Yang namanya jalan2 emang nggak ada habisnya. Setelah 2 minggu lalu pergi ke Bandung nengok papa, minggu lalu saya pergi ke sekitaran Jawa Tengah. Sebenernya, hari Kamis (13/11) itu saya dinas ke Solo. Tapi saya sempatkan main ke Yogya dan Solo.
Hari Rabu (12/11) pagi sengaja saya berangkat ke Solo untuk mengejar kereta Prameks (Prambanan Express) yang menurut jadwal yang saya lihat di internet sih jam 8 pagi. Ternyata tanpa diduga pesawatnya ditunda dengan alasan cuaca buruk di Solo. Meskipun orang2 di sekitar saya yang ikut menunggu di ruang tunggu bandara merasa tidak percaya adanya gangguan cuaca di Solo setelah mereka menghubungi kerabat atau relasi mereka di sana, toh saya cuek saja. Malas menambah pikiran yang nggak perlu. Ya nggak? :D
Setelah menunggu hampir 2 jam, kami akhirnya sekitar setengah 8 boarding. Sekitar 1 jam kemudian, saya tiba di Solo. Dengan menumpang taksi (terpaksa, karena ternyata nggak ada moda transportasi lain semisal angkot, bis, kereta, atau becak yang bisa membawa saya ke pusat kota), saya tiba di Hotel Novotel Solo sekitar jam setengah 10, tempat saya menginap, untuk menitipkan barang. Karena setahu saya jam check in itu sekitar jam 12.00. Iseng saya tanya ke resepsionis (kelak saya mengenalnya, namanya Elok) apa sudah bisa check in jam segini. Tanpa diduga, saya bisa check in saat itu juga. Tanpa menunggu lama, mendaratlah saya di kasur empuk kamar 318, persis menghadap Timur, sembari menonton Oprah Show yang sudah lama saya lewatkan. Sambil menonton, saya cari informasi jadwal kereta Pramek. Setelah dapat, saya putuskan untuk ke Yogya jam setengah 12. Jam 11 saya naik becak dari hotel ke Stasiun Solobalapan. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat saya hanya membayar 10 ribu saja. Setibanya di stasiun, saya ke loket 4, beli tiket Prameks. Well, ternyata harga tiket kereta malah lebih murah lagi, Rp 7000 saja.
Kereta berangkat sesuai jadwal. Satu jam kemudian saya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, saya ambil bus jalur 4 menuju Kaliurang, tempat pakdhe dan keluarganya tinggal. Setibanya di sana, ternyata pakdhe kerja, sementara budhe tiba2 harus melayat ke tantenya yang meninggal di Solo. Tanpa membuang waktu, saya memutuskan pulang saat itu juga, pastinya setelah makan siang dan sholat. Karena agak bingung jalur mana yang harus saya ambil untuk sampai di Stasiun Tugu, akhirnya baru sekitar setengah 5 saya baru sampai di stasiun. Tapi entah kenapa saya ragu dan belum merasa harus pulang. Akhirnya saya putuskan untuk keliling dan (mungkin) belanja di sepanjang Malioboro. Tapi, panjang umur. Budhe saya telpon dan bilang kalau dia sudah sampai rumah. Tanpa ragu2, akhirnya saya kembali ke arah Utara untuk sekadar mampir ke rumah pakdhe dan budhe. Alhamdulillah sekitar jam 5 saya sampai dan akhirnya bertemu mereka. Lama sekali saya tidak bertemu mereka. Tepat hampir setahun lalu saya bertemu mereka. Waktu itu saya ke Yogya dalam rangka acara outing teman sekantor. Sepanjang malam, saya diberi nasihat dan wejangan mengenai kehidupan, apa arti dari kesabaran serta perasaan menerima dan mensyukuri apa yang selama ini sudah saya dapatkan. Nggak lupa juga nasihat mengenai kehidupan berrumah tangga ;p
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 21.15. Saya diantar ke perbatasan Yogya di Timur untuk naik bus ke arah Solo. Sekitar satu setengah jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Solo, sekitar daerah Jajar, lalu saya sambung dengan becak. Bejak jadi moda transportasi favorit saya selama berada di Solo karena unik, tidak berisik, santai.. Pokoknya Solo banget deh :D
Hari Kamis (13/11) hanya ada seminar, seminar, dan seminar. Acara cuma sampai siang sekitar jam 1. Untuk mengisi sisa waktu, sekitar jam 2 saya pergi menemani atasan saya berbelanja ke Orion untuk beli oleh2, Pusat Grosir Solo, dan Srabi Notosuman. Di PGS saya sekalian belanja batik. Bener2 murah. Saya nggak pernah nemu baju batik cuma Rp 22000 aja. Hehehe... Srabi? Hmmm.. Ga usah ditanya deh. Saya sukkkaaa banget. Enaknya nggak karuan. Nggak tahu kenapa. Paduan santan, gula, garam, dan adonan lainnya tuh kok pas banget di lidah. Jadi kangen Solo deh :DMalam hari saya habiskan untuk bertemu dengan teman saya. Kami makan di Solo Grand Mall. Nggak berapa lama, lagi2 saya naik becak ke Jl Kalilarangan untuk beli oleh2 khas Solo. Beruntung saya sampai di tokonya masih buka, padahal tadinya udah mau tutup 1 menit lagi Hehehe.. just in the nick of time. Merasa belum terlalu malam, saya ajak teman saya minum susu murni di Sriwedari. Katanya sih susunya dari Boyolali. Slurp... enak juga susunya. Saya pesan menu favorit, Susu Madu. Duh, kalau inget itu rasanya pengen terus. Sambil minum kami ngobrol ngalor ngidul, sampai sekitar jam setengah 11 malam. Saya harus istirahat karena rencananya besok pagi mau ke Semarang.
Hari Jumat (14/11) pagi saya berubah rencana. Merasa sayang dengan kamar yang harusnya bisa check out jam 12 siang, saya putuskan untuk mengurungkan niat pergi ke Semarang sampai jam 12 siang. Tadinya saya mau ke Semarang naik Joglosemar, tapi ternyata adanya jam 12 siang, padahal jamnya pas waktu Jumatan. Ada lagi sih, tapi jam 4 sore. Merasa terlalu sore, saya ganti pilihan ke kereta api. Ternyata untuk kereta yang melayani Solo Semarang sekelas Pramek, namanya Banyubiru. Dia berangkat dari Sragen, lalu melanjutkan perjalanan dari Solo sekitar jam 9.20 ke Semarang dengan waktu tempuh hampir 3 jam. Lagi2 karena saya merasa belum siap2 dan terlalu pagi, saya mengurungkan niat pergi ke Semarang naik KA. Tanpa kepastian, saya Jumatan dulu di masjid dekat hotel. Selesai sholat, saya check out dan (lagi2 ;p) naik becak ke Terminal Tirtonadi. Sesampainya saya di sana, ternyata ada bus patas AC jurusan Solo Semarang dengan tarif hanya Rp 20000 saja. Berangkat jam 14.30 tepat, saya sampai di Ungaran (saya berubah pikiran untuk menjenguk sepupu2 dibanding budhe ehehehe) sekitar jam 17.00. Senang sekali bisa melihat sepupu2 saya lagi dan anak2 mereka kumpul di sana. Sambil makan masakan rumah, kami ngobrol ngalor ngidul sampai sekitar jam setengah 2 malam. Fiuh, capek juga sih, tapi namanya lama nggak ketemu saudara, rasanya nggak sia2 aja sampai jauh2 dan capek2 pergi ke sana.
Hari Sabtu (15/11) shubuh saya siap2 pergi ke bandara. Dengan jadwal pesawat jam 06.05 dengan Garuda, saya pergi dari Ungaran (sekitar 20 km dari bandara) naik motor, diantar suami sepupu, dengan kecepatan tinggi. Sampai jam setengah 6, saya harus urus tiket dulu karena saya lupa urus tiket yang sempat saya re-route dari Solo-Jakarta ke Semarang-Jakarta. Sambil menunggu, saya janjian dengan Lunpia Express, lunpia yang bisa diantar ke rumah atau bandara. Enak lho. Saya paling suka yang rasa Kepiting daripada yang original isi rebung.OK, kembali ke tiket. Dengan terburu2, saya masuk untuk check in counter setelah urusan validasi re-route tiket selesai. Ternyata saya datang dalam keadaan counter sudah ditutup tapi masih menerima penumpang untuk check in. Thank God. Begitu saya bayar airport tax dan antri untuk masuk ruang tunggu, tiba2 ada pemberitahuan buat penumpang Garuda tujuan Jakarta untuk segera boarding. Bwahahaa... lagi2 in the nick of time, saya sampai di bandara dan bisa boarding tanpa harus menunggu lama. Ini nggak boleh dicontoh pastinya. Tapi kalau yang namanya rejeki sih nggak akan ke mana. Hihihihi. Dalam waktu satu jam, saya sudah sampai di Jakarta, langsung ke kosan untuk siap2 ke resepsi pernikahan Ina di daerah Cijantung jam 11 siangnya. Saya harus datang, makanya bela2in pulang hari Sabtu tanpa menikmati liburan di Jawa. Namanya juga teman satu kantor. Apalagi saya didaulat untuk nyanyi I Finally Found Someone, walaupun ternyata tidak sesukses yang saya bayangkan. Saya lupa teks karena emang latihannya jarang sih. Tapi saya nggak kapok. Nanti saya mau menawarkan diri nyanyi di kawinan teman2 kantor yang lain ah ;p
19 November 2008
02 November 2008
Wisata kuliner bersama GAMBI
"Kemarin saya dan teman2 wisata kuliner". Itu kata Sisil kalau nanti saya nulis blog buat ceritain kejadian sepanjang Sabtu ini. Ya, saya turutin aja apa katanya :)
Lain dari weekend saya yang biasanya, kali ini saya bareng Sisil, Budi, Andin, dan Nisa wisata kuliner. Sisil bilang sih kita GAMBI, singkatan dari Garuda Menkokesra BI. Padahal kalau mau tau, di BI ada model namanya GEMBI, singkatan dari General Equilibrium Model of Bank Indonesia :D
Awalnya kita mau ke Sate Afrika sekitar jam 10. Tapi berhubung Nisa ada kursus bahasa Jerman, jadi diundur sekitar jam 2. Tapi berhubung Sate Afrika tutup jam 1, jadi Sisil pesen dulu via telpon. Keren ya. Sekitar jam 2, kami ketemuan sama Nisa di Budi Kemuliaan. Dari sana langsung meluncur ke Tanah Abang tempat Sate Afrika berada. Begitu parkir dan buka pintu, hmmm, aroma dagingnya semerbak menusuk hidung (lebay). Tapi emang iya, aroma dagingnya bener2 kuat. Begitu masuk ke tempat makannya, kami langsung disambut Pak Ismail, orang Afrika asli pemilik restoran ini. Orangnya ramah, sederhana, low profile. Bahkan dia mau nyapu halaman sendiri demi menjaga kebersihan. Lancar berbahasa Indonesia pula. Istrinya pun orang Indonesia malah.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya kami makan juga. Hmmm... kalau boleh bilang, sate ini ga pantas disebut sate karena emang ga ditusuk kayak sate pada umumnya. Tapi kalau bicara rasa, hmm kayaknya apa yang orang2 bilang nggak berlebihan. Satenya emang enak banget. Apalagi dicampur dengan sambal racikan mereka, ditambah dengan pisang gorengnya. Slurp... Wajar kalau restoran ini ramai dikunjungi orang. Padahal tempatnya bisa dibilang terpencil, soalnya jalan masuknya aja terhalang pedagang2 barang loak. Bahkan sekadar banner pun nggak ada.
Setelah makan, kami ke kosan saya di Setiabudi. Sekalian istirahat dan ngobrol2. Sore Ihsan ngajak bowling dan karaokean di Pasaraya Grande. Ya udah, akhirnya kami meluncur ke sana. Kami main bowling ber-5 sampe sekitar jam 8 malam. Lama juga ya. Padahal itupun mainnya udah asal2an, karena Sisil udah ngerengek pengen cepet makan. Hihihi. Wajar sih. Namanya juga ibu hamil. Dari sana, kami ke Sambara di bilangan Cipete. Katanya sih yang enak di sana tuh Tumis Sayur Labu. Ternyata emang iya ya. Kita sampe kalap. Pesen segala macem. Tapi untungnya habis sih. Nggak mubazir.Wah, hari ini capek tapi seneng banget. Bisa jalan bareng temen2, bagi2 cerita, pengalaman, dan pengetahuan. Termasuk pengetahuan soal tempat makan enak. Makasih banyak ya teman2 :)
Lain dari weekend saya yang biasanya, kali ini saya bareng Sisil, Budi, Andin, dan Nisa wisata kuliner. Sisil bilang sih kita GAMBI, singkatan dari Garuda Menkokesra BI. Padahal kalau mau tau, di BI ada model namanya GEMBI, singkatan dari General Equilibrium Model of Bank Indonesia :D
Awalnya kita mau ke Sate Afrika sekitar jam 10. Tapi berhubung Nisa ada kursus bahasa Jerman, jadi diundur sekitar jam 2. Tapi berhubung Sate Afrika tutup jam 1, jadi Sisil pesen dulu via telpon. Keren ya. Sekitar jam 2, kami ketemuan sama Nisa di Budi Kemuliaan. Dari sana langsung meluncur ke Tanah Abang tempat Sate Afrika berada. Begitu parkir dan buka pintu, hmmm, aroma dagingnya semerbak menusuk hidung (lebay). Tapi emang iya, aroma dagingnya bener2 kuat. Begitu masuk ke tempat makannya, kami langsung disambut Pak Ismail, orang Afrika asli pemilik restoran ini. Orangnya ramah, sederhana, low profile. Bahkan dia mau nyapu halaman sendiri demi menjaga kebersihan. Lancar berbahasa Indonesia pula. Istrinya pun orang Indonesia malah.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya kami makan juga. Hmmm... kalau boleh bilang, sate ini ga pantas disebut sate karena emang ga ditusuk kayak sate pada umumnya. Tapi kalau bicara rasa, hmm kayaknya apa yang orang2 bilang nggak berlebihan. Satenya emang enak banget. Apalagi dicampur dengan sambal racikan mereka, ditambah dengan pisang gorengnya. Slurp... Wajar kalau restoran ini ramai dikunjungi orang. Padahal tempatnya bisa dibilang terpencil, soalnya jalan masuknya aja terhalang pedagang2 barang loak. Bahkan sekadar banner pun nggak ada.
Setelah makan, kami ke kosan saya di Setiabudi. Sekalian istirahat dan ngobrol2. Sore Ihsan ngajak bowling dan karaokean di Pasaraya Grande. Ya udah, akhirnya kami meluncur ke sana. Kami main bowling ber-5 sampe sekitar jam 8 malam. Lama juga ya. Padahal itupun mainnya udah asal2an, karena Sisil udah ngerengek pengen cepet makan. Hihihi. Wajar sih. Namanya juga ibu hamil. Dari sana, kami ke Sambara di bilangan Cipete. Katanya sih yang enak di sana tuh Tumis Sayur Labu. Ternyata emang iya ya. Kita sampe kalap. Pesen segala macem. Tapi untungnya habis sih. Nggak mubazir.Wah, hari ini capek tapi seneng banget. Bisa jalan bareng temen2, bagi2 cerita, pengalaman, dan pengetahuan. Termasuk pengetahuan soal tempat makan enak. Makasih banyak ya teman2 :)
17 Oktober 2008
Penyakit hati dan introspeksi diri
Duh, minggu ini banyak melakukan kesalahan. Payah nih. Baru aja lebaran, tapi saya sudah membiarkan rasa iri hati merasuk dalam hati. Duh, lagi2 penyakit hati hinggap di sini. Gimana ya caranya membersihkan hati? Nggak segampang yang dikira ya ternyata. Saya masih sering buruk sangka, iri, dengki, dendam, sombong. Saya masih jauh dari manusia ideal.
Ingat penyakit hati, jadi ingat kejadian tadi. Tadi pas saya mau pulang untuk ngejar Isya di kosan, eh ternyata jalanan macet, dan saya nunggu bis agak lama. Jadi, saya akhirnya ke masjid kantor untuk sholat di sana. Ternyata saya ketemu mas H, pengurus masjid itu. Setelah silaturahmi, berucap salam, dan mengucapkan selamat lebaran, dia langsung bilang kalau saya harus gembira dan senang terus seperti ini supaya nggak kurus. Hehhehe.. Terus, dia bilang juga kalau saya kerja harus ikhlas dan ridho karena Alloh SWT. Karena saya keliatannya nggak seperti itu. Kayaknya masih ada beban di wajah saya. Belum tulus.
Setelah berkomentar, dia cerita tentang diri dan keluarganya. Ternyata dia hanya digaji 500 ribu per bulan, tapi karena dia yakin Alloh pasti memberi jalan, alhamdulillah sampai sekarang kehidupannya lancar dan bahagia, meskipun harus membayar kontrakan 300 ribu per bulan. Saya nggak kebayang kalo saya di posisi dia. Mungkin udah stres duluan ;p
Dia bilang kalo anak2nya alhamdulillah pintar2 dan mereka mendapat beasiswa, jadi dia tidak terlalu terbebani dengan biaya pendidikan.
Waduh, saya jadi mikir. Hakikat saya kerja kan memang untuk ibadah. Saya jadi ngaca ke diri sendiri. Setelah direnung2, ternyata memang iya ya. Mungkin saya memang belum bekerja secara tulus. Mungkin saya bekerja cuma untuk materi saja. Saya nggak tau, dari sisi mana dia melihat ketidaktulusan saya dalam bekerja. Apa karena kurang sedekah? Itu saya akui. Apa karena saya sering menggerutu kalo ada hambatan dan masalah di kantor? Iya itu memang benar. Apa karena saya lebih fokus mengumpulkan materi karena takut miskin dan hidup susah seperti yang pernah saya alami? Bisa jadi.
Hmmm... Saya harus banyak berubah dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik lagi nih. Saya sadar, saya bukan orang yang taat dan saleh, tapi senggaknya saya mencoba untuk jadi lebih baik dari hari ke hari. Saya harus bisa menyisihkan harta lebih banyak dan lebih ikhlas lagi. Saya harus lebih ikhlas menjalani apa yang memang seharusnya saya lalui. Saya harus menjadikan pekerjaan sebagai ibadah, untuk melaksanakan ibadah. Semoga Alloh menguatkan langkah saya.
Ingat penyakit hati, jadi ingat kejadian tadi. Tadi pas saya mau pulang untuk ngejar Isya di kosan, eh ternyata jalanan macet, dan saya nunggu bis agak lama. Jadi, saya akhirnya ke masjid kantor untuk sholat di sana. Ternyata saya ketemu mas H, pengurus masjid itu. Setelah silaturahmi, berucap salam, dan mengucapkan selamat lebaran, dia langsung bilang kalau saya harus gembira dan senang terus seperti ini supaya nggak kurus. Hehhehe.. Terus, dia bilang juga kalau saya kerja harus ikhlas dan ridho karena Alloh SWT. Karena saya keliatannya nggak seperti itu. Kayaknya masih ada beban di wajah saya. Belum tulus.
Setelah berkomentar, dia cerita tentang diri dan keluarganya. Ternyata dia hanya digaji 500 ribu per bulan, tapi karena dia yakin Alloh pasti memberi jalan, alhamdulillah sampai sekarang kehidupannya lancar dan bahagia, meskipun harus membayar kontrakan 300 ribu per bulan. Saya nggak kebayang kalo saya di posisi dia. Mungkin udah stres duluan ;p
Dia bilang kalo anak2nya alhamdulillah pintar2 dan mereka mendapat beasiswa, jadi dia tidak terlalu terbebani dengan biaya pendidikan.
Waduh, saya jadi mikir. Hakikat saya kerja kan memang untuk ibadah. Saya jadi ngaca ke diri sendiri. Setelah direnung2, ternyata memang iya ya. Mungkin saya memang belum bekerja secara tulus. Mungkin saya bekerja cuma untuk materi saja. Saya nggak tau, dari sisi mana dia melihat ketidaktulusan saya dalam bekerja. Apa karena kurang sedekah? Itu saya akui. Apa karena saya sering menggerutu kalo ada hambatan dan masalah di kantor? Iya itu memang benar. Apa karena saya lebih fokus mengumpulkan materi karena takut miskin dan hidup susah seperti yang pernah saya alami? Bisa jadi.
Hmmm... Saya harus banyak berubah dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik lagi nih. Saya sadar, saya bukan orang yang taat dan saleh, tapi senggaknya saya mencoba untuk jadi lebih baik dari hari ke hari. Saya harus bisa menyisihkan harta lebih banyak dan lebih ikhlas lagi. Saya harus lebih ikhlas menjalani apa yang memang seharusnya saya lalui. Saya harus menjadikan pekerjaan sebagai ibadah, untuk melaksanakan ibadah. Semoga Alloh menguatkan langkah saya.
14 Oktober 2008
Hari-hari selama menghabiskan libur lebaran di Papua
Pulang dari Papua, banyak banget yang pengen diceritain. Mulai dari yang lucu, unik, sampai yang sedih ada semua :)
Hari Jumat (26/9) dengan berbekal dua koper besar (salah satunya berisi penuh dengan kue kering :p) saya pulang lebih awal dari biasanya. Sebagai langkah antisipasi, siapa tau macet parah kejadian lagi seperti tahun lalu. Ternyata, tanpa diduga, jalanan sepi banget. Alhasil, saya harus nunggu penerbangan jam 10 malam sejak jam 5 sore. Saya dan Asti senasib. Teman2 yang lain yang pulangnya rata2 ke Yogya dan Surabaya masih lebih beruntung, cuma perlu nunggu sampai jam 7 aja. Sambil nunggu buka puasa, saya dan teman2 ngobrol. Selepas buka puasa, saya dan Asti ke Terminal 2 untuk cari makanan berat karena pilihan restoran di Terminal 1 kurang variatif. Kami berdua dan teman2 yang terbang jam 7 pun berpisah. Di terminal 2, saya makan sambil ngobrol. Begitu jam setengah 9, kami baru ke Terminal 1 untuk check in, saya ke Terminal 1B sementara Asti ke Terminal 1C. Saya sholat Tarawih di bandara sambil menunggu boarding. Akhirnya pesawat berangkat sekitar jam setengah 11 malam, sedikit lebih lambat dari jadwal yang seharusnya.
Alhamdulillah saya tiba sekitar pukul 06.00 WIT keesokan harinya, Sabtu (27/9), di Manokwari. Dengan dijemput keluarga, saya tiba di rumah dan langsung istirahat. Senangnya bisa kembali ke sana. Nggak tau ya. Kalo yang namanya kumpul bareng keluarga tuh rasanya tenang, damai, ga keganggu pikiran2 kerjaan dll.Sabtu siang saya main ke salon mama. Bukan main. Sekarang udah bagus banget. Tampak megah dan gagah. Semoga bisnis mama di sana lancar. Amin. Pulang sore harinya, saya minta mama buka puasa sama es pisang ijo khas Makassar. Alhamdulillah dapet. Buka puasa hari pertama di Papua terasa nikmat banget, plus teh manis hangat dan gorengan yang dijamin bebas plastik hehehe...
Hari Minggu (28/9) saya hanya menghabiskan seharian di rumah. Saya berusaha dekat dengan ponakan saya, Icha yang baru berusia 8 bulan. Maklum, namanya bayi, kalo pertama2 ketemu masih takut. Malah kadang nangis hihihi.. Tapi perjuangan saya nggak berhenti dong.Oia, siang harinya, kakak saya tiba dari Nabire. Kami sekeluarga jemput dia ke pelabuhan. Senangnya, akhirnya ketemu kakak saya. Kangen deh. Emang sih, ketemu terakhir pas Agustus waktu dia masih menjalani pendidikan di Jakarta. Tapi selama Agustus ke September itu, saya mendengar kabar dia yang sakitlah, kuruslah, dll yang bikin saya khawatir. Makanya pas ketemu dia dengan keadaan sehat, seneng banget rasanya. Apalagi dia bawa Jeruk dan Salak Nabire. Hmmm... Ga kalah sama yang di Jawa lho :p
Hari Senin (29/9) kami menjemput mbah kakung, bude Yati, dan Titut di bandara setelah mereka menempuh perjalanan panjang dari Semarang. Semakin lengkaplah keluarga yang akan berlebaran di Manokwari. Kecuali adik saya, Iwan, yang sekarang bertugas di Kalimantan. Mungkin dia harus piket atau harus ikut Operasi Ketupat di sana, makanya nggak bisa bergabung.Kegiatan saya selama di sana sudah mulai rutin. Tidur siang, maen komputer, atau nonton sinetron kesukaan adik2, Muslimah sama Tasbih Cinta. Duh, saya sih ga suka sinetron sebenernya. Tapi apa daya, jadinya ikutan deh ;p
Hari Selasa (30/9) mulai terasa sibuk di rumah deh. Setelah kemaren mama belanja seharian untuk keperluan memasak makanan khas Lebaran, hari ini kami semua gotong royong masak. Saya kebagian motong mangga untuk bikin es buah. Kentang buat sambal goreng ati pun nggak ketinggalan. Kalo rendang sih udah dimasak sehari sebelumnya. Di tengah keriaan memasak, eh ada gempa cukup kuat. Alhamdulillah nggak apa2.Malamnya, kami nonton takbiran di jalan2 yang didominasi oleh konvoi motor dan kendaraan hias. Mayoritas peserta takbiran orang2 dari Kampung Makassar. Dari situ, saya belanja makanan pelengkap di Hadi Swalayan, termasuk beli hadiah lebaran.
Hari Rabu (1/10) tibalah hari kemenangan. Sholat Id di lapangan Borarsi berjalan lancar. Tapi pas baru mulai khutbah, hujan turun. Beberapa jamaah sempat berlarian pulang atau mencari tempat berteduh. Di saat yang bersamaan, sang khatib berujar kalo ini tidak ada apa2nya dibanding nanti di Padang Mahsyar. Hmmm.. iya juga ya hehehe... Akhirnya kami sekeluarga yang semula ragu untuk tetap tinggal mendengarkan khutbah, akhirnya membulatkan tekad untuk mendengar ceramah sampai selesai. Alhamdulillah hujan nggak terlalu besar sih, jadi masih lancar2 aja :D Apalagi saya teringat dengan tragedi pembagian Zakat di Pasuruan. Duh, jangan sampai kita berebut pulang atau cari tempat berteduh malah jadi korban karena berdesak2an.Begitu sampai di rumah sebelum berangkat ke rumah eyang untuk sungkeman sekeluarga besar, hujan ternyata turun lebat. Berhubung mobil yang kami pakai mobil pick up, jadi nggak mungkin kami ke sana. Akhirnya kami menunggu hujan reda. Begitu reda sekitar jam 10, kami meluncur ke rumah eyang. Di sana, saudara2 sudah berkumpul. Kami pun akhirnya sungkem ke eyang, disusul ke orang tua dan saudara2 lainnya. Dari sekian orang yang saya sungkemi, rata2 mendoakan saya cepat menikah. Hehehe. Doakan saja ya teman2 :D Saya sendiri masih dalam upaya untuk menuju gerbang pernikahan.Setelah sungkem, kami singgah di rumah sodara di Kampung Makassar, Wosi. Dari situ kami pulang untuk menerima tamu yang ternyata nggak putus2 sampe sekitar jam 9 malam.
Hari Kamis (2/10) kami berkunjung ke rumah teman2 lama orang tua di sekitaran Manokwari sejak menjelang siang sampai sore. Selebihnya, kami menerima tamu lagi.
Hari Jumat (3/10) saya jalani di rumah saja. Bikin proposal buat pembentukan lembaga pendidikan yang mama buat, main komputer, jaga Icha yang lucu, dan nemenin mama dekorasi rumah yang mau manten. Malamnya saya dan mama ke pasar ikan untuk persiapan piknik di pantai Pasir Putih.
Sabtu (4/10) dengan persiapan matang, kami pergi ke Pasir Putih. Kami bakar ikan, ayam, dan udang, lengkap dengan lalapan. Nggak lupa salad buah dan es buah. Enak sekali. Kapan lagi coba piknik sekeluarga begini. Alhamdulillah nggak terkira senangnya. Selesai makan, saya mandi di pantai deh.
Minggu (5/10) menjadi awal pulangnya keluarga2 saya satu per satu. Kakak saya giliran pertama. Dia harus pulang ke Nabire karena hanya dapat izin sampai Minggu. Kami mengantar ke pelabuhan diiringi isak tangis. Wajar, karena dia harus meninggalkan anak istrinya di Manokwari. Hari Senin (6/10) giliran Bude Ari dan Mbah Aris yang harus pulang ke Makassar. Hari Selasa (7/10) waktunya Titut dan bude Yati pulang ke Semarang. Sedangkan hari Rabu (8/10) giliran saya pulang ke Jakarta setelah mengambil cuti selama 3 hari. Life must go on. Segala keceriaan dan kegembiraan selama menyambut hari kemenangan memang harus disudahi. Saatnya mengarungi hidup masing2 untuk kebahagiaan diri dan keluarga.
Hari Jumat (26/9) dengan berbekal dua koper besar (salah satunya berisi penuh dengan kue kering :p) saya pulang lebih awal dari biasanya. Sebagai langkah antisipasi, siapa tau macet parah kejadian lagi seperti tahun lalu. Ternyata, tanpa diduga, jalanan sepi banget. Alhasil, saya harus nunggu penerbangan jam 10 malam sejak jam 5 sore. Saya dan Asti senasib. Teman2 yang lain yang pulangnya rata2 ke Yogya dan Surabaya masih lebih beruntung, cuma perlu nunggu sampai jam 7 aja. Sambil nunggu buka puasa, saya dan teman2 ngobrol. Selepas buka puasa, saya dan Asti ke Terminal 2 untuk cari makanan berat karena pilihan restoran di Terminal 1 kurang variatif. Kami berdua dan teman2 yang terbang jam 7 pun berpisah. Di terminal 2, saya makan sambil ngobrol. Begitu jam setengah 9, kami baru ke Terminal 1 untuk check in, saya ke Terminal 1B sementara Asti ke Terminal 1C. Saya sholat Tarawih di bandara sambil menunggu boarding. Akhirnya pesawat berangkat sekitar jam setengah 11 malam, sedikit lebih lambat dari jadwal yang seharusnya.
Alhamdulillah saya tiba sekitar pukul 06.00 WIT keesokan harinya, Sabtu (27/9), di Manokwari. Dengan dijemput keluarga, saya tiba di rumah dan langsung istirahat. Senangnya bisa kembali ke sana. Nggak tau ya. Kalo yang namanya kumpul bareng keluarga tuh rasanya tenang, damai, ga keganggu pikiran2 kerjaan dll.Sabtu siang saya main ke salon mama. Bukan main. Sekarang udah bagus banget. Tampak megah dan gagah. Semoga bisnis mama di sana lancar. Amin. Pulang sore harinya, saya minta mama buka puasa sama es pisang ijo khas Makassar. Alhamdulillah dapet. Buka puasa hari pertama di Papua terasa nikmat banget, plus teh manis hangat dan gorengan yang dijamin bebas plastik hehehe...
Hari Minggu (28/9) saya hanya menghabiskan seharian di rumah. Saya berusaha dekat dengan ponakan saya, Icha yang baru berusia 8 bulan. Maklum, namanya bayi, kalo pertama2 ketemu masih takut. Malah kadang nangis hihihi.. Tapi perjuangan saya nggak berhenti dong.Oia, siang harinya, kakak saya tiba dari Nabire. Kami sekeluarga jemput dia ke pelabuhan. Senangnya, akhirnya ketemu kakak saya. Kangen deh. Emang sih, ketemu terakhir pas Agustus waktu dia masih menjalani pendidikan di Jakarta. Tapi selama Agustus ke September itu, saya mendengar kabar dia yang sakitlah, kuruslah, dll yang bikin saya khawatir. Makanya pas ketemu dia dengan keadaan sehat, seneng banget rasanya. Apalagi dia bawa Jeruk dan Salak Nabire. Hmmm... Ga kalah sama yang di Jawa lho :p
Hari Senin (29/9) kami menjemput mbah kakung, bude Yati, dan Titut di bandara setelah mereka menempuh perjalanan panjang dari Semarang. Semakin lengkaplah keluarga yang akan berlebaran di Manokwari. Kecuali adik saya, Iwan, yang sekarang bertugas di Kalimantan. Mungkin dia harus piket atau harus ikut Operasi Ketupat di sana, makanya nggak bisa bergabung.Kegiatan saya selama di sana sudah mulai rutin. Tidur siang, maen komputer, atau nonton sinetron kesukaan adik2, Muslimah sama Tasbih Cinta. Duh, saya sih ga suka sinetron sebenernya. Tapi apa daya, jadinya ikutan deh ;p
Hari Selasa (30/9) mulai terasa sibuk di rumah deh. Setelah kemaren mama belanja seharian untuk keperluan memasak makanan khas Lebaran, hari ini kami semua gotong royong masak. Saya kebagian motong mangga untuk bikin es buah. Kentang buat sambal goreng ati pun nggak ketinggalan. Kalo rendang sih udah dimasak sehari sebelumnya. Di tengah keriaan memasak, eh ada gempa cukup kuat. Alhamdulillah nggak apa2.Malamnya, kami nonton takbiran di jalan2 yang didominasi oleh konvoi motor dan kendaraan hias. Mayoritas peserta takbiran orang2 dari Kampung Makassar. Dari situ, saya belanja makanan pelengkap di Hadi Swalayan, termasuk beli hadiah lebaran.
Hari Rabu (1/10) tibalah hari kemenangan. Sholat Id di lapangan Borarsi berjalan lancar. Tapi pas baru mulai khutbah, hujan turun. Beberapa jamaah sempat berlarian pulang atau mencari tempat berteduh. Di saat yang bersamaan, sang khatib berujar kalo ini tidak ada apa2nya dibanding nanti di Padang Mahsyar. Hmmm.. iya juga ya hehehe... Akhirnya kami sekeluarga yang semula ragu untuk tetap tinggal mendengarkan khutbah, akhirnya membulatkan tekad untuk mendengar ceramah sampai selesai. Alhamdulillah hujan nggak terlalu besar sih, jadi masih lancar2 aja :D Apalagi saya teringat dengan tragedi pembagian Zakat di Pasuruan. Duh, jangan sampai kita berebut pulang atau cari tempat berteduh malah jadi korban karena berdesak2an.Begitu sampai di rumah sebelum berangkat ke rumah eyang untuk sungkeman sekeluarga besar, hujan ternyata turun lebat. Berhubung mobil yang kami pakai mobil pick up, jadi nggak mungkin kami ke sana. Akhirnya kami menunggu hujan reda. Begitu reda sekitar jam 10, kami meluncur ke rumah eyang. Di sana, saudara2 sudah berkumpul. Kami pun akhirnya sungkem ke eyang, disusul ke orang tua dan saudara2 lainnya. Dari sekian orang yang saya sungkemi, rata2 mendoakan saya cepat menikah. Hehehe. Doakan saja ya teman2 :D Saya sendiri masih dalam upaya untuk menuju gerbang pernikahan.Setelah sungkem, kami singgah di rumah sodara di Kampung Makassar, Wosi. Dari situ kami pulang untuk menerima tamu yang ternyata nggak putus2 sampe sekitar jam 9 malam.
Hari Kamis (2/10) kami berkunjung ke rumah teman2 lama orang tua di sekitaran Manokwari sejak menjelang siang sampai sore. Selebihnya, kami menerima tamu lagi.
Hari Jumat (3/10) saya jalani di rumah saja. Bikin proposal buat pembentukan lembaga pendidikan yang mama buat, main komputer, jaga Icha yang lucu, dan nemenin mama dekorasi rumah yang mau manten. Malamnya saya dan mama ke pasar ikan untuk persiapan piknik di pantai Pasir Putih.
Sabtu (4/10) dengan persiapan matang, kami pergi ke Pasir Putih. Kami bakar ikan, ayam, dan udang, lengkap dengan lalapan. Nggak lupa salad buah dan es buah. Enak sekali. Kapan lagi coba piknik sekeluarga begini. Alhamdulillah nggak terkira senangnya. Selesai makan, saya mandi di pantai deh.
Minggu (5/10) menjadi awal pulangnya keluarga2 saya satu per satu. Kakak saya giliran pertama. Dia harus pulang ke Nabire karena hanya dapat izin sampai Minggu. Kami mengantar ke pelabuhan diiringi isak tangis. Wajar, karena dia harus meninggalkan anak istrinya di Manokwari. Hari Senin (6/10) giliran Bude Ari dan Mbah Aris yang harus pulang ke Makassar. Hari Selasa (7/10) waktunya Titut dan bude Yati pulang ke Semarang. Sedangkan hari Rabu (8/10) giliran saya pulang ke Jakarta setelah mengambil cuti selama 3 hari. Life must go on. Segala keceriaan dan kegembiraan selama menyambut hari kemenangan memang harus disudahi. Saatnya mengarungi hidup masing2 untuk kebahagiaan diri dan keluarga.
25 September 2008
Ramadhan menuju Idul Fitri
Hmm.. Akhirnya nge-blog lagi nih. Setelah sekian lama. Kayaknya selama puasa saya nggak pernah nge-blog. Nggak tau kenapa. Entah males, entah apa.
Saya bersyukur sekali udah dikasih kesempatan lagi untuk menikmati lezatnya dan indahnya bulan Ramadhan. Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda. Setelah mengalami (bisa dibilang) titik balik pada Maret lalu, saya sekarang merasa bisa menikmati dan menghayati Ramadhan lebih dalam. Sampai2, saya berkorban untuk tidak terlalu sering janjian sama teman2 untuk buka puasa bersama di luar rumah. Untuk belanja keperluan, saya bela2in pas weekend dan pagi2, jadi ga ganggu sholat dan buka puasa. Nggak tau kenapa. Kalau bulan puasa, musholla penuh. Restoran juga penuh. Terus, kalau nggak sempet pagi2, malam sekalian perginya setelah tarawih.
Selama Ramadhan ini, ada yang dirasa berat untuk dijalankan. Ngaji dan tahajud. Mau khatam Quran aja kok susah ya. Berat ke tidur. Gimana ya caranya? Tahajud juga keteteran. Semoga 5 hari terakhir ini bisa saya maksimalkan dengan baik.
Urusan mudik, seperti tahun lalu, insya Alloh saya pulang ke Manokwari. Kali ini terasa berbeda. Mungkin karena saya sudah beberapa kali pergi ke sana, jadi tidak seantusias tahun lalu. Tapi tetap ada yang saya nanti di sana. Durian. Hmmm... Aromanya itu lho. Mudah2an pas saya ke sana, masih musim durian, jadi bisa saya bawa ke Jawa dan dibagi ke teman2 kantor :D
Dalam menyambut Idul Fitri, saya mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1429 H. Taqqabbalallahu minna wa minkum, Shiamana wa shiamakum.
Semoga Alloh senantiasa melimpahkan keberkahan dan keselamatan, meraih jiwa nan fitri, serta dapat meraih derajat taqwa sebagai ijazah kelulusan kita dari Ramadhan yang mulia. Amin.
Semoga Alloh senantiasa melimpahkan keberkahan dan keselamatan, meraih jiwa nan fitri, serta dapat meraih derajat taqwa sebagai ijazah kelulusan kita dari Ramadhan yang mulia. Amin.06 September 2008
Hayo siapa yang salah
Hmmm... ada cerita seru nih kemaren Kamis (4/9). Jadi begini.
Awalnya kan teman2 kuliah, Latif dan Sofyan, ngajak ketemuan dan buka puasa bersama di Pelangi. Tadinya sih nggak mau datang. Nggak tahu. Batin rasanya nggak mau. Kepikiran, takut nggak keburu tarawih-lah, malas rebutan sholat maghrib di mall-lah, inilah itulah. Intinya nggak sreg aja pengen dateng ke sana. Tapi berhubung Sofyan minta kelengkapan pengajuan kartu kredit BRI, jadilah saya mengiyakan untuk ketemu. Habisnya, saya perlu sih hihihi...Singkat cerita, bertemulah kami di Pelangi sekitar setengah 6. Kami bingung mau makan di mana. Awalnya, Sofyan dan Latif mau makan di The Buffet. Tapi sebelum ke sana, saya sempat browsing di internet. Ada beberapa kesaksian dari beberapa orang yang pernah ke sana (terlepas orang itu jujur atau nggak) kalau makanan di sana tidak terlampau menggugah selera. Apalagi katanya belum ada label halal resmi dari MUI. Jadi saya ragu. Akhirnya saya bilang ke teman2 untuk menentukan tempat makannya terserah mereka. Di situ letak kesalahan saya. Memang, saya tahu kalau terserah jelas mereka mau di The Buffet, tapi nyatanya saya tidak mau hihihihi... Saya bukannya memberi pilihan, tapi justru lepas tangan dan membiarkan mereka memutuskan. Sebenarnya saya bukan tidak mau memutuskan. Saya sebenarnya kan memang tidak mau makan di luar. Selain menyia2kan kesempatan ibadah selama Ramadhan, juga terlalu menghamburkan uang. Kalau saya memutuskan di (maunya sih) Rice Bowl, kasihan mereka yang seleranya tinggi. Akhirnya saya tawarkanlah ke mereka untuk makan di Roof Top. Di sana kan ada Solaria. Saya pikir tidak ada salahnya. Eh, ternyata di sana sudah padat dengan manusia. Akhirnya kami (saya tepatnya) memilih Live. Karena labelnya The Taste of Asian, saya pikir halal. Tapi begitu ditanya, ternyata ada arak yang dipakai sebagai pelengkap masakan. Berhubung saya sudah malas mencari tempat makan lagi dan teman2 saya tidak keberatan dengan arak itu, akhirnya kami makan di sana. Tapi saya akhirnya hanya minum, nggak berani makan. Karena saya toh akhirnya tidak makan juga, Sofyan mulai mengamuk atas sikap saya yang tidak jelas kekeekekek... Kebodohan terselubunglah, apalah, itulah, dan segudang istilah asing lainnya keluar dari mulut dia ;p
Hah, yang jelas, menurut saya sih (supaya adil hehehe) semuanya salah. Saya salah karena tidak mengambil keputusan dengan tepat, bijak, dan tepat. Latif juga salah karena di saat genting seperti itu dimana temannya tidak bisa memutuskan, dia tidak memberikan solusi yang fair. Sofyan juga salah, karena dia memaksa ketemuan hari ini hanya karena dia besok mau ke Bandung tanpa memikirkan kepentingan temannya yang mau fokus beribadah. Hihihihi... Protes dengan judgment saya? Saya hanya bisa menyampaikan "Mohon maaf lahir dan batin" Hahahaha... Selamat berpuasa, semoga kita menjadi semakin baik dari hari ke hari ya teman2 ^_^
Awalnya kan teman2 kuliah, Latif dan Sofyan, ngajak ketemuan dan buka puasa bersama di Pelangi. Tadinya sih nggak mau datang. Nggak tahu. Batin rasanya nggak mau. Kepikiran, takut nggak keburu tarawih-lah, malas rebutan sholat maghrib di mall-lah, inilah itulah. Intinya nggak sreg aja pengen dateng ke sana. Tapi berhubung Sofyan minta kelengkapan pengajuan kartu kredit BRI, jadilah saya mengiyakan untuk ketemu. Habisnya, saya perlu sih hihihi...Singkat cerita, bertemulah kami di Pelangi sekitar setengah 6. Kami bingung mau makan di mana. Awalnya, Sofyan dan Latif mau makan di The Buffet. Tapi sebelum ke sana, saya sempat browsing di internet. Ada beberapa kesaksian dari beberapa orang yang pernah ke sana (terlepas orang itu jujur atau nggak) kalau makanan di sana tidak terlampau menggugah selera. Apalagi katanya belum ada label halal resmi dari MUI. Jadi saya ragu. Akhirnya saya bilang ke teman2 untuk menentukan tempat makannya terserah mereka. Di situ letak kesalahan saya. Memang, saya tahu kalau terserah jelas mereka mau di The Buffet, tapi nyatanya saya tidak mau hihihihi... Saya bukannya memberi pilihan, tapi justru lepas tangan dan membiarkan mereka memutuskan. Sebenarnya saya bukan tidak mau memutuskan. Saya sebenarnya kan memang tidak mau makan di luar. Selain menyia2kan kesempatan ibadah selama Ramadhan, juga terlalu menghamburkan uang. Kalau saya memutuskan di (maunya sih) Rice Bowl, kasihan mereka yang seleranya tinggi. Akhirnya saya tawarkanlah ke mereka untuk makan di Roof Top. Di sana kan ada Solaria. Saya pikir tidak ada salahnya. Eh, ternyata di sana sudah padat dengan manusia. Akhirnya kami (saya tepatnya) memilih Live. Karena labelnya The Taste of Asian, saya pikir halal. Tapi begitu ditanya, ternyata ada arak yang dipakai sebagai pelengkap masakan. Berhubung saya sudah malas mencari tempat makan lagi dan teman2 saya tidak keberatan dengan arak itu, akhirnya kami makan di sana. Tapi saya akhirnya hanya minum, nggak berani makan. Karena saya toh akhirnya tidak makan juga, Sofyan mulai mengamuk atas sikap saya yang tidak jelas kekeekekek... Kebodohan terselubunglah, apalah, itulah, dan segudang istilah asing lainnya keluar dari mulut dia ;p
Hah, yang jelas, menurut saya sih (supaya adil hehehe) semuanya salah. Saya salah karena tidak mengambil keputusan dengan tepat, bijak, dan tepat. Latif juga salah karena di saat genting seperti itu dimana temannya tidak bisa memutuskan, dia tidak memberikan solusi yang fair. Sofyan juga salah, karena dia memaksa ketemuan hari ini hanya karena dia besok mau ke Bandung tanpa memikirkan kepentingan temannya yang mau fokus beribadah. Hihihihi... Protes dengan judgment saya? Saya hanya bisa menyampaikan "Mohon maaf lahir dan batin" Hahahaha... Selamat berpuasa, semoga kita menjadi semakin baik dari hari ke hari ya teman2 ^_^
25 Agustus 2008
Quality time bersama teman2
Mengutip isi SMS Sisil kemarin, kemarin bisa dibilang saya menghabiskan waktu bersama teman2 dengan kualitas No.1 :D
Kebayang dong. Dari pagi saya ke kantor mengikuti acara penutupan perayaan 17 Agustus dengan bintang tamu Maliq & d'Essentials. Siang saya ketemu Nissa, Andin, dan Sisil. Kita langsung cari makan siang di Plangi. Kita ke Roof Top. Ternyata asik juga liat pemandangan Jakarta dari atas sana. Sambil makan, kami makan sambil tukar cerita dan pikiran yang berat2 dan berbobot. Keren lah pokoknya. Nah, waktu di perjalanan menuju Plangi, Sisil cerita kalau ada Miitem di Plaza Indonesia. Karena saya belum pernah coba dan penasaran pengen tahu rasanya, akhirnya kami melanjutkan petualangan makan kami hari itu ke Miitem. Wuii... ternyata enak banget ya Miitem. Lagi2, sambil makan, kami ngobrol lagi dengan topik lain. Wah, pokoknya ngobrol sama mereka nggak rugi. Di sela obrolan berat ada bercandanya juga. Imbang deh pokoknya :) Menjelang maghrib, kami berpisah dan pulang ke rumah masing2.
Hmmm... sering2 ya kasih ke saya waktu berkualitasnya :)
Makasih buat teman2 baruku yang menyenangkan ^_^
Kebayang dong. Dari pagi saya ke kantor mengikuti acara penutupan perayaan 17 Agustus dengan bintang tamu Maliq & d'Essentials. Siang saya ketemu Nissa, Andin, dan Sisil. Kita langsung cari makan siang di Plangi. Kita ke Roof Top. Ternyata asik juga liat pemandangan Jakarta dari atas sana. Sambil makan, kami makan sambil tukar cerita dan pikiran yang berat2 dan berbobot. Keren lah pokoknya. Nah, waktu di perjalanan menuju Plangi, Sisil cerita kalau ada Miitem di Plaza Indonesia. Karena saya belum pernah coba dan penasaran pengen tahu rasanya, akhirnya kami melanjutkan petualangan makan kami hari itu ke Miitem. Wuii... ternyata enak banget ya Miitem. Lagi2, sambil makan, kami ngobrol lagi dengan topik lain. Wah, pokoknya ngobrol sama mereka nggak rugi. Di sela obrolan berat ada bercandanya juga. Imbang deh pokoknya :) Menjelang maghrib, kami berpisah dan pulang ke rumah masing2.
Hmmm... sering2 ya kasih ke saya waktu berkualitasnya :)
Makasih buat teman2 baruku yang menyenangkan ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- Oki Jelly
- Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar