Apa yang sudah saya dapati dan alami selama 27 tahun ini? Yang jelas nggak sedikit.
Pertama, saya punya keluarga yang saya cintai, selalu mendukung saya dalam meniti hidup.
Kedua, saya punya teman2 yang bisa saya percaya, saya ajak berbagi, dan bisa memberi nasehat waktu saya melakukan kesalahan.
Ketiga, saya punya pekerjaan yang bisa membuat saya banyak belajar ilmu di luar apa yang pernah saya dapat selama ini, dengan rekan kerja yang bisa membuat saya senang, dongkol, sakit hati, atau sedih.
Keempat, saya merasakan titik balik yang luar biasa besar dalam kehidupan keagamaan saya. Yang jelas, saya merasa lebih puas dengan keadaan sekarang, banyak bersyukur karena kejadian apapun yang pernah saya alami ternyata banyak nilai yang luar biasa berharganya. Apa yang terjadi di keluarga saya, perlakuan teman2 saya dulu, atau kesulitan keuangan yang sempat melilit membuat saya lebih kuat berprinsip, nggak terseret dengan gaya hidup hedonis, dan mencoba menghargai setiap orang bagaimanapun menyebalkannya orang itu.Banyak harapan, cita2, dan keinginan yang tersemat di diri saya dalam menjalani tahun ke-28 dan seterusnya ini.
Saya yang jelas pengen nikah hehe.. Pengen naik haji pas masih muda, bisa berkarir dengan baik, punya usaha kecil2an yang bisa menopang keluarga, bisa kuliah lagi, dan segudang harapan lainnya. Semoga Alloh melancarkan langkah saya mencapai segala apa yang saya inginkan untuk mencapai ridhoNya. Amin. Makasih banyak buat keluarga dan teman2 yang sudah mendoakan saya untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Selamat ulang tahun Oki yang ke-27, semoga bahagia dunia akhirat. Amin Allohumma amin :)
03 Februari 2009
23 Januari 2009
Cerita2 di akhir Januari
Wah, ternyata blogging menyenangkan. Belajar menulis dengan bahasa yang baik tentu saja. Saya lakukan ini bukan tanpa tujuan. Berhubung pekerjaan saya sebagai salah satu penulis buku outlook ekonomi jangka panjang, sangat dituntut kemampuan lebih dalam menulis. Saya masih ingat pada beberapa bulan yang lalu, hasil tulisan saya mengenai analisis deskriptif industri manufaktur di Indonesia dicela bos habis2an hihihi... Katanya sih kurang terstruktur, kurang inilah itulah. Tapi dari situ saya justru terpacu untuk bisa menulis lebih baik lagi. Ternyata itu nggak mudah. Terkadang, apa yang ingin kita utarakan akan menjadi berbeda maknanya jika disusun dengan pola yang tidak teratur. Makanya, nggak mengherankan kalau bahasa di blog saya mulai baku. Semua masih dalam proses. Kelak, saya akan lebih banyak menulis sesuatu yang lebih dalam, bermakna, kalau perlu dalam bahasa Inggris ;p
Sedikit cerita tentang bulan Januari. Sekali2 menulis sesuatu yang tidak populer ah :D
Setelah kejadian gempa di Manokwari, nggak banyak peristiwa penting yang saya tau atau alami di bulan ini, kecuali saya mulai belajar model DSGE yang kata anak2 jaman sekarang lagi happening ;p Tapi kalau nggak salah baru satu negara yang pakai model DSGE untuk forecasting ekonomi dalam jangka panjang, yaitu Rep. Ceko.
Ada satu lagi. Inaugurasi Obama sebagai presiden AS ke-44. Dia juga bisa dibilang sedang happening. Demam Obama dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah membawa asa baru bagi dunia dalam mewujudkan (kata pembukaan UUD '45 sih) ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Saya termasuk orang yang tidak banyak menaruh perhatian pada Obama. Tapi, perlu diperhatikan kebijakan luar negerinya dalam beberapa waktu ke depan, setidaknya 100 hari pertama kepemimpinannya. Bukan Obama kalau tidak membawa perubahan atau perbaikan. Pada hari pertama, dia menetapkan untuk menutup penjara Guantanamo pada tahun ini. Gebrakan apa lagi yang akan dia buat? Kita lihat saja ^_^
Sedikit cerita tentang bulan Januari. Sekali2 menulis sesuatu yang tidak populer ah :D
Setelah kejadian gempa di Manokwari, nggak banyak peristiwa penting yang saya tau atau alami di bulan ini, kecuali saya mulai belajar model DSGE yang kata anak2 jaman sekarang lagi happening ;p Tapi kalau nggak salah baru satu negara yang pakai model DSGE untuk forecasting ekonomi dalam jangka panjang, yaitu Rep. Ceko.
Ada satu lagi. Inaugurasi Obama sebagai presiden AS ke-44. Dia juga bisa dibilang sedang happening. Demam Obama dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah membawa asa baru bagi dunia dalam mewujudkan (kata pembukaan UUD '45 sih) ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Saya termasuk orang yang tidak banyak menaruh perhatian pada Obama. Tapi, perlu diperhatikan kebijakan luar negerinya dalam beberapa waktu ke depan, setidaknya 100 hari pertama kepemimpinannya. Bukan Obama kalau tidak membawa perubahan atau perbaikan. Pada hari pertama, dia menetapkan untuk menutup penjara Guantanamo pada tahun ini. Gebrakan apa lagi yang akan dia buat? Kita lihat saja ^_^
06 Januari 2009
Selamat Tahun Baru 1430 H dan 2009 M
Menyongsong tahun baru, saya berlibur ke Papua lagi dengan mengambil cuti selama 2 hari pada 30-31 Desember 2008. Ada hal yang sangat berkesan selama saya di sana. Mama ternyata sudah mulai menggeliat bisnis persewaan alat pestanya. Alhamdulillah. Hal itu tentu tidak didapat dengan serta merta. Diawali dengan persetujuan pengucuran kredit dari sebuah bank pemerintah terkemuka, Mama mulai membeli modal berupa mobil pengangkut barang, kursi, tenda, piring, dll. Tidak lama setelah itu, datanglah saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Seperti yang bisa ditebak, momen perayaan ini ternyata membuat permintaan akan alat persewaan membeludak, bahkan sampai kewalahan memenuhi permintaan. Dengan gesitnya, Mama berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk bongkar dan pasang tenda. Saya salut melihat Mama di usianya yang sekarang masih gesit dan cekatan dalam bekerja. Rasanya seperti tidak ada capek2nya. Belum lagi kalau ada yang ingin dirias atau potong rambut. Jam kerja Mama rasanya menjadi jauh di atas jam kerja orang kantoran. Di sela kesibukannya itu, Mama masih sempat masak di rumah buat anak2 dan mengurus binatang piaraan yang tidak sedikit.
Di malam tahun baru, kami jalan2 keliling kota Manokwari yang gemerlap oleh kembang api dari senja sampai sekitar jam 4 dinihari. Saya bisa membayangkan berapa milyar uang yang mengalir hanya untuk membeli kembang api. Rumah saya di Reremi tergolong daerah perbukitan. Ujung timur kota di Kampung Ambon dan ujung barat kota di Wosi bisa terlihat, lengkap dengan pelabuhan, bandara, dan pusat kotanya. Malam itu, kembang api bertaburan di setiap sisi kota. Saya sangat terpesona karena tidak pernah melihat kembang api sebanyak dan selama itu, bahkan di Jakarta sekalipun. Momen itu tidak saya sia2kan. Saya mengambil video beberapa kali untuk mengabadikannya.
Setelah berlibur selama kurang lebih 9 hari, saya kembali ke Jakarta hari Sabtu pagi. Kenapa tidak Minggu? Karena harga tiket lebih mahal 1 juta. Hehehe... Saya urungkan niat pulang hari Minggu akhirnya. Ternyata ada hikmah di balik kejadian itu. Hari Minggu pagi, di tengah lelapnya tidur, saya ditelpon Mama kalau beliau sekeluarga baru merasakan gempa yang cukup kuat. Ternyata gempa berkekuatan 7,2 SR. Disusul dengan gempa berkekuatan 7,6 SR beberapa jam kemudian. Listrik sempat mati, warga di bawah mengungsi ke sekitar rumah Mama karena isu tsunami, beberapa bangunan roboh, termasuk hotel Mutiara di Sanggeng tempat saya menonton pesta kembang api di malam pergantian tahun. Tugu Selamat Datang di Wosi tidak ketinggalan. Gudang rumah eyang yang tidak jauh dari Hotel Mutiara juga roboh. Eyang putri bahkan sampai shock dan dibawa ke RSUD Manokwari sampai hari ini. Semoga beliau segera pulih seperti sedia kala. Amin. Mohon doanya ya teman2 :)
Selamat Tahun Baru ya. Semoga di tahun ini kita menjadi semakin baik dan sukses. Amin.
Di malam tahun baru, kami jalan2 keliling kota Manokwari yang gemerlap oleh kembang api dari senja sampai sekitar jam 4 dinihari. Saya bisa membayangkan berapa milyar uang yang mengalir hanya untuk membeli kembang api. Rumah saya di Reremi tergolong daerah perbukitan. Ujung timur kota di Kampung Ambon dan ujung barat kota di Wosi bisa terlihat, lengkap dengan pelabuhan, bandara, dan pusat kotanya. Malam itu, kembang api bertaburan di setiap sisi kota. Saya sangat terpesona karena tidak pernah melihat kembang api sebanyak dan selama itu, bahkan di Jakarta sekalipun. Momen itu tidak saya sia2kan. Saya mengambil video beberapa kali untuk mengabadikannya.
Setelah berlibur selama kurang lebih 9 hari, saya kembali ke Jakarta hari Sabtu pagi. Kenapa tidak Minggu? Karena harga tiket lebih mahal 1 juta. Hehehe... Saya urungkan niat pulang hari Minggu akhirnya. Ternyata ada hikmah di balik kejadian itu. Hari Minggu pagi, di tengah lelapnya tidur, saya ditelpon Mama kalau beliau sekeluarga baru merasakan gempa yang cukup kuat. Ternyata gempa berkekuatan 7,2 SR. Disusul dengan gempa berkekuatan 7,6 SR beberapa jam kemudian. Listrik sempat mati, warga di bawah mengungsi ke sekitar rumah Mama karena isu tsunami, beberapa bangunan roboh, termasuk hotel Mutiara di Sanggeng tempat saya menonton pesta kembang api di malam pergantian tahun. Tugu Selamat Datang di Wosi tidak ketinggalan. Gudang rumah eyang yang tidak jauh dari Hotel Mutiara juga roboh. Eyang putri bahkan sampai shock dan dibawa ke RSUD Manokwari sampai hari ini. Semoga beliau segera pulih seperti sedia kala. Amin. Mohon doanya ya teman2 :)
Selamat Tahun Baru ya. Semoga di tahun ini kita menjadi semakin baik dan sukses. Amin.
22 Desember 2008
Selamat Hari Ibu
Mama, sesosok manusia yang sangat saya cintai. Cinta yang tulus, biarpun perih pedih pernah kurasakan dan kulalui bersama Ibu, namun tidak melunturkan rasa cintaku pada Ibu. Rasanya sudah banyak kesalahan dan kekhilafan yang pernah saya buat, bahkan kebohongan besar pernah saya lakukan.
Tidak banyak kejadian di masa balita yang saya ingat bersama Mama. Tapi setidaknya sekitar umur 4 tahun ketika masuk TK, Mama selalu mengantar saya ke sekolah. Bekal setiap pagi? Bolu beruang warna warni yang dibeli di warung dekat rumah. Beranjak dewasa, semakin banyak kenangan yang terpatri di memori saya. Ketika SD, yang paling saya kenang adalah Mama mulai memanggil guru ngaji supaya kami bisa mengaji, walaupun terkadang tanpa Mama sadari kami sering minta Mama mengajak kami jalan2 menjelang jam ngaji karena kemalasan kami ;p Biasanya Mama baru sadar ketika sampai di rumah, tiba2 nyeletuk "Loh, bukannya kalian harusnya ngaji?" Hehehe. Masa SD berlalu, ketika SMP Mama sering mengantar dan menjemput kami ke sekolah hampir setiap hari. Mama melakukannya sampai kami SMA. Mungkin Mama melakukan itu selain mengisi waktu, juga memastikan kalau anak2nya tidak keluyuran ke mana2. Tapi kebiasaan itu tertanam dalam otak, sampai2 saat Mama tidak mengantar pun kami sangat patuh dengan pergi hanya ke sekolah dan pulang langsung ke rumah, tidak tersangkut di mall atau tempat main dingdong hehe. Memasuki masa kuliah, kesuraman mulai meliputi kami sekeluarga. Ujungnya, saya putus kuliah di UNDIP karena keterbatasan biaya. Untuk makan pun masih kesulitan. Sampai2, pernah saya sekeluarga bersama Mama hanya mampu beli makan satu piring dan itu kami makan bersama. Sedih rasanya.
Kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan pada Mama adalah saya harus berbohong dan berpura2 kuliah pada tahun 2000 lalu. Kejadian itu bermula dari kejadian traumatis ketika kuliah di Teknik Sipil UNDIP tahun 1999. Mungkin bagi sebagian orang, OSPEK di sana tidak terlampau berat. Tapi bagi saya, di saat rapuh akibat orang tua saya yang sedang berseteru ditambah dengan kesulitan biaya membuat saya kesulitan menghadapi itu semua. Trauma yang terpahat di otak membuat saya tidak mau mengikuti kuliah, bahkan meskipun saya sudah diterima UMPTN untuk kedua kalinya di Matematika UNPAD tahun 2000. Perlu sekitar setahun untuk membuat saya cukup berani melangkah ke kampus. Selama itu pula saya berbohong pada Mama dan pura2 berangkat ke kampus hampir setiap harinya. Jengah dengan itu semua, untuk ketiga kalinya saya ikut UMPTN dan diterima lagi di Matematika UNPAD tahun 2001. Dengan keberanian yang tersisa, saya akhirnya mau mengikuti kuliah. Ternyata di sana tidak banyak hambatan berarti. Bahkan selama di sana saya mendapat teman2 yang baik2, saya mendapat pencerahan dalam agama, juga mampu berprestasi di atas rata. Alhamdulillah. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Ayat itu yang paling terngiang saat itu.Dengan segala yang telah saya lalui, menjadikan diri semakin kuat, menerima keadaan, banyak bersyukur atas semua yang saya dapat, diusahakan tidak mengeluh, walaupun masih suka sewot kalau ada yang nggak sreg di hati ;p
Kalau bicara bagaimana cara Mama mendidik kami, satu yang saya salut. Adil. Itu kuncinya. Kami kalau bertengkar, tanpa mau tahu siapa yang salah, pokoknya kami pasti disalahkan semua, pastinya dengan tangan atau sapu yang mendarat di paha hehe.. Tapi cara itu cukup ampuh dan membuat kami jarang bertengkar, karena percuma meskipun kita benar toh dipukul juga. Jadinya kami malah tidak mau cari ribut. Kalaupun ribut, kami berusaha menyelesaikannya sendiri dan harus sudah selesai sebelum Mama tahu :)
Mama, terima kasih sudah menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup saya, sudah mendoakan dan mengiringi langkah saya menjalani hidup, tentunya tanpa melupakan Alloh SWT. Semoga kebahagiaan, keselamatan senantiasa meliputi kehidupan Mama. Amin.
Tidak banyak kejadian di masa balita yang saya ingat bersama Mama. Tapi setidaknya sekitar umur 4 tahun ketika masuk TK, Mama selalu mengantar saya ke sekolah. Bekal setiap pagi? Bolu beruang warna warni yang dibeli di warung dekat rumah. Beranjak dewasa, semakin banyak kenangan yang terpatri di memori saya. Ketika SD, yang paling saya kenang adalah Mama mulai memanggil guru ngaji supaya kami bisa mengaji, walaupun terkadang tanpa Mama sadari kami sering minta Mama mengajak kami jalan2 menjelang jam ngaji karena kemalasan kami ;p Biasanya Mama baru sadar ketika sampai di rumah, tiba2 nyeletuk "Loh, bukannya kalian harusnya ngaji?" Hehehe. Masa SD berlalu, ketika SMP Mama sering mengantar dan menjemput kami ke sekolah hampir setiap hari. Mama melakukannya sampai kami SMA. Mungkin Mama melakukan itu selain mengisi waktu, juga memastikan kalau anak2nya tidak keluyuran ke mana2. Tapi kebiasaan itu tertanam dalam otak, sampai2 saat Mama tidak mengantar pun kami sangat patuh dengan pergi hanya ke sekolah dan pulang langsung ke rumah, tidak tersangkut di mall atau tempat main dingdong hehe. Memasuki masa kuliah, kesuraman mulai meliputi kami sekeluarga. Ujungnya, saya putus kuliah di UNDIP karena keterbatasan biaya. Untuk makan pun masih kesulitan. Sampai2, pernah saya sekeluarga bersama Mama hanya mampu beli makan satu piring dan itu kami makan bersama. Sedih rasanya.
Kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan pada Mama adalah saya harus berbohong dan berpura2 kuliah pada tahun 2000 lalu. Kejadian itu bermula dari kejadian traumatis ketika kuliah di Teknik Sipil UNDIP tahun 1999. Mungkin bagi sebagian orang, OSPEK di sana tidak terlampau berat. Tapi bagi saya, di saat rapuh akibat orang tua saya yang sedang berseteru ditambah dengan kesulitan biaya membuat saya kesulitan menghadapi itu semua. Trauma yang terpahat di otak membuat saya tidak mau mengikuti kuliah, bahkan meskipun saya sudah diterima UMPTN untuk kedua kalinya di Matematika UNPAD tahun 2000. Perlu sekitar setahun untuk membuat saya cukup berani melangkah ke kampus. Selama itu pula saya berbohong pada Mama dan pura2 berangkat ke kampus hampir setiap harinya. Jengah dengan itu semua, untuk ketiga kalinya saya ikut UMPTN dan diterima lagi di Matematika UNPAD tahun 2001. Dengan keberanian yang tersisa, saya akhirnya mau mengikuti kuliah. Ternyata di sana tidak banyak hambatan berarti. Bahkan selama di sana saya mendapat teman2 yang baik2, saya mendapat pencerahan dalam agama, juga mampu berprestasi di atas rata. Alhamdulillah. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Ayat itu yang paling terngiang saat itu.Dengan segala yang telah saya lalui, menjadikan diri semakin kuat, menerima keadaan, banyak bersyukur atas semua yang saya dapat, diusahakan tidak mengeluh, walaupun masih suka sewot kalau ada yang nggak sreg di hati ;p
Kalau bicara bagaimana cara Mama mendidik kami, satu yang saya salut. Adil. Itu kuncinya. Kami kalau bertengkar, tanpa mau tahu siapa yang salah, pokoknya kami pasti disalahkan semua, pastinya dengan tangan atau sapu yang mendarat di paha hehe.. Tapi cara itu cukup ampuh dan membuat kami jarang bertengkar, karena percuma meskipun kita benar toh dipukul juga. Jadinya kami malah tidak mau cari ribut. Kalaupun ribut, kami berusaha menyelesaikannya sendiri dan harus sudah selesai sebelum Mama tahu :)
Mama, terima kasih sudah menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup saya, sudah mendoakan dan mengiringi langkah saya menjalani hidup, tentunya tanpa melupakan Alloh SWT. Semoga kebahagiaan, keselamatan senantiasa meliputi kehidupan Mama. Amin.
08 Desember 2008
Aamir and Amber
Pasti bertanya2, ada apa gerangan dengan kedua nama itu sampai saya rela nulis blog panjang2 tentang mereka ^_^
Sebenarnya ini semua berawal dari Jakarta International Film Festival ke-10 yang diselenggarakan pada 5-9 Desember 2008. Menurut jadwal, ada pemutaran film bertemakan kisah cinta antara seorang muallaf Australia dan gadis Pakistan di Goethe Haus, kawasan Menteng Jakarta. Dengan berbekal info bahwa film yang diputar gratis untuk umum, saya dan Asti meluncur ke sana dengan harapan bahwa kami masih mendapat tiket gratis, mengingat kursi yang tersedia hanya 100 buah. Telat sekitar 15 menit dari jadwal pemutarannya, akhirnya dimulailah kisah nyata tersebut. Sebelumnya saya minta maaf kalau cerita ini terdapat beberapa distorsi akibat keterbatasan memori saya :)
Bermula dari seorang Australia, Brian, yang memiliki minat pada permainan boneka puppet ketika menginjak usia remaja. Suatu ketika, diadakan sebuah festival puppet internasional di Lahore, Pakistan. Dengan keahlian yang disandangnya, dia terbang ke Lahore sebagai partisipan pada tahun 2000. Tanpa diduga, dia bertemu dengan seorang gadis Pakistan, Amber. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketika terbersit untuk menikah, Brian tersandung dengan perbedaan keyakinan di antara mereka. Sepulang dari festival puppet, dia semakin menekuni Islam dan berkeputusan untuk menjadi muallaf dan menikahi Amber. Saat itu pula, Brian mengubah namanya menjadi Aamir.
Dari sini, lika liku perjalanan kisah cinta mereka dimulai. Aamir kembali ke Lahore setahun kemudian untuk melamar sang pujaan hati. Keluarga Amber menyetujui pernikahan mereka, namun tidak demikian halnya dengan kakak laki2nya. Kakaknya beranggapan bahwa Aamir belum Islam karena prosesi Syahadat dilakukan di luar Pakistan. Apalagi dia seorang warga negara asing. Upaya meyakinkan orang tua dan keluarga Amber dilakukan Aamir, dan ternyata tidak sia2. Mereka menyetujui pertunangan Aamir dan Amber. Aamir sendiri berencana akan menetap di Pakistan. Bahkan, dia membuat boneka puppet keledai sebagai modal untuk membuat acara the Puppet Show di sebuah stasiun televisi di Pakistan. Dengan kepastian pernikahan tersebut, Aamir kembali ke Australia untuk menjual rumah dan menggantinya dengan rumah di Pakistan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, Aamir merasa jika Amber lebih baik tinggal di Australia. Terlebih lagi, ternyata produser acara televisi di Pakistan yang semula menyambut baik rencana Aamir membuat acara tersebut tidak kunjung terwujud. Dihadapkan pada kondisi demikian, dia kembali lagi ke Lahore untuk meminta orang tua Amber menikahkan mereka dan mengizinkan Aamir membawa putri mereka ke Australia. Orang tua Amber tidak serta merta mengizinkan karena kekhawatiran terhadap putri mereka. Mereka khawatir, jika Amber disakiti dan mereka jauh darinya, tidak ada yang dapat menolong Amber. Tidak ada yang menjamin pula bahwa Amber akan bahagia selama hidup di perantauan. Mereka akhirnya mengajukan syarat jaminan 500,000 rupee bagi putri mereka pada Aamir. Aamir dengan tegas menolak. Dia meyakinkan bahwa dia akan membahagiakan Amber. Keyakinan itu membuat orang tua Amber meminta waktu satu minggu untuk berpikir ulang.
Seminggu kemudian, Aamir kembali menemui orang tua Amber. Dengan berbagai pertimbangan, diputuskanlah pernikahan mereka berdua dalam beberapa hari ke depan. Kebahagiaan akhirnya meliputi kedua pasangan ini pada 2004. Tiba hari yang dinanti, mereka akhirnya melangsungkan pernikahan hanya 5 jam sebelum kepulangan Aamir ke Australia karena habisnya batas waktu visa. Sesaat sebelum kembali ke Australia, Aamir meminta Amber memenuhi segala persyaratan yang dimintanya untuk melengkapi pengajuan visa ke Australia. Dia meninggalkan boneka puppetnya agar istrinya dapat terus mengingatnya selama dia kembali ke Australia. Ternyata, dalam 9 bulan ke depan, persyaratan tidak kunjung terpenuhi, Amber tidak kunjung datang ke Australia, Aamir yang kini bekerja di sebuah pabrik kursi pun tidak dapat berkunjung ke Pakistan untuk menjenguk istrinya karena kekurangan biaya. Stres mulai menghinggapi Aamir, sampai2 dia harus ke psikiater untuk mencari solusi atas depresi yang dia alami. Istrinya pun nun jauh di sana ternyata jatuh sakit akibat menahan rindunya yang teramat sangat pada sang suami. Begitu mengetahui Amber sakit melalui saudara iparnya, Aamir menelpon Amber untuk menanyakan keadaannya. Namun Amber tidak mengakui. Merasa tidak diberi tahu yang sebenarnya, Aamir menelpon saudara iparnya dengan niat ingin menceraikan Amber karena sulitnya mereka bersatu dan ketidakjujuran Amber.
3 bulan kemudian, tepat setahun setelah mereka menikah, Aamir berkunjung ke Pakistan secara diam2 untuk memberi kejutan pada istri dan keluarganya sembari menyelesaikan persyaratan administrasi yang dibutuhkan untuk memproses visa. Di sana, dia kembali mengutarakan niatnya untuk membawa Amber ke Australia. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kedua orang tua Amber menyetujui rencana tersebut. Namun, sebelum membawa putri mereka ke Australia, mereka ingin prosesi pernikahan dilanjutkan ke tahap berikutnya, karena menurut adat istiadat setempat, pernikahan yang mereka lakukan setahun yang lalu belum lengkap. Akhirnya, setelah melalui berbagai persiapan mulai dari baju pernikahan, perhiasan, dan makanan, resepsi pun dilakukan selama 2 hari berturut2 di rumah Amber dengan mengundang kerabat dan tetangga.
Beberapa hari setelah resepsi, visa pun akhirnya keluar. Dengan berat hati, Amber harus meninggalkan orang tuanya tercinta di Pakistan untuk menjalani hidup baru bersama suaminya, Aamir, di Australia pada awal 2006. Bulan pertama menjadi masa2 tersulit bagi Amber karena harus berjauhan dengan keluarganya, terutama ibundanya. Bahkan dia bersikeras ingin kembali ke Pakistan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Amber dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah melalui berbagai rintangan selama 5 tahun, akhirnya mereka dapat hidupa bersama dengan bahagia.
Banyak nilai moral yang dapat dipetik dari kisah kedua insan yang jatuh cinta ini.
Pertama, jangan putus asa untuk sesuatu yang kita yakini dan kita ingin dapatkan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Kedua, pernikahan lintas budaya ternyata membutuhkan kearifan. Konflik antar budaya bisa mengakibatkan cinta yang dirasakan menjadi berkurang, bahkan mati. Untuk itu, diperlukan kompromi antar kedua pasangan untuk memilih jalan mana yang akan dihadapi dan dilalui sehingga cinta keduanya tetap dapat terpelihara dengan baik.
Ketiga, cinta memang butuh pengorbanan. Ada yang harus kita tinggalkan demi mendapat sesuatu yang lebih, meskipun kita teramat sangat mencintai dan menyayanginya.
Keempat, cinta memang tidak pandang bulu. Meskipun orang yang dicintai ada di ujung dunia pun akan tetap dikejar demi kebahagiaan yang diimpikan.
Duh, jadi mellow gini ya. Tapi emang film ini keren abis. Nggak kayak film pada umumnya, film ini dibuat seperti dokumenter karena ini memang kejadian nyata, tanpa melupakan unsur komedi tentunya, dimana sang sutradara berkebangsaan Iran yang bermukim di Australia, Faramarz K. Rahber, yang memang berteman dengan Brian a.k.a. Aamir berusaha mengikuti perjalanan cinta Aamir mendapatkan Amber tanpa campur tangan apapun, dikemas dengan apik, disajikan dengan penuh cita rasa, hingga sampailah film ini ke Indonesia dan bisa ditonton secara gratis oleh saya :D
Salut buat beliau. Semoga karya hebat ini bisa ditiru para sineas Indonesia dengan menyajikan film bermutu dengan kreativitas tinggi tanpa harus bertema yang (mereka anggap) sedang populer seperti film berbau “saru” atau klenik.
Sebenarnya ini semua berawal dari Jakarta International Film Festival ke-10 yang diselenggarakan pada 5-9 Desember 2008. Menurut jadwal, ada pemutaran film bertemakan kisah cinta antara seorang muallaf Australia dan gadis Pakistan di Goethe Haus, kawasan Menteng Jakarta. Dengan berbekal info bahwa film yang diputar gratis untuk umum, saya dan Asti meluncur ke sana dengan harapan bahwa kami masih mendapat tiket gratis, mengingat kursi yang tersedia hanya 100 buah. Telat sekitar 15 menit dari jadwal pemutarannya, akhirnya dimulailah kisah nyata tersebut. Sebelumnya saya minta maaf kalau cerita ini terdapat beberapa distorsi akibat keterbatasan memori saya :)
Bermula dari seorang Australia, Brian, yang memiliki minat pada permainan boneka puppet ketika menginjak usia remaja. Suatu ketika, diadakan sebuah festival puppet internasional di Lahore, Pakistan. Dengan keahlian yang disandangnya, dia terbang ke Lahore sebagai partisipan pada tahun 2000. Tanpa diduga, dia bertemu dengan seorang gadis Pakistan, Amber. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketika terbersit untuk menikah, Brian tersandung dengan perbedaan keyakinan di antara mereka. Sepulang dari festival puppet, dia semakin menekuni Islam dan berkeputusan untuk menjadi muallaf dan menikahi Amber. Saat itu pula, Brian mengubah namanya menjadi Aamir.
Dari sini, lika liku perjalanan kisah cinta mereka dimulai. Aamir kembali ke Lahore setahun kemudian untuk melamar sang pujaan hati. Keluarga Amber menyetujui pernikahan mereka, namun tidak demikian halnya dengan kakak laki2nya. Kakaknya beranggapan bahwa Aamir belum Islam karena prosesi Syahadat dilakukan di luar Pakistan. Apalagi dia seorang warga negara asing. Upaya meyakinkan orang tua dan keluarga Amber dilakukan Aamir, dan ternyata tidak sia2. Mereka menyetujui pertunangan Aamir dan Amber. Aamir sendiri berencana akan menetap di Pakistan. Bahkan, dia membuat boneka puppet keledai sebagai modal untuk membuat acara the Puppet Show di sebuah stasiun televisi di Pakistan. Dengan kepastian pernikahan tersebut, Aamir kembali ke Australia untuk menjual rumah dan menggantinya dengan rumah di Pakistan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, Aamir merasa jika Amber lebih baik tinggal di Australia. Terlebih lagi, ternyata produser acara televisi di Pakistan yang semula menyambut baik rencana Aamir membuat acara tersebut tidak kunjung terwujud. Dihadapkan pada kondisi demikian, dia kembali lagi ke Lahore untuk meminta orang tua Amber menikahkan mereka dan mengizinkan Aamir membawa putri mereka ke Australia. Orang tua Amber tidak serta merta mengizinkan karena kekhawatiran terhadap putri mereka. Mereka khawatir, jika Amber disakiti dan mereka jauh darinya, tidak ada yang dapat menolong Amber. Tidak ada yang menjamin pula bahwa Amber akan bahagia selama hidup di perantauan. Mereka akhirnya mengajukan syarat jaminan 500,000 rupee bagi putri mereka pada Aamir. Aamir dengan tegas menolak. Dia meyakinkan bahwa dia akan membahagiakan Amber. Keyakinan itu membuat orang tua Amber meminta waktu satu minggu untuk berpikir ulang.
Seminggu kemudian, Aamir kembali menemui orang tua Amber. Dengan berbagai pertimbangan, diputuskanlah pernikahan mereka berdua dalam beberapa hari ke depan. Kebahagiaan akhirnya meliputi kedua pasangan ini pada 2004. Tiba hari yang dinanti, mereka akhirnya melangsungkan pernikahan hanya 5 jam sebelum kepulangan Aamir ke Australia karena habisnya batas waktu visa. Sesaat sebelum kembali ke Australia, Aamir meminta Amber memenuhi segala persyaratan yang dimintanya untuk melengkapi pengajuan visa ke Australia. Dia meninggalkan boneka puppetnya agar istrinya dapat terus mengingatnya selama dia kembali ke Australia. Ternyata, dalam 9 bulan ke depan, persyaratan tidak kunjung terpenuhi, Amber tidak kunjung datang ke Australia, Aamir yang kini bekerja di sebuah pabrik kursi pun tidak dapat berkunjung ke Pakistan untuk menjenguk istrinya karena kekurangan biaya. Stres mulai menghinggapi Aamir, sampai2 dia harus ke psikiater untuk mencari solusi atas depresi yang dia alami. Istrinya pun nun jauh di sana ternyata jatuh sakit akibat menahan rindunya yang teramat sangat pada sang suami. Begitu mengetahui Amber sakit melalui saudara iparnya, Aamir menelpon Amber untuk menanyakan keadaannya. Namun Amber tidak mengakui. Merasa tidak diberi tahu yang sebenarnya, Aamir menelpon saudara iparnya dengan niat ingin menceraikan Amber karena sulitnya mereka bersatu dan ketidakjujuran Amber.
3 bulan kemudian, tepat setahun setelah mereka menikah, Aamir berkunjung ke Pakistan secara diam2 untuk memberi kejutan pada istri dan keluarganya sembari menyelesaikan persyaratan administrasi yang dibutuhkan untuk memproses visa. Di sana, dia kembali mengutarakan niatnya untuk membawa Amber ke Australia. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kedua orang tua Amber menyetujui rencana tersebut. Namun, sebelum membawa putri mereka ke Australia, mereka ingin prosesi pernikahan dilanjutkan ke tahap berikutnya, karena menurut adat istiadat setempat, pernikahan yang mereka lakukan setahun yang lalu belum lengkap. Akhirnya, setelah melalui berbagai persiapan mulai dari baju pernikahan, perhiasan, dan makanan, resepsi pun dilakukan selama 2 hari berturut2 di rumah Amber dengan mengundang kerabat dan tetangga.
Beberapa hari setelah resepsi, visa pun akhirnya keluar. Dengan berat hati, Amber harus meninggalkan orang tuanya tercinta di Pakistan untuk menjalani hidup baru bersama suaminya, Aamir, di Australia pada awal 2006. Bulan pertama menjadi masa2 tersulit bagi Amber karena harus berjauhan dengan keluarganya, terutama ibundanya. Bahkan dia bersikeras ingin kembali ke Pakistan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Amber dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah melalui berbagai rintangan selama 5 tahun, akhirnya mereka dapat hidupa bersama dengan bahagia.
Banyak nilai moral yang dapat dipetik dari kisah kedua insan yang jatuh cinta ini.
Pertama, jangan putus asa untuk sesuatu yang kita yakini dan kita ingin dapatkan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Kedua, pernikahan lintas budaya ternyata membutuhkan kearifan. Konflik antar budaya bisa mengakibatkan cinta yang dirasakan menjadi berkurang, bahkan mati. Untuk itu, diperlukan kompromi antar kedua pasangan untuk memilih jalan mana yang akan dihadapi dan dilalui sehingga cinta keduanya tetap dapat terpelihara dengan baik.
Ketiga, cinta memang butuh pengorbanan. Ada yang harus kita tinggalkan demi mendapat sesuatu yang lebih, meskipun kita teramat sangat mencintai dan menyayanginya.
Keempat, cinta memang tidak pandang bulu. Meskipun orang yang dicintai ada di ujung dunia pun akan tetap dikejar demi kebahagiaan yang diimpikan.
Duh, jadi mellow gini ya. Tapi emang film ini keren abis. Nggak kayak film pada umumnya, film ini dibuat seperti dokumenter karena ini memang kejadian nyata, tanpa melupakan unsur komedi tentunya, dimana sang sutradara berkebangsaan Iran yang bermukim di Australia, Faramarz K. Rahber, yang memang berteman dengan Brian a.k.a. Aamir berusaha mengikuti perjalanan cinta Aamir mendapatkan Amber tanpa campur tangan apapun, dikemas dengan apik, disajikan dengan penuh cita rasa, hingga sampailah film ini ke Indonesia dan bisa ditonton secara gratis oleh saya :D
Salut buat beliau. Semoga karya hebat ini bisa ditiru para sineas Indonesia dengan menyajikan film bermutu dengan kreativitas tinggi tanpa harus bertema yang (mereka anggap) sedang populer seperti film berbau “saru” atau klenik.
19 November 2008
Perjalanan di segitiga Joglosemar
Yang namanya jalan2 emang nggak ada habisnya. Setelah 2 minggu lalu pergi ke Bandung nengok papa, minggu lalu saya pergi ke sekitaran Jawa Tengah. Sebenernya, hari Kamis (13/11) itu saya dinas ke Solo. Tapi saya sempatkan main ke Yogya dan Solo.
Hari Rabu (12/11) pagi sengaja saya berangkat ke Solo untuk mengejar kereta Prameks (Prambanan Express) yang menurut jadwal yang saya lihat di internet sih jam 8 pagi. Ternyata tanpa diduga pesawatnya ditunda dengan alasan cuaca buruk di Solo. Meskipun orang2 di sekitar saya yang ikut menunggu di ruang tunggu bandara merasa tidak percaya adanya gangguan cuaca di Solo setelah mereka menghubungi kerabat atau relasi mereka di sana, toh saya cuek saja. Malas menambah pikiran yang nggak perlu. Ya nggak? :D
Setelah menunggu hampir 2 jam, kami akhirnya sekitar setengah 8 boarding. Sekitar 1 jam kemudian, saya tiba di Solo. Dengan menumpang taksi (terpaksa, karena ternyata nggak ada moda transportasi lain semisal angkot, bis, kereta, atau becak yang bisa membawa saya ke pusat kota), saya tiba di Hotel Novotel Solo sekitar jam setengah 10, tempat saya menginap, untuk menitipkan barang. Karena setahu saya jam check in itu sekitar jam 12.00. Iseng saya tanya ke resepsionis (kelak saya mengenalnya, namanya Elok) apa sudah bisa check in jam segini. Tanpa diduga, saya bisa check in saat itu juga. Tanpa menunggu lama, mendaratlah saya di kasur empuk kamar 318, persis menghadap Timur, sembari menonton Oprah Show yang sudah lama saya lewatkan. Sambil menonton, saya cari informasi jadwal kereta Pramek. Setelah dapat, saya putuskan untuk ke Yogya jam setengah 12. Jam 11 saya naik becak dari hotel ke Stasiun Solobalapan. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat saya hanya membayar 10 ribu saja. Setibanya di stasiun, saya ke loket 4, beli tiket Prameks. Well, ternyata harga tiket kereta malah lebih murah lagi, Rp 7000 saja.
Kereta berangkat sesuai jadwal. Satu jam kemudian saya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, saya ambil bus jalur 4 menuju Kaliurang, tempat pakdhe dan keluarganya tinggal. Setibanya di sana, ternyata pakdhe kerja, sementara budhe tiba2 harus melayat ke tantenya yang meninggal di Solo. Tanpa membuang waktu, saya memutuskan pulang saat itu juga, pastinya setelah makan siang dan sholat. Karena agak bingung jalur mana yang harus saya ambil untuk sampai di Stasiun Tugu, akhirnya baru sekitar setengah 5 saya baru sampai di stasiun. Tapi entah kenapa saya ragu dan belum merasa harus pulang. Akhirnya saya putuskan untuk keliling dan (mungkin) belanja di sepanjang Malioboro. Tapi, panjang umur. Budhe saya telpon dan bilang kalau dia sudah sampai rumah. Tanpa ragu2, akhirnya saya kembali ke arah Utara untuk sekadar mampir ke rumah pakdhe dan budhe. Alhamdulillah sekitar jam 5 saya sampai dan akhirnya bertemu mereka. Lama sekali saya tidak bertemu mereka. Tepat hampir setahun lalu saya bertemu mereka. Waktu itu saya ke Yogya dalam rangka acara outing teman sekantor. Sepanjang malam, saya diberi nasihat dan wejangan mengenai kehidupan, apa arti dari kesabaran serta perasaan menerima dan mensyukuri apa yang selama ini sudah saya dapatkan. Nggak lupa juga nasihat mengenai kehidupan berrumah tangga ;p
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 21.15. Saya diantar ke perbatasan Yogya di Timur untuk naik bus ke arah Solo. Sekitar satu setengah jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Solo, sekitar daerah Jajar, lalu saya sambung dengan becak. Bejak jadi moda transportasi favorit saya selama berada di Solo karena unik, tidak berisik, santai.. Pokoknya Solo banget deh :D
Hari Kamis (13/11) hanya ada seminar, seminar, dan seminar. Acara cuma sampai siang sekitar jam 1. Untuk mengisi sisa waktu, sekitar jam 2 saya pergi menemani atasan saya berbelanja ke Orion untuk beli oleh2, Pusat Grosir Solo, dan Srabi Notosuman. Di PGS saya sekalian belanja batik. Bener2 murah. Saya nggak pernah nemu baju batik cuma Rp 22000 aja. Hehehe... Srabi? Hmmm.. Ga usah ditanya deh. Saya sukkkaaa banget. Enaknya nggak karuan. Nggak tahu kenapa. Paduan santan, gula, garam, dan adonan lainnya tuh kok pas banget di lidah. Jadi kangen Solo deh :DMalam hari saya habiskan untuk bertemu dengan teman saya. Kami makan di Solo Grand Mall. Nggak berapa lama, lagi2 saya naik becak ke Jl Kalilarangan untuk beli oleh2 khas Solo. Beruntung saya sampai di tokonya masih buka, padahal tadinya udah mau tutup 1 menit lagi Hehehe.. just in the nick of time. Merasa belum terlalu malam, saya ajak teman saya minum susu murni di Sriwedari. Katanya sih susunya dari Boyolali. Slurp... enak juga susunya. Saya pesan menu favorit, Susu Madu. Duh, kalau inget itu rasanya pengen terus. Sambil minum kami ngobrol ngalor ngidul, sampai sekitar jam setengah 11 malam. Saya harus istirahat karena rencananya besok pagi mau ke Semarang.
Hari Jumat (14/11) pagi saya berubah rencana. Merasa sayang dengan kamar yang harusnya bisa check out jam 12 siang, saya putuskan untuk mengurungkan niat pergi ke Semarang sampai jam 12 siang. Tadinya saya mau ke Semarang naik Joglosemar, tapi ternyata adanya jam 12 siang, padahal jamnya pas waktu Jumatan. Ada lagi sih, tapi jam 4 sore. Merasa terlalu sore, saya ganti pilihan ke kereta api. Ternyata untuk kereta yang melayani Solo Semarang sekelas Pramek, namanya Banyubiru. Dia berangkat dari Sragen, lalu melanjutkan perjalanan dari Solo sekitar jam 9.20 ke Semarang dengan waktu tempuh hampir 3 jam. Lagi2 karena saya merasa belum siap2 dan terlalu pagi, saya mengurungkan niat pergi ke Semarang naik KA. Tanpa kepastian, saya Jumatan dulu di masjid dekat hotel. Selesai sholat, saya check out dan (lagi2 ;p) naik becak ke Terminal Tirtonadi. Sesampainya saya di sana, ternyata ada bus patas AC jurusan Solo Semarang dengan tarif hanya Rp 20000 saja. Berangkat jam 14.30 tepat, saya sampai di Ungaran (saya berubah pikiran untuk menjenguk sepupu2 dibanding budhe ehehehe) sekitar jam 17.00. Senang sekali bisa melihat sepupu2 saya lagi dan anak2 mereka kumpul di sana. Sambil makan masakan rumah, kami ngobrol ngalor ngidul sampai sekitar jam setengah 2 malam. Fiuh, capek juga sih, tapi namanya lama nggak ketemu saudara, rasanya nggak sia2 aja sampai jauh2 dan capek2 pergi ke sana.
Hari Sabtu (15/11) shubuh saya siap2 pergi ke bandara. Dengan jadwal pesawat jam 06.05 dengan Garuda, saya pergi dari Ungaran (sekitar 20 km dari bandara) naik motor, diantar suami sepupu, dengan kecepatan tinggi. Sampai jam setengah 6, saya harus urus tiket dulu karena saya lupa urus tiket yang sempat saya re-route dari Solo-Jakarta ke Semarang-Jakarta. Sambil menunggu, saya janjian dengan Lunpia Express, lunpia yang bisa diantar ke rumah atau bandara. Enak lho. Saya paling suka yang rasa Kepiting daripada yang original isi rebung.OK, kembali ke tiket. Dengan terburu2, saya masuk untuk check in counter setelah urusan validasi re-route tiket selesai. Ternyata saya datang dalam keadaan counter sudah ditutup tapi masih menerima penumpang untuk check in. Thank God. Begitu saya bayar airport tax dan antri untuk masuk ruang tunggu, tiba2 ada pemberitahuan buat penumpang Garuda tujuan Jakarta untuk segera boarding. Bwahahaa... lagi2 in the nick of time, saya sampai di bandara dan bisa boarding tanpa harus menunggu lama. Ini nggak boleh dicontoh pastinya. Tapi kalau yang namanya rejeki sih nggak akan ke mana. Hihihihi. Dalam waktu satu jam, saya sudah sampai di Jakarta, langsung ke kosan untuk siap2 ke resepsi pernikahan Ina di daerah Cijantung jam 11 siangnya. Saya harus datang, makanya bela2in pulang hari Sabtu tanpa menikmati liburan di Jawa. Namanya juga teman satu kantor. Apalagi saya didaulat untuk nyanyi I Finally Found Someone, walaupun ternyata tidak sesukses yang saya bayangkan. Saya lupa teks karena emang latihannya jarang sih. Tapi saya nggak kapok. Nanti saya mau menawarkan diri nyanyi di kawinan teman2 kantor yang lain ah ;p
Hari Rabu (12/11) pagi sengaja saya berangkat ke Solo untuk mengejar kereta Prameks (Prambanan Express) yang menurut jadwal yang saya lihat di internet sih jam 8 pagi. Ternyata tanpa diduga pesawatnya ditunda dengan alasan cuaca buruk di Solo. Meskipun orang2 di sekitar saya yang ikut menunggu di ruang tunggu bandara merasa tidak percaya adanya gangguan cuaca di Solo setelah mereka menghubungi kerabat atau relasi mereka di sana, toh saya cuek saja. Malas menambah pikiran yang nggak perlu. Ya nggak? :D
Setelah menunggu hampir 2 jam, kami akhirnya sekitar setengah 8 boarding. Sekitar 1 jam kemudian, saya tiba di Solo. Dengan menumpang taksi (terpaksa, karena ternyata nggak ada moda transportasi lain semisal angkot, bis, kereta, atau becak yang bisa membawa saya ke pusat kota), saya tiba di Hotel Novotel Solo sekitar jam setengah 10, tempat saya menginap, untuk menitipkan barang. Karena setahu saya jam check in itu sekitar jam 12.00. Iseng saya tanya ke resepsionis (kelak saya mengenalnya, namanya Elok) apa sudah bisa check in jam segini. Tanpa diduga, saya bisa check in saat itu juga. Tanpa menunggu lama, mendaratlah saya di kasur empuk kamar 318, persis menghadap Timur, sembari menonton Oprah Show yang sudah lama saya lewatkan. Sambil menonton, saya cari informasi jadwal kereta Pramek. Setelah dapat, saya putuskan untuk ke Yogya jam setengah 12. Jam 11 saya naik becak dari hotel ke Stasiun Solobalapan. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat saya hanya membayar 10 ribu saja. Setibanya di stasiun, saya ke loket 4, beli tiket Prameks. Well, ternyata harga tiket kereta malah lebih murah lagi, Rp 7000 saja.
Kereta berangkat sesuai jadwal. Satu jam kemudian saya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, saya ambil bus jalur 4 menuju Kaliurang, tempat pakdhe dan keluarganya tinggal. Setibanya di sana, ternyata pakdhe kerja, sementara budhe tiba2 harus melayat ke tantenya yang meninggal di Solo. Tanpa membuang waktu, saya memutuskan pulang saat itu juga, pastinya setelah makan siang dan sholat. Karena agak bingung jalur mana yang harus saya ambil untuk sampai di Stasiun Tugu, akhirnya baru sekitar setengah 5 saya baru sampai di stasiun. Tapi entah kenapa saya ragu dan belum merasa harus pulang. Akhirnya saya putuskan untuk keliling dan (mungkin) belanja di sepanjang Malioboro. Tapi, panjang umur. Budhe saya telpon dan bilang kalau dia sudah sampai rumah. Tanpa ragu2, akhirnya saya kembali ke arah Utara untuk sekadar mampir ke rumah pakdhe dan budhe. Alhamdulillah sekitar jam 5 saya sampai dan akhirnya bertemu mereka. Lama sekali saya tidak bertemu mereka. Tepat hampir setahun lalu saya bertemu mereka. Waktu itu saya ke Yogya dalam rangka acara outing teman sekantor. Sepanjang malam, saya diberi nasihat dan wejangan mengenai kehidupan, apa arti dari kesabaran serta perasaan menerima dan mensyukuri apa yang selama ini sudah saya dapatkan. Nggak lupa juga nasihat mengenai kehidupan berrumah tangga ;p
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 21.15. Saya diantar ke perbatasan Yogya di Timur untuk naik bus ke arah Solo. Sekitar satu setengah jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Solo, sekitar daerah Jajar, lalu saya sambung dengan becak. Bejak jadi moda transportasi favorit saya selama berada di Solo karena unik, tidak berisik, santai.. Pokoknya Solo banget deh :D
Hari Kamis (13/11) hanya ada seminar, seminar, dan seminar. Acara cuma sampai siang sekitar jam 1. Untuk mengisi sisa waktu, sekitar jam 2 saya pergi menemani atasan saya berbelanja ke Orion untuk beli oleh2, Pusat Grosir Solo, dan Srabi Notosuman. Di PGS saya sekalian belanja batik. Bener2 murah. Saya nggak pernah nemu baju batik cuma Rp 22000 aja. Hehehe... Srabi? Hmmm.. Ga usah ditanya deh. Saya sukkkaaa banget. Enaknya nggak karuan. Nggak tahu kenapa. Paduan santan, gula, garam, dan adonan lainnya tuh kok pas banget di lidah. Jadi kangen Solo deh :DMalam hari saya habiskan untuk bertemu dengan teman saya. Kami makan di Solo Grand Mall. Nggak berapa lama, lagi2 saya naik becak ke Jl Kalilarangan untuk beli oleh2 khas Solo. Beruntung saya sampai di tokonya masih buka, padahal tadinya udah mau tutup 1 menit lagi Hehehe.. just in the nick of time. Merasa belum terlalu malam, saya ajak teman saya minum susu murni di Sriwedari. Katanya sih susunya dari Boyolali. Slurp... enak juga susunya. Saya pesan menu favorit, Susu Madu. Duh, kalau inget itu rasanya pengen terus. Sambil minum kami ngobrol ngalor ngidul, sampai sekitar jam setengah 11 malam. Saya harus istirahat karena rencananya besok pagi mau ke Semarang.
Hari Jumat (14/11) pagi saya berubah rencana. Merasa sayang dengan kamar yang harusnya bisa check out jam 12 siang, saya putuskan untuk mengurungkan niat pergi ke Semarang sampai jam 12 siang. Tadinya saya mau ke Semarang naik Joglosemar, tapi ternyata adanya jam 12 siang, padahal jamnya pas waktu Jumatan. Ada lagi sih, tapi jam 4 sore. Merasa terlalu sore, saya ganti pilihan ke kereta api. Ternyata untuk kereta yang melayani Solo Semarang sekelas Pramek, namanya Banyubiru. Dia berangkat dari Sragen, lalu melanjutkan perjalanan dari Solo sekitar jam 9.20 ke Semarang dengan waktu tempuh hampir 3 jam. Lagi2 karena saya merasa belum siap2 dan terlalu pagi, saya mengurungkan niat pergi ke Semarang naik KA. Tanpa kepastian, saya Jumatan dulu di masjid dekat hotel. Selesai sholat, saya check out dan (lagi2 ;p) naik becak ke Terminal Tirtonadi. Sesampainya saya di sana, ternyata ada bus patas AC jurusan Solo Semarang dengan tarif hanya Rp 20000 saja. Berangkat jam 14.30 tepat, saya sampai di Ungaran (saya berubah pikiran untuk menjenguk sepupu2 dibanding budhe ehehehe) sekitar jam 17.00. Senang sekali bisa melihat sepupu2 saya lagi dan anak2 mereka kumpul di sana. Sambil makan masakan rumah, kami ngobrol ngalor ngidul sampai sekitar jam setengah 2 malam. Fiuh, capek juga sih, tapi namanya lama nggak ketemu saudara, rasanya nggak sia2 aja sampai jauh2 dan capek2 pergi ke sana.
Hari Sabtu (15/11) shubuh saya siap2 pergi ke bandara. Dengan jadwal pesawat jam 06.05 dengan Garuda, saya pergi dari Ungaran (sekitar 20 km dari bandara) naik motor, diantar suami sepupu, dengan kecepatan tinggi. Sampai jam setengah 6, saya harus urus tiket dulu karena saya lupa urus tiket yang sempat saya re-route dari Solo-Jakarta ke Semarang-Jakarta. Sambil menunggu, saya janjian dengan Lunpia Express, lunpia yang bisa diantar ke rumah atau bandara. Enak lho. Saya paling suka yang rasa Kepiting daripada yang original isi rebung.OK, kembali ke tiket. Dengan terburu2, saya masuk untuk check in counter setelah urusan validasi re-route tiket selesai. Ternyata saya datang dalam keadaan counter sudah ditutup tapi masih menerima penumpang untuk check in. Thank God. Begitu saya bayar airport tax dan antri untuk masuk ruang tunggu, tiba2 ada pemberitahuan buat penumpang Garuda tujuan Jakarta untuk segera boarding. Bwahahaa... lagi2 in the nick of time, saya sampai di bandara dan bisa boarding tanpa harus menunggu lama. Ini nggak boleh dicontoh pastinya. Tapi kalau yang namanya rejeki sih nggak akan ke mana. Hihihihi. Dalam waktu satu jam, saya sudah sampai di Jakarta, langsung ke kosan untuk siap2 ke resepsi pernikahan Ina di daerah Cijantung jam 11 siangnya. Saya harus datang, makanya bela2in pulang hari Sabtu tanpa menikmati liburan di Jawa. Namanya juga teman satu kantor. Apalagi saya didaulat untuk nyanyi I Finally Found Someone, walaupun ternyata tidak sesukses yang saya bayangkan. Saya lupa teks karena emang latihannya jarang sih. Tapi saya nggak kapok. Nanti saya mau menawarkan diri nyanyi di kawinan teman2 kantor yang lain ah ;p
02 November 2008
Wisata kuliner bersama GAMBI
"Kemarin saya dan teman2 wisata kuliner". Itu kata Sisil kalau nanti saya nulis blog buat ceritain kejadian sepanjang Sabtu ini. Ya, saya turutin aja apa katanya :)
Lain dari weekend saya yang biasanya, kali ini saya bareng Sisil, Budi, Andin, dan Nisa wisata kuliner. Sisil bilang sih kita GAMBI, singkatan dari Garuda Menkokesra BI. Padahal kalau mau tau, di BI ada model namanya GEMBI, singkatan dari General Equilibrium Model of Bank Indonesia :D
Awalnya kita mau ke Sate Afrika sekitar jam 10. Tapi berhubung Nisa ada kursus bahasa Jerman, jadi diundur sekitar jam 2. Tapi berhubung Sate Afrika tutup jam 1, jadi Sisil pesen dulu via telpon. Keren ya. Sekitar jam 2, kami ketemuan sama Nisa di Budi Kemuliaan. Dari sana langsung meluncur ke Tanah Abang tempat Sate Afrika berada. Begitu parkir dan buka pintu, hmmm, aroma dagingnya semerbak menusuk hidung (lebay). Tapi emang iya, aroma dagingnya bener2 kuat. Begitu masuk ke tempat makannya, kami langsung disambut Pak Ismail, orang Afrika asli pemilik restoran ini. Orangnya ramah, sederhana, low profile. Bahkan dia mau nyapu halaman sendiri demi menjaga kebersihan. Lancar berbahasa Indonesia pula. Istrinya pun orang Indonesia malah.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya kami makan juga. Hmmm... kalau boleh bilang, sate ini ga pantas disebut sate karena emang ga ditusuk kayak sate pada umumnya. Tapi kalau bicara rasa, hmm kayaknya apa yang orang2 bilang nggak berlebihan. Satenya emang enak banget. Apalagi dicampur dengan sambal racikan mereka, ditambah dengan pisang gorengnya. Slurp... Wajar kalau restoran ini ramai dikunjungi orang. Padahal tempatnya bisa dibilang terpencil, soalnya jalan masuknya aja terhalang pedagang2 barang loak. Bahkan sekadar banner pun nggak ada.
Setelah makan, kami ke kosan saya di Setiabudi. Sekalian istirahat dan ngobrol2. Sore Ihsan ngajak bowling dan karaokean di Pasaraya Grande. Ya udah, akhirnya kami meluncur ke sana. Kami main bowling ber-5 sampe sekitar jam 8 malam. Lama juga ya. Padahal itupun mainnya udah asal2an, karena Sisil udah ngerengek pengen cepet makan. Hihihi. Wajar sih. Namanya juga ibu hamil. Dari sana, kami ke Sambara di bilangan Cipete. Katanya sih yang enak di sana tuh Tumis Sayur Labu. Ternyata emang iya ya. Kita sampe kalap. Pesen segala macem. Tapi untungnya habis sih. Nggak mubazir.Wah, hari ini capek tapi seneng banget. Bisa jalan bareng temen2, bagi2 cerita, pengalaman, dan pengetahuan. Termasuk pengetahuan soal tempat makan enak. Makasih banyak ya teman2 :)
Lain dari weekend saya yang biasanya, kali ini saya bareng Sisil, Budi, Andin, dan Nisa wisata kuliner. Sisil bilang sih kita GAMBI, singkatan dari Garuda Menkokesra BI. Padahal kalau mau tau, di BI ada model namanya GEMBI, singkatan dari General Equilibrium Model of Bank Indonesia :D
Awalnya kita mau ke Sate Afrika sekitar jam 10. Tapi berhubung Nisa ada kursus bahasa Jerman, jadi diundur sekitar jam 2. Tapi berhubung Sate Afrika tutup jam 1, jadi Sisil pesen dulu via telpon. Keren ya. Sekitar jam 2, kami ketemuan sama Nisa di Budi Kemuliaan. Dari sana langsung meluncur ke Tanah Abang tempat Sate Afrika berada. Begitu parkir dan buka pintu, hmmm, aroma dagingnya semerbak menusuk hidung (lebay). Tapi emang iya, aroma dagingnya bener2 kuat. Begitu masuk ke tempat makannya, kami langsung disambut Pak Ismail, orang Afrika asli pemilik restoran ini. Orangnya ramah, sederhana, low profile. Bahkan dia mau nyapu halaman sendiri demi menjaga kebersihan. Lancar berbahasa Indonesia pula. Istrinya pun orang Indonesia malah.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya kami makan juga. Hmmm... kalau boleh bilang, sate ini ga pantas disebut sate karena emang ga ditusuk kayak sate pada umumnya. Tapi kalau bicara rasa, hmm kayaknya apa yang orang2 bilang nggak berlebihan. Satenya emang enak banget. Apalagi dicampur dengan sambal racikan mereka, ditambah dengan pisang gorengnya. Slurp... Wajar kalau restoran ini ramai dikunjungi orang. Padahal tempatnya bisa dibilang terpencil, soalnya jalan masuknya aja terhalang pedagang2 barang loak. Bahkan sekadar banner pun nggak ada.
Setelah makan, kami ke kosan saya di Setiabudi. Sekalian istirahat dan ngobrol2. Sore Ihsan ngajak bowling dan karaokean di Pasaraya Grande. Ya udah, akhirnya kami meluncur ke sana. Kami main bowling ber-5 sampe sekitar jam 8 malam. Lama juga ya. Padahal itupun mainnya udah asal2an, karena Sisil udah ngerengek pengen cepet makan. Hihihi. Wajar sih. Namanya juga ibu hamil. Dari sana, kami ke Sambara di bilangan Cipete. Katanya sih yang enak di sana tuh Tumis Sayur Labu. Ternyata emang iya ya. Kita sampe kalap. Pesen segala macem. Tapi untungnya habis sih. Nggak mubazir.Wah, hari ini capek tapi seneng banget. Bisa jalan bareng temen2, bagi2 cerita, pengalaman, dan pengetahuan. Termasuk pengetahuan soal tempat makan enak. Makasih banyak ya teman2 :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- Oki Jelly
- Sedikit pendiam, perfeksionis, dan ingin menebar kebaikan buat orang sekitar