16 Februari 2009

Syukuran

Alhamdulillah rencana kami untuk mengadakan acara syukuran atas apa yang telah kami peroleh selama ini bersama adik2 yatim piatu dan dhuafa di Panti Aisyiyah di bilangan Setiabudi terlaksana juga. Acara berjalan lancar. Awalnya acara diadakan sekitar jam setengah 7 malam, ba'da maghrib. Tapi ternyata teman2 menunggu saya yang masih dalam perjalanan menuju lokasi dari kantor karena lembur. Makasih ya teman2.


Sesampainya saya di sana, Andhi membuka acara dengan sepatah dua patah kata tentang maksud kami mengadakan syukuran di panti. Setelah itu, bapak pengurus menyampaikan sambutannya, dilanjutkan dengan pembacaan doa. Selesai berdoa, kami langsung makan. Sofyan pesan Hoka-hoka Bento, sementara saya pesan kue tart double chocolate cake dan cup cake. Anak2 tampak senang menikmati hidangannya, apalagi barangkali belum tentu pernah mereka makan. Bahkan masih ada yang kesulitan memakai sumpit. Oia, ada lho yang nggak makan makanannya, katanya mau dibagi dengan ibunya di rumah. Wah, terharu deh dengernya T_T


Acara makan berlangsung kurang lebih 1 jam. Selesai makan, kami berfoto bersama dan anak2 segera pulang ke rumah masing2 berhubung malam semakin larut.
Terima kasih ya teman2 atas kehadiran dan sumbangsihnya dalam menyukseskan acara sosial kita yang pertama kalinya ini. Buat Sofyan, Andhi, Yudhi, Alis, Sapto, Luki, Ihsan, Hero, Narso, semuanya deh. Makasih ya. Semoga di masa2 mendatang bisa terus berlanjut. Amin ^_^

05 Februari 2009

Yogyakarta Kota Berhati Nyaman

Kata itu yang sering saya dapati selama berkunjung ke Yogya. Ternyata itu bukan sekadar istilah semata, setidaknya itu yang saya rasakan selama 3 hari libur akhir Januari lalu. Saya awalnya tidak berniat berlibur ke Yogya, tapi setelah dibujuk teman2, juga terpikir untuk bersilaturahmi dengan pakdhe Bambang sekeluarga, dan keinginan untuk memberi kejutan pada teman, saya akhirnya secara mendadak memutuskan pergi ke sana. Senin saya putuskan pergi ke sana, hari Selasa ada teman kantor, Wulan, yang mendadak harus dinas ke Lhokseumawe. Tiket mudik ke Yogya yang dia punya pun dia tawarkan pada saya. Tanpa ragu langsung saya beli tiketnya. Pulang kantor, saya langsung meluncur ke stasiun. Selepas sholat, saya langsung naik kereta.

Setibanya di stasiun Tugu Yogya, saya minta tolong Yudhi jemput saya di sana. Saya diantar Yudhi ke rumah Pakdhe. Saya awalnya ingin memberi kejutan pada pakdhe, dan berhasil :D Kami mengobrol sampai menjelang setengah tujuh pagi. Dilanjut dengan sarapan dan mandi pagi, saya diantar pakdhe ke stasiun Tugu untuk beli tiket pulang. Awalnya saya mau pulang dengan Argo Dwipangga. Tapi ternyata habis tiketnya. Akhirnya saya ambil tiket Bima kelas Executive. Nggak disangka, ternyata harga tiketnya murah lho, cuma 190 ribu, beda dengan tiket keberangkatan saya yang sampai 350 ribu. Dari sana, saya diajak pakdhe dan budhe ke daerah Ngireng-ireng, Panggungharjo, Bantul, tepatnya di belakang ISI. Ternyata di sana ada rumah makan gudeg tradisional, namanya Sego Gudeg Nggeneng. Cara penyajiannya, makanan yang kita pengen langsung ambil ke dapurnya. Tapi ternyata waktu sampai di sana, sedang ada pengajian karena tetangga warung tadi meninggal. Dalam keadaan berkabung, mustahil warungnya buka. Karena itu, pakdhe langsung mengganti tujuan makan ke daerah lain, tepatnya di daerah Sumberagung, Jetis. Masih di Bantul. Nama warung makannya Mangut Lele Jetis.

Enaknya nggak terperi. Hehehe... Sayur2an mentahnya ada yang belum pernah saya makan atau lihat. Sekilas mirip rumput, tapi rasanya seperti daun pandan. Selepas makan kenyang di sana, saya kembali ke Yogya. Saya janjian dengan Yudhi dan Alis di Malioboro. Tapi saya sebenarnya mau memberi kejutan buat teman saya yang lagi datang dari Solo, Elok. Tanpa sepengetahuan dia, saya pergi ke Yogya di saat yang bersamaan dia pergi ke Yogya juga. Tapi ternyata dia sudah terlanjur naik Pramek ke Solo waktu saya sampai di Malioboro. Akhirnya selepas siang saya habiskan hari ngobrol2 di restoran di Malioboro Mall dan rumah Alis di dekat Alun2 Selatan. Selepas Maghrib, kami jalan ke Ngasem, makan bakmi godhog. Enaknya :D

Selesai makan, kami ke Ring Road Utara. Ada yang mau karaokean di Happy Puppy. Rasa capek karena perjalanan di kereta membuat saya nggak bersemangat karaoke, apalagi sampai jam 11 malam. Yang lebih nggak enak lagi, gimana pulang ke rumah pakdhe kalau beliau sudah tidur. Akhirnya dengan diantar teman2, saya pulang. Untung pakdhe nggak marah. Hehe..Keesokan harinya, saya ke Malioboro lagi. Dengan ditemani Yudhi, saya akhirnya ketemu dengan Elok dan temannya, Ryna, Alis, dan mas Erwin. Dari sana, kami ke arah Kaliurang untuk wisata alam. Tapi sebelumnya kami makan dulu di Boyong Kalegan. Suasananya kayak restoran saung khas Sunda. Makanannya lumayan enak, apalagi guramenya ;p


Nggak diduga, hujan lebat mengguyur. Jadinya kami nggak jadi ke Kaliurang. Sambil menunggu reda, kami ngobrol ngalor ngidul.
Hehehe... Ternyata hujan nggak berhenti2, jadinya kami nekad juga menerobos hujan. Tapi kami nggak jadi ke Kaliurang, tapi karaokean di Happy Puppy. Berhubung tiba2 saya teringat dengan janji mau diajak pergi pakdhe sekeluarga, mendadak di jalan saya batalkan acaranya. Akhirnya saya langsung pulang. Begitu selesai sholat maghrib, kami pergi ke daerah selatan. Kalau nggak salah di Suryowijayan. Makan bakmi godhog, terus minumnya wedang uwuh. Tampilannya sih ga menarik, tapi rasanya enak lho ternyata. Makan kenyang, tidur nyenyak, senangnya :D

Besoknya, saya diajak ke Bebeng, di sekitar kaki gunung Merapi. Pakdhe bilang kalau mall banyak, tapi kalau objek wisata begini cuma ada satu2nya ini. Kapan lagi pikir saya. Akhirnya kita ke sana. Di sana sempat berfoto depan Merapi dari jarak dekat. Kota Yogya terlihat di kejauhan. Pemandangannya bagus. Di sana saya sempat icip jadah tempe ditemani wedang jahe. Sebelum pulang, mampir ke rumah mbah Maridjan. Senang banget saya bisa ke sana. Kapan2 lagi ya pakdhe :)Siang hingga sore saya habiskan waktu di rumah. Kecuali sempat ke Beringharjo beli sanggul titipan mama. Selama saya ke Yogya, banyak bahan obrolan dengan pakdhe yang saya petik dan pelajari, mulai dari filosofi dan makna hidup, kesederhanaan, kebersahajaan, kebijaksanaan, dan kepasrahan pada Yang Kuasa. Makasih banget buat pakdhe atas nasihat2nya.Malam saya pulang, perjalanan serasa menyenangkan karena sudah melewati weekend dengan senang juga. Meskipun ternyata saya telat sampai Jakarta. Sampai Gambir jam 8 pagi, ternyata hujan lebat. Apalagi saya bawa sanggul sekotak besar. Jadi mau nggak mau saya antre taksi. Hampir sejam kemudian saya baru dapat taksi, langsung meluncur ke kosan, mandi secepat kilat, dan kembali lagi. Bos alhamdulillah nggak marah karena saya sudah ijin sebelumnya. Duh, nggak lagi deh pulang mepet2. Hehehe...

Yogya, kali ini dia berhasil mencuri hati saya. Nggak sampai 3 hari saya sudah mulai jatuh cinta pada Yogya, tanpa melupakan Bandung pastinya ;p

03 Februari 2009

27 Tahun Telah Terlewati

Apa yang sudah saya dapati dan alami selama 27 tahun ini? Yang jelas nggak sedikit.

Pertama, saya punya keluarga yang saya cintai, selalu mendukung saya dalam meniti hidup.
Kedua, saya punya teman2 yang bisa saya percaya, saya ajak berbagi, dan bisa memberi nasehat waktu saya melakukan kesalahan.
Ketiga, saya punya pekerjaan yang bisa membuat saya banyak belajar ilmu di luar apa yang pernah saya dapat selama ini, dengan rekan kerja yang bisa membuat saya senang, dongkol, sakit hati, atau sedih.
Keempat, saya merasakan titik balik yang luar biasa besar dalam kehidupan keagamaan saya. Yang jelas, saya merasa lebih puas dengan keadaan sekarang, banyak bersyukur karena kejadian apapun yang pernah saya alami ternyata banyak nilai yang luar biasa berharganya. Apa yang terjadi di keluarga saya, perlakuan teman2 saya dulu, atau kesulitan keuangan yang sempat melilit membuat saya lebih kuat berprinsip, nggak terseret dengan gaya hidup hedonis, dan mencoba menghargai setiap orang bagaimanapun menyebalkannya orang itu.Banyak harapan, cita2, dan keinginan yang tersemat di diri saya dalam menjalani tahun ke-28 dan seterusnya ini.
Saya yang jelas pengen nikah hehe.. Pengen naik haji pas masih muda, bisa berkarir dengan baik, punya usaha kecil2an yang bisa menopang keluarga, bisa kuliah lagi, dan segudang harapan lainnya. Semoga Alloh melancarkan langkah saya mencapai segala apa yang saya inginkan untuk mencapai ridhoNya. Amin. Makasih banyak buat keluarga dan teman2 yang sudah mendoakan saya untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Selamat ulang tahun Oki yang ke-27, semoga bahagia dunia akhirat. Amin Allohumma amin :)

23 Januari 2009

Cerita2 di akhir Januari

Wah, ternyata blogging menyenangkan. Belajar menulis dengan bahasa yang baik tentu saja. Saya lakukan ini bukan tanpa tujuan. Berhubung pekerjaan saya sebagai salah satu penulis buku outlook ekonomi jangka panjang, sangat dituntut kemampuan lebih dalam menulis. Saya masih ingat pada beberapa bulan yang lalu, hasil tulisan saya mengenai analisis deskriptif industri manufaktur di Indonesia dicela bos habis2an hihihi... Katanya sih kurang terstruktur, kurang inilah itulah. Tapi dari situ saya justru terpacu untuk bisa menulis lebih baik lagi. Ternyata itu nggak mudah. Terkadang, apa yang ingin kita utarakan akan menjadi berbeda maknanya jika disusun dengan pola yang tidak teratur. Makanya, nggak mengherankan kalau bahasa di blog saya mulai baku. Semua masih dalam proses. Kelak, saya akan lebih banyak menulis sesuatu yang lebih dalam, bermakna, kalau perlu dalam bahasa Inggris ;p

Sedikit cerita tentang bulan Januari. Sekali2 menulis sesuatu yang tidak populer ah :D
Setelah kejadian gempa di Manokwari, nggak banyak peristiwa penting yang saya tau atau alami di bulan ini, kecuali saya mulai belajar model DSGE yang kata anak2 jaman sekarang lagi happening ;p Tapi kalau nggak salah baru satu negara yang pakai model DSGE untuk forecasting ekonomi dalam jangka panjang, yaitu Rep. Ceko.
Ada satu lagi. Inaugurasi Obama sebagai presiden AS ke-44. Dia juga bisa dibilang sedang happening. Demam Obama dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah membawa asa baru bagi dunia dalam mewujudkan (kata pembukaan UUD '45 sih) ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Saya termasuk orang yang tidak banyak menaruh perhatian pada Obama. Tapi, perlu diperhatikan kebijakan luar negerinya dalam beberapa waktu ke depan, setidaknya 100 hari pertama kepemimpinannya. Bukan Obama kalau tidak membawa perubahan atau perbaikan. Pada hari pertama, dia menetapkan untuk menutup penjara Guantanamo pada tahun ini. Gebrakan apa lagi yang akan dia buat? Kita lihat saja ^_^

06 Januari 2009

Selamat Tahun Baru 1430 H dan 2009 M

Menyongsong tahun baru, saya berlibur ke Papua lagi dengan mengambil cuti selama 2 hari pada 30-31 Desember 2008. Ada hal yang sangat berkesan selama saya di sana. Mama ternyata sudah mulai menggeliat bisnis persewaan alat pestanya. Alhamdulillah. Hal itu tentu tidak didapat dengan serta merta. Diawali dengan persetujuan pengucuran kredit dari sebuah bank pemerintah terkemuka, Mama mulai membeli modal berupa mobil pengangkut barang, kursi, tenda, piring, dll. Tidak lama setelah itu, datanglah saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Seperti yang bisa ditebak, momen perayaan ini ternyata membuat permintaan akan alat persewaan membeludak, bahkan sampai kewalahan memenuhi permintaan. Dengan gesitnya, Mama berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk bongkar dan pasang tenda. Saya salut melihat Mama di usianya yang sekarang masih gesit dan cekatan dalam bekerja. Rasanya seperti tidak ada capek2nya. Belum lagi kalau ada yang ingin dirias atau potong rambut. Jam kerja Mama rasanya menjadi jauh di atas jam kerja orang kantoran. Di sela kesibukannya itu, Mama masih sempat masak di rumah buat anak2 dan mengurus binatang piaraan yang tidak sedikit.

Di malam tahun baru, kami jalan2 keliling kota Manokwari yang gemerlap oleh kembang api dari senja sampai sekitar jam 4 dinihari. Saya bisa membayangkan berapa milyar uang yang mengalir hanya untuk membeli kembang api. Rumah saya di Reremi tergolong daerah perbukitan. Ujung timur kota di Kampung Ambon dan ujung barat kota di Wosi bisa terlihat, lengkap dengan pelabuhan, bandara, dan pusat kotanya. Malam itu, kembang api bertaburan di setiap sisi kota. Saya sangat terpesona karena tidak pernah melihat kembang api sebanyak dan selama itu, bahkan di Jakarta sekalipun. Momen itu tidak saya sia2kan. Saya mengambil video beberapa kali untuk mengabadikannya.

Setelah berlibur selama kurang lebih 9 hari, saya kembali ke Jakarta hari Sabtu pagi. Kenapa tidak Minggu? Karena harga tiket lebih mahal 1 juta. Hehehe... Saya urungkan niat pulang hari Minggu akhirnya. Ternyata ada hikmah di balik kejadian itu. Hari Minggu pagi, di tengah lelapnya tidur, saya ditelpon Mama kalau beliau sekeluarga baru merasakan gempa yang cukup kuat. Ternyata gempa berkekuatan 7,2 SR. Disusul dengan gempa berkekuatan 7,6 SR beberapa jam kemudian. Listrik sempat mati, warga di bawah mengungsi ke sekitar rumah Mama karena isu tsunami, beberapa bangunan roboh, termasuk hotel Mutiara di Sanggeng tempat saya menonton pesta kembang api di malam pergantian tahun. Tugu Selamat Datang di Wosi tidak ketinggalan. Gudang rumah eyang yang tidak jauh dari Hotel Mutiara juga roboh. Eyang putri bahkan sampai shock dan dibawa ke RSUD Manokwari sampai hari ini. Semoga beliau segera pulih seperti sedia kala. Amin. Mohon doanya ya teman2 :)

Selamat Tahun Baru ya. Semoga di tahun ini kita menjadi semakin baik dan sukses. Amin.

22 Desember 2008

Selamat Hari Ibu

Mama, sesosok manusia yang sangat saya cintai. Cinta yang tulus, biarpun perih pedih pernah kurasakan dan kulalui bersama Ibu, namun tidak melunturkan rasa cintaku pada Ibu. Rasanya sudah banyak kesalahan dan kekhilafan yang pernah saya buat, bahkan kebohongan besar pernah saya lakukan.
Tidak banyak kejadian di masa balita yang saya ingat bersama Mama. Tapi setidaknya sekitar umur 4 tahun ketika masuk TK, Mama selalu mengantar saya ke sekolah. Bekal setiap pagi? Bolu beruang warna warni yang dibeli di warung dekat rumah. Beranjak dewasa, semakin banyak kenangan yang terpatri di memori saya. Ketika SD, yang paling saya kenang adalah Mama mulai memanggil guru ngaji supaya kami bisa mengaji, walaupun terkadang tanpa Mama sadari kami sering minta Mama mengajak kami jalan2 menjelang jam ngaji karena kemalasan kami ;p Biasanya Mama baru sadar ketika sampai di rumah, tiba2 nyeletuk "Loh, bukannya kalian harusnya ngaji?" Hehehe. Masa SD berlalu, ketika SMP Mama sering mengantar dan menjemput kami ke sekolah hampir setiap hari. Mama melakukannya sampai kami SMA. Mungkin Mama melakukan itu selain mengisi waktu, juga memastikan kalau anak2nya tidak keluyuran ke mana2. Tapi kebiasaan itu tertanam dalam otak, sampai2 saat Mama tidak mengantar pun kami sangat patuh dengan pergi hanya ke sekolah dan pulang langsung ke rumah, tidak tersangkut di mall atau tempat main dingdong hehe. Memasuki masa kuliah, kesuraman mulai meliputi kami sekeluarga. Ujungnya, saya putus kuliah di UNDIP karena keterbatasan biaya. Untuk makan pun masih kesulitan. Sampai2, pernah saya sekeluarga bersama Mama hanya mampu beli makan satu piring dan itu kami makan bersama. Sedih rasanya.
Kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan pada Mama adalah saya harus berbohong dan berpura2 kuliah pada tahun 2000 lalu. Kejadian itu bermula dari kejadian traumatis ketika kuliah di Teknik Sipil UNDIP tahun 1999. Mungkin bagi sebagian orang, OSPEK di sana tidak terlampau berat. Tapi bagi saya, di saat rapuh akibat orang tua saya yang sedang berseteru ditambah dengan kesulitan biaya membuat saya kesulitan menghadapi itu semua. Trauma yang terpahat di otak membuat saya tidak mau mengikuti kuliah, bahkan meskipun saya sudah diterima UMPTN untuk kedua kalinya di Matematika UNPAD tahun 2000. Perlu sekitar setahun untuk membuat saya cukup berani melangkah ke kampus. Selama itu pula saya berbohong pada Mama dan pura2 berangkat ke kampus hampir setiap harinya. Jengah dengan itu semua, untuk ketiga kalinya saya ikut UMPTN dan diterima lagi di Matematika UNPAD tahun 2001. Dengan keberanian yang tersisa, saya akhirnya mau mengikuti kuliah. Ternyata di sana tidak banyak hambatan berarti. Bahkan selama di sana saya mendapat teman2 yang baik2, saya mendapat pencerahan dalam agama, juga mampu berprestasi di atas rata. Alhamdulillah. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Ayat itu yang paling terngiang saat itu.Dengan segala yang telah saya lalui, menjadikan diri semakin kuat, menerima keadaan, banyak bersyukur atas semua yang saya dapat, diusahakan tidak mengeluh, walaupun masih suka sewot kalau ada yang nggak sreg di hati ;p
Kalau bicara bagaimana cara Mama mendidik kami, satu yang saya salut. Adil. Itu kuncinya. Kami kalau bertengkar, tanpa mau tahu siapa yang salah, pokoknya kami pasti disalahkan semua, pastinya dengan tangan atau sapu yang mendarat di paha hehe.. Tapi cara itu cukup ampuh dan membuat kami jarang bertengkar, karena percuma meskipun kita benar toh dipukul juga. Jadinya kami malah tidak mau cari ribut. Kalaupun ribut, kami berusaha menyelesaikannya sendiri dan harus sudah selesai sebelum Mama tahu :)
Mama, terima kasih sudah menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup saya, sudah mendoakan dan mengiringi langkah saya menjalani hidup, tentunya tanpa melupakan Alloh SWT. Semoga kebahagiaan, keselamatan senantiasa meliputi kehidupan Mama. Amin.

08 Desember 2008

Aamir and Amber

Pasti bertanya2, ada apa gerangan dengan kedua nama itu sampai saya rela nulis blog panjang2 tentang mereka ^_^
Sebenarnya ini semua berawal dari Jakarta International Film Festival ke-10 yang diselenggarakan pada 5-9 Desember 2008. Menurut jadwal, ada pemutaran film bertemakan kisah cinta antara seorang muallaf Australia dan gadis Pakistan di Goethe Haus, kawasan Menteng Jakarta. Dengan berbekal info bahwa film yang diputar gratis untuk umum, saya dan Asti meluncur ke sana dengan harapan bahwa kami masih mendapat tiket gratis, mengingat kursi yang tersedia hanya 100 buah. Telat sekitar 15 menit dari jadwal pemutarannya, akhirnya dimulailah kisah nyata tersebut. Sebelumnya saya minta maaf kalau cerita ini terdapat beberapa distorsi akibat keterbatasan memori saya :)
Bermula dari seorang Australia, Brian, yang memiliki minat pada permainan boneka puppet ketika menginjak usia remaja. Suatu ketika, diadakan sebuah festival puppet internasional di Lahore, Pakistan. Dengan keahlian yang disandangnya, dia terbang ke Lahore sebagai partisipan pada tahun 2000. Tanpa diduga, dia bertemu dengan seorang gadis Pakistan, Amber. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketika terbersit untuk menikah, Brian tersandung dengan perbedaan keyakinan di antara mereka. Sepulang dari festival puppet, dia semakin menekuni Islam dan berkeputusan untuk menjadi muallaf dan menikahi Amber. Saat itu pula, Brian mengubah namanya menjadi Aamir.
Dari sini, lika liku perjalanan kisah cinta mereka dimulai. Aamir kembali ke Lahore setahun kemudian untuk melamar sang pujaan hati. Keluarga Amber menyetujui pernikahan mereka, namun tidak demikian halnya dengan kakak laki2nya. Kakaknya beranggapan bahwa Aamir belum Islam karena prosesi Syahadat dilakukan di luar Pakistan. Apalagi dia seorang warga negara asing. Upaya meyakinkan orang tua dan keluarga Amber dilakukan Aamir, dan ternyata tidak sia2. Mereka menyetujui pertunangan Aamir dan Amber. Aamir sendiri berencana akan menetap di Pakistan. Bahkan, dia membuat boneka puppet keledai sebagai modal untuk membuat acara the Puppet Show di sebuah stasiun televisi di Pakistan. Dengan kepastian pernikahan tersebut, Aamir kembali ke Australia untuk menjual rumah dan menggantinya dengan rumah di Pakistan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, Aamir merasa jika Amber lebih baik tinggal di Australia. Terlebih lagi, ternyata produser acara televisi di Pakistan yang semula menyambut baik rencana Aamir membuat acara tersebut tidak kunjung terwujud. Dihadapkan pada kondisi demikian, dia kembali lagi ke Lahore untuk meminta orang tua Amber menikahkan mereka dan mengizinkan Aamir membawa putri mereka ke Australia. Orang tua Amber tidak serta merta mengizinkan karena kekhawatiran terhadap putri mereka. Mereka khawatir, jika Amber disakiti dan mereka jauh darinya, tidak ada yang dapat menolong Amber. Tidak ada yang menjamin pula bahwa Amber akan bahagia selama hidup di perantauan. Mereka akhirnya mengajukan syarat jaminan 500,000 rupee bagi putri mereka pada Aamir. Aamir dengan tegas menolak. Dia meyakinkan bahwa dia akan membahagiakan Amber. Keyakinan itu membuat orang tua Amber meminta waktu satu minggu untuk berpikir ulang.
Seminggu kemudian, Aamir kembali menemui orang tua Amber. Dengan berbagai pertimbangan, diputuskanlah pernikahan mereka berdua dalam beberapa hari ke depan. Kebahagiaan akhirnya meliputi kedua pasangan ini pada 2004. Tiba hari yang dinanti, mereka akhirnya melangsungkan pernikahan hanya 5 jam sebelum kepulangan Aamir ke Australia karena habisnya batas waktu visa. Sesaat sebelum kembali ke Australia, Aamir meminta Amber memenuhi segala persyaratan yang dimintanya untuk melengkapi pengajuan visa ke Australia. Dia meninggalkan boneka puppetnya agar istrinya dapat terus mengingatnya selama dia kembali ke Australia. Ternyata, dalam 9 bulan ke depan, persyaratan tidak kunjung terpenuhi, Amber tidak kunjung datang ke Australia, Aamir yang kini bekerja di sebuah pabrik kursi pun tidak dapat berkunjung ke Pakistan untuk menjenguk istrinya karena kekurangan biaya. Stres mulai menghinggapi Aamir, sampai2 dia harus ke psikiater untuk mencari solusi atas depresi yang dia alami. Istrinya pun nun jauh di sana ternyata jatuh sakit akibat menahan rindunya yang teramat sangat pada sang suami. Begitu mengetahui Amber sakit melalui saudara iparnya, Aamir menelpon Amber untuk menanyakan keadaannya. Namun Amber tidak mengakui. Merasa tidak diberi tahu yang sebenarnya, Aamir menelpon saudara iparnya dengan niat ingin menceraikan Amber karena sulitnya mereka bersatu dan ketidakjujuran Amber.
3 bulan kemudian, tepat setahun setelah mereka menikah, Aamir berkunjung ke Pakistan secara diam2 untuk memberi kejutan pada istri dan keluarganya sembari menyelesaikan persyaratan administrasi yang dibutuhkan untuk memproses visa. Di sana, dia kembali mengutarakan niatnya untuk membawa Amber ke Australia. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kedua orang tua Amber menyetujui rencana tersebut. Namun, sebelum membawa putri mereka ke Australia, mereka ingin prosesi pernikahan dilanjutkan ke tahap berikutnya, karena menurut adat istiadat setempat, pernikahan yang mereka lakukan setahun yang lalu belum lengkap. Akhirnya, setelah melalui berbagai persiapan mulai dari baju pernikahan, perhiasan, dan makanan, resepsi pun dilakukan selama 2 hari berturut2 di rumah Amber dengan mengundang kerabat dan tetangga.
Beberapa hari setelah resepsi, visa pun akhirnya keluar. Dengan berat hati, Amber harus meninggalkan orang tuanya tercinta di Pakistan untuk menjalani hidup baru bersama suaminya, Aamir, di Australia pada awal 2006. Bulan pertama menjadi masa2 tersulit bagi Amber karena harus berjauhan dengan keluarganya, terutama ibundanya. Bahkan dia bersikeras ingin kembali ke Pakistan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Amber dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah melalui berbagai rintangan selama 5 tahun, akhirnya mereka dapat hidupa bersama dengan bahagia.
Banyak nilai moral yang dapat dipetik dari kisah kedua insan yang jatuh cinta ini.
Pertama, jangan putus asa untuk sesuatu yang kita yakini dan kita ingin dapatkan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Kedua, pernikahan lintas budaya ternyata membutuhkan kearifan. Konflik antar budaya bisa mengakibatkan cinta yang dirasakan menjadi berkurang, bahkan mati. Untuk itu, diperlukan kompromi antar kedua pasangan untuk memilih jalan mana yang akan dihadapi dan dilalui sehingga cinta keduanya tetap dapat terpelihara dengan baik.
Ketiga, cinta memang butuh pengorbanan. Ada yang harus kita tinggalkan demi mendapat sesuatu yang lebih, meskipun kita teramat sangat mencintai dan menyayanginya.
Keempat, cinta memang tidak pandang bulu. Meskipun orang yang dicintai ada di ujung dunia pun akan tetap dikejar demi kebahagiaan yang diimpikan.
Duh, jadi mellow gini ya. Tapi emang film ini keren abis. Nggak kayak film pada umumnya, film ini dibuat seperti dokumenter karena ini memang kejadian nyata, tanpa melupakan unsur komedi tentunya, dimana sang sutradara berkebangsaan Iran yang bermukim di Australia, Faramarz K. Rahber, yang memang berteman dengan Brian a.k.a. Aamir berusaha mengikuti perjalanan cinta Aamir mendapatkan Amber tanpa campur tangan apapun, dikemas dengan apik, disajikan dengan penuh cita rasa, hingga sampailah film ini ke Indonesia dan bisa ditonton secara gratis oleh saya :D
Salut buat beliau. Semoga karya hebat ini bisa ditiru para sineas Indonesia dengan menyajikan film bermutu dengan kreativitas tinggi tanpa harus bertema yang (mereka anggap) sedang populer seperti film berbau “saru” atau klenik.

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar