, nggak ada salahnya memasukkan Bukittinggi ke daftar incaran. Nggak akan menyesal ^^
18 April 2011
Perjalanan ke Hong Kong
Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya, saya mendapat amanah lagi untuk menimba ilmu ke negeri seberang. Kali ini, giliran negeri Cina yang saya sambangi, tepatnya ke Hong Kong. Awalnya saya nggak suka dengan Hong Kong, berhubung "rasa2nya" bakal susah cari makanan halal di sana. Belum lagi, Caucasian-minded yang bikin saya rasanya selalu pengen ke negeri2 bule.
Tapi, pengalaman selama seminggu tinggal di sana membuat pikiran saya berubah total. Kota yang tertib biarpun terdiri dari blok2 kecil yang sempit karena diapit gedung2 tinggi. Betul2 bukan tipikal kebanyakan kota di Asia yang semrawut. Mungkin ada bagusnya juga negeri ini sempat dikuasai Inggris, jadi nilai2 sosial positif bisa berkembang, membudaya dan melekat dalam keseharian mereka. Selain itu, kota ini memiliki banyak ragam transportasi publik, mulai dari tram sampai subway (di sana disebut MTR) dengan fasilitas yang memadai, modern, dan murah. Itu yang membuat masyarakat sana lebih memilih naik transportasi publik ketimbang bawa mobil pribadi yang tentunya bisa dihitung dengan jari. Menuju masing2 moda angkutan itu pastinya perlu jalan kaki. Itu yang membuat mereka tampak bugar, nggak gampang capek dan nggak ngos2an waktu jalan jauh. Another positive thing about people of Hong Kong. Kita perlu berkaca pada mereka.
Uniknya lagi, pakaian mereka modis2, beda banget dengan orang2 kita kebanyakan. Hampir nggak ada yang tampak culun dan dandan seadanya. Rambut tertata rapi, pakaian yang dipadankan dengan sepatu yang mengkilap, belum tasnya yang trendi. Bikin sirik deh :)
Selama seminggu di sana, saya tinggal di wisma KJRI, kawasan Causeway Bay. Enaknya tinggal di sana, selain murah (HKD250/malam), banyak warung yang menyediakan masakan Indonesia, dan pastinya halal. Harga makanan rata2 berkisar HKD40. Kurs waktu itu sekitar Rp1100-an/HKD. Hitung aja jadinya berapa. 4 hari kursus yang saya ikuti terletak di 2ifc, hanya 3 stasiun jaraknya dari penginapan. Gedung dengan 70-an lantai, menjulang dengan angkuhnya, pertanda pusat ekonomi Hong Kong berada.
Setiap selesai kursus, saya dan teman2 kursus dari tempat kerja saya selalu menyempatkan diri jalan2. Mulai dari Causeway Bay dengan toko2nya yang bertebaran, menggoda setiap mata yang lapar dengan barang2nya yang branded dan murah. Harga gadget bisa sampai 2 juta selisihnya dengan di sini. Beli elektronik, sesuai saran panitia kursus, mendingan ke Broadway atau Fortress. Terjamin keasliannya. Untuk harga perabotan rumah murah, satu baju dengan harga yang sama di sini, di HK bisa dapet dua potong. Menggoda iman :)
Kami sempat juga ke Mong Kok dan Tsim Sha Tsui, keduanya di kawasan Kowloon. Kurang lebih mirip Causeway Bay, tapi lebih semrawut. Kalau mau cari suvenir, di sana enak karena banyak pilihan dan murah. Kalau secara kualitas, ya mesti pinter2 milih juga sih. Oia, waktu ke Ladies' Market, sempet kejam lho. Barang bisa ditawar sampai sepertiganya. Tapi ya dengan bonus muka jutek a la mereka sih hehe..
Wisata lainnya, kami sempat ke The Peak, puncak bukit yang ada di HK, dicapai dengan menggunakan tram. Harga HKD50 p.p. kalau pakai Octopus. Octopus itu kartu untuk naik segala macam moda transportasi umum di sana, bisa dibeli dengan harga HKD150 (100 untuk ongkos dan 50 deposit). Kalau udah mau pulang, kartu ini bisa direfund lho, semuanya. Back to topic, sayang karena nggak satupun dari kami yang bawa kamera, seadanya lah foto2 pakai kamera hp, dan itupun kehabisan batere di tengah2 foto. Mau foto di atas bisa sih, tapi mahal. Ukuran 6R yang paling kecil aja udah HKD100. Kalau patungan, bingung nanti fotonya buat siapa, berhubung cuma dapet satu.
Khusus weekend, hari Sabtu (16/4) kami ke Ngong Ping, tempat patung raksasa Buddha berada. Kita di Central transit untuk ambil Thung Cung Line. Dari stasiun, kami naik cable car hanya dengan HKD80 (single trip) karena pulangnya kami berencana naik bis, cukup dengan HKD17. Itu supaya banyak pemandangan yang bisa diliat :) Kalau mau round trip, cukup bayar HKD115 saja.
Setiba di Thung Cung, kami mampir ke Citygate Outlet, mall dengan barang2 diskonan 30-70%, all-year round ^^ Kalap juga sih, borong jam tangan asli di sana ;p Puas belanja dan makan siang, kami langsung ke Disneyland. Bukan untuk main. Selain nggak tertarik, emang udah bukan umurnya lagi. Jadi kami cuma cari suvenir di Disneyland Hotel. Sepulang dari sana, saya pun belum puas. Saya kembali menjelajahi toko2 pakaian di Causeway Bay. Berkantong2 akhirnya yang masuk koper. Betul2 surga dunia, murah dan terjangkau, tanpa pajak, branded. Kapan2 kayaknya perlu ke sana lagi khusus buat belanja ^^
Tapi, pengalaman selama seminggu tinggal di sana membuat pikiran saya berubah total. Kota yang tertib biarpun terdiri dari blok2 kecil yang sempit karena diapit gedung2 tinggi. Betul2 bukan tipikal kebanyakan kota di Asia yang semrawut. Mungkin ada bagusnya juga negeri ini sempat dikuasai Inggris, jadi nilai2 sosial positif bisa berkembang, membudaya dan melekat dalam keseharian mereka. Selain itu, kota ini memiliki banyak ragam transportasi publik, mulai dari tram sampai subway (di sana disebut MTR) dengan fasilitas yang memadai, modern, dan murah. Itu yang membuat masyarakat sana lebih memilih naik transportasi publik ketimbang bawa mobil pribadi yang tentunya bisa dihitung dengan jari. Menuju masing2 moda angkutan itu pastinya perlu jalan kaki. Itu yang membuat mereka tampak bugar, nggak gampang capek dan nggak ngos2an waktu jalan jauh. Another positive thing about people of Hong Kong. Kita perlu berkaca pada mereka.
Uniknya lagi, pakaian mereka modis2, beda banget dengan orang2 kita kebanyakan. Hampir nggak ada yang tampak culun dan dandan seadanya. Rambut tertata rapi, pakaian yang dipadankan dengan sepatu yang mengkilap, belum tasnya yang trendi. Bikin sirik deh :)
Selama seminggu di sana, saya tinggal di wisma KJRI, kawasan Causeway Bay. Enaknya tinggal di sana, selain murah (HKD250/malam), banyak warung yang menyediakan masakan Indonesia, dan pastinya halal. Harga makanan rata2 berkisar HKD40. Kurs waktu itu sekitar Rp1100-an/HKD. Hitung aja jadinya berapa. 4 hari kursus yang saya ikuti terletak di 2ifc, hanya 3 stasiun jaraknya dari penginapan. Gedung dengan 70-an lantai, menjulang dengan angkuhnya, pertanda pusat ekonomi Hong Kong berada.
Setiap selesai kursus, saya dan teman2 kursus dari tempat kerja saya selalu menyempatkan diri jalan2. Mulai dari Causeway Bay dengan toko2nya yang bertebaran, menggoda setiap mata yang lapar dengan barang2nya yang branded dan murah. Harga gadget bisa sampai 2 juta selisihnya dengan di sini. Beli elektronik, sesuai saran panitia kursus, mendingan ke Broadway atau Fortress. Terjamin keasliannya. Untuk harga perabotan rumah murah, satu baju dengan harga yang sama di sini, di HK bisa dapet dua potong. Menggoda iman :)
Kami sempat juga ke Mong Kok dan Tsim Sha Tsui, keduanya di kawasan Kowloon. Kurang lebih mirip Causeway Bay, tapi lebih semrawut. Kalau mau cari suvenir, di sana enak karena banyak pilihan dan murah. Kalau secara kualitas, ya mesti pinter2 milih juga sih. Oia, waktu ke Ladies' Market, sempet kejam lho. Barang bisa ditawar sampai sepertiganya. Tapi ya dengan bonus muka jutek a la mereka sih hehe..
Wisata lainnya, kami sempat ke The Peak, puncak bukit yang ada di HK, dicapai dengan menggunakan tram. Harga HKD50 p.p. kalau pakai Octopus. Octopus itu kartu untuk naik segala macam moda transportasi umum di sana, bisa dibeli dengan harga HKD150 (100 untuk ongkos dan 50 deposit). Kalau udah mau pulang, kartu ini bisa direfund lho, semuanya. Back to topic, sayang karena nggak satupun dari kami yang bawa kamera, seadanya lah foto2 pakai kamera hp, dan itupun kehabisan batere di tengah2 foto. Mau foto di atas bisa sih, tapi mahal. Ukuran 6R yang paling kecil aja udah HKD100. Kalau patungan, bingung nanti fotonya buat siapa, berhubung cuma dapet satu.
Khusus weekend, hari Sabtu (16/4) kami ke Ngong Ping, tempat patung raksasa Buddha berada. Kita di Central transit untuk ambil Thung Cung Line. Dari stasiun, kami naik cable car hanya dengan HKD80 (single trip) karena pulangnya kami berencana naik bis, cukup dengan HKD17. Itu supaya banyak pemandangan yang bisa diliat :) Kalau mau round trip, cukup bayar HKD115 saja.
Setiba di Thung Cung, kami mampir ke Citygate Outlet, mall dengan barang2 diskonan 30-70%, all-year round ^^ Kalap juga sih, borong jam tangan asli di sana ;p Puas belanja dan makan siang, kami langsung ke Disneyland. Bukan untuk main. Selain nggak tertarik, emang udah bukan umurnya lagi. Jadi kami cuma cari suvenir di Disneyland Hotel. Sepulang dari sana, saya pun belum puas. Saya kembali menjelajahi toko2 pakaian di Causeway Bay. Berkantong2 akhirnya yang masuk koper. Betul2 surga dunia, murah dan terjangkau, tanpa pajak, branded. Kapan2 kayaknya perlu ke sana lagi khusus buat belanja ^^
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- Oki Jelly
- Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar
