03 November 2010

Renungan di akhir minggu

Di akhir minggu kemarin, ada renungan yang saya petik. Rasanya kurang lengkap kalau nggak saya tulis untuk saya baca lagi kelak ^^

Saya mungkin sebagian kecil orang yang terlambat tau tentang bencana di Mentawai karena gempa dan tsunami, juga di Yogya karena letusan Gunung Merapi. Di berita dibilang kalau mbah Maridjan meninggal dalam kondisi bersujud akibat terkena awan panas. Pikiran pertama yang muncul di benak saya waktu itu, konyol banget, udah ngerti ada wedhus gembel bukannya lari, ini malah tinggal di situ. Tapi setelah ada orang yang memandang dari sisi lain, saya baru sadar. Ternyata mbah Maridjan itu sosok yang sulit ditemui di jaman sekarang ini, yaitu orang yang berpasrah diri dan memegang amanah hingga ajal menjemput. Kalau mengaca pada pemimpin negeri ini, sangat teramat sulit mendapati mereka yang bisa memegang teguh amanah sampai sebegitunya. Barangkali ketika awan panas sudah mendekat, beliau hanya berpasrah diri dan berharap kematian yang segera datang itu menjadi kematian yang membahagiakan dan husnul khotimah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisiNya. Amin.

Renungan lainnya waktu saya sakit mendadak hari Sabtu kemarin. Selama sakit, saya cuma terbaring sambil nonton serial Ghost Whisperer, diputar di Star World. Ceritanya seputar hantu yang nggak bisa masuk ke Cahaya karena masih ada urusan di dunia yang belum selesai. Apa yang saya dapat bukan masalah hantu, tapi kita sendiri kalau sudah meninggal. Nggak kebayang aja, yang tadinya masih bisa senang2, jalan2, ketawa2, tiba2 jasad terbujur kaku sementara arwahnya ke alam barzah. Mending kalau nggak diapa2in, kalau disiksa gimana ya? Na'udzubillah. Akan seperti apa dan berapa lama kehidupan setelah mati, wallahu a'lam. Semua yang bernyawa akan merasakan mati, tapi semoga dengan cara yang baik dan penuh berkah, amin.

Oia, kemarin Jumat (29/10) beberapa teman mengadakan perpisahan dengan mba Dhini yang pindah ke direktorat lain. Sedih jelas, gimanapun selama 3 tahun saya dididik sama mba Dhini untuk jadi staf yang kritis, berani, dan peneliti yang jujur. Makasih ya mba atas bimbingannya selama ini. Maaf kalau selama kita berinteraksi kadang ada kerikil dan batu kali yang menghadang :)

26 Oktober 2010

Macet lagi.. macet lagi..

Jakarta oh Jakarta. Tempat kita mencari penghidupan ini dilanda banjir lagi untuk kesekian kalinya. Hujan mengguyur sejak sore sampai maghrib tapi efeknya luar biasa. Nggak seperti biasanya, kalau hujan dan banjir besar datang setiap lima tahun sekali dan di setiap bulan Februari -terakhir tahun 2007- yang memang curah hujan sedang tinggi2nya. Tapi sekarang memang cuaca nggak ketebak. Kemarau nggak mampir sama sekali, hujan dengan curah yang tinggi, ditambah lagi dengan tanah amblas dkk, alhasil Jakarta makin renta sebelum waktunya.
Kalau lihat dari status teman2, ada yang baru sampai rumah jam 1 malam, bahkan jam 2 malam pun ada. Banjir di mana2, macet nggak karuan, kumplit deh pokoknya. Si Komo udah beranak pinak kali ya hehe..
Kalau kita cuma menyalahkan pemimpin Jakarta saja rasanya nggak fair, karena dia cuma mendapat warisan masalah dari pemimpin2 lalu, tapi memang rasanya belum ada tindakan nyata dari beliau untuk mengatasi masalah. Segudang isu yang harus dibenahi, mulai dari banjir, transportasi massal, rokok, disiplin berlalu lintas, RTH, dll.
Yuk kita benahi Jakarta bersama. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai saat ini juga. Kita bisa menahan diri untuk nggak beli mobil baru, atau sering2 naik angkutan umum, buang sampah di tempatnya, jangan merokok, berlalu lintas sesuai dengan rambu2, banyak kok. Simple but matter :)

25 Oktober 2010

Belitung, Negeri Laskar Pelangi

Kalau ditanya tentang Laskar Pelangi, pasti banyak yang tau. Kalau saya sih nggak, soalnya saya memang belum nonton film itu :p

Cuma, saya bisa ngerasain betapa hebohnya film itu, sampai2 tempat syuting film itu jadi benar2 terkenal. Yup, itulah Pulau Belitung. Selama ini saya tau Belitung karena SMA saya ada di Jl. Belitung. Tapi apa dan bagaimana Pulau Belitung itu sama sekali nggak pernah ada bayangannya di benak saya. Alhasil, terpikir untuk wisata ke sana aja nggak pernah terlintas sedikitpun. Gayung bersambut, begitu tempat kerja saya mau buat acara gathering di Belitung, saya langsung mengiyakan, walaupun sempat ragu2 karena faktor cuaca dan kerepotan yang bakal dihadapi. Tapi, kapan lagi kita bisa ke sana, ya nggak?
Akhirnya weekend kemarin, (23-24/10), kami berangkat ke sana. Rombongan ada sekitar 72 orang. Pagi berangkat, dalam waktu 50 menit kami tiba di sana. Rombongan langsung di bawa ke Restoran Mie Atep, makanan khas sana. Semacam mie yang biasa ada di pempek Palembang, tapi kuahnya kental. Barangkali bisa disamakan dengan Mie Titi khas Makassar, tapi dengan mie yang lebih besar. Patut dicoba. Halal nggaknya nggak tau deh, soalnya yang jual enci2. Bismillah aja ^^
Dari sana kami langsung ke Tanjung Kelayang, tempat kami akan menyebrang ke Pulau Lengkuas, Pulau Pasir, dan Pulau Babi. Di Pulau Lengkuas ada mercusuar yang menghadap Laut Cina Selatan. Mercusuar setinggi 18 lantai gedung bertingkat itu bisa dinaiki melalui tangga besi yang masih kokoh meskipun sudah berusia hampir 120 tahun. Dari atas sana pemandangan teramat luar biasa. Karang, bebatuan, pasir putih, langit biru, semua tumpah ruah jadi satu merangkai keindahan di mata yang memandangnya. Luar biasa.
Kami di Pulau Lengkuas cuma sekitar 2 jam dari rencana awal sekitar 4 jam karena kami lihat di kejauhan awan mendung bergulung2 ke arah kami, jadi kami langsung ke Pulau Babi. Di sana kami cuma berfoto2 sebentar karena takut kena hujan. Tapi ternyata awan semakin mengarah ke Barat, menjauhi Pulau Babi dan Lengkuas, jadi kami terbebas dari basah kuyup.
Dari Pulau Babi kami langsung kembali ke Tanjung Kelayang dan langsung ke hotel Pondok Impian yang ada di Tanjung Pendam. Hotel langsung menghadap pantai, cocok untuk liat sunset, tapi sayang kemarin berawan, jadi nggak bisa liat.
Malam acara puncak gathering kami. Kami langsung ke Pantai Perdaunan Indah, sedikit lebih jauh dari Tanjung Kelayang. Acara diisi dengan makan malam bersama, game/kuis, pembagian doorprize, dan performance bentuk parodi. Acara alhamdulillah sukses dan lancar.
Hari kedua, pagi2 sebelum berangkat ke tempat acara berikutnya, saya jalan2 di sekitar hotel sambil cari sarapan. Sekitar 1 km dari situ ternyata ada tempat wisata. Pantai Tanjung Pendam, di situ ada banyak kantin dan warung makan, tempat main anak, jogging track, dan yang jelas pantai pasir putih. Di sana ramai dengan orang yang olah raga pagi. Selesai jalan2 dan berfoto2 sedikit, saya coba mampir ke gerobak bubur di pinggir jalan. Obrol punya obrol dengan penjual buburnya, ternyata dia pemilik Mess PLN yang ada di belakang gerobaknya. Kalau diliat lumayan besar dan bersih kok, bangunan masih bergaya Belanda atau era 70-an kali ya. Sayang nggak ada promosi, meskipun dalam bentuk website atau blog, jadinya mess itu sepi. Padahal letaknya yang di pinggir pantai itu bagus buat santai2 liat pemandangan sekitar. Lokasi juga nggak jauh dengan Tanjung Pandan sebenarnya. Tarif juga murah, sekitar 150 ribu per malam, ketimbang di hotel. Nanti bisa hubungi saya untuk CP-nya :)
Jam 8 kami kembali ke Tanjung Kelayang, tapi di sisi lebih utara dari yang kemarin. Di sana kami main ke pantai tempat syuting film laskar pelangi. Bebatuan di pantai dan lautnya luar biasa. Landscapenya benar2 indah, nggak bosan dipandang deh pokoknya. Sayang nggak saya foto karena sibuk main di air laut, sayang nanti hapenya rusak hehe..
Sekitar 2 jam di sana, kami ke sisi lain lagi dari Tanjung Kelayang itu. Di sana ada tempat penyewaan kayak dan sepeda. Saya nggak mau buang kesempatan. Saya langsung main kayak dua kali. Seru banget, bodo amat panas2an dan menghitam. Main sejam, dilanjut dengan makan siang. Seperti biasa, saya kalau main air bawaannya cepat lapar. Alhasil, 4 piring nasi saya lahap lengkap dengan makanan laut, sayur mayur dan buahnya. Berasa sehat deh pokoknya. Tengah hari kami ke hotel, packing dan cari oleh2 ala kadarnya di beberapa tempat dan langsung menuju bandara untuk pulang.

Itu sekilas perjalanan singkat kami ke Belitung, lagi2 sepotong surga yang terjatuh ke archipelago Indonesia tercinta. Patut dikunjungi karena lebih indah dan lebih sepi dari Bali, jadi bisa lebih dinikmati. Miss you Belitung, wanna go there again soon :)

27 September 2010

Selamat Jalan Pak AV

Kemarin siang, tepatnya tanggal 26 September jam 12.45, telah meninggal dunia salah satu rekan kerja di kantor, pak AV. Walaupun tidak sempat berinteraksi secara langsung di dunia kerja bersama beliau, tapi kenangan dalam pergaulan sehari2 tak terlupakan.
Memang beliau seorang yang cerdas, pekerja keras, tak kenal lelah, namun tetap rendah hati, supel, tidak pernah mencela kalau rekan kerjanya belum memahami apa yang dia sampaikan, juga senang berdiskusi tanpa membuat kita merasa bodoh.
Beliau memang tidak ada duanya. Kini, keluarga, rekan kerja, lembaga, dan negara kehilangan salah satu putra terbaik bangsa. Semoga ketabahan senantiasa menghampiri keluarga beliau, dan semoga beliau diterima di sisiNya dengan damai.

08 September 2010

Ramadhan Berakhir, Idul Fitri Tiba

Tak terasa, bulan mulia segera berakhir setelah hampir 30 hari lamanya kita berpuasa. Rasa sedih menghampiri karena rasanya belum optimal dalam beribadah, meskipun waktu yang disediakan cukup panjang. Suka tidak suka, Ramadhan tetap harus berlalu. Meninggalkan sesal dan kenangan.

Memang Ramadhan tiada duanya. Menikmati santap sahur, curahan tausiyah yang berlimpah, ibadah malam di rumah dan di masjid, sampai puasnya saat berbuka puasa selalu menjadi momen yang teramat berharga untuk dilupakan. Rasanya tidak pernah bosan juga untuk melakoni itu semua. Apalagi ketika 10 hari terakhir, usaha untuk menggapai Lailatul Qadr semakin teguh dijalankan.

Bagaimanapun, waktu terus berjalan. Sekarang, saatnya menyambut kemenangan di hari yang fitri. Teriring harapan semoga diri menjadi hamba yang semakin bertakwa dan mampu membawa kebaikan bagi umat. Insya Alloh dipertemukan dengan Ramadhan kembali. Amin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.
Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.

10 Agustus 2010

Marhaban ya Ramadhan

Alhamdulillah wa syukurillah, Ramadhan kembali tiba. Bulan suci yang dinanti umat muslim di seluruh muka bumi, bulan penuh berkah dan ampunan, bulan kebaikan yang menuntun umatnya menjadi lebih baik dari sebelumnya, lebih peduli terhadap sesama, dan utamanya menjadi insan bertakwa sesuai kehendak Ilahi Robbi.

Rasanya baru kemarin merasakan indahnya Ramadhan, sekarang sudah tiba lagi saatnya mendulang amal ibadah dan kebaikan di dalamnya. Tak terasa usia pun semakin tua, tanda waktu kita semakin sedikit di dunia ini. Ramadhan seolah menjadi cambuk untuk mengingatkan kita sudah seberapa besar amal kita untuk di akhirat kelak, sudah seberapa banyak kebaikan yang kita tebar ke sesama manusia, sudah seberapa jauh kita melenceng dari ajaranNya yang lurus, dan sudah seberapa banyak puja dan puji yang kita haturkan ke hadiratNya meskipun sepanjang kita bernafas pun masih belum cukup untuk merangkai kalam Ilahi yang sakral dan hasan.

Ya Alloh, terima kasih telah menyampaikan kami pada bulan ini, bimbing kami agar bisa mereguk hidayah dan kasih sayang-Mu untuk menjadi pribadi yang muttaqin. Amin.

02 Agustus 2010

Papa Sakit, Saya Sadar

Hari ini saya dengar kabar buruk. Dua minggu lalu saya dapat laporan kalau pandangan Papa mulai memburuk. Saya malah memakluminya karena saya anggap itu wajar mengingat usia Papa yang semakin lanjut. Tapi bodohnya, saya lupa kalau Papa menderita diabetes. Lupa juga kalau saya pernah baca artikel kalau penderita diabetes rentan terhadap kebutaan. Itulah akibat dari kelalaian dan kealpaan saya. Setelah tes lab minggu lalu, pagi ini dokter kasih tau hasilnya kalau Papa menderita Glaukoma.

Rasa sesal teramat dalam saya rasakan. Kenapa nggak dari dulu waktu Papa mulai mengeluh "Mata Papa kok rasanya makin rabun ya Ki" saya langsung cekatan bawa Papa ke dokter atau RS. YA Alloh Ya Rabb, Engkau Yang Maha Menyembuhkan, sembuhkan Papa. Jadikan sakitnya sebagai penggugur dosa. Maafkan hamba yang telah lalai mengurus orang tua :'(

Sejak saya tau Papa menderita diabetes, saya memang sangat strict menjaga makanan supaya nggak terlalu banyak mengandung glukosa. Karena kan katanya sakit itu genetik, tapi nggak akan banyak terasa dampaknya kalau pola makan dan hidup sudah diatur sejak dini. Sekarang, begitu Papa divonis menderita glaukoma, selain rasa sesal, saya juga khawatir karena dokter bilang anak2 Papa harus periksa kalau sudah menginjak usia 35-40 tahun.

Papa dulu pernah mengeluh kalau setiap buang air kecil rasanya sakit. Pasti ada yang salah dengan prostatnya. Rasanya saya harus segera memeriksakan Papa ke dokter sebelum semuanya terlambat. Pokoknya Papa harus sehat supaya bisa lancar ibadah hajinya. Doakan ya Pa, semoga bisa cepat terkumpul uangnya. Amin.

"...Ya Alloh, berkahilah kami, berikan kami kesehatan agar khusyuk dalam beribadah kepadaMu, ampuni kami atas segala khilaf baik yang disadari atau tidak, disengaja atau tidak... Amin"

Mengenai Saya

Foto saya
Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar