09 April 2010

Another Trip: the US (habis)

Karena perjalanan panjang dan kerja lembur saya jadi belum sempat ngeblog lagi. Pengen lanjut cerita lagi hehe..

Hari Jumat (26/3) hari terakhir kursus. Di penghujung kursus saya minta Prof pengajar membubuhkan tanda tangannya di buku yang dia beri pada para peserta kursus. Kapan lagi kan :)
Selepas sholat Ashar, saya pergi ke Potomac Mills, semacam mall tapi lebih mirip hanggar saking luasnya. Lokasinya di Virginia, kurang lebih 2 jam dari DC. Lumayan jauh dan capek, tapi pengalaman liat country side seru juga. Jalan tol yang macet dengan tipe kendaraan yang belum pernah saya lihat, belum lagi model mall yang nggak biasa, lengkap dengan hutan kota yang sangat2 terawat. Saya naik Metro sampai stasiun Franconia, dari situ disambung bis. Saya nggak lama di sana karena harus mengejar bis ke arah Franconia. Bukan apa2, bis itu agak jarang. Bisa sampai 1 jam jarak dari bis satu ke bis yang lain. Alhasil, saya sampai rumah mas Erwin jam setengah 12 malam. Hehehe..
Hari Sabtu (27/3) hari terakhir saya di DC, karena saya berniat pergi ke NY. Saya diajak mas Erwin sekeluarga ke Cherry Blossom Festival. Kami pergi ke Tidal Basin, tempat bunga sakura bertebaran dengan indahnya. Sayang belum masuk masa puncak mekar, tapi itu nggak mengurangi keindahannya. Festivalnya sendiri sih nggak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya kira bakal ada konvoi atau pawai, lengkap dengan stand bazaar yang diisi ibu2. Walaupun tampak kurang meriah, tapi tetap seru karena ini kan cuma ada setahun sekali.
Sore saya ke Dupont Circle untuk naik bis yang sudah saya pesan sehari sebelumnya untuk menuju NY. Sekitar 4 jam perjalanan saya habiskan dengan tidur, beda banget sama orang2 sana yang biasanya baca buku atau kerja. Salut, wajar kalau mereka maju. Habis gimana ya, saya kok ngantuk banget. Efek jetlag kali ya *ngeles ;p
Sampai di NY, saya sudah ditunggu mas Heri, istrinya mba Sekar, mas Ija yang kebetulan sedang main juga ke NY, dan pak Didi staf lokal kantor cabang sana. Ternyata pool bis dekat sekali dengan Times Square. Wah, saya langsung foto2 di sana. Dari situ saya beli oleh2. Ternyata barang2 di sana jauh lebih murah ketimbang di DC. Jadinya saya borong cinderamata di sana. Lanjut ke Hard Rock Cafe, lalu kami makan malam dan pulang. Simpan energi untuk jalan2 keesokan harinya :)
Hari Minggu (28/3) pagi2 di tengah suhu yang turun drastis sampai 4 derajat, saya dan mas Ija langsung ke downtown untuk antri ke pulau Liberty dan pulau Ellis diantar mas Hery, mba Sekar, dan pak Didi. Tarif cuma $12 dengan kapal ferry yang berangkat setiap 25 menit sekali. Pengamanan di sana serasa di bandara, lengkap dengan alat metal detector dan x-ray scan. Karena masih pagi, antriannya nggak berapa panjang sih. Setelah sekitar setengah jam antri, akhirnya berangkatlah kami. Dari situ foto2 dimulai. Mulai dari patung Liberty, sampai ke Ellis Island tempat karantina ketika gelombang imigran besar2an memasuki Amerika sekitar abad ke-19. Dua jam keliling2 daerah itu, kami langsung keliling NY sehari semalam sampai gempor. Foto di segala tempat, mulai dari gedung, jalan, taman, mall, toko, sampai restoran.
Hari Senin (29/3) saya cuma ke toko cari pesanan teman2 kantor. Karena nggak ada yang saya dapat, akhirnya saya main ke kantor cabang di sana untuk sekadar menyapa pimpinan dan rekan2. Saya nggak lama di sana karena ada kerjaan yang harus saya selesaikan, termasuk packing untuk pulang malam harinya. Tapi secara umum sih NY kayaknya lebih serem dan lebih nggak manusiawi ketimbang DC ya. Metronya jorok, banyak orang dengan dandanan preman, belum lagi suburban kayak Queens yang banyak pendatangnya kok auranya serem aja gitu. Untunglah jarang ke daerah sana.
Sedih rasanya harus pulang. Saya harus masuk hari Kamisnya karena ada deadline kerjaan. Perjalanan dua hari cukup bikin capek. Sempet bingung sholat waktu di pesawat. Jadi, waktu berangkat kan hari Senin (29/3) jam 10 malam, terbang berlawanan arah dengan rotasi bumi, jadi waktu saya transit di Vancouver setelah terbang 5 jam waktu baru menunjukkan jam 1 malam keesokan harinya Selasa (30/3). Begitu terbang sekitar 6 jam dan melewati garis tanggal internasional, otomatis saya sudah memasuki hari Rabu (31/3). Akibatnya, saya sudah kehilangan Shubuh, Zhuhur, dan Ashar untuk hari Selasa, sementara Maghrib dan Isya masih bisa saya ambil dengan cara dijama' sebelum masuk waktu Shubuh. Wallahu a'lam.
Capek, seru, rame, pengalaman tak terlupakan :)

26 Maret 2010

Another Trip: the US (3)

Hari Kamis (25/3) penuh keceriaan.

Pertama, hari gajian. Menghibur di tengah2 masa sulit (sulit nggak belanja hihihi - kidding). Utang kartu kredit dan ke teman2 langsung saya lunasi. Gaji langsung ludes, tapi rasanya lega nggak ada utang lagi hehe.

Kedua, kursus cuma setengah hari. Jadi, sisa hari saya habiskan untuk mengunjungi beberapa landmark kota yang hanya buka sampai jam 5 sore. National Mall, daerah luas antara Washington Monument dan Capitol Hill, tempat Smithsonian berada. Yap, dengar kata Smithsonian pikiran langsung tertuju ke kawasan dengan sederet museum besar dan megah, koleksi super lengkap, dan pastinya gratis! Saya nggak sabar untuk masuk ke sana.

Museum pertama yang saya kunjungi adalah Natural History Museum. Koleksinya luar biasa banyaknya. Dengan pembagian zona berdasarkan habitatnya, regionnya, sampai zamannya. Semua benar2 rapi dan terorganisir. Layout museumnya juga nggak bikin bingung, jadi kita nggak tersesat. Informasi tersedia di mana2.
Museum kedua adalah National Gallery of Art. Saya nggak terlalu ngerti seni sih, tapi mencoba untuk mengerti lah senggaknya. Tapi saya memang suka dengan seni lukis Eropa. Di sana terdapat bermacam koleksi dari berbagai negara dan dari beberapa abad lampau. Semua dibagi berdasarkan tema lukisannya.
Museum ketiga adalah Air and Space Museum. Di sana dipajang berbagai sejarah penerbangan mulai dari alat paling sederhana dan konyol sampai Wright Brothers yang menjadi pencetus awal pesawat terbang masa kini. Seksi astronomi juga ada di sana. Alat peraga canggih, informatif, dan user-friendly. Mulai dari pesawat ulang alik, satelit, teleskop Hubble, sampai roket juga ada. Pemajangannya juga menarik jadi kita penasaran dan tertarik untuk melihat. Puas banget rasanya. Cuma sayang, saya pakai baju kantor, jadi kaki sakit buat jalan. Makanya saya nggak bisa lama2. Huh. Tapi gpp lah. Yang penting rasa penasaran terbayar sudah. Apa ya selanjutnya?

25 Maret 2010

Another Trip: the US (2)

Saya kursus di IMF selama satu minggu. Sebagai informasi umum, IMF itu paling deket dengan Metro (nama subway di sana) Farragut North. Jalan kaki sekitar 10 menit. Di sekitar sana cuma ada kantor, kedutaan, dan toko2. Mungkin karena memang kota ini cuma untuk kegiatan pemerintahan, bisnis, dan perkantoran, jadi nggak ada rumah tinggal. Pilihan makanan banyak, tapi karena saya takut nggak halal, pilihan saya jatuhkan ke Mehran Restaurant di Pennsylvania Avenue. Restoran khas Asia Selatan - Timur Tengah dengan ciri khasnya kebab dan kari ayam lengkap dengan nasi lemaknya. Letaknya cuma sekitar 3 blok dari IMF, 5 menit jalan kaki.

Tiga hari pertama kursus di DC, semua tampak berjalan lancar dan baik2 saja. Materi kursus ada yang bisa dicerna dan jauh lebih banyak yang nggak dimengerti. Masih wajar kan? Hehehe. Kursusnya sih lebih ke pengenalan mengenai pemilihan model yang tepat dengan menggunakan suatu alat bantu ciptaan University of Oxford supaya bisa menghasilkan forecast yang baik juga. That's the course all about.

Selebihnya, 3 hari di DC saya coba habiskan untuk menikmati musim semi yang sudah datang. Sakura di berbagai penjuru kota mulai bermekaran, udara sudah nggak terlalu dingin. Hari pertama saya langsung pulang saja karena masih kecapekan. Sementara hari kedua saya sempat jalan sebentar, tapi karena rasanya masih capek, baru setengah jam saya langsung pulang. Tapi sempet foto2 depan White House dulu hehe. Untung saya langsung pulang, karena ternyata di tengah jalan menuju stasiun Metro hujan turun.
Baru di hari ketiga ini saya pasang niat kuat2 untuk jalan dan kunjungi sebanyak mungkin situs khas DC. Mulai dari White House (lagi, soalnya foto2nya masih kurang hehe), Washington Monument yang kayak monas itu, Lincoln Memorial yang ada patung Abraham Lincoln lagi duduk segede gaban, disambung ke Capitol Hill tempat Senate berkantor. Puas? Belum sih, tapi capek jelas. Sekitar 240 menit saya jalan kaki, saya putuskan untuk pulang demi hak kaki saya untuk istirahat hehe. Tapi karena penasaran dengan cerita Justin yang katanya di Pentagon City ada Macy's-nya, akhirnya saya meluncur ke sana. Ternyata, nggak sebagus yang dibayangkan. Mallnya masih setara ITC atau Atrium Senen kalau mau lebih kejam. Padat dengan manusia berjalan merayap dan super berisik saking banyaknya orang yang ngobrol di saat yang bersamaan. Ke Macy's ternyata tokonya nggak sebagus dan sekelas Next atau Marks & Spencer di London. Tapi gitu2 juga saya nggak sanggup beli barang2 di sana hihihi. Tapi sudahlah, rasa penasaran terbayar sudah biarpun nggak beli apa2. Pulanglah saya dengan segera saking capeknya, hasilnya ya tulisan ini. Sekali lagi, kalau ditanya sudah puas, jelas belum. Cuma capek. Yang saya perlukan cuma recharge tenaga untuk jalan lagi besok sore sepulang kursus :)

20 Maret 2010

Another Trip: the US (1)

Perjalanan panjang dimulai lagi. Kali ini giliran benua Amerika yang akan saya pijak. Saya pergi dalam rangka kursus selama 1 minggu di D.C.

Berangkat dari rumah jam 12.30, saya mampir ke kantor dulu gara2 ketinggalan dasi ;p
Dari situ saya langsung meluncur ke bandara Soetta. Sampai bandara kurang dari satu jam take off. Mepet, tapi untung masih sempat hehe. Semua proses dilalui, naiklah ke pesawat. Lima jam perjalanan ke Hong Kong untuk transit nggak begitu terasa. Itu belum ada apa2nya. Tiba di bandara Hong Kong jam setengah 9 waktu setempat, saya harus tunggu penerbangan lanjutan ke NY via Vancouver yang dijadwalkan take off jam 1 dini hari waktu setempat. Lama? Jelas. Sembari menunggu Myrna take off jam 11 malam tadi, kami jalan2 dan belanja beberapa buah tangan untuk teman2 dan handai taulan nanti di tanah air. Setelah antar Myrna boarding, saya pergi ke gate yang ke NY. Untung ada Wi-Fi gratis untuk membunuh rasa bosan. Entah mau dengan cara apa lagi nunggu pesawat ini. Lebih baik saya persiapkan segala dokumen dan kelengkapan imigrasi, jangan lupa berdoa demi kelancaran proses sejak dari sini sampai tiba kembali di Tanah Air. Amin.

See you around... *boarding menuju NY*

...11 hours later...

Alhamdulillah tiba dengan selamat di Vancouver. Ya, Vancouver, bukan NY. Cakep banget ya. Di tiket nggak ada pemberitahuan kalau pesawatnya bakal transit dulu di Vancouver. Alhasil, tadi pas antri untuk boarding ditanya sama petugas karena saya nggak pegang form izin transit tanpa visa Kanada. Mana kutahu. Tapi semua lancar alhamdulillah.
Sekarang saya baru sampai, dan sekarang sudah harus boarding lagi heading to NY.

See you around again ^.^

...5 hours later...

Alhamdulillah sampai di bandara JFK, NY. Imigrasi, bagasi, semua lancar. Tadi sempet bingung, connecting flight dari NY ke DC di mana ya. Kok nggak lihat. Bodohnya, kan harusnya ada di tiket. Tadaaa, ternyata memang ada. Tanya security, pergilah saya dari Terminal 7 ke Terminal 3 naik AirTrain, layanan kereta antarterminal, "no fares no tickets" kata pak satpamnya hehe.
Sampai sini, saya masih harus tunggu flight sekitar 3 jam lagi. Lagi2, untungnya ada layanan Wi-Fi gratis, jadi nggak terisolir deh. Kapan ya Indonesia bakal banyak layanan internet gratis kayak gini ya? *Still wondering*

17 Maret 2010

Selamat Jalan Uti

Eyang Putri, biasa kami panggil Uti, menghadap ke hadirat Illahi Robbi pada (16/3) dini hari di Manokwari akibat sakit. Beliau, terlahir dengan nama Muryatmi dan sangat kami cintai, meninggal di usia 80 tahun dengan meninggalkan 1 suami, 11 putra putri dan puluhan cucu cicit.

Saya tidak bisa mengikuti prosesi pemakaman beliau karena saya nggak dapat tiket ke Manokwari. Sedih banget rasanya, tapi bagaimana lagi. Keadaan nggak memungkinkan. Yang lebih penting doa bagi arwah beliau dan semoga iman islam serta amal ibadah beliau diterima di sisi Alloh swt. Amin.

Terus terang, tidak banyak kenangan yang melekat di benak saya tentang Uti karena memang kontak secara langsung dengan beliau tidak banyak. Sejak lahir hingga kuliah saya tidak pernah bertemu beliau kecuali barangkali waktu saya masih kecil. Saya nggak terlalu ingat momen itu. Tapi, pertama kali saya bertemu beliau di masa dewasa adalah tahun 2006. Tepat setelah menyelesaikan proyek dosen, menjelang Idul Fitri, dan setelah pengumuman bahwa saya diterima di tempat kerja sekarang, saya pergi ke Papua untuk pertama kalinya. Saya bertemu dengan Uti dengan perasaan segan dan takut. Jelas perasaan itu menyeruak karena saya dengar dari saudara2 saya kalau Uti galak. Tapi nyatanya waktu saya bertemu beliau, kok nggak ya. Bahkan beliau teramat baik sama saya. Saya dimasakin makanan, dibelikan durian satu karung, sampai2 waktu mau pulang ke Jawa beliau ikut mengantar sambil bawa keripik sukun satu kardus besar. Sekarang, beliau pergi untuk selamanya.

Selamat jalan Uti, semoga diterangkan dan dilapangkan alam kuburnya. Percayalah kalau kami selalu mencintai dan menyayangi Uti.

23 Februari 2010

Cerita pertama di tahun 2010

Wah, lama nggak nge-blog. Rasanya kangen. Padahal banyak kejadian yang saya lalui dua bulan kemarin, tapi berhubung sibuk jadinya nggak sempet bikin blog deh.

Awal bulan ini dibuka dengan milad saya yang alhamdulillah tahun ini memasuki usia 28 tahun. Dibilang muda juga nggak, tapi tua juga masih belum. Nanggung gitu kali ya. Nggak terasa memang kalau dalam 28 tahun ini sudah banyak pengalaman dan kejadian yang saya lalui, entah suka atau duka. Kejadian itu yang membentuk karakter saya hingga sampai sekarang ini. Jelas masih banyak hal yang mesti saya perbaiki. Masih banyak juga yang harus saya lakukan. Semoga Alloh menguatkan niat, langkah, dan proses perjalanan saya menuju jalanNya. Amin.

Oia, insya Alloh Kamis (25/2) Alis mau nikah. Doakan ya semoga pernikahannya langgeng dan lancar. Amin. Doakan juga semoga saya segera menyusul :D
Saya insya Alloh mau ke sana, sekalian wisata kuliner di Yogya, Solo, dsk. Makanan di sana tuh bikin kangen. Murah dan enak. Yogya, here I come ^.^

31 Desember 2009

Wafatnya Gus Dur, agamawan sekaligus negarawan

Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun. Telah berpulang ke Rahmatullah, kyai pembesar Nahdlatul 'Ulama (NU) sekaligus Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam usia 69 tahun. Beliau wafat di RSCM pukul 18.45 WIB akibat mengalami komplikasi jantung, stroke, diabetes, dan ginjal.

Mendengar nama Gus Dur, ingatan kita tidak akan lepas dari NU dan perannya sebagai pemimpin tertinggi republik ini meskipun tidak sampai 2 tahun. Memang kondisi negara ketika itu baru memasuki tahap pemulihan dan reformasi setelah dihantam krisis moneter. Tugas berat tentunya bagi seorang Gus Dur untuk memimpin bangsa dalama masa transisi di tengah kondisi fisiknya yang terbatas. Tapi sebagai negarawan yang sangat mencintai tanah airnya, beliau tidak pantang menyerah dalam membawa bahtera negara ini ke arah yang lebih baik. Terbukti, banyak jasa beliau ditorehkan semasa menjabat sebagai kepala negara. Setidaknya, beliau membuka "keran" kebebasan beragama yang selama ini tersumbat pada pemerintahan sebelumnya. Kong Hu Chu diakui sebagai agama negara dan kebudayaan Tionghoa diakui sebagai bagian budaya nasional. Implikasinya, berbagai perayaan dalam menyambut tahun baru imlek diperbolehkan seiring dengan diberlakukannya tahun baru tersebut sebagai hari libur nasional. Hal tersebut menjadi simbol pluralisme yang dianut cucu dari pendiri NU ini, yaitu semua keyakinan bebas berkembang di negeri ini. Tentunya tetap dalam koridor kerukunan antar-umat beragama.

Bukan Gus Dur namanya kalau tidak membuat keputusan kontroversial. Ketika Inul dihujat berbagai kalangan akibat goyangannya yang dianggap seronok, beliau justru tampil di depan mendukung Inul. Ketika isu gerakan separatis sedang memanas, beliau justru mengizinkan pengibaran bendera gerakan separatis tersebut untuk dikibarkan di daerah konflik. Terang saja hal itu menimbulkan berbagai pro dan kontra.

Ketika melihat tayangan penyerahan jenazah beliau kepada pemerintah melalui Ketua MPR Taufik Kiemas pagi tadi, saya tiba2 teringat kontroversi kyai ini semasa menjabat dengan seringnya pelesir ke luar negeri. Di tengah kondisi negara yang masih terseok-seok akibat dihantam krisis moneter, beliau malah menciptakan rekor tertinggi pergi ke LN. Dulu saya merasa sangat benci dengan apa yang beliau lakukan. Tapi saat menonton acara tadi, saya tiba2 berpikir jangan2 memang ada alasan beliau melakukan itu namun tidak terinfokan dengan baik. Ternyata, dugaan saya memang benar. Panjang umur, pagi tadi saya sempat melihat berita di berbagai media pemberitaan di internet baik dalam maupun luar negeri, tanpa diduga sampailah saya pada artikel yang ditulis oleh asisten pribadi beliau ketika menjadi presiden. Beliau memang ada motivasi dalam melakukan perjalanan ke luar negeri. Ternyata banyak dari negara2 yang beliau kunjungi merupakan negara peserta konferensi Asia Afrika. Brazil mengekspor ratusan ribu ton kedelai ke AS sementara kita mengimpor setengahnya dari AS, maka beliau datang ke Rio de Janeiro untuk membeli langsung dari Brazil tanpa melalui AS. Sementara itu, Venezuela mengimpor 100% rempah2nya dari Rotterdam sementara kita mengekspor 100% rempah2 ke Rotterdam. Yang beliau lakukan, menawari Hugo Chavez untuk membeli rempah2 langsung dari kita. Kepada Sultan Hassanal Bolkiah, beliau mengusulkan pembangunan Islamic Financial Centre di Brunei Darussalam lalu membujuk para pemimpin di Timur Tengah untuk menempatkan dananya di sana ketimbang di Singapura. Malu rasanya diri ini sempat membenci beliau di balik kebersihan niat baiknya untuk memajukan meskipun tidak didukung oleh rakyatnya sendiri.

Gus Dur tetaplah Gus Dur. Kini, tidak ada lagi negarawan dengan kelakarnya yang khas.
Selamat jalan Gus Dur, jasamu akan selalu dikenang. Semoga engkau diterima di sisi-Nya. Amin.

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar